Menulislah!
Editor | Kolom Tetap | December 23rd, 2009
Oleh: Agung Praptapa*
Sewaktu kuliah saya sangat kagum kepada seorang dosen yang kalau memberikan kuliah sangat atraktif, mudah dimengerti, dengan contoh kasus yang sangat relevan dan terkini. Beliau pintar bercanda sehingga selama mengikuti kuliah hampir semua mahasiswa tetap segar dan semangat. Beliau dosen yang dikagumi banyak mahasiswa. Terkenal. Menjadi konsultan di sana-sini. Sebagai pembicara di dalam dan di luar negeri. Dosen ideal. Luar biasa!
Sayang sekali dosen yang hebat tersebut sekarang telah meninggal dunia. Masih membekas pesan-pesan dan motivasi beliau pada diri saya. Demikian pula saat saya tanyakan kepada teman-teman kuliah dulu, mereka memiliki kesan yang sama. Dosen tersebut telah banyak membantu membentuk diri kita semua yang pernah diajar oleh beliau. Namun sayang, saat saya tanyakan kepada adik kelas yang sudah tidak lagi diajar oleh beliau, mereka bahkan tidak mengenalnya sama sekali. Apa lagi menikmati pemikiran-pemikiran dan pesan-pesan hebat beliau. Jadi, pesan-pesan hebat dosen tersebut hanya sampai pada generasi saya. Dosen yang hebat untuk yang pernah diajar, namun tidak dikenal sama sekali oleh yang tidak pernah diajar.
Saya kemudian berpikir, seandainya dosen tersebut menulis buku, maka pemikirannya, motivasinya, dan kata-kata bijaknya dapat dinikmati oleh generasi-generasi adik kelas saya, bahkan generasi-generasi sesudahnya. Sayang sekali, dosen tersebut tidak menulis buku. Beliau seorang yang sangat ahli di bidang investasi. Namun sayang sekali, beliau lupakan satu hal, yaitu investasi melalui tulisan, atau lebih spesifik lagi adalah investasi melalui menulis buku.
Budaya menulis di negeri kita ini masih tergolong memprihatinkan. Di kalangan intelektual seperti dosen misalnya, mereka lebih cenderung banyak mengajar dari pada banyak meneliti. Atau kalau lebih general dapat dikatakan budaya bicara lebih kuat dari pada budaya menulis. Ini tentunya bukan tanpa sebab. Lingkungan dan sistem insentif yang ada lebih berpihak pada pembicara hebat, dari pada penulis hebat. Di samping itu, faktor pembentukan kebiasaan sejak pendidikan dini juga berpengaruh.
Saat saya tinggal di Australia beberapa tahun yang lalu, anak-anak saya yang masih duduk di sekolah dasar (elementary school) setiap minggu selalu mendapatkan tugas dari gurunya untuk menulis yang berkaitan dengan “theme of the week”, yaitu tema-tema tertentu yang menjadi prioritas dalam satu minggiu tertentu. Misalnya theme of the week pada saat itu adalah “courtesy” atau sopan santun, maka murid-murid diminta menuliskan sopan santun yang mereka lakukan selama satu minggu tersebut. Murid sudah dilatih melakukan riset sejak dini, dan kemudian dituangkan dalam laporan yang tertulis. Jadi, mereka terbiasa menulis sejak dini.
Yang paling heboh adalah apabila para murid liburan sekolah. Mereka akan mendapatkan tugas menulis “my holiday”. Saya amati hal ini merupakan proyek yang menggairahkan untuk mereka. Mereka membuat laporan tentang liburan mereka dengan sangat serius, bahkan beberapa sampai membuat semacam buku, dengan ketebalan seperti layaknya sebuah buku. Buku made in anak-anak SD yang masih lucu-lucu tersebut dibuat semenarik mungkin. Tulisan yang mereka buat disertai ilustrasi dan foto-foto atau gambar yang mereka buat sendiri.
Hari pertama masuk sekolah, presentasi tentang “my holiday” merupakan saat yang sangat mereka tunggu-tunggu. Mereka mempresentasikan pengalaman masing-masing dengan teknik presentasi yang bervariasi. Buku mereka tentang “my holiday” dibaca teman-teman sekolahnya. Anak-anak dibiasakan untuk menulis dan membaca tulisan orang lain, yang ujung-ujungnya adalah mereka dilatih menghargai karya orang lain.
Kembali lagi ke dosen hebat yang tidak menulis tadi. Kisahnya hanya berhenti sampai beliau mengajar yang sebagian besar dilakukan dalam bentuk lisan. Dosen berbicara mahasiswa mendengarkan. Memang sangat efektif untuk zamannya, namun sayang sekali ajaran-ajarannya tidak diabadikan dalam bentuk sebuah buku. Akibatnya, generasi berikut tidak mendapatkan warisan dari kehebatan dosen tersebut. Sayang sekali memang. Seandainya beliau saat itu menulis buku, maka saat karyanya dibaca orang dan bermanfaat bagi orang lain, hal tersebut juga akan menjadi ladang ibadah walaupun beliau sudah meninggal dunia.
Buku yang bermanfaat akan menjadi amal jariyah, yang terus bergulir walaupun penulisnya telah meninggal dunia. Dalam hati saya sering bercanda dengan diri sendiri, “Wah, kalau begitu menulis bisa mengurangi masa hukuman di neraka hehehe….”
Zaman sudah berubah. Budaya lisan tampaknya mulai tersisihkan oleh budaya tulisan. Telepon yang tadinya digunakan untuk berbicara secara lisan dengan lawan bicara, saat ini sudah bergeser fungsi menjadi alat komunikasi melalui tulisan, yaitu dengan maraknya penggunaan SMS. Komunikasi melalui tulisan digencarkan lagi dengan teknologi internet melalui fasilitas chating. Maraknya penggunaan Facebook juga menunjukkan bahwa saat ini sebenarnya kita memiliki kesempatan luas untuk mengungkapkan pemikiran, ide, bahkan perasaan melalui tulisan.
Facebooker sudah terbiasa mengungkapkan perasaan, pemikiran, ide, dan menyampaikan informasi mereka melalui menuliskan pada “status” yang ada pada Facebook. Mereka menulis satu dua kata, satu dua kalimat. Jadi, mereka sudah sangat terbiasa dengan menulis. Kalau sudah begini, tampaknya tidak zamannya lagi para intelektual tidak menulis. Dosen mesti menulis. Mahasiswa mesti menulis. Kyai mesti menulis. Pendeta mesti menulis. Manajer mesti menulis. Siapa saja mesti menulis. Saat ini, hampir semua orang menjadi penulis. Minimal penulis SMS. Ini good start! Tinggal dikembangkan menjadi kalimat yang lebih utuh. Kalimat digabungkan dan dirangkai akan membentuk paragraf, dan seterusnya yang akhirnya akan menjadi tulisan, bukan?
Sekarang zamannya menulis. Maka, menulislah![ap]
* Agung Praptapa adalah penulis buku “The art of controlling people” (Gramedia, 2009). Seorang dosen, konsultan, dan trainer pengembangan diri maupun pengembangan organisasi. Kolumnis tetap andaluarbiasa.com. Dapat dihubungi melalui email di praptapa@yahoo.com. Web: www.praptapa.com.

December 25th, 2009 at 8:27 am
Guru hampir setiap hari menulis di panan tulis juga merupakan “good start” ?
Great pak Agung, thank 4 all.
December 26th, 2009 at 8:05 am
Facebook juga bisa digunakan wahana adu kreatifitas menulis antara guru dan siswa melalui fasilitas tautan.
Siswa dan guru dapat menautkan postingan blog di “Status” nya di Fb.
December 26th, 2009 at 2:41 pm
Sebenarnya disaat ingin menulis,bisa timbul keragu2an,apakah bagus/tdk hasilnya, takut salah-salah dan berujung tidak percaya diri. saya baru sadar dengan salah satu kalimat pada tulisan di atas, yang intinya, ilmu yang bermanfaat untuk orang lain merupakan amal jariyah yang tidak putus walaupun telah meninggal dunia. Ternyata menulis bukan hanya investasi yang hasilnya tdk hanya dinikmati di dunia, tapi juga di akherat..semua orang punya potensi untuk mengembangkan bakat menulisnya. Dan akhirnya saya pun teringat sebuah lagu dari Frank Sinatra : I could write a book. ..>>> thanks
December 28th, 2009 at 11:45 am
Mr. Pandi, ayo produktif dong…..
Ms. Puspita, setuju dengan pendapat mbah Puspita, facebook kalau dimanfaatkan dengan benar akan menjadikan kita lebih kreatif dan produktif.
Mr. Noviansyar: dengan menulis, kita tidak akan pernah mati.
January 1st, 2010 at 4:45 pm
Ilmu itu ibarat binatang buruan,ikatlah buruanmu dengan tulisan.Maka menulislah.Saya lagi belajar menulis.
January 6th, 2010 at 1:11 pm
Thanks Mas Agus komentarnya. Saya tunggu tulisannya. Sukses!
January 21st, 2010 at 8:36 am
Makasih banget mas Agus atas tulisannya, dimulai dari facebook-lah saya jadi bersemangat untuk belajar menulis!!