Menulis Itu Vitamin Buat Otak

Sofa NurdiyantiOleh: Sofa Nurdiyanti*

“Menulis itu vitamin buat otak? Enggak salah, nih?”

“Yap!!! Betul banget…!”

Menulis akan membantu kita me-refresh otak, seperti halnya tubuh yang membutuhkan vitamin agar dapat bekerja dengan optimal dan tidak mudah terkena penyakit. Bagaikan sebuah komponen, tubuh terdiri dari berbagai jaringan dan organ yang membutuhkan berbagai nutrisi, vitamin, dan zat-zat lain yang diperlukan tubuh supaya dapat berfungsi secara optimal. Begitu pun dengan otak, otak memerlukan beberapa aktivitas memory yang dapat menunjang kinerjanya agar dapat berfungsi dengan baik.

Tidak dapat dimungkiri, memory yang sudah kita simpan akan terpendam jauh di dasar ingatan. Dan, ketika tidak mempergunakannya dengan baik, bisa jadi informasi-informasi yang ada akan terlupakan. Padahal, informasi-informasi yang kita simpan itu menandakan bahwa informasi tersebut penting bagi kita, dan perlu proses me-refresh yang sesuai dengan kebutuhan otak tersebut.

Jika informasi itu tidak penting, informasi tersebut cenderung akan tereliminasi pada saat proses seleksi informasi akan disimpan. Bisa juga informasi penting sekalipun tidak akan tersimpan jika kita tidak melakukan proses retrieval atau pemanggilan kembali informasi yang tadinya berguna dan penting bagi kita.

Jika otak selalu dipergunakan untuk menulis, itu berarti kita melakukan aktivitas memory. Aktivitas memory ini meliputi tiga tahap: penyandian (encoding; pemasukan pesan ke dalam ingatan), penyimpanan (storage), dan pengambilan (retrieval; mengingat kembali apa yang sudah disimpan). Aktivitas menulis berkaitan erat dengan ketiga proses tadi. Menulis melibatkan proses penyandian, penyimpanan, dan mengingat kembali apa yang sudah kita simpan untuk dituangkan dalam sebuah artikel, cerita, novel, buku, dsb.

Mengapa perlu menyegarkan memory dengan menulis? Menulis adalah salah satu cara karena menulis—selain melibatkan proses memoryjuga melibatkan kita dalam aktivitas visual. Visual yang dimaksudkan di sini adalah dengan membaca dan meninjau kembali isi tulisan kita. Menurut saya, dengan melibatkan aktivitas secara visual, kita dapat lebih mudah mengingat sesuatu. Sebagai contoh, ketika kita mendengarkan dosen mengajar kemudian mencatatnya, kita akan lebih dapat mengingatnya daripada menyalin catatan orang lain.

Hal ini dapat dijelaskan sebagai berikut: Ketika kita menulis apa yang dijelaskan oleh dosen, kita akan melakukan proses penyandian dan melakukan proses seleksi terhadap informasi yang kita terima. Sehingga, kita akan lebih memahami catatan yang kita buat sendiri, karena kita yang menentukan kode-kode tertentu dan urutan materi yang ingin kita tulis.

Berbeda jika kita melakukan retrieval dengan cara menghafal informasi tertentu saja, tanpa berusaha mengombinasikannya dengan informasi lainnya. Metode hafalan akan lebih rentan mengalami kelupaan daripada menulis. Menghafal sama berarti kita hanya mengulang kembali informasi yang kita terima, tanpa melakukan suatu usaha yang dapat meningkatkan pemahaman kita.

Sementara, menulis merupakan buah dari mencerna kembali informasi yang telah kita terima dan menuliskannya sesuai dengan pemahaman kita. Hal ini berarti, kita melakukan sebuah usaha baru dan terlibat secara aktif dalam memilih informasi mana yang akan kita gunakan nantinya.

Seiring meningkatnya kuantitas kita dalam menulis, secara otomatis kita akan semakin sering menggunakan otak dalam proses berpikir. Hal ini tentu saja mempercepat proses pemanggilan kembali memory maupun proses penyeleksian memory, serta data-data yang diperlukan terkait dengan bahan yang akan kita tulis. Menulis tidak hanya berbentuk sebuah artikel, namun juga sebuah catatan tentang kejadian singkat yang telah dilalui dalam sebuah diary.

Berbagai hambatan yang sering kali muncul ketika kita menulis ialah proses pemanggilan kembali ingatan yang sudah tersimpan, dan memilih informasi mana yang akan kita pergunakan dalam menulis. Jika kita mau meninjau lebih lanjut, kita akan merasakan banyak manfaat dari proses menulis itu sendiri. Kita akan terlatih untuk dapat mengingat berbagai memory yang sudah kita simpan, karena memamng kita sering mempergunakannya.

Selain itu, kita dapat melakukan proses penyeleksian dan penyandian lebih lanjut atas informasi yang telah kita simpan. Seiring bertambahnya waktu, informasi yang kita simpan akan semakin kompleks dan membutuhkan proses penyimpanan baru, sehingga itu lebih memudahkan kita dalam mempergunakannya.

Secara sederhana, menulis akan semakin membantu kita dalam berinteraksi dengan berbagai jenis aktivitas memory, yang mana aktivitas tersebut akan semakin memudahkan dalam pemrosesan informasi. Aktivitas-aktivitas memory inilah yang nantinya akan membuat vitamin-vitamin alami yang diperlukan oleh tubuh kita, terutama bagi otak kita. Selamat memberi vitamin otak Anda dengan menulis![sn]

* Sofa Nurdiyanti adalah mahasiswa semester lima Fakultas Psikologi Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta. Suka baca buku cerita, nonton kartun Detective Conan, Bintang, dan tertarik dengan bidang sejarah, arkeologi, bahasa, budaya, dan politik. Tetapi, sekarang ia lagi “nyasar” ke bidang psikologi. Nur aktif menulis wadah jurnalistik Fakultas Psikologi, Sanata Dharma. Ia juga tengah semangat berlatih untuk menjadi penulis dan trainer. Ia dapat dihubungi melalui pos-el: nurrohmah_06[at]yahoo[dot]com.

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 9.3/10 (3 votes cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: +1 (from 1 vote)

2 Responses to “Menulis Itu Vitamin Buat Otak”

  1. lina Says:

    iya..sangat setuju barusan sy stres berat, dirumah bt, gak da teman, nganggur, tapi begitu sy tulis semua unek2, serasa sy meneluarkan kotoran dari pikiranku yang membuat saya stress. berarti menulis juga bisa berfungsi sebagai detoksifikasi.

    UN:F [1.6.9_936]
    Rating: 0.0/5 (0 votes cast)
    UN:F [1.6.9_936]
    Rating: 0 (from 0 votes)
  2. vitamin otak Says:

    Semua orang tua menginginkan anak-anak mereka untuk berhasil dalam hidup; Itu sebabnya kita mendidik mereka. Orangtua tahu bahwa anak-anak harus diberikan pendidikan yang maksimal sementara mereka masih muda untuk mengeluarkan potensi tersembunyi mereka.

    UN:F [1.6.9_936]
    Rating: 0.0/5 (0 votes cast)
    UN:F [1.6.9_936]
    Rating: 0 (from 0 votes)

Leave a Reply

Comment moderation is enabled. Your comment may take some time to appear.

Motivasi Dunia

Motivasi Dunia

Kolomnis

<
Edy Zaqeus Eni Kusuma Avanti Fontana Alexandra Dewi Miranda Suryadjaja Sofa Nurdiyanti
Anang Y.B. Hartati Nurwijaya Aleysius H. Gondosari Sulmin Gumiri Relon Star Sri Budiastuti
Agus Riyanto Iftida Yasar Fida Abbott Ery Prasetyawan Tanenji Ingrid Gunawan
Maria Saumi Ely Susanti Agung Praptapa Putu Adnyana Fita Irnani Nathalia Sunaidi
M Sebastian Wijaya Abdul Muid Badrun Kak Sugeng Akhmad Sirodz Lisa Nuryanti Abidin Noor
Wuryanano Petriza Giovanni Amelia Devina Tri Wahyuni Endang Setyati Vina Tan
Lianny Hendranata Emmy Angdyani Erawati E. Setyo Hartono Fatma Kartika Sari Supandi Radinal Mukhtar Harahap
Sawali Tuhusetya Gatut Heru Susanto Effendi Budi P. Fajar S. Pramono Ade Asep Syarifuddin Melly Kiong
Guntur Novizal Ida Rosdiana Natapermadi Risfan Munir Sri Julianti Sawiji Farelhana Dewi Rhainy
Deni Kurniawan As’ari Johanes Ariffin Wijaya Indari Mastuti Enggar Kusumaningsiwi Daniel Kurniawan Sayuri Yosiana
A.A. Kunto A. Lina Kartasasmita K. Hanna Fransisca Wahidunnaba Yusuf Tantowi Dwiatmo Kartiko
Meta Sekar Puji Astuti M. Adi Prasetyo Abd. Basid Lily Choo Rina Dewi Lina Berny Gomulya
Zee Cardin M. Iqbal Dawami Sidik Nugroho Emmy Liana Dewi Ridwan Sumantri Dwiyana Apriandini
Andrew Abdi Setiawan Gobind Vasdhev J. I. Michell Suharli Yusnita Rifai Gagan Gartika

Check Google Page Rank

Buku Baru

Obrolan yang Bikin Kamu kaya

Judul: Obrolan yang Bikin Kamu kaya
Oleh: Don Gabor
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama, 2009
ISBN: 978-979-22-5073-2
Tebal: xviii + 380 hal

Jangan hanya membangun jejaring luas-berjejaringlah dengan cerdas!
Obrolan yang Bikin Kamu Kaya menyajikan pendekatan baru revolusioner pada topik berjejaring yang tak lekang waktu. Penulis buku laris dan pelatih komunikasi Don Gabor memperkenalkan Anda pada empat gaya berjejaring—Kopetetif, Supel, [...]

Full Story | February 24th, 2010

Best Viewed With Mozilla FireFox