Menulis di Mata Orang yang Benci Menulis
Editor | Kolom Lepas | May 25th, 2009
Oleh: Sofa Nurdiyanti*
Pernah dengar, kalau ada orang yang mengaku benci menulis?
Pernah mengalami perasaan seperti itu?
Sebenarnya bagaimana sih kalau kita mengalami hal seperti itu?
Definisi benci bagi tiap orang tentu berbeda, bukan? Relatif!!! Ini adalah kata yang sering digunakan orang jika sudah bingung dan enggak menemukan persamaan ide terhadap sebuah konsep tertentu. Sekarang, saya enggak bakal mempersoalkan definisi benci yang mempunyai arti berbeda bagi setiap orang. Benci, menurut saya adalah tidak suka dan sangat ingin dihindari. Ini merupakan definisi yang lugas dan dimengerti oleh banyak orang, bukan?
Jika dikaitkan antara benci dengan menulis, maka dapat ditebak bahwa jawabannya adalah rasa tidak suka seseorang terhadap aktivitas menulis. Semua hal yang terkait dengan menulis tentunya akan membuat seseorang tersebut “tersiksa”, terutama ketika dia harus menuliskan sesuatu. Jangankan menulis sebuah artikel, menulis tentang apa yang dirasakannya dalam satu kurun waktu tertentu atau episodic memory, tentunya akan sangat membuatnya tertekan.
Ibarat sebuah rumah maka fondasi rumah tersebut adalah kemauan dan kecintaan yang besar terhadap dunia menulis. Sementara, tiangnya adalah kesungguhan untuk terus mau berusaha dan belajar menulis. Sedangkan atapnya adalah kreativitas yang tak terbatas, dengan pintu untuk selalu up to date terhadap ilmu pengetahuan, dan jendelanya adalah kelapangan hati untuk selalu menerima kritik dan saran dari orang lain. Bukan demi interdependensi, tetapi lebih kepada pembangunan gagasan dan konsep kita dalam menulis.
Jika untuk berada pada tahap fondasinya saja, yaitu kemauan dan kecintaan yang besar untuk menulis, tidak terbangun dengan baik, maka seseorang tidak akan mampu melangkah ke tahap berikutnya. Tahap di mana ia dapat mengembangkan ide-ide dan membangun komunikasi dengan orang lain lewat tulisannya. Ia akan terus terkungkung dalam ketidaksadaran yang ia ciptakan sendiri, bahwa menulis bukanlah hal yang menyenangkan baginya.
Jika terus dipelihara, perasaan tidak bisa inilah yang membahayakan. Akan tumbuh sebuah kesadaran yang muncul dari dalam diri kita sendiri, bahwa kita tidak bisa menulis. Hal ini terjadi karena otak terstimulasi untuk terus menyimpan informasi bahwa kita tidak bisa menulis. Memory inilah yang natinya akan membuat kita merasa benar-benar yakin bahwa kita tidak bisa menulis, sekaligus mematahkan seluruh potensi yang ada.
Nah, jadi penasaran, kan? Sebenarnya, apa sih yang membuat seseorang itu benci menulis? Alasan klasik seperti malas, cepat bosan jika idenya macet, enggak bisa nulis, ribet, adalah beberapa alasan yang dikemukakan oleh orang yang mengaku dirinya benci menulis.
Sedangkan beberapa masalah teknis dalam menulis seperti merangkai kata dalam kalimat, pemilihan tema, penyampaian gagasan dalam satu kalimat—apalagi harus menyusun sebuah kalimat dalam sebuah paragraf yang harus mempunyai ikatan yang bernama koherensi—tentunya akan semakin menambah rasa malas dan benci yang menjadi-jadi.
Hal ini terjadi pada orang yang tidak mempunyai niat maupun minat terhadap hal-hal yang “berbau” kepenulisan. Maka, tidaklah mengherankan jika oleh sebagian besar orang, menulis merupakan sebuah rutinitas yang dihindari, diasingkan, dianggap ribet, dan dianggap harus punya kemampuan intelektual tertentu.
Tidak salah memang, tetapi benarkah demikian? Kaitan antara kebencian seseorang terhadap menulis tentunya berdasarkan hal-hal tertentu yang relatif bagi setiap orang. Ada yang benci menulis karena tidak suka dengan struktur bahasa yang harus dipelajari dan diterapkan dalam suatu tulisan. Terkadang, pemilihan sebuah tema dan kata dalam penyampaian suatu ide bisa menjebak si penulis ‘yang benci menulis’ tadi untuk menuliskan sebuah ide, tetapi mempunyai penafisiran yang berbeda ketika dibaca oleh orang lain. Hal ini bisa saja terjadi pada setiap orang. Karena, mungkin saja ia kurang bisa mengomunikasikan idenya secara jelas pada orang lain. Namun, bisa juga hal ini terjadi karena kurangnya latihan dalam menulis.
Seperti bidang yang lain, menulis tidak lagi hanya membutuhkan bakat tetapi juga latihan yang rutin. Perasaan tidak suka ini akan terus berkembang jika kita selalu negative thinking dan enggan untuk mulai belajar menyukainya. Seperti kata pepatah “tak kenal maka tak sayang“ demikian pula dengan menulis. Kita perlu menumbuhkan rasa suka pada dunia tulis-menulis sehingga kita dapat melakukan segala sesuatunya dengan lebih mudah.
Perasaan positive thinking perlu dikembangkan karena hal ini akan mampu menumbuhkan semangat individu dalam menulis. Proses menumbuhkan perasaan suka dalam dunia menulis dapat dilakukan dengan membaca artikel atau cerita yang berhubungan dengan minat kita. Dengan membiasakan diri membaca, lambat laun kita akan mempunyai motivasi untuk menulis.
Ketidakmampuan seseorang dalam menulis biasanya bersumber dari perasaan tidak mampu yang dikembangkan oleh individu itu sendiri, jadi jangan heran jika potensi menulis yang bagus pada sesorang akan lenyap seiring dengan tumbuhnya perasaan benci pada kegiatan menulis.
Jika Anda masih punya rasa benci untuk menulis, maka hal yang harus Anda lakukan adalah membuang jauh-jauh perasaan itu, dan mulailah yakinkan diri kalau Anda bisa menulis. Teruslah yakinkan diri Anda mampu dan jangan berhenti mencoba. Jangan sekali-kali Anda benci menulis karena itu akan merugikan diri Anda sendiri. Karena, menulis merupakan salah bentuk komunikasi yang harus kita kuasai dengan baik selain komunikasi secara lisan. Selamat menulis dan ingat practice makes perfect![sn]
* Sofa Nurdiyanti adalah mahasiswa Psikologi Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta. Suka baca buku cerita, nonton kartun Detective Conan, Bintang, dan tertarik dengan bidang sejarah, arkeologi, bahasa, budaya, dan politik. Tetapi, sekarang ia lagi “nyasar” ke bidang psikologi. Nur aktif menulis di wadah jurnalistik Fakultas Psikologi, Sanata Dharma. Ia tengah semangat berlatih untuk menjadi penulis dan trainer. Pos-el: nurrohmah_06[at]yahoo[dot]com.

May 28th, 2009 at 11:04 pm
Great mba Sofa,
Teruslah menulis, semoga cita-cita Anda tercapai,
Supandi-Kroya-Cilacap
Phone 081391274742
May 29th, 2009 at 12:31 pm
yup keep on writing…teman.
May 31st, 2009 at 5:16 am
Terima kasih ats tulisannya
May 31st, 2009 at 10:54 pm
Yup! Absolutely right! Nice Sharing…
Thanks a lot. Keep on creation….
June 1st, 2009 at 8:32 am
aku kan mencoba menulis lagi,lagi dan….lagi

thanks
June 19th, 2009 at 2:03 pm
@ Supandi : Terimakasih Pak. Amin atas doanya, semangat terus buat menulis.
@ Maria Saumi : Terimakasih mbak, tetep semangat buat menulis.
@ Markus Marlon : Terimakasih kembali pak. Semangat!
@ Aliyah Fairuz : Terimakasih. Semangat buat menulis yak.
@ Kacang : Ayo fred, semangat buat menulis.