Home » Kolom Lepas » Mental Baja Menghadapi Badai

Mental Baja Menghadapi Badai

ksOleh: Kak Sugeng*

Mental baja itu seperti mental seorang pejuang yang tidak akan menyerah menghadapi apa pun yang mendera kehidupan. Mental baja itu laksana seorang pahlawan yang pantang menyerah menghadapi penjajah untuk meraih kemerdekaan sejati. Mental baja itu bak pedang bermata dua yang siap menghunus musuh-musuh kesulitan hidup yang mendatangi.

Tetapi sebaliknya, kalau mental tempe selalu menyerah dengan keadaan, selalu ingin lari dari masalah, selalu lembek dengan masalah, sama seperti tempe yang lembek dan mudah patah. Sama seperti seseorang yang mudah patah semangat sewaktu menghadapi tantangan dan masalah. Mental tempe tidak beda jauh dengan binatang undur-undur, yang kalau berjalan selalu mundur.

Namun, bertolak belakang dengan seseorang yang bermental baja, dia akan manganggap tantangan sebagai batu loncatan untuk naik ke tingkat yang lebih tinggi. Laksana burung rajawali, justru dia akan terbang semakin tinggi. Beda dengan burung biasa, kalau ada angin kencang malahan sembunyi dan menghindar. Seseorang bermental baja menganggap kesulitan dan krisis sebagai peluang untuk mendapatkan pendapatan yang lebih banyak lagi dari sebelumnya.

Kalau masyarakat dalam satu kota memiliki sikap mental yang luar biasa ini, tidak mustahil kota itu akan menjadi kota yang kuat, kota yang kokoh, dan sudah pasti akan menjadi kota yang maju.

Berbicara mental seseorang tidak beda jauh dengan sumber daya manusia (SDM). Maju mundurnya satu kota ditentukan oleh SDM yang berkualitas dan berkarakter.

Contoh sederhana, suatu kawasan kumuh dengan SDM rendahan, kalau orang-orangnya dipindahkan ke satu kawasan perumahan yang elit dan berkelas. Maka, tidak lama kemudian kawasan berkelas yang semula indah dan bagus akan menjadi kawasan kumuh. Akan kotor, bau, dan banyak sampah tersebar di mana-mana. Namun, sebaliknya andaikata orang-orang terpelajar, orang -orang yang ber-SDM tangguh, atau manusia-manusia bermental baja dipindahkan ke kawasan yang kumuh. Tidak lama kemudian, kawasan yang kotor, bau, dan tidak enak dipandang itu akan berubah menjadi kawasan elit dan berkelas.

Tempatnya sama, tetapi penghuninya beda, itulah kekuatan dari SDM dari orang-orang yang tinggal di sana. Itulah pengaruh dari sikap mental, sampai sekeliling lingkungan pun ikut terkena dampaknya.

Jadi, perlu dipikirkan bagaimana upaya membangun SDM masyarakat kota supaya lebih baik lagi. Tidak akan berguna kalau kita membangun fasilitas yang modern, namun hanya ditinggali oleh SDM rendahan. Perlu sekali diadakan pelatihan-pelatihan yang menyentuh langsung masyarakat dengan SDM rendah. Tentunya, pelatihan-pelatihan yang membentuk mental dan berkarakter baja.

Tidak hanya masyarakat yang bermental baja, tetapi para pejabat dan aparat hukum, atau mereka yang punya kekuasaan yang besar, merekalah sasaran utama untuk memiliki mental yang baik. Jangan sampai kita memiliki pejabat dan aparat hukum yang bermental pengemis, peminta-minta. Sangat memalukan sekali.

Alkisah, ada seorang anak yang sedang mengemis. Otomatis anak ini punya mental pengemis. Suatu ketika, ada seorang bangsawan yang belum dikaruniai anak. Dia ingin mengangkat si pengemis menjadi anaknya. Sang bangsawan sangat kasihan sekali pada si pengemis cilik ini. Dia sudah tinggal dilingkungan bangsawan yang nyaman, indah, dan sangat menyenangkan. Sayang sekali, pengemis ini tidak meninggalkan mental pengemisnya. Padahal, apa pun yang ia pinta tinggal minta dan langsung ia akan mendapatkan apa yang ia inginkan.

Akibatnya, sering kali anak ini kedapatan meminta-meminta pada lingkungan bangsawan di mana orang tua angkatnya tinggal. Sangat memalukan sekali. Bahkan dalam satu rapat dengan raja, eh anak ini masih saja mengemis kepada para pejabat sebelum memasuki istana. Padahal, orang tuanya tidak kurang-kurang memberitahu dan melarangnya mengemis. Namun sekali lagi, kalau mental pengemis tidak ditanggalkan, maka akan sangat memalukan, baik bagi anak ini, juga bagi orang tua angkatnya.

Akhirnya, karena tidak kuat menanggung malu, bangsawan terkemuka ini mengambil tindakan. Pengemis cilik ini dikembalikan ke habitat awalnya. Anak ini kembali lagi di jalanan menjadi pengemis. Mungkin dan bisa terjadi selamanya dia akan tetap menjadi seorang pengemis. Selama dia tidak membuang sikap mental pengemis, selama itu pula hidupnya masih di bawah kemiskinan.

Alkisah, ada lagi seorang remaja yang belum berpengalaman dalam dunia peperangan, tiba-tiba berani berduel menantang seorang tentara raksasa. Bak gajah melawan semut yang kecil, itulah gambaran duelnya, seperti gladiator. Mengapa hanya seorang remaja ingusan yang berani berduel? Mengapa hanya seorang pemuda minim pengalaman berani bertarung antara hidup dan mati? Di mana para prajurit yang gagah berani? Di mana tentara yang terlatih untuk membunuh lawan? Ke mana para petarung yang tertempa medan pertempuran?

Para tentara bertubuh kekar ini hanya gagah tampak luarnya saja. Tetapi di dalam tubuhnya hanya terdapat dan berdiam hati yang ciut. Itulah gambaran orang yang bermental tempe. Dari luarnya saja kelihatan perkasa, namun dalamnya keropos. Dari luarnya seperti binaraga, namun dalamnya “bina rangka” alias jerangkong hidup. Namun, remaja yang bernyali ini, sekalipun kalau dilihat dari postur tubuh tidak menyakinkan, tetapi di dalam dirinya ada semangat yang menyala-nyala. Ada satu gairah hidup yang tidak gentar dengan raksasa di hadapannya.

Hari –hari ini kita seperti menghadapi raksasa-raksasa masalah, raksasa-raksasa kesulitan hidup. Orang yang bermental baja tidak ciut nyalinya sekalipun ada monster-monster krisis yang menantangnya.

Sangat menyedihkan kalau sampai kita mempunyai mental yang tidak baik. Pengaruh mental masyarakat itu akan menentukan maju atau mundurnya suatu kota. Bahkan, mental rakyat akan menentukan maju mundurnya suatu bangsa.

Coba kita amati, apakah bangsa yang maju berdasarkan usianya? Lihatlah bangsa-bangsa yang tua, peradabannya jauh lebih lama, contohnya Mesir. Kalau dibanding-bandingkan, Mesir masih kalah dengan bangsa yang lebih muda. Banyak bangunan yang jelek ada di sana. Bahkan, kebanyakan bangunan dibarkan tidak selesai. Tiang-tiang besi penyangga masih kelihatan. Selidik punya selidik, ternyata di sana ada satu peraturan; kalau rumah sudah jadi, si empunya harus membayar kepada pemerintah. Jadi, sengaja dibiarkan besi kelihatan biar tampak belum selesai pembangunanya. Sehingga, pemiliknya tidak perlu mengeluarkan uang untuk membayar kepada pemerintah setempat.

Ternyata keberhasilan satu bangsa tidak dipengaruhi dari usia.

Coba Anda cermati, apakah bangsa yang maju adalah bangsa yang kekayaannya melimpah? Luas negaranya sangat besar? Lihat saja Singapura, yang tidak mempunyi kekayaan alam, wilayah negara sangat kecil. Bahkan, untuk air bersih saja harus beli dari Indonesia. Namun, semua orang tahu Singapura adalah negara yang maju, bangsa yang berpengaruh bagi kawasan Asia pada khususnya. Lihatlah Jepang, luas negaranya yang kecil, lebih bagus di Indonesia. Namun sekali lagi, kekayaan dan luas wilayah tidak menjadi dasar kemajuaan bangsa. Yang menjadi dasar kemajuan bangsa adalah mental dan karakter bangsa itu. Bagaimana dengan daerah Anda?[ks]

* Kak Sugeng adalah seorang motivator dan pengembangan diri anak. Office: Jl. Sutan Syahrir 88 Widuran, Solo, Telp: 634996, HP: 08812944185, 0271-7020778, 9111778, Email : kaksugeng@yahoo.com, Website: www.kaksugeng.com.

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 7.4/10 (11 votes cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: +1 (from 3 votes)

3 Comments

  1. Monica Amelia says:

    IMenarik…luar biasa memberkati ….Setuju banget….100 % right statement….karakter & mental seseorang akan mempengaruhi tindakan apa yang diambil orang itu untuk bertahan & menyelesaikan problem yang dihadapinya…So…miliki mental seorang pemenang yang sejati & sikap hati yang bisa melihat positif diatas negatif dlm menghadapi problema apapun, maka kita juga akan keluar sebagai pemenang atas problema apapun….tidak ada hal yang terlalu sulit untuk diselesaikan…semuanya kembali kepada sikap hati , mental & karakter kita…kalau kita percaya 100 % pasti bisa….maka itu juga yang akan terjadi…..SEMANGAT…

    UN:F [1.6.9_936]
    Rating: 0.0/5 (0 votes cast)
    UN:F [1.6.9_936]
    Rating: +1 (from 1 vote)
  2. Bagaimana dengan Katalis dan Kavalis ?

    UN:F [1.6.9_936]
    Rating: 2.0/5 (1 vote cast)
    UN:F [1.6.9_936]
    Rating: 0 (from 0 votes)
  3. Sinatrya says:

    super skali

    UN:F [1.6.9_936]
    Rating: 0.0/5 (0 votes cast)
    UN:F [1.6.9_936]
    Rating: 0 (from 0 votes)

Post a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Comment moderation is enabled. Your comment may take some time to appear.

Komentar