Menjadi Rekan Bisnis yang Menyenangkan
Editor | Kolom Tetap | September 8th, 2009
Oleh: Anang Y.B.*
Saat mati gaya dan tak tahu mesti ngapain, apa yang Anda lakukan? Kalau saya, paling sering membuka browser Opera Mini di ponsel butut saya. Terkadang satu dua pesan elektronik bisa membantu mengusir rasa bosan. Kegiatan iseng lain yang kadang saya lakukan adalah memencet ponsel dan membuka phonebook, selanjutnya menelepon beberapa nomor khusus. Setidaknya ada lima nomor telepon yang sering saya isengin, biarpun saya tahu bahwa nomor-nomor telepon itu hanya akan memberi saya nada dering panjang tanpa sahutan dari seberang sana.
Saya bukanlah pemaaf yang baik, termasuk saat berbisnis. Sejak melakoni kerja di rumah yang saya mulai pada bulan Agustus 2001, tidak sedikit rekan bisnis yang menelikung saya. Dan … nomor telepon yang sering saya isengin tersebut adalah milik orang yang awalnya saya sebut rekan bisnis. Rata-rata mereka kabur dan menghindari saya karena masalah uang. Ada yang ngemplang tidak membayar jasa saya membuatkan proposal tender, ada juga yang menilap uang honor saya selama dua bulan. Bahkan, yang lebih parah lagi yakni memakai nama dan ijazah saya untuk ikut tender. Tentu saja mereka menggunakannya tanpa memberitahu maupun memberi kompensasi kepada saya.
Setelah sekian kali gagal mengajak orang-orang tersebut untuk bicara baik-baik, biasanya saya akan melupakan mereka dan menganggap saya sedang apes dan tidak hati-hati. Melupakan kasus mereka tetapi tidak menghapus nama mereka dari ponsel saya. Itulah sebabnya, bila iseng sedang merasuki saya, maka saya pencet saja nomor telepon mereka. Setidaknya panggilan dari telepon saya akan menjadi lengkingan srigala yang akan mengganggu mereka barang sedetik dua detik!
***
Apakah saya adalah pecundang karena gampang kena kibul? Mungkin jawabannya adalah iya, paling tidak menurut orang-orang yang pernah menipu saya. Bukankah banyak dari pebisnis meyakini ungkapan yang berbunyi “orang baik adalah pecundang”? Tidak sedikit juga yang punya prinsip orang lugu mudah ditipu, orang kampung gampang ditelikung. Saya berharap Anda bukan bagian dari pebisnis yang menganut paham seperti itu.
Pertanyaan mendasar yang bisa kita ajukan ke diri sendiri adalah: “Rekan bisnis macam apa yang ingin saya cari?” Bila jawabannya adalah mitra bisnis yang jujur maka terapkanlah itu juga dalam perilaku Anda saat menjalankan bisnis. Sebab, timpanglah dunia ini bila Anda menerapkan standar ganda: Anda bermimpi memiliki sederet mitra bisnis yang jujur, namun di sisi lain Anda hanya jujur saat dirasa perlu saja!
Mencari mitra bisnis tidaklah mudah, jadi jangan sia-siakan setiap mitra bisnis Anda—barang satu orang pun—dengan berperilaku tidak menyenangkan. Jangan Anda pikir dengan melepas satu mitra bisnis Anda hanya akan kehilangan satu orang saja. Dunia tidaklah sesempit batok kelapa yang ditelungkupkan. Keburukan dan perilaku tidak menyenangkan dari seorang pelaku usaha akan cepat menular melebihi kecepatan debu melayang di musim kering.
Ketika saya tertipu oleh seorang bos konsultan pemetaan, tanpa sadar saya telah menyebarkan perilaku buruk mitra tersebut, yaitu saat saya mengontak teman si bos itu untuk minta informasi mengenai nomor telepon lain yang bisa saya hubungi. “Emang ada apa?” tanya kawan yang saya mintai nomor telepon rekan bisnis yang telah membawa kabur uang saya. Tentu saja saya masih berkilah dengan mengatakan tidak ada apa-apa. Berhubung kawan yang satu ini tidak memiliki informasi yang saya cari, maka dia pun dengan suka rela berburu informasi lewat milis, Facebook, dan e-mail. Dan… saya pun tidak bisa mencegah setiap konfirmasi balik yang menyertakan kalimat tanya, emang ada apa sih?
Tak ingin persoalan tersebut melebar ke mana-mana dan menyeret orang yang tidak terkait, akhirnya dengan terpaksa saya membenarkan persolaan yang saya alami kepada beberapa orang yang saya percaya. Perilaku tidak terpuji yang menimpa saya pun akhirnya menjadi bola salju yang menggelinding cepat menuruni lereng curam. Dan, saya pun tidak kuasa menahan kabar miring itu, sebab akhirnya korban-korban lainnya pun turut masuk gelanggang! Anda tahu sekarang betapa ngerinya saat pepatah “karena nila setitik rusak susu sebelanga” menjadi nyata dalam kehidupan (bisnis) Anda?
Jujur Bukan Sekadar Tidak Berbohong
Menutupi fakta hingga orang lain tergelincir pada penilaian salah adalah juga perilaku tidak jujur. Saat saya menjual foto satelit (bukan foto bergambar satelit tetapi foto permukaan bumi yang dipotret menggunakan satelit) bisa saja saya berlagak bloon, dan menjawab lantang “ADA!” saat klien menanyakan adakah koleksi foto untuk kota Tarakan. Bila saya buru-buru mengirim barang dan membuat invoice, mungkin bisnis saya dalam bidang jual-beli foto satelit hanya seumur jagung. Sebab, klien pastilah akan menahan geram karena data yang mereka terima biarpun benar tetapi belum tentu tepat.
Untuk itulah, karena saya tidak ingin buru-buru gulung tikar, saya selalu memberikan informasi sedetail yang bisa saya sampaikan. Saya akan katakan seberapa baik atau seberapa buruk kualitas foto satelit tersebut. Bila memang lokasi pada foto yang dicari klien sebagian tertutup awan, saya pun akan menyebutkan dengan angka pasti berapa prosen area yang tertutup. Mereka pun biasanya tidak buru-buru kabur dan mencari penjual lain, suatu tindakan yang ditakui kebanyakan penjual. Mereka akan bertanya apakah ada foto untuk lokasi yang sama namun direkam pada tanggal yang berbeda. Saya pun dengan senang hati akan kembali membuka internet dan mengakses situs mitra saya di Amerika sana untuk mencek seluruh koleksi foto satelit di lokasi tersebut.
Klien pun menjadi betah dan saya pun malah mendapat tambahan berkah. Bisakah beberapa foto yang direkam pada tanggal berbeda dibuat mozaik untuk menghilangkan awan? Saya pun mengangguk mantap sambil menjelaskan berapa nilai rupiah yang harus ditambahkan untuk tambahan jasa semacam itu. Ketidaksempurnaan produk yang saya jual sudah saya buka secara blak-blakan sebelum transaksi terjadi. Dan, justru hal itu menjadi pembuka bagi saya untuk tidak sekadar menjual barang tetapi sekaligus jasa. Klien pun menjadi respek, lebih-lebih setelah mereka tahu bahwa saya berjualan foto satelit karena saya memang memiliki kompetensi keilmuan di bidang tersebut.
Bila sudah demikian, maka saya pun bisa memastikan bahwa klien-klien saya bakal menjadi sahabat saya. Mereka meng-add akun Facebook saya, mengirimkan ucapan saat hari raya, dan pastinya bakal mengirimkan order berikutnya kepada saya. Tidak hanya order dari klien lama tersebut, tetapi dari klien-klien baru yang mendengar cerita positif mengenai layanan saya.
Inilah pelumas paling manjur bagi bisnis foto satelit yang saya jalani dari rumah. Saya pun tak perlu mengeluarkan uang jutaan rupiah untuk mengikuti pameran, menjadi sponsor aneka seminar bertema foto satelit, ataupun menjalani road show dari satu kota ke kota lain untuk menjajakan dagangan saya. Sama seperti berita buruk, layanan yang memuaskan pun bisa menyebar dengan cepat tanpa Anda perlu bersusahg-payah mengeluarkan banyak uang.
Terbukti sekarang bahwa jujur tidak membuat klien kabur. Kejujuran yang polos dan tanpa prasangka juga tidak bakal menggagalkan transaksi. Kejujuran malah membuat kita makin mujur dan bisnis makin tumbuh subur. Sekarang, kembali kepada Anda. Apakah kejujuran dalam bisnis memang sudah selaras dengan kepribadian Anda, ataukah bagian dari strategi bisnis yang Anda terapkan, yang penting lakukan itu terus-menerus. Biarpun banyak pebisnis tertawa terkekeh-kekeh melihat Anda berlaku jujur layaknya orang yang masih awam, tetapi yakinlah kejujuran akan membuahkan predikat baru untuk Anda: Seorang mitra bisnis yang ideal dan menyenangkan![ayb]
* Anang Y.B. dikenal sebagai penulis bergaya story telling. Menekuni hobi menulis sejak kecil dan saat ini mulai serius menjalani profesi sebagai penulis buku bertema entrepreneur dan rohani populer. Dua buku yang dia tulis berdasarkan catatan harian dalam blog www.jejakgeografer.com adalah buku Sandal Jepit Gereja (OBOR, 2009) dan 88 Mesin Uang di Internet (BEST, 2009). Anang, Y.B. dapat dikontak lewat http://facebook.com/anangyb
October 26th, 2009 at 11:44 pm
Luar biasa. Suatu contoh nyata yang bukan hanya kata2. Implementasi retoris yang sering dilontarkan oleh para motivator2, anda visualisasikan lewat tindakan. Good