Menjadi Pemimpin Sejati Seperti Gajah Mada
Editor | Buku Pilihan | April 6th, 2009
Oleh: Aleysius H. Gondosari*
Gajah Mada mengucapkan Sumpah Palapa pada tahun 1331, ketika ia diangkat sebagai Mahapatih Majapahit. Sumpah ini termuat dalam kitab Pararaton. Gajah Mada bersumpah tidak akan makan palapa, sebelum seluruh Nusantara dikalahkan, yaitu Gurun, Seram, Tanjungpura, Haru, Pahang (Semananjung), Dompo, Bali, Sunda, Palembang, dan Tumasik (Singapura). Ini adalah visi besar Gajah Mada.
Baru 597 tahun kemudian, setelah Sumpah Palapa diikrarkan, pada tanggal 28 Oktober 1928 Sumpah Persatuan itu terdengar menggelegar lagi sebagai Sumpah Pemuda. Setelah itu, baru tanggal 1 Juni 1945, nilai-nilai dan ideologi Pancasila Gajah Mada diperkenalkan kembali oleh Soekarno dalam sidang BPUPKI.
Dengan visi Sumpah Pemuda yang tidak lain adalah reinkarnasi Sumpah Palapa, serta Pancasila yang tidak lain adalah way of life Gajah Mada, tanggal 17 Agustus 1945 berdirilah Negara Kesatuan Republik Indonesia. Apakah yang menjadi rahasia sukses Gajah Mada, sehingga mampu mempersatukan seluruh Nusantara, yang baru diwujudkan kembali 587 tahun kemudian?
Gajah Mada adalah seorang anak desa dari kalangan kebanyakan, yang terbukti berhasil membentuk sebuah negara besar, yang teritorialnya kira-kira sama dengan bentangan Irlandia sampai pegunungan Kaukasia (lebih luas dari NKRI sekarang). Gajah Mada telah membuat sesuatu yang hampir mustahil dilakukan orang-orang pada zamannya. Tentu akan muncul banyak pertanyaan dalam diri kita:
- Misteri apakah yang menjadi kunci sukses seorang Gajah Mada?
- Misteri apakah yang ada di balik suksesnya mewujudkan Sumpah Palapa yang legendaris itu?
- Misteri apakah yang menuntun Gajah Mada bisa meniti karier dari prajurit biasa sampai mencapai puncak karier sebagai mahapatih atau perdana menteri?
- Misteri apakah yang membentuk seorang Gajah Mada, sehingga mampu menjadi CEO Negara Majapahit yang heterogen dengan segala permasalahannya; heterogen dengan suku, bahasa, dan agamanya; dengan wilayah yang begitu luas, terdiri dari ribuan pulau dan terpisah-pisah oleh lautan?
Mohamad Hendratmoko dengan nama pena Bhre Tandes, mempelajari misteri ini selama dua tahun. Ternyata, misteri sukses Gajah Mada terletak pada kuatnya keyakinan dan konsistensi Gajah Mada dalam menjalankan prinsip-prinsip utama kepemimpinan Astadasa Kottamaning Prabhu, yaitu 18 Prinsip-Prinsip atau Kaidah-Kaidah Utama Kepemimpinan Efektif. Prinsip-prinsip tersebut bersumber dari filsafat dan way of life yang diyakininya.
Bhinneka Tunggal Ika Tan Hana Dharma Mangrwa yang bersumber dari ajaran Mpu Tantular, dan mencerminkan spiritualitas Jawa yang bersifat holistic spirituality, memberi inspirasi pandangan hidup pada Gajah Mada. Mpu Tantular maupun Mpu Prapanca menemukan esensi Ketuhanan Yang Esa, esensi Buddha dan esensi Shiwa sebenarnya satu.
Pandangan spiritualitas semesta ini mewarnai kehidupan Gajah Mada, termasuk perilaku kepemimpinannya. Pandangan hidup tersebut membentuk visi Trihita Wacana. Visi ini menjiwai Astadasa Kottamaning Prabhu.
Inti Trihita Wacana adalah terciptanya hidup harmoni, yaitu untuk mencapai kebahagiaan dunia (jagaddhita) dan akhirat (moksa), dan di dalam kehidupan ini harus dijaga hubungan harmonis antara:
- Manusia dan Tuhan
- Manusia dan alam
- Manusia dan manusia (sesama manusia)
Penghayatan dan pengamalan Trihita Wacana akan membentuk sebuah kualitas hidup yang sekarang dikenal dengan kecerdasan intelektual (IQ), emosional (EQ), dan spiritual (SQ) secara utuh dan seimbang. Astadasa Kottamaning Prabhu mencerminkan keutuhan dan keseimbangan ketiga kecerdasan tersebut.
Secara garis besar, kaidah kepemimpinan Gajah Mada dapat diklasifikasikan menjadi tiga dimensi, yaitu: spiritual, moral, dan manajerial.
Dimensi Spiritual terdiri dari tiga prinsip, yaitu Wijaya: tenang, sabar, bijaksana; Masihi Samasta Bhuwana: mencintai alam semesta; dan Prasaja: hidup sederhana.
Dimensi Moral terdiri dari enam prinsip, yaitu Mantriwira: berani membela dan menegakkan kebenaran dan keadilan; Sarjawa Upasama: rendah hati; Tan Satrsna: tidak pilih kasih; Sumantri: tegas, jujur, bersih, berwibawa; Sih Samasta Bhuwana: dicintai segenap lapisan masyarakat dan mencintai rakyat; Nagara Gineng Pratijna: mengutamakan kepentingan negara di atas kepentingan pribadi, golongan, dan keluarga.
Dimensi Manajerial terdiri dari sembilan prinsip, yaitu Natangguan: Mendapat dan menjaga kepercayaan dari masyarakat; Satya Bhakti Prabhu: loyal dan setia kepada nusa dan bangsa; Wagmiwag: pandai bicara dengan sopan; Wicaksaneng Naya: pandai diplomasi, strategi, dan siasat; Dhirotsaha: rajin dan tekun bekerja dan mengabdi untuk kepentingan umum; Dibyacitta: lapang dada dan bersedia menerima pendapat orang lain; Nayaken Musuh: menguasai musuh dari dalam dan dari luar; Ambek Paramartha: pandai menentukan prioritas yang penting; Waspada Purwartha: selalu waspada dan introspeksi untuk melakukan perbaikan.
Buku ini terdiri dari lima bagian utama. Bagian I berisi tentang latar belakang kehidupan dan karier Gajah Mada dari seorang anak desa hingga menjadi seorang Mahapatih Majapahit.
Bagian II membahas tentang Dimensi Spiritual. Bagian III membahas tentang Dimensi Moral. Bagian IV membahas tentang Dimensi Manajerial. Sedangkan Bagian V membahas tentang Refleksi, belajar dari Gajah Mada.
Selain prinsip-prinsip, di dalam buku ini juga terdapat latihan-latihan meditasi dan kontemplasi sebagai bimbingan praktis untuk meningkatkan ESQ.
Buku ini merupakan buku yang menarik dan layak dibaca oleh orang-orang yang ingin belajar tentang moral, manajemen, dan kepemimpinan dan bagi orang yang ingin menjadi pemimpin yang lebih paripurna.[ahg]
* Aleysius H. Gondosari adalah alumnus ITB tahun 1984, trainer bidang organisasi dan manajemen, penggemar fotografi, pengembang online business, dan sedang menulis buku tentang sehat secara alami dengan metode Energi 5 Elemen. Aley tinggal di Jakarta dan dapat dihubungi melalui email: aleysiush[at]gmail.com atau di nomor telepon: 0818116669.
DATA BUKU
Judul Buku: 18 Rahasia Sukses Pemimpin Besar Nusantara – Gajah Mada
Penulis: Bhre Tandes
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama, Jakarta, 2007
ISBN : 978-979-22-3021-5
Tebal : xi + 122 hal
Ukuran : 13,5 x 20 cm
April 7th, 2009 at 6:51 am
Resensi yang menarik, Pak Aley!
Tetap saja ada hal-hal postif bisa kita petik dari tokoh-tokoh besar berperilaku negatif. Termasuk dari Si Mahapatih gadjah Mada, tokoh invasi kita.
April 8th, 2009 at 7:29 pm
Gajah Mada dan Mahatma Gandhi adalah 2 tokoh idola yang telah memberi inspirasi dan penuntun sepanjang hidup saya.kehadiran buku bapak akan memperjelas saya akan keistimewaan seorang Gajah Mada.
salut ,terima klasih buat usaha bapak.
April 8th, 2009 at 11:49 pm
Salam, Pak Anang.
Memang buku yang ditulis Bhre Tandes ini menarik untuk dipelajari dari sisi moral, manajemen dan kepemimpinannya. Saya sendiri lebih senang damai, he..he..he..
April 8th, 2009 at 11:54 pm
Salam, Pak Putu.
Memang Gajah mada merupakan seorang pemimpin besar. Bhre Tandes menulis kepemimpinan Gajah Mada dengan menarik dari sisi spiritual, moral, dan manajerial. Salam Sukses Selalu.
August 30th, 2009 at 1:40 am
Pak Aleysius,
Terima kasih atas resensinya.
Saya akan cari bukunya, untuk mengenal lebih dekat kakek buyut saya…
August 30th, 2009 at 6:02 pm
Terima kasih atas kunjungan dan komentarnya, Pak Gadjah. Semoga Bapak berhasil mendapat warisan ilmu dari kakek buyut dan dapat menjadi penerusnya…:-)
December 31st, 2009 at 4:17 pm
Pak Aley, terimakasih telah berkunjung ke gandok saya. Banyak hal yang bisa kita dapat dari mempelajari sejarah masa lalu. Setidaknya kita mampu mengenal jati diri kita lebih dalam.
Dan, tokoh Gajah Mada salah satunya. Semoga Bapak tetap sehat, terus berkarya untuk kepentingan bangsa.
Salam Nusantara..!
June 7th, 2010 at 9:10 am
Saya sangat tertarik dengan buku ini dan mphon ijin untuk mengembangkan dimensi-simensi kepemimpinan yang Bapak rangkum secara ilmiah, pengembangan alat ukur psikologis kepemimpinan ini sangat penting untuk perkembangan indigenous psychology Indonesia. Sekiranya Bapak berkenan dan memberi ijin. Slam damai
YB