Menjadi Busur bagi Anak-anak Kita
Editor | Kolom Lepas | September 1st, 2009
Oleh: Lina Kartasasmita*
Anak-anakmu bukanlah anak-anakmu
Mereka adalah anak-anak kehidupan yang rindu akan dirinya sendiri
Mereka dilahirkan melalui engkau tetapi bukan darimu
Meskipun mereka ada bersamamu tetapi mereka bukan milikmu
Pada mereka engkau dapat memberikan cintamu, tetapi bukan pikiranmu
Karena mereka memiliki pikiran mereka sendiri
Engkau bisa merumahkan tubuh-tubuh mereka, tetapi bukan jiwa mereka
Karena jiwa-jiwa itu tinggal di rumah hari esok, yang tak pernah dapat engkau kunjungi meskipun dalam mimpi
Engkau bisa menjadi seperti mereka, tetapi jangan coba menjadikan mereka sepertimu
Karena hidup tidak berjalan mundur dan tidak pula berada di masa lalu
Engkau adalah busur-busur tempat anakmu menjadi anak-anak panah yang hidup diluncurkan
Sang pemanah telah membidik arah keabadian, dan ia merenggangkanmu dengan kekuatannya, sehingga anak-anak panah itu dapat meluncur dengan cepat dan jauh
Jadikanlah tarikan tangan sang pemanah itu sebagai kegembiraan
Sebab ketika ia mencintai anak-anak panah yang terbang, maka ia juga mencintai busur teguh yang telah meluncurkannya dengan penuh kekuatan
~ Khalil Gibran (dari “Cinta, Keindahan, Kesunyian”)
Setiap kali saya membaca karya besar Kahlil Gibran ini, saya selalu merasakan begitu dalam dan indah makna yang diungkapkannya. Karya ini mengajarkan banyak hal dalam hidup saya. Tulisan ini menjadi pedoman untuk saya menjadi ibu yang lebih baik bagi anak-anak saya. Pengalaman hidup selalu menjadi guru yang baik dan inspirasi dari tulisan karya Khalil Gibran menjadi suatu motivasi saya untuk tidak hanya terinspirasi tetapi juga menerapkan dalam hidup saya.
Ketika putri pertama saya lahir, saya mempunyai mimpi-mimpi untuk dia, mengharapkan dia menjadi seperti yang saya inginkan. Saya membisikkan dalam hati saya, “Nak, kamu harus menjadi seorang yang pandai dan kamu akan belajar ini dan itu.” Sampai suatu hari, saya membaca tulisan Khalil Gibran dan merenungkan dalam-dalam maknanya.
Suatu kesadaran muncul di hati saya. Sesungguhnya, bisikan dan harapan saya itu adalah mimpi dan harapan saya sebagai orang tua, dan itu bukan milik anak saya. Saya menilik kembali, banyak dari impian itu adalah keinginan atas diri saya sendiri yang tak mampu saya penuhi. Alangkah naifnya saya membebani seorang anak untuk menjadikan dirinya sebagaimana saya sendiri. Saya seolah mencuri hal yang paling berharga yang dimilikinya, yaitu mimpinya sendiri. Sejak saat itu, saya tidak lagi memberi mimpi saya untuk anak saya. Saya hanya menjadi pendorong dari mimpi-mimpi dan harapan anak saya.
Pelajaran ini bukan hanya berlaku untuk anak-anak saya tetapi juga berlaku untuk anak didik saya. Suatu pengalaman yang bisa saya bagikan adalah, suatu hari saya harus menghadapi seorang ibu yang marah kepada anaknya karena membolos. Saat seorang guru memberitahu ibu tersebut bahwa anaknya membolos beberapa hari, ibu tersebut marah besar, memaki, memukuli anaknya. Saya terpaksa melerai ibu tersebut dengan susah payah.
Saya hanya mampu berkata, ”Maaf Ibu, anak Ibu menjadi anak yang pemarah dan sulit ditegur karena Ibu memperlakukan dia seperti ini.”
Ibu tersebut memandang saya dengan marah dan berkata, “Ibu tidak tahu betapa sulit saya mengajar dia…!”
Saya hanya bisa berkata, “Mengajar atau menghajar, Bu?”
Betapa sulit bagi kita sebagai orang tua untuk mengendalikan kemarahan kita, kekecewaan kita, terhadap anak-anak kita. Berawal dari pengharapan kita sebagai orang tua yang selalu berpikir anak-anak kita harus mengikuti apa yang kita inginkan. Dan, bilamana hal itu tidak tercapai, amarahlah yang kita tumpahkan kepada mereka.
Kalau menilik apa yang tuliskan oleh Khalil Gibran, anakmu bukanlah milikmu, rasanya sebagai orang tua kita keliru menerapkan mimpi dan keinginan kita kepada anak-anak kita. Anak-anak kita memiliki impiannya sendiri, memiliki kelebihan dan kekurangan yang tidak kita miliki. Mengharapkan mereka untuk menjadi yang lebih baik dari kita adalah suatu tujuan yang luhur. Tetapi, sering kali kita lupa, anak-anak kita belajar dan mencontoh dari apa yang kita lakukan setiap hari.
Kalau kita selalu marah dan tidak dapat mengendalikan emosi, begitu pula anak-anak kita akan meniru dan menerima hal itu sebagai nilai yang wajar. Dan, seperti pepatah mengatakan “Buah jatuh tak jauh dari pohonnya”. Sesungguhnya, itu menggambarkan bagaimana kita sebagai orang tua yang telah banyak berperan dalam pembinaan sikap dan perbuatan anak-anak kita. Kita adalah guru pertama mereka. Tanpa kita sadari, kitalah yang menurunkan sikap-sikap itu kepada anak-anak kita.
Betapa miskinnya kita, kalau tidak mampu melihat kelebihan anak-anak kita dan menjadikan kita miskin akan pujian atas keberhasilan anak-anak kita. Betapa pedih hati anak-anak kita yang mimpinya terampas oleh keinginan orang tuanya. Kapan kita terakhir memuji mereka dan memberikan mereka semangat? Berapa kali kita menilai seorang anak hanya dari hasil akhir sebuah laporan nilai sekolah? Lupakah kita bahwa anak-anak kita mengalami kesulitan ketika mereka belajar? Proses anak-anak kita melawan kesenangan dirinya dan belajar adalah suatu proses pembentukan kepribadian. Tetapi hal ini menjadi luput dari pengamatan kita.
Bagi kita sebagai orang tua tidak ada kata berhenti belajar, di dunia ini tidak ada sekolah yang mengajarkan kita menjadi orang tua yang baik. Yang kita butuhkan adalah memahami arti kebutuhan dasar anak-anak kita. Mereka butuh dicintai, dihargai dan dilindungin. Setiap kemarahan kita, hendaklah kita jelaskan mengapa kita marah, mengapa kita kecewa sehingga kita tetap menjaga agar hati anak-anak kita tidak menjadi tawar dan kehilangan kasih.
Bisakah kita menjadi pemanah yang menarik busur dengan kegembiraan? Bisakah kita menjadi orang tua yang penuh kegembiraan membimbing anak-anak kita meraih mimpi dan harapannya? Kita bisa belajar dari Khalil Gibran.[lkk]
*Lina Kartasasmita lahir di Jakarta 1966, lulusan sarjana akuntansi yang memilih menjadi guru dan ibu rumah tangga. Aktif di Toastmaster Club, suka menulis dan mencintai dunia pendidikan. Hasil karya tulisan terdapat di www.wisdom-to-share.blogspot.com atau www.wisdom-to-share.blog.friendster.com. Pos-el: Lkartasasmita[at]hotmail[dot]com.
September 2nd, 2009 at 12:17 am
What a good reminder for me as a Mom!
Some Bible verses which are my guide in rearing children are found in Psalms 127:3->
“Children are reward FROM GOD”. And Proverb 22:6->”Train a child in the way he should go and when he is old he willnot turn from it”.
Thanks for your gift of writing which encourage us to do right things!
September 2nd, 2009 at 9:15 am
Sangat setuju……tiada kata berhenti untuk belajar menjadi orang tua bijak yang panjang kasih ….dan panjang sabar……
Thanks Lin……,GBU
September 2nd, 2009 at 11:19 am
Oops, technical mistake! I meant to give this inspirational writing a 5 stars rating.
September 2nd, 2009 at 6:04 pm
Lin, cerita loe mengharukan juga ya.Banyak suka dukanya juga jadi bu guru.Begitulah hidup Lin,Ada manusia yang bisa menahan emosi walau hati panas. Tapi ada juga yang mulutnya pedas (bicara nyakiti hati) ada juga yang ringan tangan memukul anak tanpa tanya permasalahannya bgmn. Ya…, mudah2 an kita bisa menjadi ibu yang baik bagi anak2 kita. Krn apa yg ditulis oleh Kharil Gibran benar adanya. “Anak2mu bukanlah milikmu” kita hanya sbg orang yang mendapat titipan dlm mengasuh mereka.
September 2nd, 2009 at 7:21 pm
Susah y jd ortu, tks bu tulisannya
September 3rd, 2009 at 8:55 am
Lin,
Apa yang terbaik buat kita bukan berarti yang terbaik buat anak-anak kita. Kita dipisahkan oleh perbedaan generasi yang cukup besar. Jika 1 generasi = 10 tahun, maka perbedaan waktu antara orang tua dan anak-anaknya bisa mencapai 25 tahun atau 2.5 generasi. Apakah mungkin kita minta mereka masuk kedalam generasi kita? Jadi kita yang harus masuk kedalam generasinya, sehingga kita juga jadi lebih ter-update dan menjadi tidak “Jadul” dimata anak-anak.
Good writing. Keep it up.
cheers,
PJ