Mengubah Ujian Menjadi Anugerah Kenikmatan
Editor | Kolom Tetap | April 20th, 2009
Oleh: Fita Irnani*
Anugerah dan bencana adalah kehendakNya, Kita mesti tabah menjalani
Hanya cambuk kecil agar kita sadar, Adalah Dia di atas segalanya….
~ Ebiet G. Ade
Beberapa pekan sudah waktu bergulir meninggalkan babak memilukan pada salah satu bagian Republik ini, Situ Gintung. Bencana selalu datang tiba-tiba, tidak diduga, seolah buta menghampiri siapa pun di hadapannya. Tidak pandang kaya atau miskin, pria atau wanita, tua atau balita. Tepat setelah kumandang adzan subuh, ledakan besar terjadi pada salah satu sisi tanggul danau Situ Gintung.
Jutaan meter kubik air danau tumpah menerjang kawasan pemukiman di sekitarnya, memorak-porandakan apa saja yang dilaluinya. Jerit kengerian dan tangisan menyayat hati mengalun dari bumi Situ Gintung. Setelah rentetan bencana yang menimpa negeri ini beberapa waktu lalu, kali ini, kembali Indonesia berduka.
Serasa disayat sembilu menyaksikan episode bencana Situ Gintung ini. Bagaimana tidak, dari rekaman kamera peliputan sebuah media elektronik diperoleh gambar kekalutan seorang warga yang kehilangan seluruh anggota keluarganya. Ada adegan kepanikan seorang warga berlari menggendong jasad kaku putri balitanya. Lalu, histeria seorang ibu mendapati anaknya terbujur tanpa nyawa, adegan anggota tim penyelamat yang kesulitan menarik jasad-jasad korban yang terjepit pohon, pemakamam massal, rumah, dan mobil yang tidak lengkap lagi bentuknya.
Untung tak dapat diraih malang tak dapat ditolak. Banyak warga kehilangan sanak keluarga dan harta benda dalam musibah jebolnya danau tua ini. Tercatat lebih kurang 100 korban tewas diketemukan, sementara puluhan korban lain belum diketahui rimbanya. Rumah tinggal hancur tersapu air bah, harta benda hilang dan porak poranda. Sungguh tragis memang, di tengah ingar bingar gelombang kampanye pemilu di negara ini, tersisa kisah sedih dari Situ Gintung.
Wajah-wajah duka dan trauma kehilangan, memancar dari korban selamat musibah ini. Mengapa setiap bencana selalu menyisakan duka? Mengapa pula bencana seolah kerap menyambangi bumi kita ini, setelah Tsunami Aceh di NAD dan gempa bumi di DIY, lalu kini Situ Gintung? Benarkah ini pertanda bahwa Tuhan sedang murka?
Saya percaya Tuhan tidak semata-mata menurunkan bencana tanpa ada maksud menyertainya. Jika mau dirunut ke belakang, bencana Situ Gintungpun terjadi karena kelalaian manusia. Kabarnya, dua tahun lalu kerusakan tanggul warisan Belanda ini sudah dilaporkan kepada pemerintah namun tidak ditanggapi. Pun ketika terjadi luberan tanggul pada tahun 2008, hal ini pun masih tidak beroleh tanggapan.
Terlalu mudahnya Pemda memberikan izin alih fungsi lahan di sekitar situ menjadi lokasi perumahan dan pemukiman, juga berperan dalam mempersempit lahan untuk irigasi yang menyebabkan situ menjadi tidak mampu lagi menampung limpahan air hujan.
Pada dasarnya, siapa pun tidak menginginkan mendapat musibah. Namun, jika musibah sudah menghampiri, apakah kita sanggup menolaknya? Ia datang kapan saja, di mana saja, dan dalam bentuk apa saja. Tidak peduli di kala kita susah atau dalam kegembiraan. Lantas, bagaimana kita menyikapi ketika dihampiri musibah? Hal ini tergantung cara pandang masing-masing individu, namun yang perlu dikedepankan adalah untuk selalu berbaik sangka.
Ada yang memandang musibah sebagai bencana. Cara pandang ini akan menghambat kita untuk berpikir secara jernih dalam mengambil hikmah di balik bencana. Yang ada justru kita kian mengutuki nasib, tidak berhenti meratapi kedukaan, dan kehilangan yang disebabkan oleh bencana, serta sibuk mencari kambing hitam. Lebih parah lagi akan menyalahkan Tuhan (jangan pernah terjadi).
Sebagian lagi memandang musibah sebagai ujian dari Tuhan. Cara pandang ini akan menimbulkan kesadaran moral untuk mawas diri, berpikir dan mencari pelajaran di balik bencana. Sikap sabar akan lahir dari sini. Sabar atau tidak sabar, toh ujian yang telah ditetapkan akan tetap terjadi. Jika memang demikian, akan lebih baik jika kita memilih sabar menjalaninya, bukan? Dan, sanggup atau tidak sanggup kita menghadapinya, yang pasti, Tuhan juga telah menakar kekuatan kita untuk melewati ujian-ujian-Nya.
Saya percaya bahwa musibah adalah bentuk kasih sayang Tuhan kepada umat-Nya. Barangkali hal ini adalah cara Tuhan menguji, menasihati, menyadarkan akan kekhilafan, kesalahan, dan kelalaian manusia, yang mungkin telah tergelincir melupakan-Nya. Pada kenyataannya, memang setiap hari kita masih menghadapi aneka bentuk kemaksiatan, korupsi di mana-mana, menghilangkan nyawa orang semudah membunuh lalat, perkosaan bahkan terhadap anak kandung sekalipun. Dan saya yakin, masih banyak lagi perbuatan yang jauh dari yang namanya ibadah kepada Tuhan.
Perlu diketahui bahwa di setiap kesulitan akan ada kemudahan, yang akan melahirkan kebahagiaan. Namun, kadang manusia juga dibutakan oleh kebahagiaannya, lupa mensyukuri, dan bahkan lupa kepada si pengirim kebahagiaan. Musibah dan kebahagiaan akan datang silih berganti, menjadi bagian dari kehidupan yang membawa hikmah tersendiri. Keduanya adalah skenario terbaik untuk manusia.
Ketika musibah datang, sesungguhnya saat itu Tuhan tengah berbicara kepada manusia melalui bahasa cinta-Nya, lantas kenapa kita tidak menikmatinya?[fi]
* Fita Irnani lahir di kota Semarang 13 Juni 1975. Sulung dari tiga bersaudara ini menghabiskan masa kecil hingga SMA di kota kelahirannya. Alumnus workshop Proaktif “Cara Cerdas Menulis Buku Bestseller” Batch VIII, Februari 2009 ini menetap di kota Bogor dan saat ini bekerja sebagai HR Executive pada sebuah perusahaan multinasional yang berkantor di Sudirman. Fita dapat dihubungi melalui pos-el: acho_fit[at]yahoo[dot]co[dot]id.

April 21st, 2009 at 12:25 am
Kita harus belajar dari beberapa negara maju yang selalu menyiapkan alternatif bila sewaktu-waktu datang busibah, seperti shelter misalnya. Dan juga pendidikan berkenaan dengan bagaimana menghadapi musibah harus diberikan sejak dini.
April 21st, 2009 at 9:25 am
bener fit..thx sdh mewakili kita2 utk menulis ttg situ gintung..hehe…n deep condolence for victim of situ gintung disaster…semoga diberi ketabahan yg luarbiasa…Tuhan punya KUASA, pasti ada hikmah dibalik peristiwaNYA.
April 22nd, 2009 at 1:02 pm
Ya, saya setuju ketika musibah itu datang, pada dasarnya itu merupakan bahasa Tuhan buat mahluknya, bahasa itu digunakan terakhir kali ketika bahasa yang lain itu tidak dimengerti oleh kita. Jadi ketika musibah dan kesulitan datang, gunakan moment itu untuk mencoba mengerti bahasa Dia, sehingga kita bisa bertindak dan berpikir dengan cara baru. Semoga
June 21st, 2009 at 9:52 pm
bnyaknya bencana yang terjadi karena manusia kurang bersyukur atas nikmat2 yang telah di berikan.dan Allah murka krn skarng hukum Allah tidak tegak di muka bumi,kesyirikan terjadi di mana2 dan maksiat telah menjadi merajalela.
July 2nd, 2009 at 9:54 am
Hello Guru, what entice you to post an article. This article was extremely interesting, especially since I was searching for thoughts on this subject last Thursday.