Mengubah Rasa Berat Menjadi Berkat

adOleh: Alexandra Dewi*

Saya baru pulang dari liburan ke Bali. Karena Bali itu consider dekat dari Jakarta, saya sudah lupa berapa kali saya ke sana. Seingat saya setahun sekali saya ke sana, walau ada bom atau apa, saya tidak pernah merasa Bali tempat yang menyeramkan. Boleh dibilang saya agak kurang balance, tetapi saya selalu merasa kalau Tuhan mau saya meninggal, saya kok rasanya punya suatu keyakinan sudah dari dulu-dulu saya dipanggil. Entah apa yang Tuhan pikirkan, tetapi saya merasa kok masih ada tugas yang Tuhan masih suruh saya lakukan.

Anyway, sambil mengetik ini saya pun dalam hati minta maaf kepada Tuhan YME kalau saya ke-pede-an soal apa yang saya baru ketik di atas. Tahu-tahunya kapan saya ke mal lalu kena bom, sama sekali enggak lucu, kan? Akhirnya, saya tambahkan sedikit doa supaya saya masih dikasih kesempatan untuk menjadi alat-Nya seumur hidup saya. Dan, tentu saya tidak ada banyak pilihan sampai kapan Tuhan inginkan saya jadi alat-Nya. Dan, sementara saya masih bisa duduk di sini dan mengetik artikel ini, saya ingin sharing pengalaman demi pengalaman, dari satu trip ke Bali ke trip berikutnya.

Dengan segala kejujuran dan kerendahan hati, setiap kali saya ke Bali saya ganti hotel. Tetapi, pemandangan masing-masing hotel itu tidak kalah bagusnya. Semuanya indah. Breath taking. Tetapi lagi, rasa di dalam hati saya dari tahun ke tahun, dari hotel ke hotel, tidak selalu sama.

Pernah saya ke sana dalam suasana hati tenang. Namun, justru pemandangan tidak begitu saya hargai. Laut? Pantai? Laut ya laut, pantai ya pantai. So what? Aneh kan saya? Sedangkan kalau saya sedang kalut, saya lihat pantai dan laut itu justru punya nilai lebih, seperti ada the higher power there. OK, please jangan bilang saya gila. Yang saya maksud di sini adalah, Bali tetap Bali, tetapi apa yang sayadan mungkin sebagian dari Andabisa relate adalah bahwa apa yang kita rasakan dari tempat yang sama dengan apa yang kita rasakan ketika di sana hasilnya beda.

Sok ahli matematika: A = saya, B = Bali, ternyata A dan si B bersama di waktu yang berbeda dan dengan perasaan yang berbeda hasilnya bisa AB, bisa ABB, bisa BB, bisa AA, dan lain sebagainya. Maksud saya, ada kalanya yang saya lihat hanya Bali-nya dan tidak ada kenangan apa-apa kecuali waktu kena sun burn (terbakar sinar matahari karena lupa mengenakan sun block/tabir surya). Justru perasaan yang paling berkesan ketika saya di sana adalah ketika saya sedang mumet. Bukan ketika saya sedang tidak merasa ada masalah.

Pernah suatu kali saya ke sana sedang, istilahnya, broken hearted alias patah hati. Aduh, kalau sedang patah hati lebih baik tidak ke sana dan melihat tempat-tempat romantis. Kalau Anda enggak kuat nanti Anda bunuh diri. Dan, di Bali ada berbagai macam cara untuk melakukan itu, kan? Misalnya, naik perahu pura-pura mau snorkling, di tengah lautan Anda tinggal lompat tanpa ban. Atau, Anda bisa naik flying fish (sejenis balon udara), lalu Anda lepaskan tali pengamannya dan terjun bebas. Atau lagi, Anda sign up mau melihat shark, lalu terjun ke tempat shark itu. Atau yang lain, bisa juga bungy jumping dengan membawa gunting untuk memotong talinya sehingga Anda, lagi-lagi, terjun bebas tanpa safety net. Waduh, banyak juga ya cara mau bunuh diri di Bali hahaha….

Tentu, setelah saya ke sana dengan tidak ada rasa patah hati lagi, saya mau enggak mau harus teringat dengan rasanya dulu. Teman saya ajak pergi makan, saya tanya dulu, “Romantis enggak tempat itu? Kalau romatis gue enggak mau. Gue maunya ke pasar atau warung pinggir jalan.” Sekarang, saya bisa tertawa menertawakan apa yang sudah lewat. Tetapi dulu, ketika sedang nelangsa, ke Bali seperti disuruh membajak sawah rasanya hahaha….

Apalagi melihat pengantin baru atau pasangan yang lagi mesra-mesraan di tempat romantis. Ditambah ada pertunjukan di lobi yang mengalunkan lagu-lagu atau irama musik yang sebenarnya sangat teramat romantis (bagus). Rasanya malah membuat saya ingin memberi tip kepada pemain piano atau gitarnya supaya stop dan jangan main musik romantis lagi. Ya, begitulah namanya orang yang sedang kehilangan.

Kehilangan, nah ini dia. Berat rasanya. Kehilangan pekerjaan, kehilangan orang yang kita cintai, kehilangan harapan, pokoknya kehilangan. BERAT! Waktu rasanya seperti digeret semut. Mau menggerakkan badan seperti angkat barbel. Berat! Walau semua orang memotivasi: Time heals. God loves you. This is the best. Badai pasti berlalu. Yada yada yada, bla bla bla. Itu yang masuk ke telinga saya ketika itu.

Nah, trip yang saya ceritakan kali ini, ceritanya saya lagi duduk di lobi untuk mengetik artikel (bohong ding, sebenarnya untuk mengecek Facebook). Di sana saya duduk melihat ke arah pantai, dan persis di belakang saya ada seorang penyanyi wanita duduk sambil main piano. Lagu-lagunya adalah With or Without You (U2), lalu ada lagu Will You Still Love Me Tomorrow, dan You Are Still the One, dan lagu-lagu romantis lainnya. Saya duduk di sana dengan laptop saya sambil memandang ke pantai dan lobi yang open door, memberi angin sepoi-sepoi dan lilin di sana sini serta bisikan dan desiran pantai masih terdengar dari situ.

Mau enggak mau saya jadi mengenang sekilas jalan hidup saya, alias kebawa suasana. Buktinya, begitu musiknya stop karena penyanyinya lagi istirahat, saya kembali meng-email karyawan saya di kantor mengenai masalah pekerjaan yang ada. Anyway, apa yang saya coba sampaikan di sini adalah bahwa menjadi berkat itu berat-benar berat, berat untuk dipercaya ketika kita sedang kehilangan.

Umpama Anda sedang kehilangan dompet, handphone, dan seluruh isi ATM Anda. Lalu, saya kasih Anda tiket gratis ke Bali dan tiga malam menginap di hotel pilihan Anda di sana. Anda pasti tidak akan excited soal Bali. Itulah bedanya melihat dunia ini ketika sedang ‘normal‘ atau ‘tidak normal‘.

Saya duduk di meja itu dan berpikir, “Bagaimana aku bisa menyakinkan orang yang sedang kehilangan ketika aku sendiri sedang ‘kehilangan’?” Berat bisa menjadi berkat. Wong tinggal tambah huruf K di tengah huruf R dan A. Bagaimana saya bisa memberi sedikit harapan kepada mereka, yang rasanya, kalau besok kiamat juga mereka sama sekali tidak keberaratan?

Akhirnya, saya memutuskan menulis sebuah buku lagi. Kumpulan cerita orang-orang yang saya kenal, yang hidupnya bisa dibilang cukup berat tetapi masih bisa semangat, dan kebetulan kebanyakan ya wanita.

Cowok yang curhat ke saya rata-rata juga jaim banget soal perasaan dia yang katanya mau mati saja. Ada kenalan saya, seorang pria yang ditinggal pacarnya empat kali gara-gara dia masih belum bisa beli mobil (konon ceritanya seperti itu). Tetapi, kalau dilihat tampilan luarnya, sepertinya sangat amat normal. Saya pernah lihat dia mabuk suatu malam, baru deh warna aslinya keluar. Berat. Anda bisa mencoba membayangkannya sendiri.

Mudah-mudahan kenalan pria saya ini mau curhat kepada saya suatu saat, supaya saya lebih jelas apa sih yang dia rasakan dan bagaimana sehari-harinya dia membawa diri. Apakah dia mendemonstarsikan FAITH? Atau, dia sedang jadi academy awards nominee alias aktor sebagai orang kuat, padahal dalamnya seperti kuda lumping (seperti makan beling?). Kalau dia mau sharing kepada saya bagaimana dia masih bisa sampai di kantor jam 7 pagi dan pulang jam 7 malam dengan penuh semangat, dan saya bisa tuliskan, betapa tidak sia-sianya segala rasa berat yang dia rasakan. Karena dengan ceritanya, dia bisa menyemangati orang lain yang amat sangat membutuhkannya.

Banyak training motivasi ditawarkan saat ini. Pendapat saya pribadi, training motivasi adalah untuk orang-orang yang sudah somewhat punya semangat. Mereka sadar memelihara semangat itu penting sehingga mereka pergi ke sana. Bagi yang sedang kena malapetaka, patah hati, atau kehilangan, jangankan pergi ke training motivasi, mau mandi saja hampir tidak ada tenaga.

These people need other people who understand. Orang-orang yang mengerti apa yang sedang mereka lalui, menerima mereka apa adanya, bahkan percaya lebih dari diri mereka sendiri bahwa mereka akan bangkit lagi. Orang-orang ini perlu waktu, perlu teman yang menyemangati dengan memgerti bahwa beban dia berat, namun yakin bahwa berat tersebut pasti menjadi berkat. Mungkin dengan kenal orang yang pernah melewati masalah yang sama, atau bahkan lebih berat lagi dan berhasil melewatinya. It is not an easy job, untuk menyemangati orang yang merasa tidak ada lagi light at the end of the tunnel. Mudah-mudahan tulisan saya kelak bisa sampai ke mereka yang membutuhkannya.[ad]

* Alexandra Dewi adalah seorang eksekutif sebuah perusahaan pemasar suplemen makanan, penulis buku The Heart Inside the Heart, Queen of Heart, dan co-writer buku I Beg Your Prada. Saat ini, Dewi sedang menantikan penerbitan bukunya yang keempat tentang fashion dan sedang menyiapkan buku-buku berikutnya. Dewi dapat dihubungi melalui pos-el: inthelalaland[at]yahoo[dot]com.

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 9.4/10 (5 votes cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: +4 (from 4 votes)

3 Responses to “Mengubah Rasa Berat Menjadi Berkat”

  1. Agung Praptapa Says:

    Duh..tulisanya enak banget dibaca. I miss Bali.

    UN:F [1.6.9_936]
    Rating: 0.0/5 (0 votes cast)
    UN:F [1.6.9_936]
    Rating: 0 (from 0 votes)
  2. mery Says:

    Cici alexandra liburan kebali kenapa gak happy? Bawaan hati ya? Hahaha:) bahaya neh kalo curhat ama cici alexandra hehehe+_+ bisa2 curhatnya dibikin novel hihihi*_* becanda ya jangan narah, good luck(”,)

    UN:F [1.6.9_936]
    Rating: 0.0/5 (0 votes cast)
    UN:F [1.6.9_936]
    Rating: 0 (from 0 votes)
  3. Nixon Fernando Samosir Says:

    memang paling susah untuk menjadi orang yang bermanfaat disaat kita sedang menghadapi masalah,,tapi jika kita berusaha, kita akan terbiasa dan akhirnya setiap masalah bukan lagi menjadi masalah dalam hidup kita..

    UN:F [1.6.9_936]
    Rating: 0.0/5 (0 votes cast)
    UN:F [1.6.9_936]
    Rating: 0 (from 0 votes)

Leave a Reply

Comment moderation is enabled. Your comment may take some time to appear.

Motivasi Dunia

Motivasi Dunia

Kolomnis

<
Edy Zaqeus Eni Kusuma Avanti Fontana Alexandra Dewi Miranda Suryadjaja Sofa Nurdiyanti
Anang Y.B. Hartati Nurwijaya Aleysius H. Gondosari Sulmin Gumiri Relon Star Sri Budiastuti
Agus Riyanto Iftida Yasar Fida Abbott Ery Prasetyawan Tanenji Ingrid Gunawan
Maria Saumi Ely Susanti Agung Praptapa Putu Adnyana Fita Irnani Nathalia Sunaidi
M Sebastian Wijaya Abdul Muid Badrun Kak Sugeng Akhmad Sirodz Lisa Nuryanti Abidin Noor
Wuryanano Petriza Giovanni Amelia Devina Tri Wahyuni Endang Setyati Vina Tan
Lianny Hendranata Emmy Angdyani Erawati E. Setyo Hartono Fatma Kartika Sari Supandi Radinal Mukhtar Harahap
Sawali Tuhusetya Gatut Heru Susanto Effendi Budi P. Fajar S. Pramono Ade Asep Syarifuddin Melly Kiong
Guntur Novizal Ida Rosdiana Natapermadi Risfan Munir Sri Julianti Sawiji Farelhana Dewi Rhainy
Deni Kurniawan As’ari Johanes Ariffin Wijaya Indari Mastuti Enggar Kusumaningsiwi Daniel Kurniawan Sayuri Yosiana
A.A. Kunto A. Lina Kartasasmita K. Hanna Fransisca Wahidunnaba Yusuf Tantowi Dwiatmo Kartiko
Meta Sekar Puji Astuti M. Adi Prasetyo Abd. Basid Lily Choo Rina Dewi Lina Berny Gomulya
Zee Cardin M. Iqbal Dawami Sidik Nugroho Emmy Liana Dewi Ridwan Sumantri Dwiyana Apriandini
Andrew Abdi Setiawan Gobind Vasdhev J. I. Michell Suharli Yusnita Rifai Gagan Gartika

Check Google Page Rank

Buku Baru

Obrolan yang Bikin Kamu kaya

Judul: Obrolan yang Bikin Kamu kaya
Oleh: Don Gabor
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama, 2009
ISBN: 978-979-22-5073-2
Tebal: xviii + 380 hal

Jangan hanya membangun jejaring luas-berjejaringlah dengan cerdas!
Obrolan yang Bikin Kamu Kaya menyajikan pendekatan baru revolusioner pada topik berjejaring yang tak lekang waktu. Penulis buku laris dan pelatih komunikasi Don Gabor memperkenalkan Anda pada empat gaya berjejaring—Kopetetif, Supel, [...]

Full Story | February 24th, 2010

Best Viewed With Mozilla FireFox