Mengontrol “Puncak” dan “Lembah” Kehidupan Sendiri
Editor | Buku Pilihan | September 1st, 2009
Oleh: Dewi Rhainy*
Pada suatu senja di New York, Michael Brown bergegas menemui seseorang yang—menurut temannya—mungkin dapat membantunya mengatasi kesulitan yang tengah dihadapinya. Pada saat dia melihat Ann Carr, dia terkejut karena tadinya dia berharap akan menemui seorang wanita yang terlihat penuh beban. Karena, dia tahu Ann Carr juga tengah mengalami masa yang berat. Ternyata, Ann Carr yang dia lihat adalah wanita yang terlihat ceria dan penuh energi.
Micahel Brown lalu bertanya pada Ann Carr, mengapa wanita itu terlihat baik-baik saja walaupun sedang ditimpa kesusahan. Lalu, Ann Carr menjawab bahwa setahun sebelumnya dia mendengar sebuah cerita. Dan, cerita itu mengubah cara pandangnya tentang masa-masa susah dan masa-masa senang. Cerita itu juga membuatnya menjadi tenang dan lebih sukses, dalam keadaan apa pun.
Bagian-bagian berikutnya dari buku ini berisi cerita Ann Carr tentang seorang pemuda yang tinggal di lembah dan seorang Pak Tua yang tinggal di puncak. Sang pemuda yang merasa tidak bahagia tinggal di lembah, sampai dia berjumpa dengan seorang lelaki tua yang tinggal di sebuah puncak.
Sang pemuda yang hanya mengenal lembah sebagai tempat tinggalnya dari kecil, merasa tidak bahagia—walaupun dia tidak tahu pasti apa alasannya—sampai suatu saat dia memandang ke barisan puncak gunung yang berdiri anggun di atas lembahnya, dan bertekad untuk pergi ke puncak. Teman-teman dan orang tuanya melarang pemuda itu pergi dengan membahas bagaimana sulitnya mencapai puncak, dan betapa nyamannya tetap berada di lembah. Mereka semua menahannya untuk tidak pergi ke tempat yang mereka sendiri belum pernah kunjungi.
Di dalam perjalannya inilah sang pemuda merasakan segalanya. Mulai dari harapan, perjuangan, kesenangan karena merasakan sesuatu yang berbeda, ketakutan, juga kebanggaan karena berhasil menaklukan ketakutannya tersebut.
Sampai akhirnya setelah di puncak, dia bertemu dengan Pak Tua. Dan, pembicaraannya dengan laki-laki itu, yang terlihat sangat bahagia, arif, dan bijaksana, telah memberikan suatu pencerahan bagi dirinya. Bahwasannya sudah merupakan hal yang lumrah bagi siapa pun, di mana pun, untuk mengalami masa di puncak dan masa di lembah dalam pekerjaan maupun kehidupan pribadinya.
Dalam buku ini, puncak sebenarnya adalah masa ketika kita menghargai apa yang kita miliki dan lembah adalah masa ketika kita merindukan apa yang telah terlepas dari kita. Puncak dan lembah berkaitan, karena kekeliruan yang kita lakukan pada masa senang sekarang ini menciptakan masa susah di kemudian hari. Dan, kearifan yang kita jalankan pada masa susah sekarang ini juga menciptakan masa senang di kemudian hari. Kita memang tidak dapat mengontrol berbagai kejadian di luar diri kita. Tetapi, kita dapat mengontrol puncak dan lembah kita sendiri, dengan apa yang kita yakini dan lakukan.
Berbagai hal positif yang kita temukan dan gunakan pada saat susah dapat mengubah lembah kita menjadi puncak. Bagaimana kita mengelola lembah kita menentukan seberapa cepat kita akan mencapai puncak. Demkianlah, beberapa inti pembicaraan Pak Tua dengan sang pemuda, sampai akhirnya sang pemuda dapat mengatasi kesulitannya di lembah dan menjadi pemuda sukses.
Sang pemuda lalu membuat ringkasan hasil pembicaraannya dengan Pak Tua, dituliskan dalam sebuah kartu, sebagai pengingat yang sangat berguna baginya. Ringkasan itu mengingatkannya untuk lebih sering menerapkan prinsip-prinsip dan perangkat luar biasa; “Pendekatan Puncak dan Lembah”. Dan, dalam hari-hari serta bulan-bulannya berikutnya, dia mendapatkan banyak kesempatan untuk membantu orang lain dengan membagikan ringkasannya. Karena, salah satu syarat kesepakatan sang pemuda dengan Pak Tua adalah jika sang pemuda mendapatkan manfaat dari cerita-ceritanya itu, dia harus menceritakannya kepada orang lain yang membutuhkan.
Begitulah ceritanya, sampai akhirnya berpuluh tahun kemudian anak muda itu telah berubah menjadi orang tua. Dia pindah ke puncaknya sendiri tempat dia menghabiskan sebagian besar waktunya, meski kadang-kadang dia masih kembali ke lembahnya. Dengan penuh kasih dia selalu mengenang Pak Tua yang telah berbagi cara yang begitu berharga untuk mengatasi gelombang kehidupan yang dialaminya. Dia dikenal sebagai tuan rumah yang baik hati dan teman yang peduli, serta menikmati pernikahan yang bahagia dengan istri yang sangat mengasihinya.
Cerita Pak Tua dan sang pemuda inilah yang menginspirasi Ann Carr untuk mengatasi semua keruwetan yang dialaminya. Dan, Michael Brown juga berusaha untuk menerapkan cerita Ann Carr dalam kehidupannya, sampai akhirnya dia juga berhasil menyelesaikan masalah dalam pekerjaan dan rumah tangganya.
Buku karangan Spencer Johson , M.D. ini sangat bagus dan enak dibaca. Karena, alur ceritanya terasa tidak menggurui. Membacanya seperti membaca sebuah buku cerita biasa, tetapi mengandung banyak nilai kearifan di dalamnya. Poin-poin penting dalam buku ini ditulis dalam huruf indah yang diketik besar-besar dan miring. Ini membuat pembacanya lebih mudah untuk mengingat inti setiap bab.
Namun kelemahannya, kadang ‘pengandaiannya’—seperti lembah adalah masa sulit, puncak adalah masa senang, dataran adalah tempat yang menggambarkan orang-orang yang tanpa semangat, kosong—membuat kita harus “menerjemahkannya”.[dr]
* Dewi Rhainy, 18 November 1970, Ibu Rumah Tangga, Teknik Industri Universitas Trisakti, 1989, : alauddino@yahoo.com.
DATA BUKU
Judul : Peaks and Valleys
Penulis : Spencer Johnson, M.D.
Penerbit : PT. Gramedia Pustaka Utama
Cetakan : Pertama (Juni 2009)
Tebal : 146 halaman
October 25th, 2009 at 8:40 am
Verba volent, scripta manent
Menulislah selagi bisa menulis
Jadilah garam dan terang dunia