Menghargai Pilihan
Editor | Kolom Tetap | March 30th, 2009
Oleh: Fita Irnani*
Memasuki pergantian tahun dari 2008 menuju 2009 yang lalu, pastilah menorehkan kisah tersendiri bagi setiap orang di belahan bumi mana pun. Masyarakat Eropa, Amerika, Asia, Australia, dan tidak terkecuali kita di Khatulistiwa, bersuka cita merayakan pergantian tahun. Tradisi count down menuju pukul 00.00 dini hari, tepat di hari pertama bulan Januari diwarnai dengan pesta kembang api aneka warna dan rupa, membangkitkan decak kagum umat manusia atas kreativitas anak-anak negeri. Ingar bingar tontonan musik yang digelar sebagai perhelatan akbar perayaan Old and New, seolah menandai kebangkitan semangat untuk kembali melangkah, mengisi tahun yang baru, dan memperbaiki rencana masa silam di tahun ini.
Namun, benarkah momentum tahun baru selalu diwarnai dengan kebahagiaan, spirit baru, dan keyakinan untuk mantap memijakkan kaki di tahun baru? Saya agak ragu, terlebih ketika teman dekat saya justru mengutarakan keraguannya, untuk tetap melanjutkan prestasi pada perusahaan tempat kami mengabdikan diri di awal tahun ini. Kecewa, sedih, shock bercampur menjadi satu manakala dia mencurahkan isi hatinya. Ada keraguan di matanya, ada kebimbangan dalam suaranya, dan ada air mata manakala dia bertutur perihal alasannya.
Saya hanyut dengan sedu sedannya. Kata-kata manis dan klise pun terlontar dari bibir saya, “Yang sabar ya, jangan gegabah menyimpulkan, coba berpikir positif, jangan terburu-buru mengambil keputusan, kamu belum dapat kerja lagi, lho ….” Saya memahami, sebanyak apa pun saya coba menghiburnya, yang dia butuhkan hanyalah tempat untuk menumpahkan emosinya, dan jadilah saya pendengar terbaiknya kala itu.
Seiring, dengan bergulirnya waktu, saya menangkap kebulatan tekad yang semakin nyata pada dirinya. Inikah akhir pilihannya? Saya masih berharap dia mengubah keputusannya. Saya masih berharap, dia tetap di sini. Ada banyak hal yang masih ingin saya pelajari darinya, namun tampaknya nasi sudah menjadi bubur. Hingga pada suatu hari, memasuki minggu pertama bulan kedua, kebimbangan saya terjawab. Sepucuk pemberitahuan resmi pun dia layangkan. Ada yang berdesir di hati saya, antara percaya dan tidak. Saya baca berulang kali kalimat pengunduran dirinya. Bersyukur, saya lebih dulu menangkap sinyal ‘pilihan lain’ di hatinya, hingga pada hari itu saya tidak terlalu terkejut dengan keputusan terakhirnya.
Dalam kehidupan, kita dihadapkan pada berbagai macam pilihan. Memilih untuk diam atau bergerak; memilih untuk maju atau mundur; memilih untuk tegar atau hancur; memilih untuk memimpin atau dipimpin; memilih yang positif atau justru terperosok ke arah negatif; dan masih banyak lagi pilihan-pilhan lain yang disiapkan Tuhan untuk manusia. Pilihan-pilihan ini bisa menjadi pijakan kokoh bagi hidup kita selanjutnya. Atau, dapat pula menjadi batu sandungan bagi kita, karena setiap pilihan memiliki konsekuensi tersendiri. Ada risiko yang harus ditanggung pada setiap pilihan.
Seperti keputusan sahabat saya di atas. Keluar dari perusahaan dengan kondisi belum memiliki pekerjaan kembali. “Tidak masalah,” katanya pada kami, teman-teman dekatnya, kala mempertanyakan kesiapan dia ‘menganggur’. “Setidaknya, gue bisa fokus merawat anak-anak, gue bisa ada waktu lebih untuk tugas-tugas S-2 gue, ya… Walaupun gue sudah tidak ada ‘bulanan’ lagi, tapi gue harus jalani.” Jawaban yang mantap mengindikasikan bahwa dirinya telah memikirkan keputusan menentukan pilihan dan risiko yang akan dia hadapi.
Tidak jarang dalam mengambil keputusan manusia dihadapkan pada pilihan-pilihan sulit. Lalu, bagaimana memutuskan atau memilih yang terbaik? Tuhan menganugerahkan akal dan hati kepada manusia. Akal dipakai sebagai ‘alat’ oleh manusia untuk memutuskan yang terbaik serta memikirkan konsekuensi apa yang mungkin menyertai pilihan-pilihan itu. Akal memegang peranan penting. Akal dapat melihat kebenaran dan dapat pula menuntun hati yang diliputi kebimbangan. Ilham yang diperoleh dari kebersihan hati berperan untuk mempertajam akal. Kolaborasi antara akal dan hati sangat diperlukan untuk melahirkan pertimbangan yang bijak, yaitu pertimbangan yang tidak dimenangkan oleh hawa nafsu atau ketersesatan hati.
Terkadang, hasil pengambilan keputusan tidak selalu berdampak untuk kita sendiri, namun juga berpengaruh kepada orang lain. Bayangkan, jika seorang pemimpin salah mengambil keputusan, akibatnya akan berdampak kepada anak buahnya. Kadang-kadang kita bahkan tidak mengetahui apakah pilihan tersebut benar atau salah. Lantas, bagaimana jika pilihan kita salah? Salah ‘memilih’ bukan berarti kita bodoh. Jangan pernah menyerah, terima dengan lapang dada, karena pada tahap berikutnya kita akan bertemu dengan persimpangan, di mana kita harus memilih kembali.
Saya jadi teringat dengan diri saya sendiri. Pada saat kuliah dulu, saya memilih mengambil fakultas sesuai impian saya. Namun, ketika selesai kuliah, saya justru memilih bekerja di bidang yang tidak ada hubungannya sama sekali dengan kuliah saya dulu. Apakah saya telah salah memilih? Atau, apakah Tuhan yang telah memilihkan untuk saya? Tentu saja tidak, karena semua pilihan adalah keputusan saya sendiri. Tuhan hanya menyediakan pilihan yang tak terhitung jumlahnya di setiap detik kehidupan, dan Dia hanya akan mengatur hasil akhirnya.
Kondisi ini akan berulang dan terus berulang dalam kanvas kehidupan kita. Banyak pilihan akan melatih kita mengambil keputusan dan berani menghadapi kesulitan. Bukankah ini juga ujian dari Tuhan yang akan menjadikan hidup kita menjadi lebih hidup dan berwarna? Yang terpenting adalah hargai pilihan kita, hadapi kehidupan dengan gagah, jalani keputusan dengan penuh tanggung jawab, dan yakini bahwa pilihan kita saat ini akan menjadi batu pijakan untuk melompat lebih tinggi.
Dan terakhir, hal terbaik yang dapat dilakukan adalah berdoa, semoga pilihan kita benar dan tetap berada dalam koridor Tuhan, sehingga kita dapat menerima dengan legowo segala konsekuensinya.[fa]
* Fita Irnani, lahir 13 Juni 1975, menghabiskan masa kecil hingga SMA di kota Semarang. Saat ini bertempat tinggal di kota Bogor dan bekerja sebagai HR Executive pada sebuah perusahaan multinasional di Jakarta. Fita dapat dihubungi melalui email: acho_fit[at]yahoo[dot] co[dot]id.
March 30th, 2009 at 8:41 am
wah…iya setuju dengan statement diatas..setiap pilihan mengakibatkan suatu konsekuensi resiko…dan yg penting memang dlam memilih selalu mengikutsertakan doa…dengan doa pilihan kita akan “menenangkan” kita. Suskes terus ya
March 30th, 2009 at 2:44 pm
Kualitas hidup kita sangat ditentukan oleh kualitas pilihan kita. Orang yang benar-benar merdeka adalah orang yang memiliki kebebasan penuh untuk memilih. Cheers!
March 30th, 2009 at 7:03 pm
Membaca artikel diatas saya jadi teringat filosofi seorang tokoh, yang setelah melalui berbagai penderitaan dalam hidup, ia akhirnya tiba pada kesimpulan bahwa bahkan dalam situasi yang terburuk sekalipun, manusia tetap memiliki pilihan.
Mengamini filosofi tokoh tersebut, saya menghayati bahwa salah satu hak manusia yang paling hakiki adalah untuk memilih; bahkan di kala kita tidak lagi memiliki kuasa atas raga kita sendiri, kita tetap memiliki kuasa atas pola pikir dan perasaan kita.
Akhir kata, saya ingin bersama-sama dengan penulis mendoakan teman kami yang telah dengan berani mengambil pilihan yang sulit. Semoga pilihan ini pada akhirnya mengantarkanmu ke masa depan yang lebih baik lagi, sobat!
March 31st, 2009 at 7:36 am
ada faktor campur tangan yang di atas menurut saya. Pengalaman pribadi menunjukkan hanya sedikit rencana yang tepat terlaksana, yang tidak terduga justru yang datang… yang malah lebih baik dari yang kita pernah pikirkan.. misteri..misteri ilahi