Menghapus Dosa Ekstensial dengan Menulis
Editor | Kolom Lepas | March 30th, 2009
Oleh: Sofa Nurdiyanti*
Banyak dari kita yang tidak menyadari arti sebuah tulisan. Sehingga, kita sendiri mengabaikannya, dan tidak menganggapnya sebagai sebuah senjata, bagi pembebasan ide yang terpenjara dari hati dan pikiran kita. Bukankah kebebasan adalah hak kita? Dan, sebuah tulisan adalah salah satu warna indah bagi segala perjuangan kita.
Masih ingat dengan berbagai tulisan Sang Proklamator, Soekarno, tentang kemerdekaan? Pada masa penjajahan Jepang di Indonesia, dengan lantangnya Soekarno meneriakkan keinginannya dan keinginan bangsanya untuk merdeka. Dipenjarakan berkali-kali, tetapi itu tidak membuatnya jera dalam menulis, demi menularkan semangat kemerdekaan pada kaum pemuda Indonesia di masa itu. Apa jadinya jika para perintis kemerdekaan tersebut tidak menuliskan ide-idenya? Akankah kita dapat menikmati kemerdekaan? Walaupun, hingga kini pun, kita belum sepenuhnya merdeka dari warisan-warisan kultur penjajahan yang selama ini membelenggu kita.
Tulisan, sebuah hal besar yang artinya sering dimaknai kerdil oleh sebagian orang. Betapapun cemerlangnya—atau sedahsyat apa pun ide kita—tanpa ditulis dan ditunjukkan pada orang lain, hal itu akan menjadi sia-sia. Karena apa? Karena kita sendirilah yang menilai, menikmati, dan membanggakan semua ide tersebut. Tidak ada orang yang akan turut serta menilai, memberi komentar, dan mendiskusikan buah dari pikiran kita.
Ide tidak akan terwujud nyata jika kita—sebagai pemilik atau penemunya—tidak berusaha memublikasikannya ke khalayak. Karena, bisa jadi orang yang membaca tulisan-tulisan kita dapat merasakan hal yang sama, dan bahkan mau turut serta memperjuangkan ide-ide kita.
Banyak hal terjadi, dan kita lupa bahwa sejarah adalah hal berharga yang dapat kita jadikan sebagai pembelajaran bagi generasi selanjutnya. Siapa yang akan menuliskan sejarah tersebut? Kita atau orang lain yang mempunyai pandangan yang berbeda, atau bisa juga seorang penulis yang menulis dengan mengatasanamakan kepentingan tertentu. Sejarah adalah hal yang tidak boleh dimanipulasi.
Dan, generasi mendatang berhak mendapatkan sejarahnya yang asli, tanpa diwarnai oleh kepentingan tertentu yang merusak sejarah itu sendiri. Menuliskannya merupakan salah satu upaya yang bisa kita tempuh dalam memperkaya pandangan dan objektivitas suatu peristiwa. Menulis akan menjadikan belenggu-belenggu tertentu lepas dengan sendirinya.
Tak dapat dimungkiri, selama ini kita terlalu terpaku dengan berbagai hal yang membuat kita terpenjara dan menenggelamkan potensi kita. Bisa jadi, dengan terpenjaranya berbagai potensi diri tersebut, maka kita mempunyai dosa ekstensial. Maksudnya, dosa yang tercipta karena kita terlalu terpaku dan tunduk pada penghalang-penghalang internal, yang membuat kita tidak mampu memperjuangkan segala potensi diri.
Apakah kita sungguh-sungguh tidak mampu memperjuangkan ide kita? Atau, apakah kita yang terlalu takut dengan perjuangan sebuah kemerdekaan diri maupun ide? Banyak hal yang bisa kita perjuangkan dan harus kita perbaiki. Dan, salah satu senjata perjuangan pemerdekaan diri, ide, dan potensi adalah dengan menulis.
Menulislah dan sebarkan ide Anda kepada orang-orang di sekitar Anda, setidaknya agar Anda tidak mempunyai dosa ekstensial. Apa pun yang terjadi kemudian, paling tidak kita telah memperjuangkan dan berusaha memberitahukannya pada orang lain. Ketidakmampuan diri sesungguhnya adalah ide ciptaan kita sendiri, sebagai dalih/pembenaran atas semua alasan enggannya kita dalam memperjuangkan ide-ide kita.
Kepribadian dan pemikiran seseorang dapat dilihat dari tulisannya. Dari sebuah tulisan kita dapat mengetahui dinamika perkembangan idealisme, kematangan pemikiran, sikap, serta “derajat intelektualitas” seseorang, yang ternyata tidak cukup dinilai berdasarkan gelar formal semata.
Tulisan seseorang sering kali dijadikan sebagai cermin dalam menilai eksistensi dan apresiasi orang terhadapnya. Banyak penulis yang dihargai karena pemikirannya. Sementara, jarang ada orang yang dihargai dengan tulus karena kekayaan materinya semata. Hal ini menunjukkan bahwa tulisan, sesungguhnya, mampu mendobrak belenggu “kasta-kasta sosial” yang mungkin hidup dalam masyarakat mana pun.
Seperti sosok aktivis mahasiswa legendaris kita, Soo Hok Gie, yang dicintai orang-orang muda waktu dulu hingga sekarang, karena tulisan-tulisannya yang sangat kritis pada pemerintahan di masa peralihan Orde Lama ke Orde Baru. Mulai dari satpam, tukang sapu, buruh, pedagang, dan kalangan bawah lainnya, begitu mencintai sosok ini. Mereka merasa sangat kehilangan saat mendengar kabar kematiannya.
Soe Hok Gie tak hanya dikenal, namun juga dikenang sebagai sosok yang berani menyuarakan perubahan dan pembaharuan. Ia terus menulis walaupun berbagai teror selalu menekannya. Bahkan, keluarganya sekalipun pernah mengacuhkan karya-karyanya. Ia bergeming, karena yang dipikirkannya bukan soal apresiasi orang lain, namun demi menyampaikan suara hatinya pada orang lain. Sekarang, banyak orang mengagumi sosoknya, berusaha mengumpulkan berbagi tulisan dan membukukannya, termasuk membuat film sebagai bentuk apresiasi terhadap perjuangan idealismenya.
Tulisan-tulisan, buku-buku, serta film tentang Soe Hok Gie bisa menjadi stimulus bagi kita dalam mengembangkan semangat perjuangan di segala hal. Persoalannya, terkait dengan kekuatan tulisan dan semangat aktivis legenda ini, apakah kita akan meneruskannya atau sekadar menjadi penonton semata?
Ide yang kita perjuangkan merupakan “perwakilan” atau cerminan jati diri atau potensi kita, yang dapat membangkitkan semangat kita dalam meraih cita-cita. Tak masalah jika akhirnya tidak ada orang yang mau mendukung ide-ide kita. Karena, setiap orang mempunyai pandangan yang berbeda-beda. Padahal, kita juga tidak berhak memaksakan kehendak atau gagasan kita pada orang lain.
Hal paling penting dari semua usaha kepenulisan kita itu adalah pembebasan ide-ide dari “penjara ketakutan” akan dicemooh oleh orang lain; ketidakpercayaan diri sebagai pembunuh aktualisasi potensi diri; dan ketidakyakinan akan kemampuan diri sendiri. Kita semua bisa menulis. Kita pun sesungguhnya mampu merontokkan belenggu-belenggu mental yang merugikan dan melukai harga diri kita, sebagi manusia bebas merdeka yang berhak menyampaikan gagasan dan pemikiran sendiri.
Puncak kemerdekaan seseorang terletak pada terbangunnya semangat dan keberanian untuk perjuangan ide-ide sendiri. Tidak peduli dengan intensitas kita dalam menulis serta ada-tidaknya pengahargaan orang lain atas karya kita. Sebab, yang lebih penting adalah kemauan dan sikap pantang menyerah kita dalam memperjuangkan ide-ide kita. Apalah arti diri kita ini jika untuk memperjuangkan ide saja kita sudah tidak punya keberanian lagi?[sn]
* Sofa Nurdiyanti adalah mahasiswa semester VI Fakultas Psikologi, Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta. Ia suka membaca buku dan saat ini aktif menulis di majalah “eksis”, sebuah wadah jurnalistik di fakultasnya. Tulisan-tulisannya tersebar di sejumlah website motivasi seperti www.andaluarbiasa.com, www.andriewongso.com, dan www.pembelajar.com. Ia juga tengah semangat berlatih supaya kelak mampu menjadi penulis dan trainer andal. Email: nurrohmah_06[at]yahoo[dot]com.

March 30th, 2009 at 3:13 pm
Terus menulis Sofa. Anda berbakat!
March 31st, 2009 at 4:16 am
Terima kasih untuk tulisannya Sofa,kmu masih sangat muda,tapi cara berpikirnya sangat dewasa. Terus menulis ya Sofa & tetaplah jadi diri sendiri. GBU
March 31st, 2009 at 9:31 pm
Dear Sofa,
Saya sudah baca tulisan-tulisanmu.Siiip!!! Sangat menginspirasi. Terus terang tulisanmu menginspirasi tulisan yang sedang saya buat. Terimakasih dan terus menulis.
April 4th, 2009 at 10:25 pm
Halo Sofa, tulisan Anda membuat saya merasa sedang di ‘recharge’ kembali. Sukses ya!