Menggalakkan Budaya Menulis di Kalangan Umat
Editor | Kolom Lepas | October 13th, 2009
Oleh: Wahidunnaba*
Jika diprediksi secara langsung, besar manakah antara jumlah pembaca dan penulis? Bisa dipastikan jumlah pembaca lebih besar untuk saat ini. Menulis memang bukanlah hal yang sangat mudah. Tidak semua orang bisa melakukan. Kalaupun ada, terkadang mereka beranggapan untuk apa menulis? Bukankah menyampaikan secara langsung akan lebih efektif? Dalam waktu singkat memang lebih efektif disampaikan secara langsung. Akan tetapi, bagaimana jika mereka sudah tidak bisa menyampikan? Tentu dengan menulis bisa mengamankan kemampuan yang dimiliki untuk dapat dinikmati orang lain tatkala mereka tidak bisa menyampaian.
Ilustrasi di atas merupakan contoh kecil mengapa munulis penting. Setiap orang punya kelebihan sendiri-sendiri. Kemampuan antara orang yang satu dengan yang lain berbeda. Ada orang yang ahli dalam bidang sosial, ada orang yang ahli dalam bidang agama. Semuanya bisa saling menutupi kekurangan yang dimiliki dengan belajar pada orang lain. Ketika bertatap muka secara langsung tidak bisa dilakukan, membaca karya orang lain yang tertulis dalam serangkain lembaran-lembaran akan sangat membantu.
Mungkin di antara beberapa orang ada yang beranggapan, menulis menyita banyak waktu. Selain harus berpikir juga harus menggerakan tangan untuk mencoretkan tinta pada kertas, atau menggerakkan jari-jari pada keyboard. Ini memang benar jika kita berpikir hanya pada saat itu juga. Jika kita berpikir ke depan bahwa tulisan yang kita buat nantinya akan dibutuhkan orang lain, prasangka seperti itu hanya terlintas sebentar dalam pikiran kita.
Sebagai umat Islam, kita tahu bahwa ayat yang pertama kali turun adalah tentang membaca (iqra). Secara eksplisit membaca adalah serangkaian tindakan untuk melafalkan kata-kata yang tertulis dalam suatu media seperti kertas dan sejenisnya. Apa yang bisa dibaca ketika tidak ada yang menulis sesuatu. Oleh sebab itulah, pada masa khalifah Usman bin Affan, beliau memerintahkan agar Alquran itu dibukukan agar kelak bisa dibaca oleh banyak umat Islam.
Sampai saat ini kita masih dapat membaca dan mempelajari Alquran itu tanpa harus mendatangi orang yang hafal untuk menyampikan surat demi surat. Ini seharusnya menjadi renungan bagi umat Islam dan dapat diambil hikmahnya. Selain membaca umat Islam harus mempunyai kebiasaan menulis. Kebiasaan menulis sangat diperlukan untuk pembelajaran bagi generasi selanjutnya.
Peristiwa yang kita alami saat ini bisa jadi bukanlah hal yang berharga bagi kita. Akan tetapi, suatu saat tidaklah mustahil hal yang kita alami menjadi lentera bagi generasi mendatang. Tentunya dengan syarat peristiwa tersebut kita tuliskan dalam lembaran-lembaran atau dibukukan. Inilah budaya yang hilang dari sebagian besar orang. Sejarah akan menjadi hal yang berharga dan bisa dipelajari tatkala tertulis, bukan hanya terletak dalam benak seseorang. Akibatnya, jika orang yang tahu sejarah itu meninggal, meninggal pula harapan seseorang untuk mengetahui banyak tentang sejarah. Berbeda ketika sejarah itu tertulis, sampai kapan pun orang akan bisa mempelajarinya.
Saat ini media untuk menulis sangat banyak. Mencari peralatan untuk menulis bukanlah hal yang sulit. Semua hanya kembali pada diri kita masing-masing. Mau menulis untuk berbagi dengan orang lain atau diam terpaku menunggu kesempatan untuk diminta berbicara. Alangkah ironisnya jika yang kedua ini terjadi. Bukankan kita membutuhkan orang lain untuk memperoleh ilmu dan orang lain juga membutuhkan kemampuan kita? Karena, antara yang satu dengan yang lain kemampuan dan keahliannya tidak sama.
Jika umat Islam semua memiliki kebudayaan menulis, paling tidak 50 persennya saja, maka akan hal itu memberi warna tersendiri bagi generas saat ini maupun pada generasi mendatang. Media cetak maupun tidak terlepas dari kebiasaan menulis. Contohnya, media cetak koran atau majalah. Media tersebut dapat dimanfaat sebagai sarana kita untuk berbagi atau menyampikan sesuatu secara tertulis kepada orang lain. Berbagai media dalam dunia maya juga memberikan kesempatan bagi semua orang untuk menulis. Tidak hanya satu atau dua website yang menyediakan kolom tersendiri bagi setiap orang orang untuk berkarya lewat tulisan.
Sebagai orang Islam, berdakwah merupakan kewajiban. Menuangkan ide, gagasan, atau ilmu yang berhubungan dengan agama Islam dalam bentuk tulisan, kemudian disampaikan melalui website merupakan contoh dakwah lewat media yang mudah dilakukan. Selain itu, melalui website di dunia maya pembaca akan lebih banyak dan jangkuannya juga lebih luas. Ketika kita hanya menyampikan dakwah di masjid, dakwah itu hanya diketahui oleh jamaah yang ada di masjid tersebut. Akan tetapi, jika dakwah dilakukan melalui media cetak maupun website, itu dapat dirasakan oleh orang-orang yang berbeda negara dan letaknya berjauhan sekalipun.
Bagaimana jika kita punya kesenangan menulis tetapi malas mengirim tulisan itu ke media? Hal itu bisa diatasi dengan membuat blog pribadi. Kita bisa menuangkan kemampuan yang kita miliki ke dalam blog tersebut. Ilmu yang kita dapatkan saat kuliah maupun saat momen-momen penting lainnya yang sifatnya orang lain membutuhkan bisa kita tulis dalam blog tersebut. Bisa jadi blog itu sering dikunjungi oleh orang lain karena memiliki muatan yang sarat manfaat. Tidaklah heran apabila muncul buku-buku bacaan yang berasal dari blog yang dibuat oleh penulis, padahal sekadar menuangkan pengalaman yang dimilikinya.
Menulis sangatlah penting sebagai sarana untuk menyampaikan kemampuan yang kita miliki. Selain itu, dengan menulis suatu kreativitas berpikir akan terasah. Karena, menulis memang membutuhkan kriteria yang harus dipenuhi. Kriteria tersebut membantu agar tulisan yang kita buat lebih enak untuk dibaca dan mudah dipahami oleh orang lain.
Jika di Indonesia penduduknya punya kegemaran menulis, babak baru dalam menuju kemajuan ilmu pengetahuan da teknologi dapat dimulai dengan mudah. Apabila basic menulis sudah dimiliki, kemudian membaca, dan pada akhirnya adalah mewujudkan bacaan tersebut dalam bentuk inovasi-inovasi teknologi terbaru.[wah]
* Wahidunnaba adalah mahasiswa Ilmu Fisika ITS, Surabaya. Ia aktif di Pesma SDM-IPTEK dan Community Of Santri Scholars Of Ministry Of Religion Affairs. Ia dapat dihubungi melalui pos-el: giriwiedz[at]ymail[dot]com, atau blog: akhiwiedz.wordpress.com.
October 16th, 2009 at 8:53 am
saya juga percaya bahwa menulis adalah satu langkah untuk membuat negeri ini menjadi lebih sempurna..