Mengapa Orang yang Berilmu Rendah Hati?
Editor | Kolom Lepas | November 18th, 2009
Oleh: Supandi*
Rendah hati merupakan sikap yang memandang diri dan orang lain masing-masing memiliki kelebihan dan kekurangan. Ketika melihat dirinya, maka dia akan merasa bahwa dirinya masih perlu belajar dan belajar. Mereka berkeyakinan bahwa semakin banyak belajar maka disana sini segera ditemukan berbagai kekurangan yang ada dalam dirinya.
Dengan demikian, mereka tidak bisa membohongi diri sendiri bahwa mereka tidak perlu banyak belajar. Plato, seorang filsuf berkebangsaan Yunani mengatakan bahwa “Kebohongan yang paling buruk adalah membohongi diri sendiri bahwa dirinya tidak perlu belajar.” Pernyataan Plato mengindikasikan adanya begitu luasnya ilmu pengetahuan yang ditebarkan oleh Tuhan ke dunia. Dari sekian banyak ilmu yang telah diturunkan oleh Tuhan baru sebagian kecil saja yang berhasil dikuasai oleh manusia. Manusia harus senantiasa mencari dan terus mencari walupun tidak mungkin semua ilmu dari Tuhan bisa dikuasai oleh manusia. Sudah ada semacam “porsi” tertentu.
Dengan adanya porsi tersebut maka fenomena yang ada dapat kita jumpai seseorang yang unggul di bidang tertentu, tetapi dia lemah di bidang lain. Seorang guru memiliki keunggulan dalam hal didaktik metodik, mahir dalam hal membimbing siswa untuk belajar, tetapi dia kurang di bidang perbengkelan. Seorang entrepreanur mahir dalam bisnis, tetapi dia tidak begitu menguasai bidang kinestetik. Orang tidak mungkin mampu menguasai ke delapan kecerdasan sekaligus, yakni kecerdasan linguistik, kecerdasan matematika, kecerdasan visual/spasial, kecerdasan kinestetik, kecerdasan musikal, kecerdasan interpersonal, kecerdasan intrapersonal, dan kecerdasan intuisi. Seseorang bisa saja memiliki lebih dari satu kecerdasan tetapi tidak sampai menjangkau ke semua kecerdasan.
Hal inilah yang sering membedakan antara orang yang banyak ilmu dengan orang yang ilmunya pas-pasan. Kesadaran yang demikian yang sering kali mendorong orang yang berilmu untuk bersikap rendah hati. Dalam Bahasa Inggris, rendah hati sama dengan low profile. Sedangkan dalam agama Islam, rendah hati dikenal dengan istilah tawadu’.
Thomas Alfa Eddison mensinyalir adanya tiga kelompok manusia berkaitan dengan keilmuan seseorang. Di antara ketiga kelompok itu adalah: Kelompok orang yang tidak mau berpikir (sebanyak 85 persen), kelompok orang yang merasa bahwa dirinya telah berpikir (sebanyak 10 persen), dan kelompok orang yang mau berpikir (sebanyak 5 persen).
Anda barangkali sudah bisa menduga, termasuk ke dalam kelompok yang mana ketika Anda menjumpai ada orang yang “berjalan dengan kesombongan”? Iya, saya pun sependapat dengan Anda bahwa orang yang sombong sangat mungkin didominasi oleh mereka yang termasuk dalam kategori kelompok orang yang 10 persen, yaitu yang merasa bahwa dirinya sudah belajar, sudah merasa tahu segalanya, orang lain tidak tahu apa-apa, pikirnya.
Hal ini berbeda dengan orang yang berilmu (ilmuwan). Ketika memandang orang lain, maka dengan ilmu yang dia miliki, dia berkeyakinan bahwa orang lain pada hakikatnya memiliki kelebihan, kecerdasan tertentu, maupun potensi diri yang luar biasa. Orang yang berilmu juga memiliki keyakinan bahwa manusia adalah human relation, sehingga menyadari benar bahwa dia tidak bisa hidup sendiri. Dia menyadari betul bahwa pada hakikatnya dalam mendapatkan kesuksesannya dia membutuhkan kehadiran orang lain. Bahkan, tidak hanya ketika hidup saja, tetapi juga ketika mati diapun membutuhkan orang lain untuk mengurus jasadnya. Orang yang berilmu juga tahu bahwa untuk menjadi orang yang baik maka hidupnya harus bermanfaat bagi orang lain. Dari pemahaman yang demikian, saya percaya bahwa Anda akan dapat menemukan banyaknya orang berilmu yang memiliki sikap rendah hati.
Rendah hati tidak akan menurunkan prestise seseorang, tidak akan menurunkan wibawa maupun harga diri seseorang. Saya sangat terkesan dengan salah seorang pejabat di lingkungan Departemen Pendidikan Nasional Jawa Tengah di Semarang. Dia adalah Kepala LPMP (Lembaga Penjaminan Mutu pendidikan) Jawa Tengah, Makhali M.M.. Kesan itu saya tangkap saat pembukaan dan penutupan ToT (Training of Trainer) Guru Pemandu MGMP.
Pada acara sambutan peserta ToT, sebagaimana adat orang Timur, maka salah seorang rekan dari peserta ToT akan menyampaikan sambutannya, sebagaimana biasa terlebih dahulu memberikan penghormatan kepada Kepala LPMP. Pada saat memberikan penghormatan itu dengan menganggukkan kepala, apa yang dia lakukan? Ternyata anggukan kepala dari rekan saya tersebut sudah didahului oleh Kepala LPMP dengan mendahului berdiri dan mendahului menganggukkan kepala sembari mempersilakan dia menuju podium. Tak ada sedikit pun tersirat rasa tinggi hati. Tetapi, sebaliknya penuh dengan sikap rendah hati. Terpancar dari aura wajahnya seakan menyiratkan bahwa hanya Tuhan yang berhak untuk sombong. Manusia hanya sosok mahluk yang tingkat kemuliannya masih berupa teka-teki. Di samping itu sikap ngewongke orang lain juga terlihat sangat jelas.
Akhirnya, Anda dipersilahkan untuk komplain atas tulisan ini. Karena, memang tulisan ini tidak memiliki akuntabilitas keilmuan yang tinggi. Tulisan ini hanya merupakan apresiasi saja terhadap sebuah sikap rendah hati dari seorang ilmuan. Ada satu aspek yang tidak disinggung dalam argumentasi ini yaitu aspek “watak bawaan” sehingga minim dengan kebenaran. Fenomena yang terjadi dalam kehidupan ini, tentunya ada saja orang yang berilmu tetapi tinggi hati, ada juga orang biasa tetapi memiliki sikap rendah hati. Demikian pula ada orang yang berilmu tapi rendah hati, ada pula orang biasa yang tinggi hati.[sup]
* Supandi lahir di Cilacap, 10 Agustus 1965. Alumnus Universitas Alamat Muhammadiyah, Purworejo 2002 (S-1) dan Magister Manajemen Unsoed, Purwokerto 2007 (S-2) mengajar sebagai guru di SMP Negeri 2 Binangun. Pemilik moto hidup “Lakukan perubahan!” ini tinggal di Puri Mujur 163, Kroya, Cilacap, Jawa Tengah. Ia sendiri sudah memiliki minat dan kegemaran menulis sejak masih SMP. Saat ini, Supandi sedang menyusun sebuah buku motivasi. Ia dapat dihubungi melalui telepon: 0282-494921, Hp: 081391274742, atau pos-el: supandi_mm[at]yahoo[dot]com.
November 22nd, 2009 at 10:01 am
saya setuju dan sepakat dng artikel Pak supandi,karena hakekat orang sombong hanyalah …bagai katak di dalam tempurung
November 22nd, 2009 at 11:04 am
Setujuuuu Pak Supandi….terus menulis yah…bravoo Artikelnya sangat menginspirasi.
November 22nd, 2009 at 4:15 pm
Tri Buat Mba Masroah & Mba Eni atas Reinforcentnya bs bikin sy semangat. Sukses Buat Anda.
November 22nd, 2009 at 5:32 pm
HIDUP PA SUPANDI NULIS TERUS……..buat meng inspirasi para pembaca supaya sadar akan kehidupan
November 23rd, 2009 at 9:44 am
Siiip P.Pandi….saya tunggu bukunya…..
November 23rd, 2009 at 1:25 pm
sya sependapat,dengan artikel ini moga dunia pendidikan jadi lebih tw…akan masa depan…
dan jga bsa mengkritik semua orang supaya rendah hati dalam bersikap.thanks before
November 23rd, 2009 at 6:56 pm
@Mba Zulfaizah : Tentu mba… Kehidupan kita memang perlu terus diingatkan biar istiqomah.
@Pak Agung : Mudah2an cepat selesai, amin.
November 26th, 2009 at 1:07 pm
tulisne sae pak….punya sifat rendah hati juga susssah, perlu perjuangn. tp apa mmg sifat genetik ada pengaruhnya???
November 28th, 2009 at 7:11 pm
Hidup guru Indonesia.
Secara logika, semakin banyak membaca dan belajar bukannya merasa semakin berilmu namun semakin merasa bodoh. Ternyata di dunia ini banyak orang kreatif dan innovatif.
Saya tunggu bukunya.
November 30th, 2009 at 10:19 am
wah tulisannya bagus. saya juga lagi belajar gimana supaya rendah hati. Karena rendah hati gampang diucapkan tetapi tidak mudah dilaksanakan iya kan pak?. lagipula kalo mau menyadari ya memang hanya Dia yang boleh sombong. Kita mah cuma manusia. Kalo dipikir2 ya pak…apa ya yang harus disombongin, mati ngk bawa apa-apa ternyata. Cuma kain kafan dan amal ibadah yang telah dicatat malaikat waktu hidup. setuju kan pak?.
December 1st, 2009 at 2:24 pm
iya memang dengan sikap rendah hati kita akan semakin membuka pintu lebar-lebar untuk mendapatkan ilmu, informasi dari semua manusia. apapun profesinya, apapun kedudukannya. karena semua orang pasti punya ilmu, pengalaman yang bisa kita ambil dan pelajari.
December 2nd, 2009 at 6:49 pm
@ Mas Warsin : Trim and Sukses buat Anda
@ Mba Puspita : Seperti ilmu padi ya mba..Thank, Minta doanya smoga cpt selesai bukuya.
@ Mba Maria Saumi : Betul mba… I agree with you.
December 4th, 2009 at 4:03 pm
@ Mba Angga : Memang perlu perjuangan (kontrol diri) Mba..
@ Mba Lina : Betul mba N sukses buat Anda.
May 10th, 2011 at 9:35 am
Siip Pak, tulisannya “Bagus”. Meskipun tulisannya ttg rendah hati tapi ada hikmah lain yg kupetik yakni SIFAT Khusnudhan terhadap orang lain( Pak Makhali)