Mengapa LoA Tidak Bekerja?
Editor | Kolom Lepas | May 25th, 2009
Oleh: Ade Asep Syarifuddin*
TEMAN saya yang pernah menonton film The Secret sekaligus membaca bukunya protes kepada saya bahwa Law of Attraction (LoA) atau hukum tarik menarik sama sekali tidak bekerja. Dirinya melakukan semua saran dan tahapan-tahapan yang disarankan di dalam film itu. Mulai dari meminta, menerima, dan merasakan seolah-olah sudah terwujud.
Kemudian saya tanyakan apakah dirinya masih memiliki ganjalan hati sehingga tidak merasa bahagia, tidak merasa damai? Dari situ dia merenung sejenak, kemudian terlihat matanya menerawang masa lalunya. Dengan kalimat yang terbata-bata dia mengatakan bahwa dia memang memiliki dendam kepada seseorang. Sampai sekarang dendam itu belum juga hilang dari ingatannya. Bahkan dia pernah bersumpah, sebelum membalas dendam itu, dia tidak akan melupakan kejadian yang menyakitkan tadi.
Pertanyaan berikutnya, apakah LoA itu memang tidak bekerja atau memang kita sendiri yang menghambat kerja LoA? Dalam kasus ini teman saya memiliki energi negatif yang terus-menerus disimpan di dalam tubuhnya sehingga dia sama sekali tidak merasakan kebahagiaan. Bisa jadi yang menghambat terwujudnya hukum tarik-menarik adalah dendam yang tersimpan tadi. Hukum tarik-menarik ini tidak pernah berhenti bekerja, persis seperti hukum gravitasi atau hukum sebab akibat. Bila terlihat tidak bekerja dipastikan ada persoalan di dalam diri kita.
Coba bandingkan kalau kita memiliki sebuah magnet, tetapi sayangnya magnet tersebut sangat kotor dan penuh dengan tanah dengan ketebalan tidak kurang dari 1 sentimeter. Pertanyaannya, apakah magnet tersebut masih bisa bekerja secara efektif, menarik benda-benda seperti besi atau tidak? Bisa dipastikan cara kerja magnet tersebut sudah berkurang kekuatannya atau bahkan tidak bisa lagi menarik besi. Sebab, terhalang oleh kotoran tadi.
Coba magnet tersebut dibersihkan bisa dengan cara dicuci, dilap sampai kotoran-kotoran dan tanah yang menempel tadi terlepas. Sekarang, coba lagi apakah magnet tersebut bisa menarik besi atau tidak. Ternyata, magnet tadi sudah bisa bekerja sesuai dengan “fitrahnya”. Bahkan, kekuatannya terasa lebih besar. Sama halnya dengan hukum tarik-menarik, kalau di dalam diri kita banyak kotoran negatif apakah itu trauma, dendam, kebencian, atau energi negatif lainnya, bisa dipastikan kita tidak bisa menarik sesuatu yang kita inginkan. Kemudian, bagaimana caranya agar kita bisa kembali menarik segala sesuatu yang kita inginkan sesuai dengan hukum tarik-menarik?
Pembersihan. Benar sekali pembersihan. Persis seperti magnet yang dibersihkan tadi. Di dalam diri manusia juga banyak sekali kotoran negatif, baik yang terasa maupun yang tidak terasa. Apa saja? Bisa luka lama seperti trauma masa lalu, benci kepada seseorang, iri, berburuk sangka, dll. Berapa kali harus membersihkan dan siapa yang tahu kalau kita sudah bersih? Ini bukan membersihkan lantai atau kamar mandi. Kita bisa melihat kotoran dan noda-moda dengan mata kita. Ini membersihkan rasa, kita tidak bisa melihat secara langsung.
Tetapi, ada cara untuk mengetahui apakah yang kita bersihkan sudah benar-benar bersih atau tidak, yaitu lewat perasaan kita. Kalau perasaan kita masih galau, bingung, tidak nyaman, khawatir, itu pertanda bahwa hati kita belum bersih. Tetapi, kalau perasaan kita sudah gembira, damai, bahagia itu adalah suatu pertanda bahwa hati kita berangsur-angsur mulai bersih. Indikator perasaan ini yang harus selalu dikontrol oleh kita untuk mengetahui sejauh mana tingkat kebersihan pikiran dan hati kita.
Pertanyaan lainnya, bagaimana cara membersihkannya? Ini juga hal penting sehingga kita tidak ragu-ragu untuk membersihkannya. Secara sederhana pembersihan luka di hati bisa dikatakan mudah bisa juga sulit. Mengapa demikian, kalau seseorang sudah berniat untuk membersihkan dendam kepada seseorang maka prosesnya menjadi lebih cepat. Secara teknis, carilah tempat yang nyaman, duduk dalam posisi yang enak, tarik napas dalam dalam beberapa kali, dan keluarkan secara pelan-pelan. Lakukan beberapa kali sampai tubuh benar-benar terasa nyaman.
Setelah masuk dalam kondisi yang nyaman mulailah kita meniatkan diri untuk membersihkan segala energi negatif. Sampai di sini kita harus mengidentifikasi ada berapa energi negatif yang menjadi beban pikiran. Kalau kita merasa hanya ada satu energi negatif, benci kepada seseorang misalnya, maka mulailah berniat melepaskan kebencian tadi. “Saya berniat melepaskan kebencian kepada seseorang.” Ulangi beberapa kali sampai merasa ada sesuatu yang keluar dari dalam tubuh kita baik lewat telapak kaki maupun lewat kepala.
Rasakan, apakah beban sudah berkurang? Kemudian dilanjutkan lagi dengan kata-kata, “Saya menyayangi orang tersebut, seperti saya menyayangi diri sendiri dan keluarga. Karena, saya tahu bahwa dia adalah orang yang baik.” Rasakan kembali apakah beban yang ada berangsur-angsur mulai berkurang? Lanjutkan dengan kata-kata, “Maafkan saya kalau selama ini saya membenci Anda. Saya sudah melakukan perbuatan dosa.” Diakhiri dengan kata-kata, “Terimakasih ya Tuhan, Engkau sudah memberikan berkah dan nikmat yang tiada terhingga kepada saya.”
Rasakan apa perubahan yang terjadi dalam diri kita ketika melalui proses pembersihan tadi. Ulangi beberapa kali dalam sehari, kalau sudah merasakan bahagia, damai, lakukan hal tadi untuk kepentingan pembersihan diri atas energi negatif yang nyangkut di dalam pikiran dan hati yang terjadi setiap hari. Ketika hari-hari kita diisi dengan hati dan perasaan yang damai, bahagia, senang di situlah hukum tarik-menarik mulai akrab dengan kita. Dan, niatkan untuk meminta sesuatu, kemudian serahkan kepada Yang Mahakuasa dan lupakan.
Apa yang terjadi? Rasakan saja sendiri, Anda pasti akan menemukan sesuatu yang selama ini Anda idam-idamkan. Salam damai, bahagia. Saya menyayangi Anda, terimakasih, dan mohon maaf.[aas]
* Ade Asep Syarifuddin adalah Pemimpin Redaksi Harian Radar Pekalongan, bisa dihubungi di asepradar[at]gmail[dot]com atau http://langitbirupekalongan.blogspot.com.
May 26th, 2009 at 9:24 am
Kalau rumus pembersihan yang Mas Asep lontarkan saya dekati secara matematik, maka persamaannya adalah sbb: Benci= negatif 10 Pembersihan= positif 10 maka setelah total pemberihan hasil LoA=Benci+Pembersihan=(-10)+(+10)=0. Nah…dah bersih kan? Saya mengusulkan cara lain, yaitu memutar yang negatif menjadi positif. Rumusnya LoA= (-10)* (-1)= +10. Wow….hasilnya malah +10? Jadi mana yang lebih efektif? pembersihan atau kemampuan memutar hal negatif menjadi positif? he..he…iseng saja mas. Artikelnya menarik dan enak dibaca.
May 28th, 2009 at 10:38 am
Saya jadi penasaran pengen ketemu langsung Pak Agung. Untuk bertukar pikiran berbagai persoalan terutama tentang mindset. Wah kayanya seru deh. Kebayang terjadi forum yang gayeng penuh dengan inspirasi. Di Pekalongan saya membentuk kelompok yang saya beri nama Mastermind, niru Napoleon Hill dalam Think and Grow Rich. Gak banyak-banyak yang hadir sekitar 10 orang. Belum lama baru 3 bulan. Tapi lumayan menemukan spirit success principles untuk tiap individu yang ikut dalam hadir tersebut. sukses selalu Pak Agung.
May 29th, 2009 at 3:07 am
Jadi pengen coba niiih membersihkan seluruh energi negatif yang ada di diri sendiri. Betul, mas. Hukum tuhan itu tak terbantahkan koq. Kita sebagai manusia hanya bertugas menyingkirkan hal-hal yang menghambat terjadinya hukum itu. Butuh kerja keras memang dan jangan pernah takut gagal, itulah harga sebuah kesuksesan. WITHOUT FAILURE, SUCCESS IS NOTHING. Salam kenal, Basrul.
May 29th, 2009 at 12:29 pm
good article pak..n good comment too from pak agung…bravo
May 30th, 2009 at 3:31 pm
Ha..ha…Pak Asep cerdas juga, iya bener Pak. It’s about mindset! paradigm! Ternyata memutar mindset jauh lebih powerful dari pada menambah kekukatan pelan-pelan maupun mengurangi kekurangan pelan-pelan. Sukses untuk Mastermind-nya.
May 31st, 2009 at 5:41 pm
Memanage Hati dan Mindset adalah sebuah racikan obat dalam mengobati krisis Jiwa…
June 2nd, 2009 at 10:53 am
@Yth Pak Basrul: Terimakasih masukannya, mari kita bersama-sama membersihkan diri kita masing-masing. Dalam kurun waktu tertentu bisa membersihkan seper sekian dunia ini.
@Ibu/Mbak Maria Saumi: Terimakasih, sukses selalu buat ibu dan keluarga.
@Pak Agung: Sang master yang terus menerus belajar. Good luck pak, I like it.
@Mbak/Ibu Aliyah: Saya sangat setuju dengan pendapat Anda.