Menebar Kebaikan dan Kebajikan
Editor | Kolom Lepas | November 18th, 2009
Oleh: Tanenji*
Bayangkan, hari ini adalah hari kematian Anda. Hari di mana semua aktivitas fisik Anda berhenti total, karena secara klinis fungsi-fungsi anatomi tubuh—seperti organ vital jantung berhenti berdetak—dinyatakan berhenti atau tidak berfungsi lagi. Kira-kira siapa sajakah yang menangis ketika mendengar pengumuman bahwa Anda telah meninggal dunia? Kira-kira siapa sajakah yang sempat shock atau kaget dan seakan tak percaya bahwa Anda sudah berbeda alam dengannya? Kira-kira siapa sajakah yang akan memutuskan untuk takziyah sebagai penghormatan terakhir kepada Anda? Kira-kira kebaikan, kebajikan, dan pengabdian apa sajakah yang telah Anda semai kepada umat manusia dan kemanusiaan, kepada kerabat, kepada bangsa dan negara Indonesia, kepada agama yang dianut, yang dapat disebut sebagai pengalaman manis yang bisa mereka kenang?
Ya, setiap orang menginginkan saat di mana takdir yang memungkinkan nyawa harus berpisah dengan raga (baca: kematian) dalam kondisi khusnul khatimah, akhir yang baik, bukan su’ul khatimah, akhir yang buruk. Khusnul khatimah dalam akhlak dan hubungan sosial, ibadah, dan finansial. Persoalannya, seberapa pedulikah kita mempersiapkan kehadiran sang kematian?
Akhlak kita kepada lingkungan alam, apakah kita tidak membuat kerusakan di muka bumi ini? Sebagaimana digambarkan oleh ayat suci bahwa banyak kerusakan di muka bumi ini akibat ulah tangan-tangan manusia. Apakah kita termasuk bagian di dalamnya? Bila jawabannya adalah sepertinya tidak, apakah hal ini benar adanya? Bagaimana dengan konsumsi bahan bakar kendaran yang kita pakai, baik umum maupun pribadi yang sedikit banyak menyumbangkan efeknya melalui buangan emisi gasnya? Apakah kita juga peduli terhadap penghijauan di lingkungan sekitar tempat tinggal kita? Penghijauan yang walaupun dalam skala sekecil apa pun punya dampak yang positif terhadap sumbangan untuk menetralisir kondisi udara dan iklim?
Akhlak kepada lingkungan sosial, apakah kesalehan ritual dan spiritual kita berdampak kepada kesalehan sosial kita? Apakah seluruh moralitas ajaran agama yang kita anut, baik yang wajib maupun sunah mempunyai linearitas dalam aspek kemasyarakatan kita? Apakah kita hanya saleh secara artifisial? Kesalehan formalitas yang digambarkan hanya kepada simbol-simbol religiusitas belaka tanpa makna hakiki?
Akhlak kepada sang Khalik, apakah sudah dibenahi? Apakah ada peningkatan kualitas secara signifikan dari waktu ke waktu? Dalam hubungan kita dengan Allah, Tuhan semesta alam, apakah kita sudah menjalankan visi dan misi takwa dalam arti yang sebenarnya dan sesungguhnya, yakni dengan menjalankan semua perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya? Kapan kita terakhir berziarah kubur para kerabat? Kapan terakhir kita menyambung silaturahmi kepada ke dua orang tua? Kapan kita terakhir menyapa tetangga?
Dalam soal finansial, apakah hutang-hutang kita sudah terlunasi sehingga tidak membebani ahli waris? Apakah kita juga mempunyai tabungan yang dapat dijadikan harta warisan untuk para anggota keluarga yang ditinggalkan? Bahkan yang lebih penting lagi, apakah kita sudah mewariskan nilai-nilai moralitas ajaran agama kepada anak dan keturunan kita?
Ya, sebelum kematian menjemput kita, ada baiknya kita segera menebar kebaikan dan kebajikan di muka bumi ini. Menebar kebaikan dengan berawal pada diri sendiri, pada hal-hal yang terkecil, dan mulai saat sekarang juga, sebagaimana dikatakan oleh Abdullah Gymnastiar atau Aa Gym. Sehingga kita akan tersenyum bila maut akan menjemput.[tan]
* Tanenji lahir dan dibesarkan di Brebes, Jawa-Tengah, pada 12 Juli 1972. Ia menyelesaikan pendidikan S-1 dan S-2 di UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta, dan kini menjadi dosen tetap pada Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan UIN Syarif Hidayatullah serta dosen tidak tetap pada tiga perguruan tinggi swasta di Jakarta-Timur, Depok, dan Bogor. Sewaktu kuliah, ia pernah bekerja di sebuah perusahaan ekspedisi. Tanenji juga aktif menjadi peneliti dan trainer pada Center for Teaching and Learning Development (CTLD), sebuah lembaga semi otonom di UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta, Ia mengaku terinspirasi pada Andrias Harefa, dan bercita-cita menjadi WTS (Writer, Trainer, and Speaker) yang sukses, andal, dan terkenal. Semboyannya, ‘Tidak ada yang tidak mungkin bagi mereka yang berani mencobanya’. Tanenji dapat dihubungi melalui e-mail: tanenji[at]yahoo[dot]com. yang mengkhususkan pada pengembangan pembelajaran baik pada sekolah dasar dan menengah, serta perguruan tinggi.

November 21st, 2009 at 8:47 pm
Baca dan resapi dulu. Terpaksa besuk komentarnya.
Saya tunggu karya berikutnya.
November 28th, 2009 at 7:53 pm
Mengapa kita harus menebar kebaikan dan kebajikan salah satunya karena kita mencintai hidup kita. Kedua karena kita punya turunan. Anak-anak tidak memerlukan banyak teori tentang kebaikan dan kebajikan melainkan teladan dari orangtuanya.
Semoga Allah memberi kesempatan kepada kita untuk menebar kebaikan dan kebajikan di sisa waktu hidup kita. Sehingga pada saat kita meninggal banyak orang yang merasa kehilangan. Amin.
January 29th, 2010 at 3:51 pm
Terima kasih artikelnya …
March 6th, 2010 at 7:48 pm
bahwa dalam melakoni hidup ini harus lebih bijak lagi
banyak-banyak mengingat akan keagungan Tuhan dan senantiasa lebih sabar dalam menghadapi resiko apapun.
March 17th, 2010 at 10:08 am
komentar saya
nyontek ada dua hal
1.menyontek prilaku yang baik itu di bolehkan.saya setuju contoh menyontek teknik orang lain kita kebangkan untuk umum.
2.menyontek prilaku yang buruk saya tidak setuju menyontek untuk meningkatkan prestasi pribadi.