Mencintai dan Dicintai
Editor | Kolom Tetap | April 6th, 2009
Oleh: Maria Saumi*
Acara Just Alvin setiap Kamis malam yang ditayangkan di Metro TV tempo hari mengundang seorang bintang tamu, yaitu Gugun Gondrong. Selebritis ini diberitakan sakit tetapi sekarang telah pulang berobat dari Singapura. Gugun sakit kanker otak yang menyebabkan kelumpuhan saraf motoriknya. Walaupun dinyatakan belum sembuh 100, tetapi dia telah mulai mengalami pemulihan yang dianggap cukup berarti. Kemajuan tersebut diungkapkan oleh fisioterapis dan ahli akupuntur yang menanganinya, yang juga diundang dalam acara itu. Hal tersebut menjadi sesuatu hal yang membahagiakan, dirasakan juga oleh orang-orang di sekelilingnya—yang mencintainya. Tentunya.
Saat acara, Gugun ditemani sang istri. Acara itu juga mendatangkan sejumlah sahabat, yaitu Rico Ceper, Vina Panduwinata, serta penyanyi favorit Gugun lainnya, Tito Sumarsono. Para sahabatnya ini hampir tak kuasa menahan air matanya melihat kondisi Gugun sekarang. Sangat jauh bila dibandingkan saat Gugun masih sehat. Campuran rasa antara prihatin dan bahagia atas kemajuan kondisi fisik dan psikologis Gugun dibanding sebelumnya. Dia sudah dapat mengenali lagi teman dan sahabatnya itu. Bahkan, dia juga dapat mengikuti alunan nada dari lagu-lagu favorit yang ditayangkan dengan sengaja agar Gugun ikut bernyanyi, walau dengan terpatah-patah.
Kesan dan motivasi dari para sahabat diberikan kepada Gugun. Diceritakan bahwa Gugun dahulunya adalah orang yang sangat aktif, suka menolong, disiplin, rajin menggalang dana untuk acara-acara amal oleh artis, dan sebagainya. Mereka juga bilang bahwa kesembuhan Gugun sekarang ini, mungkin juga tidak lepas dari doa teman-teman yang ikhlas untuk kesembuhannya. Seperti ikhlasnya Gugun pada sewaktu membantu teman-teman, saat dia masih sehat dulu.
Di acara itu, Gugun Gondrong (Sys NS yang memberi nama Gondrong), walaupun sudah berangsur baik, tetapi tetap kelihatan masih pucat. Ketika sehat dulu, wajah Gugun selalu memancarkan kecerahan dan keceriaan. Dalam tayangan ini, wajahnya jadi kurang ekspresif, walaupun genangan air mata terlihat sedikit mengambang di kedua ujung matanya. Sorot kamera dengan jelas memperlihatkan hal itu. Dia juga masih belum bisa menggerakkan tubuh secara aktif, dan masih memerlukan bantuan seseorang.
Di sini saya melihat peranan istrinya sangat menonjol dalam memberikan semangat dan motivasi dalam hidupnya sekarang ini. Dengan kasih sayang dan cinta, istrinya mulai mengambil peranan aktif lebih besar. Bahkan, dalam kehidupan private mereka sebagai suami-istri. Sebagaimana anjuran dari dokternya di Singapura, mereka disarankan supaya tetap melakukan terapi seks, sebuah terapi yang dapat menstimulir syaraf-syaraf tubuhnya dari kelumpuhan. Sehingga, terapi itu dapat mempercepat proses penyembuhan, dan kabar menggembirakan, istrinya pun hamil.
Terapi anjuran dokter itu pula yang menarik minat orang lain sehingga bergosip dengan nyinyirnya. Gosip yang muncul bahwa istrinya, Anna Marisa, tidak mungkin dapat hamil mengingat kondisi suaminya yang lumpuh tak berdaya. Menurut saya, itu gosip yang kejam. Begitulah konsekuensi hidup sebagai public figure. Selalu jadi sasaran gosip. Beruntung saya “cuma penulis”, bukan selebritis hehehe….
Ada pula berita yang menyatakan bahwa sebenarnya sakitnya Gugun karena ulah orang yang jahat kepadanya. Kabarnya, Gugun disantet seseorang. Beritanya menyatakan, ada orang yang tidak terima akan perlakuan Gugun terhadapnya dulu. Sehingga, timbul sakit hati dan dendam kepada si selebritis ini. Walaupun begitu, kabar tersebut dibantah oleh pihak keluarga dan kerabat Gugun.
Sebenarnya, kita yang bukan sebagai public figure pun dapat kapan saja digosipkanGosip itu pun bisa dalam bermacam skala, mulai dari gosip ringan hingga kejam. Bagaimanapun baiknya kita dan seberapa keras pun kita telah mencoba berbuat baik dan menjadi orang yang baik. Tetap saja, kita tidak akan pernah dapat membuat semua orang senang. Pasti ada saja orang yang tidak senang dengan kita. Kita tidak dapat disukai oleh semua orang. Kita pun tidak dapat memaksakan agar orang lain menyukai kita. Kalau kita merasa “lurus”—ya terus saja. Lanjutkan!
Memang, kadang kala kita tidak merasa telah menyakiti orang lain dengan tingkah laku, perkataan, dan perbuatan kita. Dan, hal seharusnya kita lebih peka sehingga akan ada rasa kehati-hatian. Itulah hal yang paling penting dan harus kita sadari secara penuh. Konsekuensi dari menjadi suatu bagian komunitas manusia.
Kembali ke Just Alvin, pada episode itu, entah mengapa saya melihat ekspresi dari si selebritis yang menggugah hati saya. Walaupun realitasnya saya tidak mengenal dan tidak mengidolakannya, tetapi tak terasa air mata saya pun ikut menetes. Air mata sebagai luapan akan perasaan di hati. Saya ternyata manusia yang luluh juga, berempati mungkin. Ternyata, saya tidak sendirian dalam hal ini. Keesokan hari pergi ke kantor, dalam suatu obrolan, salah seorang teman saya mengalami hal yang sama, ikut meneteskan air mata ketika menonton acara tersebut. Ternyata, episode malam itu cukup menyentuh para pemirsa.
Episode Gugun Gondrong itu sarat dengan nuansa cinta. Cinta dan juga kasih. Saya terpesona akan betapa hebatnya perasaan cinta. Ternyata, cinta itu memang bersifat universal. Tanpa terkecuali, semua orang bisa “tergerak dan tersentuh” oleh cinta. Cinta bisa mendatangi siapa saja, bagaimanapun bentuknya. Cinta dalam bentuk pasif dan aktifnya itu sendiri, dicintai dan mencintai.
Jadi, seseorang akan dicintai karena perasaan mencintai orang lain. Dalam proses melakukan percintaan itu, yaitu mencintai, hingga akhirnya akan berbuah, yaitu dicintai. Mencintai yang besar dan penuh, yang menggulirkan suatu buah kemanisan, dan sebagai balasannya juga dicintai oleh orang lain secara penuh dan besar.
Saya mungkin bukan pecinta ulung, dalam arti kata paham akan arti dari mencintai dan dicintai. Saya hanya mencoba mengekspreskan suatu hal, cinta itu saja. Mengekspresikan apa yang saya lihat, saya jalani, dan apa yang saya rasakan. Tentulah dalam wawasan dan definisi saya sendiri.
Orang bilang bahwa cinta adalah anugrah dari Yang Maha Pengasih dan Penyayang. Perasaan cinta yang akan melahirkan rasa syukur akan suatu nikmat. Melahirkan empati. Sebegitu hebatnya cobaan Tuhan terhadap hambanya. Mungkinkah ini juga bentuk Cinta dari Tuhan? Tetapi, itu dikemas dalam paket yang bernama cobaan?
Sebegitu kuasanya Dia sehingga kita harus rela dan ikhlas menerima dan menjalani skenario cobaan dari Yang Maha Berkehendak ini. Bagi Dia, semudah seperti membalikkan telapak tangan. Skenario, yang bagi ciptaannya itu kadang kala diartikan sebagai skenario baik dan buruk, padahal kita pasti mengakui bahwa skenario-Nya adalah yang terbaik buat kita. Karena, Dia adalah Sang Mahasutradara yang sesungguhnya.
Hari ini, sepertinya Tuhan telah menggugah dan melembutkan hati saya. Saat ini, dengan bersikukuh dan khidmat saya mendoakan kesembuhan untuk semua orang, yang sedang terbaring sakit, kepada satu-satunya, Sang Mahapenyembuh. Amin.[msa]
* Maria Saumi lahir di Jakarta, 27 Agustus 1976 dengan nama asli Mariatun Meima Saumi. Ia adalah lulusan Jurusan Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Indonesia, tahun 2000. Maria adalah praktisi bidang investasi, dengan spesialisasi futures trading investment, dan saat ini bekerja di PT Sentratama Investor Berjangka, Sudirman, Jakarta. Ia juga alumnus workshop Proaktif “Cara Cerdas Menulis Buku Bestseller” Batch VIII, Februari, 2009 dan dapat dihubungi melalui pos-el: mariasaumi[at]yahoo[dot]com atau nomor telepon: 021-99111527.
April 7th, 2009 at 8:04 am
Saya suka bahasan tentang ‘Cinta Tuhan’ pada manusia diatas. Sama dengan persepsi saya.
April 7th, 2009 at 8:39 pm
Penulis juga bisa menjadi public figure lho. Ha ha. Maju terus, semoga semakin produktif.
April 9th, 2009 at 4:11 pm
yupz..mecintai dan dicintai itu indah..meski terkadang ada jg yg menyakitkan..Hanya Tuhan yg selalu mencintai Kita tanpa batas..
April 14th, 2009 at 10:10 am
cinta itu memang indah..
terlebih bila kita mencintai dan dicintai orang orang yang paling kita kasihi…