Home » Kolom Tetap » Mencintai atau Mengasihi?

Mencintai atau Mengasihi?

ms1Oleh: Miranda Suryadjaja*

Saya punya seorang teman jomblo. Orangnya menarik, supel, dan enak diajak bicara. Kita sebut saja namanya Ani. Dia merasa stok pria yang bisa diajak kencan sangat terbatas, atau boleh dikata tidak ada. Saya katakan padanya bahwa saya punya beberapa teman pria seumuran kami yang menarik untuk diajak berteman atau kencan.

Mau dikenalin enggak? tanya saya.

Mau, mau…, jawabnya.

Lalu, seorang teman lain menimpali, Kalau ternyata cocok kamu maunya gimana, apa cowok itu masih boleh berteman dengan cewek lain?

Ya enggak, harus stop dengan yang lainnya…,” kata Ani.

Lho, cinta kan tidak harus membatasi? kata saya. It is possible untuk mencintai tanpa harus memiliki. Mungkin saja para pria tersebut sudah beristri, tetapi masih membutuhkan teman mengobrol, teman jalan, dan teman main. Mungkin setelah lama menikah mereka menyadari ada sesuatu yang missing dari pasangannya, dan mencari yang hilang itu pada orang lain, tanpa harus berselingkuh dalam arti luas, tanpa harus menceraikan istrinya. Toh sebagai jomblo kita hidup berkecukupan dan lebih bahagia hidup tanpa harus mengurus suami atau pacar.

Wah, mana mungkin kita bisa mencintai seseorang tanpa ingin memilikinya? Kalau enggak ingin memiliki itu bukan mencintai, tetapi mengasihi namanya,” tukas Ani. Cinta tanpa syarat idealnya hanya mungkin dimiliki oleh seorang ibu untuk anak-anaknya.”

Buat saya mencintai dan mengasihi itu sama. Saya pernah mengalaminya, lanjut saya.

Sementara saya berpikir bagaimana cara menjelaskan apa yang saya maksud agar mudah dipahami, waktu kami untuk berdiskusi habis. Namun, percakapan kami terus mengiang-ngiang di benak saya, mencintai atau mengasihi; sama atau beda?

Saya pernah bercerita kepada seorang teman pria bahwa saya sekarang sudah mengerti apa artinya mencintai tanpa syarat, tanpa batas, tanpa hubungan itu harus jadi platonik. Dia paham apa yang saya maksud, tetapi dia minta saya coba menjelaskannya lebih jauh, supaya dia bisa menjelaskannya pada orang lain. Belum sempat saya jawab, sekarang topik ini muncul lagi, jadi saya akan berusaha untuk menjelaskannya.

Pemahaman ini lebih merupakan hasil dari suatu proses daripada merupakan sebuah kesadaran yang datang dengan tiba-tiba. Secara intelektual saya mengerti dan suka konsepnya, cinta itu memercayai segalanya, merangkul segalanya, mengikhlaskan segalanya, sehingga meng-transend segalanya. Kedengarannya indah, luar biasa.

Pengalamanlah yang akhirnya menghantarkan saya pada pemahaman sebenarnya dari konsep tersebut.

Saya tahu bahwa saya paham ketika saya tidak lagi merasakan penderitaan, kepedihan, ataupun ketakutan akan ‘kehilangan’, sementara perasaan cinta dan kasih mendalam terhadap orang yang berada di hadapan saya tidak berkurang satu iota (huruf, sedikit) pun.

Hingga pemahaman ini muncul, saya harus mengalami pengggodokan batin dan jiwa habis-habisan terlebih dahulu. Saat itu saya telah hampir setahun putus dari ex-partner saya. Sebelum break yang setahun itu kami sempat beberapa kali putus sambung. Dan, meskipun saya yang terakhir memutuskan, saya berkeyakinan bahwa suatu saat kami akan nyambung lagi karena saya tidak meragukan keutuhan tekad dan kesetiaan partner saya tersebut.

Saya putuskan hubungan tersebut karena pada dasarnyameskipun kami berdua tidak ingin berpisahada ketidakcocokan mendasar yang tidak bisa dijembatani saat itu. Saya merasa perlu waktu untuk memperjelas dan mempermudah hubungan kami. Semasa putus kami meneruskan pengembangan diri masing-masing, karena kebetulan kami berdua punya komitmen kuat untuk terus tumbuh dan berkembang, dan masih sering bertemu untuk berbincang dan berbagi.

Nah, setelah setahun, saya merasa mulai lebih dekat dan lebih memahaminya, serta siap untuk merajut kembali hubungan kami. Kami memang telah mendiskusikan kemungkinan itu, meskipun dia juga dengan jujur menyatakan bahwa dia merasakan ketertarikan pada seseorang yang baru hadir di kehidupannya. Saya merasa yakin bahwa saya punya pengaruh dan ikatan yang lebih kuat atas dirinya. Kami mempunyai kesamaan dalam banyak hal, sementara wanita baru ini seorang perempuan desa yang sangat sederhana, lugu, dan masih sangat muda. Partner saya adalah orang yang sangat serius untuk menjalin hubungan yang terakhir dalam hidupnya. Dan, dia adalah tipe yang tidak pernah perlu diragukan kesetiaannya.

Sementara itu, hubungan kami makin membaik, kami lebih mudah berkomunikasi dan lebih terbuka satu sama lain. Persahabatan yang sebelumnya bukan aspek utama dari hubungan kami kemudian menjadi semakin terpupuk. Tentunya hal ini tidak lepas dari usaha dan proses kami secara terpisah untuk lebih memahami diri lebih dalam dan belajar dari kehidupan maupun pengalaman.

Akhirnya, kami bertemu lagi untuk membicarakan kepastian apakah kami akan kembali melanjutkan hubungan kami atau tidak.

Ternyata… dia tidak memilih saya. Dan saya tahu, sekali dia memilih dan memutuskan dia tidak akan menoleh ke belakang lagi. Apa pun konsekuensi dari keputusannya akan dia jalani, sehingga saya pun tidak berusaha mengubah pikirannya. Saya merelakannya.

Tetapi, rupanya kerelaan saya hanya sebatas omongan, belum sampai kepada kesadaran yang terdalam. Di sinilah saya di-gojlog habis-habisan, mengalami penderitaan batin yang luar biasa, yang belum pernah saya rasakan sebelumnya. Hati sakit, ego terbanting habis, tak terkira air mata yang saya keluarkan. Rasanya ingin berargumentasi dengannya, membujuknya, bahkan memaksanya untuk melihat dan menimbang kembali apa yang kami miliki bersama, yang kayaknya tidak layak dibuang begitu saja.

Berhari-hari saya bergelimang dalam keterpurukan, ketidakrelaan, dan penderitaan yang luar biasa. Rasa kecewa, bingung, sedih, sakit, kehilangan harga diri, tercampakkan, ketidakberdayaan mengepung saya dari segala penjuru. Segala ilmu dan kemampuan yang saya miliki dan pelajari selama ini terasa majal, tidak mempan untuk mengatasi kepedihan yang begitu hebat.

Saya meminta-minta pada Guru saya untuk membantu mengakhiri penderitaan tersebut karena saya tahu beliau bisa. Namun ditolaknya. Dia katakan bahwa saya harus masuk ke dalam penderitaan ini sampai ke titik nadir, merasakan benar-benar semua perasaan yang muncul, supaya saya bisa keluar dari kubangan pesakitan.

Tentunya saya juga tidak berhentinya berdoa pada Tuhan, memanggil Jeshua berulang-ulang untuk memberi saya pencerahan. Saya sadar bahwa semua ini merupakan pembersihan dan penyucian dari cengkeraman ego, meskipun kesadaran tersebut tidak meringankan penderitaan saya. Saya hanya bisa berharap bahwa kegelapan ini segara berlalu.

Seminggu penuh saya hanya fokus merasakan perasaan, mengurung diri di rumah tanpa bisa melakukan hal lain. Akhirnya, suatu pagi kegelapan itu terkuak, secercah sinar menerangi jiwa saya. Plong sudah, penderitaan sirna, digantikan oleh kedamaian, rasa syukur, dan keikhlasan. Saya bisa tersenyum lagi.

Beberapa bulan kemudian ketika saya bertemu dengan seorang pria, berkenalan, dan rasa suka berubah menjadi rasa bersahabat menjadi rasa cinta, saya mengalami hal yang berbeda dari yang pernah saya alami sebelumnya. Pria ini mempunyai komitmen pada wanita lain di negaranya, namun ketika dia ada di depan saya dan saya di depan dia, perasaan cinta yang begitu besar kami rasakan. Perasaan cinta yang tidak terbebani, tidak berkaitan dengan masa lalu, tidak mengandai-andai ke luar dari apa yang ada di depan kami saat itu, namun fokus pada memberikan segalanya pada momen tersebut.

Yang terasa adalah suatu kebebasan merasakan, kebebasan memberi dan menerima, tanpa mengukur maupun mengurangi kapasitas mencintai yang ada pada diri kami masing-masing. Rasanya begitu penuh, kaya, tanpa ketakutan akan kehilangan. Kami memberi tanpa berharap, menerima tanpa berhutang. Tatkala dia tidak ada di depan saya tidak ada rasa kehilangan, cinta, rasa penuh, dan rasa ikhlas tidak berkurang. Tatkala kami berjumpa, kami berdua berada di dalam momen yang sama, bersama sepenuhnya. Tatkala kami berpisah tidak ada kebutuhan atas pengulangan ataupun keterikatan pada pengalaman. Rasa rindu datang dan pergi, diamati dan dinikmati bagaikan arakan awan putih yang lewat di langit yang biru.

Dari sana saya tahu bahwa saya sudah terlepas dari kebutuhan untuk memiliki orang yang saya cintai, dan bahwa mencintai adalah suatu pilihan, suatu keputusan. Saya bisa memilih dan memutuskan untuk mencintai secara sadar siapa pun yang ada di hadapan saya. Tuhan telah hadir.

Kalau saya tidak mencintai itu karena saya memilih untuk menilai orang tersebut berdasarkan nilai dan ukuran yang saya pilih dan tetapkan. Hal ini sudah saya praktikkan dengan orang lain, pria maupun wanita. Konteks hubungan menjadi tidak relevan lagi. Hubungan fisik pun tidak lagi menentukan. Karena, hubungan fisik tidak lain dari salah satu ekspresi cinta yang bisa menjadi pilihan, atau bukan pilihan, sesuai dengan kesepakatan kedua belah pihak. Sex, sentuhan, atau sekadar saling memandang lewat jendela hati memberikan kepuasan dan kenikmatan yang sama dalamnya.

Ah… nikmatnya mencintai yang memercayai, mengikhlaskan, merangkul, dan membebaskan…. Membebaskan dari penderitaan yang timbul dari ketakutan akan kehilangan dan kecurigaan, serta leluasa untuk memberi tanpa berharap dan menerima tanpa berutang…. Jadi, apa kita masih perlu memilah-milah siapa yang harus dicintai, siapa yang harus dikasihi?

Mungkin dunia belum siap untuk bercinta seperti ini, tetapi bukan berarti itu tidak mungkin dan tidak bisa…. Pilih cinta atau ketakutan? Kebutuhan untuk memiliki objek cinta kita tidak lain dari ketakutan akan kehilangan dan keyakinan bahwa cinta yang utuh adalah cinta yang tidak berbagi. Padahal, semakin kita membuka hati dan memilih untuk mencintai tanpa syarat, tanpa kualifikasi, maka akan semakin besar, kaya, dan utuh cinta yang dapat kita terima, rasakan, dan miliki.[ms]

* Miranda Suryadjaja adalah seorang public speaker dan konsultan bisnis yang berdomisili di Bali. Selain itu, Miranda juga seorang life coach dan jewelry designer yang meminati bidang motivasi dan pemberdayaan perempuan. Peraih gelar MBA dari National University, San Diego, USA yang juga hobi menulis, membaca, mendesain, dan traveling ini telah dikarunia seorang putra. Saat ini, ia tengah menulis sebuah buku tentang pribadi Yesus dalam kacamata seorang penganut agama Hindu. Miranda dapat dihubungi melalui pos-el: sayamiranda[at]gmail[dot]com atau HP: 0811389432.

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 9.0/10 (1 vote cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: +1 (from 1 vote)

3 Comments

  1. Saya sangat setuju dengan kalimat mencintai adalah membebaskan, sebab tiada hal lain yang lebih menyakitkan selain terkungkung oleh kegelapan jiwa.

    Sempat terharu di awal kisah. Tapi, syukurlah di akhir cerita ada secercah sinar bahagia yang begitu terang dan bijak.

    UN:F [1.6.9_936]
    Rating: 0.0/5 (0 votes cast)
    UN:F [1.6.9_936]
    Rating: 0 (from 0 votes)
  2. miranda suryadjaja says:

    Terima kasih Hanna, atas komentarnya….

    Salam hangat,
    Miranda

    UN:F [1.6.9_936]
    Rating: 0.0/5 (0 votes cast)
    UN:F [1.6.9_936]
    Rating: 0 (from 0 votes)
  3. Icai says:

    Terkesan sekali membaca tulisan mba, & pelajaran bagi saya yg masih belajar utk mencintai

    UN:F [1.6.9_936]
    Rating: 0.0/5 (0 votes cast)
    UN:F [1.6.9_936]
    Rating: 0 (from 0 votes)

Post a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Comment moderation is enabled. Your comment may take some time to appear.

Komentar