Memerdekakan Pikiran dalam Menulis

Edy ZaqeusOleh: Edy Zaqeus*

Hampir enam tahun lamanya saya tidak bertemu Bob Sadino, pengusaha agrobisnis yang kondang dengan bendera Kemchick, Kemfarm, dan Kemfood. Beberapa waktu lalu, saya kembali bertemu Om Bob (panggilan akrabnya) untuk sebuah wawancara. Dan, setelah wawancara selama hampir enam jam, ternyata semangat pengusaha gaek nan nyentrik ini masih saja seperti yang dulu; provokatif, kontroversial, sangat merdeka dalam berpikir, dan gemar meneror mental orang lain.

Mengapa saya angkat Bob Sadino sebagai pembuka tulisan ini? Tak lain karena satu gagasannya yang begitu memprovokasi orang untuk berwiraswasta. “Kalau saya mau bisnis, saya tidak perlu mikir kayak orang pintar. Bikin rencana begini-begitu. Kalau mau bisnis ya bisnis saja, tidak usah terlalu banyak mikir. Kalau terlalu banyak mikir kayak orang-orang pintar itu, percayalah, nanti enggak bakalan jadi berbisnis! Jadi, merdeka sajalah!” ujar Bob bersemangat.

Nah, kalau pernyataan-pernyataan di atas saya kaitkan dengan dunia kepenulisan, rasanya ada hal yang nyambung. Apa itu? Ya, kalau mau menulis terlalu banyak berpikir, bisa-bisa malah tidak jadi menulis. Terutama kalau yang dipikirkan adalah bayangan-bayangan negatif yang kita ciptakan sendiri, seperti yang saya tulis pada artikel terdahulu “Mengapa Orang Pintar Takut Menulis?”.

Sebagaimana di dunia wiraswasta, saya sepakat bahwa dalam dunia kepenulisan, semangat dan keberanian memulai adalah hal yang teramat penting. Makanya, kalau ada orang pintar yang takut menulis, saya sangat menyarankan supaya mengingat-ingat betul provokasi Bob Sadino di atas.

Persoalannya, dari mana semangat dan keberanian menulis itu berasal? Setelah saya renung-renungkan dan saya hubung-hubungkan dengan keberanian Bob Sadino dalam memprovokasi pikiran orang, maka saya punya kesimpulan pasti. Bahwa, semangat dan keberanian menulis itu akan tumbuh manakala kita berani memerdekakan pikiran kita. Merdeka dari apa? Ya, merdeka dari segala macam rasa takut atau segala macam bayangan negatif, baik yang kita ciptakan sendiri atau sudah terkonstruksi dalam pola komunikasi kemasyarakatan.

Saya ingin menekankan arti penting pernyataan ‘merdeka dalam pikiran’ di sini. Yang saya maksudkan tak lain adalah pentingnya menumbuhkan kesadaran, bahwa siapa pun diri kita ini—tidak peduli dari usia berapa pun, jender, agama, ideologi, suku bangsa, latar belakang sosial ekonomi, dan tingkat pendidikan apa pun (atau bahkan tanpa pendidikan sama sekali)—sungguh-sungguh memiliki hak paling hakiki untuk berpikir, berpendapat, dan bersikap sesuai dengan yang kita inginkan.

Ini sungguh prinsip yang sangat mendasar dan saya anggap sangat penting dalam dunia kepenulisan. Berdasarkan prinsip tersebut, setiap orang memiliki hak mendasar untuk menuangkan setiap gagasannya dalam bentuk tulisan. Ketika kita bicara pada konteks hak, maka seharusnya tidak ada perintang apa pun yang bisa meredam, mengurangi, atau bahkan menghilangkannya.

Nah, kalau kita sudah sadar akan hak kita tadi, apa lagi yang bisa menghambat kita untuk menulis? Makanya, kalau kita masih tetap saja takut menulis, saya justru curiga bahwa diri kita sendirilah yang sejatinya sedang menindas hak akan kebebasan dalam menuangkan gagasan. Jadi, bukan wilayah eksternal yang menjadi penjajah pikiran kita, tetapi kita sendirilah penjajahnya. Kita sendirilah yang tidak mau bebas, tidak mau memerdekakan pikiran!

Saya sering bertanya-tanya, apa sejatinya yang membuat orang-orang pintar di kampus-kampus atau di sekolah-sekolah, tidak produktif atau bahkan tidak menulis sama sekali? Sebagian sudah berhasil kita identifikasi dan kupas dalam tulisan saya sebelumnya. Tetapi, yang paling prinsip—setidaknya menurut keyakinan saya—ternyata adalah soal cara penyikapan terhadap tradisi akademik serta tidak adanya kemerdekaan berpikir pada kebanyakan orang.

Saya akan berikan contoh klasik bagaimana pikiran bisa terjajah oleh sebuah pranata akademik. Bagi Anda yang pernah duduk di perguruan tinggi, pasti tidak asing dengan aturan baku yang mengharuskan insan akademik untuk hanya menulis berdasarkan teori atau rujukan ilmiah. Tanpa rujukan teori yang ilmiah, maka sebuah gagasan tidak ada makna akademiknya. Gagasan-gagasan itu akan dianggap sebagai opini spekulatif. Padahal, justru gagasan-gagasan spekulatiflah yang selama ini menjadi fondasi ilmu filsafat, induk dari segala macam ilmu di muka bumi ini.

Sebenarnya tidak ada yang salah dengan aturan akademik ini. Sebab, setiap lingkungan atau institusi pasti punya pranatanya sendiri-sendiri. Hanya saja, tradisi akademik semacam ini ternyata bisa menumbuhkan pemahaman yang justru membelenggu kemerdekaan berpikir para civitasnya. Maka, jangan heran kalau melihat fakta begitu banyak civitas akademik yang gamang, menunggu, berhenti, atau bahkan membatalkan niatnya untuk menuliskan gagasan-gagasan orisinal, semata karena tidak memiliki rujukan ilmiah.

Manakala mengurai pemikiran di atas, saya tidak sedang berusaha mengajak kita semua untuk meninggalkan sama sekali tradisi akademik. Sama sekali tidak! Sebab, tradisi tersebut juga menjadi keniscayaan untuk melestarikan sebuah disiplin keilmuan. Saya hanya mengingatkan bahwa pada titik-titik posisi atau area tertentu, tradisi bisa menguatkan tetapi juga bisa melemahkan. Dalam konteks penulisan gagasan, maka sudah seharusnyalah kalau kita lebih arif menyikapinya.

Ketika yang kita butuhkan adalah sebuah pengukuhan, kesahihan, kevalidan, legitimasi, dan pranata kelembagaan, maka tradisi akademik tidak bisa ditinggalkan. Sebab jika ditinggalkan, yang terjadi adalah anomali kelimuan. Tetapi, saat yang kita butuhkan adalah area kebebasan demi memperlancar penuangan gagasan, maka tradisi akademik tertentu bisa jadi justru kontra produktif.

Sebagai penulis profesional, editor, dan penerbit, saya sering mendapati beragam tulisan dari beragam latar belakang. Tidak semuanya ditulis dengan baik. Apabila saya menerapkan standar akademik sebagai satu-satunya alat saring tulisan, maka jelas saya akan melewatkan begitu banyak tulisan bagus lainnya—sekalipun itu bukan bagus dalam artian akademik.

Saya yakin, tulisan akademik pun ditulis dengan suatu disiplin tertentu yang sangat pantas untuk dihargai. Bahkan, untuk beberapa jenis tulisan, pendekatan inilah yang rasanya bisa menjadi yang terbaik. Tetapi, tulisan-tulisan nonakademik yang sifatnya hanya opini, atau sering dianggap spekulatif, pun bisa bermanfaat dan menambahkan sesuatu kepada kita. Setidaknya, saya sering menemukan kearifan-kearifan dan kebijaksanaan dalam tulisan-tulisan jenis ini. Dan, itu pun layak mendapatkan apresiasi yang positif.

Nah, sekarang bila Anda merasa terhambat, terbelenggu, takut, atau gamang untuk memulai aktivitas penulisan gagasan, cobalah untuk mengorek sebab-musababnya. Apabila Anda merasa hambatan itu berasal dari luar diri Anda, maka segera sadari akan hak hakiki setiap orang untuk berpikir, berpendapat, dan bersikap. Ideologi demokrasi dan konstitusi kita menjamin hal tersebut.

Namun, bila hambatan itu terasa datangnya dari dalam diri sendiri, segera gedor kesadaran Anda bahwa menjajah pikiran sendiri sama artinya dengan menghina dan merendahkan martabat kita sebagai manusia merdeka. Ingat, Tuhan menciptakan manusia lengkap dengan kemuliaan martabat, kemerdekaan, dan hak-hak azasinya. Jadi, jangan cabut kemerdekaan berpikir Anda sendiri.

Saya yakin, salah satu hal yang membuat dunia ini menjadi begitu dinamis adalah karena adanya kemerdekaan berpikir. Kemerdekaan berpikir ini dinikmati oleh orang-orang yang mau menyadari, memperjuangkan, menggunakan, bahkan menikmatinya. Dari merekalah muncul beribu-ribu, bahkan berjuta-juta gagasan lisan maupun tertulis yang kemudian memperkaya peradaban manusia. Saya berharap, Anda adalah salah satu di antaranya. Selamat menulis dengan merdeka![ez]

* Edy Zaqeus adalah seorang trainer, editor profesional, writer coach, dan konsultan penulisan/penerbitan. Usai menjadi editor Pembelajar.com 2004-2008, ia mendirikan sekaligus menggawangi www.andaluarbiasa.com. Ia juga mendirikan Bornrich Publishing dan Fivestar Publishing, penulis beberapa buku bestseller, di antaranya “Resep Cespleng Menulis Buku Bestseller Edisi Revisi” (Fivestar, 2008) dan “Bob Sadino: Mereka Bilang Saya Gila!” (Kintamani, 2009). Jangan lewatkan workshop-nya bersama Andrias Harefa dan Her Suharyanto dengan judul “Cara Cerdas Menulis Buku Bestseller” Angkatan ke-X pada 19-20 Juni 2009 nanti. Info selengkapnya di blog Edy Zaqeus on Writing. Edy dapat dihubungi melalui pos-el: edzaqeus[at]gmail[dot]com.

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 9.0/10 (1 vote cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: +1 (from 1 vote)

2 Responses to “Memerdekakan Pikiran dalam Menulis”

  1. Relon Star Says:

    Ya..ya..betul! Terkadang memang hambatan dalam menulis ya itu tadi, memikirkan hal yg terlalu ruwet,sampai2 ndak bisa nulis.Saya sendiri ngalami,apa yang saya pikir tulisan saya itu jelek dan kosong banget,eh ternyata malah dapat banyak respon.Contoh yg judulnya “Pecandu Narkoba jadi Penulis & Inspirator” itu loh…hehe. Makanya, ayo semangat menulis!!!

    UN:F [1.6.9_936]
    Rating: 0.0/5 (0 votes cast)
    UN:F [1.6.9_936]
    Rating: 0 (from 0 votes)
  2. Agung Praptapa Says:

    Ya Mas EZ, setuju! Just write it! Just do it!

    UN:F [1.6.9_936]
    Rating: 0.0/5 (0 votes cast)
    UN:F [1.6.9_936]
    Rating: 0 (from 0 votes)

Leave a Reply

Comment moderation is enabled. Your comment may take some time to appear.

Motivasi Dunia

Motivasi Dunia

Kolomnis

<
Edy Zaqeus Eni Kusuma Avanti Fontana Alexandra Dewi Miranda Suryadjaja Sofa Nurdiyanti
Anang Y.B. Hartati Nurwijaya Aleysius H. Gondosari Sulmin Gumiri Relon Star Sri Budiastuti
Agus Riyanto Iftida Yasar Fida Abbott Ery Prasetyawan Tanenji Ingrid Gunawan
Maria Saumi Ely Susanti Agung Praptapa Putu Adnyana Fita Irnani Nathalia Sunaidi
M Sebastian Wijaya Abdul Muid Badrun Kak Sugeng Akhmad Sirodz Lisa Nuryanti Abidin Noor
Wuryanano Petriza Giovanni Amelia Devina Tri Wahyuni Endang Setyati Vina Tan
Lianny Hendranata Emmy Angdyani Erawati E. Setyo Hartono Fatma Kartika Sari Supandi Radinal Mukhtar Harahap
Sawali Tuhusetya Gatut Heru Susanto Effendi Budi P. Fajar S. Pramono Ade Asep Syarifuddin Melly Kiong
Guntur Novizal Ida Rosdiana Natapermadi Risfan Munir Sri Julianti Sawiji Farelhana Dewi Rhainy
Deni Kurniawan As’ari Johanes Ariffin Wijaya Indari Mastuti Enggar Kusumaningsiwi Daniel Kurniawan Sayuri Yosiana
A.A. Kunto A. Lina Kartasasmita K. Hanna Fransisca Wahidunnaba Yusuf Tantowi Dwiatmo Kartiko
Meta Sekar Puji Astuti M. Adi Prasetyo Abd. Basid Lily Choo Rina Dewi Lina Berny Gomulya
Zee Cardin M. Iqbal Dawami Sidik Nugroho Emmy Liana Dewi Ridwan Sumantri Dwiyana Apriandini
Andrew Abdi Setiawan Gobind Vasdhev J. I. Michell Suharli Yusnita Rifai Gagan Gartika

Check Google Page Rank

Buku Baru

Obrolan yang Bikin Kamu kaya

Judul: Obrolan yang Bikin Kamu kaya
Oleh: Don Gabor
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama, 2009
ISBN: 978-979-22-5073-2
Tebal: xviii + 380 hal

Jangan hanya membangun jejaring luas-berjejaringlah dengan cerdas!
Obrolan yang Bikin Kamu Kaya menyajikan pendekatan baru revolusioner pada topik berjejaring yang tak lekang waktu. Penulis buku laris dan pelatih komunikasi Don Gabor memperkenalkan Anda pada empat gaya berjejaring—Kopetetif, Supel, [...]

Full Story | February 24th, 2010

Best Viewed With Mozilla FireFox