Membangun Rumah Kebahagiaan
Editor | Buku Pilihan | April 13th, 2009
Oleh: Abdul Muid Badrun*
Tempo hari saya berkirim SMS ke Arvan Pradiansyah, penulis buku The 7 Laws of Happiness, untuk meresensi bukunya dan disambut dengan baik. Sengaja saya kirim SMS karena memang sejak awal saya sangat menyukai tulisan-tulisannya. Buku pertamanya You Are a Leader (2003), buku kedua Life is Beautiful (2004), dan buku ketiga Cherish Every Moment (2007), semuanya begitu memesona dan menjadi bestseller di pasaran. Sehingga, hadirnya buku The 7 Laws of Happiness (2008) ini semakin mempertebal positioning Arvan sebagai penulis buku-buku laris dan bermutu dalam bidang pengembangan diri.
Ada ungkapan bijak dari Dave Gardner, ”Success is getting what you want, happiness is wanting what you get.” Ungkapan sederhana ini menunjukkan bahwa kesuksesan berbeda dengan kebahagiaan. Jika kita amati secara saksama, sudah begitu banyak buku yang mengupas dan menjelaskan bagaimana cara menjadi orang sukses. Sukses di sini identik dengan pencapaian sesuatu (sifatnya material-kuantitatif). Namun, masih banyak yang belum menyadari, bahwa kesuksesan tersebut ternyata tidak identik dengan kebahagiaan (happiness). Karena, yang terakhir ini lebih bersifat spiritual-kualitatif.
Kebahagiaan memang intangible dan bersifat relatif, tergantung dari sudut mana orang melihat. Perumpamaan pengendara mobil mewah melihat penarik becak dengan enaknya bisa tidur pulas tanpa masalah setelah bekerja, daripada dirinya yang bermobil mewah namun tak bisa menikmati tidur pulas karena tertimpa banyak masalah, setidaknya mengartikulasikan relativitas kebahagiaan itu. Boleh jadi si penarik becak juga akan beranggapan sama, bahwa enak sekali si pengendara mobil mewah itu, ke mana-mana ada yang melayani, sampai buka pintu mobil saja ada yang membukakan.
Melalui buku The 7 Laws of Happiness ini, Arvan menunjukkan kepada kita semua bahwa sifat relatif dari kebahagiaan itu dikendalikan oleh pikiran. Lebih lanjut, Arvan menjelaskan bahwa menjaga pikiran adalah kunci dari kebahagiaan (hal. 35-39). Jika Anda ingin bahagia, maka jagalah pikiran anda agar tetap berpikiran positif terhadap segala sesuatu, begitu saya menyimpulkannya. Karena itu, otak yang menjadi alat (tool) pikiran harus senantiasa dipelihara agar tetap sehat dalam operasionalnya. Bagaimana caranya? Anda bisa baca selengkapnya di halaman 40-60 buku ini.
Sejatinya, cara membaca buku ini tidaklah sulit. Meski tergolong buku tebal (jika dibandingkan dengan buku-buku Arvan sebelumnya), tapi kerangka teori buku ini sudah sangat jelas disampaikan sejak awal. Inilah kelebihan Arvan dibanding penulis-penulis buku pengembangan diri lainnya. Bangunan teori (meski di Pengantar Arvan membantah bukunya bukan buku teori) yang disampaikan penulis buku ini memberikan pesan, bahwa ada tujuh pikiran yang mesti kita pilih untuk mengantarkan kita pada ruang kebahagiaan. Tiga pikiran pertama terkait dengan diri kita sendiri, yaitu sabar (patience), syukur (gratefulness), dan sederhana (simplicity). Tiga pikiran kedua berkaitan hubungan kita dengan orang lain, yaitu kasih (love), memberi (giving), dan memaafkan (forgiving). Satu pikiran terakhir yang menjadi puncak adalah berkaitan hubungan kita dengan Sang Pencipta yaitu berserah (surrender).
Arvan mengakui bahwa bangunan teori praktis yang ditulis di buku ini bukanlah sesuatu yang baru. Jika kita membaca bukunya yang kedua yang menjadi bestseller, yaitu Life is Beautiful, konsep tentang kesabaran, bersyukur, rela memaafkan, pasrah, ikhlas, dan lain sebagainya sudah pernah dibahas. Hanya bedanya, di buku Life is Beautiful konsepnya masih berserakan. Nah, di buku The 7 Laws of Happiness ini, konsep-konsep luhur nan agung tersebut dikumpulkan agar terbentuk bangunan konsep teori yang utuh, mudah diingat, dan ada tahap-tahapannya. Sehingga, penerapannya mudah dilakukan (aplicable) oleh siapa saja. Begitu harapan penulis buku.
Saat ini, di tengah dominasi kultur masyarakat yang serba instan, membangun rumah kebahagiaan, bagi saya bukanlah sesuatu yang mudah. Sabar yang menjadi fondasi utama bangunan bagi kebanyakan orang masih terasa sulit. Orang yang sabar terkesan lambat meski esensinya tidak. Karena jika kita bersabar maka kebahagiaan terasa mudah dirasakan. Sabar di sini saya maknai sebagai sikap proaktif mengendalikan emosi dan nafsu untuk tujuan sesaat.
Arvan menempatkan sabar sebagai fondasi dan pasrah sebagai plafon bangunan, dan bukan tanpa alasan. Bagi saya, dua jalan itulah yang menjadi intisarinya, jika kita mau memeras saripati buku The 7 Laws of Happiness. Jika sabar sudah mewujud dalam perilaku, maka hanya kepasrahanlah tempat mengembalikan segala masalah. Karenanya, sabar dan pasrah bagai dua sisi mata uang yang tak terpisahkan.
Hadirnya buku ini, yang oleh penulisnya dianggap masterpiece, akan semakin mempertebal keyakinan kita bahwa sejatinya yang dicari dalam hidup bukanlah kesuksesan, namun lebih pada kebahagiaan yang abadi. Bukankah agama juga mengajarkan pada kita berdoa agar senantiasa hidup dalam kebahagiaan (fiddunyaa hasanah) dan mati pun juga dalam kebahagiaan (aakhiroti hasanah)? Bagaimana menurut Anda?[amb]
*Abdul Muid Badrun adalah seorang peresensi, entrepreneur, dan Associates Researcher Circle of Information and Development (CID), Jakarta.
DATA BUKU
Judul Buku: The 7 Laws of Happiness; Tujuh Rahasia Hidup yang Bahagia
Penulis: Arvan Pradiansyah
Penerbit: Kaifa, Bandung
Cetakan: Pertama, September 2008
Tebal: 423 halaman
April 30th, 2009 at 1:40 pm
Saya ingin bertanya, apa saja aspek-aspek kebahagiaan itu???
terima kasih.