Home » Kolom Lepas » Memaknai Hari Ulang Tahun

Memaknai Hari Ulang Tahun

tanenjiOleh: Tanenji*

Mendengar kata acara ulang tahun, pasti pikiran akan mengaitkannya dengan pernak-pernik, seperti kue ulang tahun, balon, nyanyi-nyanyi, benda, dan aktivitas penunjang lainnya. Kata ulang tahun juga berarti jatah umur seseorang semakin menipis. Makanya, bertambah umur seseorang pada hakikatnya adalah berkurangnya umur itu sendiri.

Jikalau acara ulang tahun merupakan tonggak sejarah seseorang atau lembaga, mengapa tidak ada atau tidak dibuat momentum ulang jam, ulang hari, juga ulang bulan, ya? Takut dan khawatir membosankan barangkali. Ya, iyalah masa ulang jam, ulang hari, serta ulang bulan? Seperti kurang pekerjaan saja, barangkali itulah orang menanggapinya bila ada aktivitas seperti itu.

Seumur hidup, seingat saya ulang tahun saya yang ‘diperingati’ adalah ketika berumur 17 tahun. Hal ini karena pola kehidupan masa kecil terlewati di daerah pedesaan dengan gaya hidup agraris, yang lugu dan jauh dari hiruk-pikuk perkotaan di Kabupaten Brebes, Jawa-Tengah. Ketika itu, kebetulan ada acara kumpul-kumpul keluarga besar di rumah orang tua. Makanan dan minuman tersedia dalam jumlah melimpah ruah. Apalagi kebun buah nangka kepunyaan orang tua sedang panen raya. Jadilah ada sedikit ‘pesta’ makan malam dan ‘pesta nangka’ kala itu.

Yang saya undang hanyalah teman-teman SD. Mengapa? Masa SD adalah masa sekolah yang paling berkesan sepanjang hidup saya. Bisa jadi juga berkesan bagi mayoritas orang, karena sebagian golden age berada pada awal duduk di bangku SD. Di sinilah saya mempunyai teman sepermainan waktu kecil, yang merajut pengalaman manis lainnya, kelak di masa depan. Hal ini karena teman Madrasah Tsanawiyah (SMP-nya Depag) dan Madrasah Aliyah (SMA-nya Depag), terlalu jauh jaraknya. Karena, saya menempuhnya dengan merantau di kota lain, jauh dari rumah orang tua.

Sedangkan pada era menempuh studi perkuliahan dan awal kerja setelah lulus, paling banter perayaannya dilempari telur, terigu, dan shampo oleh sahabat-sahabat dekat. Itulah ucapan, kado, sekaligus party ulang tahun saya. Ini juga tidak kalah mengasyikkan dan membuat kenangan terindah pada fase usia remaja akhir, menjelang usia dewasa awal (meminjam istilah psikologi).

Setelah menikah dan mempunyai anak, saya tidak mempunyai tradisi merayakan ulang tahun bagi anak-anak saya. Tidak ada undangan ke teman-teman ke rumah, tidak ada tiup lilin, tidak ada kue ulang tahun, tidak ada nyanyi-nyanyi, dan lain-lain. Yang saya lakukan sekadar mengajak anak-anak makan ‘enak’ di luar rumah, katakanlah seperti di restoran cepat saji dengan mengundang satu-dua kerabat atau kawan dekat saya saja. Termasuk ulang tahun saya, istri, juga ulang tahun pernikahan. Tindakan ini merupakan wujud pengganti dari bentuk sikap care terhadap momentum penting dalam sejarah kehidupan yang dialami anggota inti keluarga saya.

Tindakan seperti ini bisa jadi agak aneh bila dibandingkan dengan gaya hidup sebagian besar penduduk di kompleks perumahan sederhana tempat tinggal saya di bilangan Parung, Kabupaten Bogor. Sempat juga keluarga saya menjadi bahan gunjingan para tetangga akibat menganut sikap yang satu ini. Akan tetapi, bila ada dan tersedia waktu serta dana yang mendukung, undangan ulang tahun untuk anak saya dari teman-temannya tetap direspon dengan baik, yaitu dengan menghadiri dan memberi kado hadiah ulang tahun bagi pihak pengundang.

Ya, kita tidak bisa hidup dari sekadar omongan atau komentar orang lain tentang kita. Kita juga harus mempunyai prinsip dalam menjalani kehidupan ini. Yang penting dan perlu ditekankan, bahwa prinsip hidup yang dipegang dan dijalani tidak merugikan pihak mana pun, baik fisik maupun psikis, berbentuk material maupun moral.

Saya sering mendengar ibu-ibu yang mengeluh gara-gara banyak sekali undangan ulang tahun untuk anaknya. Padahal, kondisi keuangan sudah memasuki tanggal tua. Ini jelas dapat merepotkan orang lain. Bila tidak datang, enggak enak. Datang juga harus membawa kado, itu memerlukan uang, dan dapat saja mengambil jatah lain yang lebih penting. Inilah alasan saya sesungguhnya mengapa tidak merayakan ulang tahun anak-anak. Maksud hati untuk kebaikan, tetapi tetap menyisakan ngedumelan dan rasa tidak enak di dalam hati pihak yang diundang.

Padahal jika memungkinkan, manajemen finansial seseorang yang terdesain dengan bagus dan terencana, hampir dapat dipastikan ada slot anggaran untuk biaya menyambung tali silaturahmi. Atau, slot anggaran tersebut bisa dengan nama lain, seperti anggaran tak terduga atau emergency. Katakanlah seperti kondangan, ulang tahun, bantuan orang sakit, iuran agustusan, dan lain-lain. Apalagi yang sifatnya sudah dapat dipastikan adanya, kegiatan rutin bulanan atau tahunan yang diadakan di lingkungan tempat tinggal kita.

Buku karya Safir Senduk, yang berjudul Siapa Bilang Menjadi Karyawan Tidak Bisa Kaya, saya reomendasikan untuk dibaca dan diimplementasikan dalam perencanaan finansial keluarga. Buku itu memberi contoh dan solusi tentang komposisi jumlah sumber penghasilan dan jumlah pengeluaran yang seimbang, sehingga kondisi finansial sehat sepanjang masa, didukung oleh tabungan dan produk investasi.

Tentang kado yang menghabiskan rupiah, ya tidak mesti yang mahal. Pada dasarnya, yang penting niatnya ikhlas tanpa pamrih, yakni bebas dari keinginan mendapatkan sanjungan dan pujian, misalnya. Termasuk aktivitas apa saja, bila dilakukan dengan ikhlas, dengan penuh cinta, maka akan jadi produk atau jasa yang enak dilihat dan dirasakan. Baik oleh diri sendiri maupun pihak lain. The power of ikhlas membuktikan bahwa kehidupan yang penuh dengan keikhlasan akan membuat seseorang dapat meraih kebahagiaan yang sejati –yang menggambarkan kondisi manusia seutuhnya.

Rencana Kehidupan

Ulang tahun hakikatnya adalah tanggal yang sama, yang datang menghampiri lagi pada satu momentum tertentu. Katakanlan tanggal lahir, tanggal pernikahan, tanggal berdiri suatu institusi, atau tempat kerja, dll. Memperingatinya bisa jadi merupakan kebaikan, karena saat tersebut bisa dijadikan sarana introspeksi diri ( Arab, muhasabah). Apa yang sudah diraih dan dicapai dalam kurun waktu tertentu? Sampai ke mana prestasi kita yang sudah teraih? Waktu yang telah diberikan Allah, Tuhan semesta alam, dipergunakan untuk apa saja? Kebaikankah atau kejahatankah? Berkualitaskah tindakan-tindakan kita? Dari sinilah kehidupan seseorang memerlukan perencanaan dalam menata, menatap, dan merenda hari esok demi meraih kesuksesan di masa depan.

Tahun 1996 saya mengikuti Achievment Motivation Training yang diselenggarakan oleh Kanwil Depnaker Propinsi DKI Jakarta. Dalam tarining tersebut, para peserta diminta membuat semacam peta impian atau dream mapping. Apa yang ingin diraih dan dicapai dalam hidup ini? Ketika sudah dibuat apa yang diinginkan, lalu diberi batasan waktu kapan hal itu bisa diraih. Apa kekuatan dan kelemahan yang ada untuk bisa mencapai tujuan. Bagaimana mengatasi dan mengantisipasi kelemahan tersebut. Dari sinilah kemudian terwujud rencana kegiatan tahunan, yang dibreak-down menjadi rencana bulanan, mingguan, dan harian.

Rencana harian dibuat rigid agar bisa dikerjakan dengan mudah dan bermutu. Jarang sekali orang yang tidak sibuk (baca: pengacara, pengangguran banyak acara) dapat merencanakan seluruh aktivitasnya. Kalau dibandingkan dengan orang yang sibuk, bila mempunyai dan ada rencana harian menjadi hal wajar karena mereka berpacu dengan waktu. Pekerjaan mesti diselesaikan atau target harus diraih. Bahkan, pada jabatan level tertentu, ada yang punya seorang sekretaris/ajudan yang siap menjadi pengingat/pemandu kegiatan yang harus dilakukan setiap jam/menit.

Bahkan, saya akan mengajak orang yang sibuk bila ada keperluan. Karena, biasanya orang yang sibuk dapat me-manage waktu dengan baik. Seorang pengangguran, saking banyaknya waktu yang tersedia, biasanya tidak punya rencana apa pun dalam menjalani hidup, dari hari ke hari. Waktu habis tanpa melakukan aktivitas apa pun yang berarti. Dari sinilah mengapa seseorang, apa pun profesinya, apa pun situasi dan kodisinya, memerlukan rencana kegiatan harian.

Dan, dream mapping memungkinkan saya untuk telah, sedang, dan akan meraih apa saja yang sekarang saya jalani, miliki, dan cita-citakan. Tubagus Wahyudi, pakar hipnosis dan public speaking, menyatakan bahwa semesta alam akan merespon apa saja yang kita ucapkan, lakukan, dan kita cita-citakan. Lebih-lebih bila semuanya dalam kondisi tertulis. So, apa saja keinginan kita, tulislah. Hal ini sesuai dan dapat dibenarkan oleh kata-kata orang tua bijak, bahwa kita tidak boleh ngomong sembarangan, takut ada malaikat lewat mengamini apa yang diucapkan. Untuk itulah, kita harus tetap lurus, baik dalam pikiran, ucapan, maupun perbuatan.

Hikmah Ultah Pembelajar.com

Beberapa waktu lalu, saya menghadiri gathering ulang tahun Pembelajar.com di Hotel Menara Peninsula, Jakarta Barat. Mengapa saya diundang dan hadir? Karena bagaimanapun, saya adalah alumni worksop Menulis Buku Bestseller yang diselenggarakan oleh Sekolah Penulis Pembelajar (SPP) Pembelajar.com, sekarang namanya Writers Schoolen.

Setelah mengikuti workshop, tulisan-tulisan saya berada dan tercecer di mana saja; lembaran kertas, buku, file di laptop, tanpa pernah diekspos di media cetak maupun elektronik. Saya seperti terantuk, namun kemudian bersemangat kembali ketika dalam gathering tersebut, saya diperkenalkan oleh Pak Hendri Bun dengan Eni Kusuma, yang semangatnya luar biasa itu.

Mantan TKW ini membagikan kisah bagaimana ia belajar menulis artikel di bawah selimut, karena majikannya melarang lampu dihidupkan pada malam hari ketika waktu istirahat tiba (sekitar pukul 23.00 waktu Hongkong). Eni menggunakan lampu senter supaya dapat menerangi kertas yang akan ditulisinya dengan deretan huruf demi huruf, representasi dari ide-ide yang telah berkecamuk dalam pikirannya sepanjang hari. Ia mengetik dan mem-posting tulisan-tulisannya melalui internet gartis di mal, museum, atau kantor pos di Hongkong, pada akhir pekan atau masa libur yang diberikan majikannya. Tulisan-tulisannya mengerucut, mencuat, dan menjelma menjadi sebuah buku berkategori bestseller dengan judul Anda Luar Biasa!!! (Fivestar, 2007).

Di forum gathering Pembelajar.com itu pula, saya berkenalan dengan salah seorang peserta. Ternyata ia adalah Sulmin Gumiri, seorang guru besar sebuah universitas negeri di Kalimantan, yang menyelesaikan studi S-2 di Inggris dan S-3 di Jepang. Ia luar biasa ramah dan low profile, di luar semangatnya yang membara terhadap dunia tulis-menulis. Kini, ia telah menjadi kolumnis tetap situs Andaluarbiasa.com.

Kemudian, awal Maret 2009 saya diberi tugas mengikuti acara Training of Trainer atau pendidikan dan pelatihan untuk calon pelatih diklat calon kepala sekolah dan calon pengawas, yang diselenggarakan oleh Direktorat Jenderal Peningkatan Mutu Pendidik dan Tenaga Kependidikan, Departemen Pendidikan Nasional RI, di Hotel Millennium, Jakarta Pusat. Kebijakan dan regulasi sekarang ini, semua hal di dalam dunia pendidikan formal di Indonesia akan tersertifikatkan, karena telah mempunyai aturan main standarnya.

Guru dan dosen telah terlebih dahulu mengikuti dan menjalani proses sertifikasi, seiring dengan disahkannya Undang-Undang Nomor 14 tahun 2005 tentang Guru dan Dosen. Termasuk jabatan kepala sekolah dan pengawas sekolah akan disertifikasi melalui pendidikan dan pelatihan calon kepala sekolah dan calon pengawas sekolah. Nah, saya dan ratusan peserta lainnya, selama lebih kurang sepuluh hari dididik dan dilatih untuk menjadi pengisi atau fasilitator pada acara pelatihan calon kepala sekolah dan calon pengawas sekolah tersebut, melalui rangkaian panjang kegiatan pascadiklat ini.

Pada hari Jumat pagi, 13 Maret 2009, ketika memasuki restoran hotel untuk acara breakfast, secara surprise saya bertemu lagi dengan Sulmin Gumiri. Rupanya, ia sedang mengikuti sebuah acara di hotel yang sama. Akhirnya, kami duduk bersama dan mengobrol secara serius, ngalor-ngidul. Kami serentak bersepakat mengatakan, bahwa dunia ini memang ternyata sempit. Saya yang tinggal di Bogor, bisa bertemu lagi dengan kenalan baru pada acara Pembelajar.com. Ia menimpali, bahwa dunia ini memang sempit, makanya jangan macam-macam. Bisa jadi, ia mengemukakannya dalam tanda kutip. Untungnya, kami sedang dalam acara yang baik, bagus, berkualitas, dan semoga tetap konsisten serta berkomitmen dengan integritas nilai dan moral, sehingga tidak terjerumus dengan hal-hal yang “macam-macam”.

Beliau bercerita bahwa bila merasa dunia ini sempit, mestinya seseorang akan berbuat baik kepada siapa saja, di mana saja, dan kapan saja. Karena baginya, orang jahat dan orang baik ada di mana-mana, dapat melintasi suku, ras, kebangsaan, profesi, bahkan agama. Ia mempunyai teman semasa mengambil S-2 di Inggris yang berkebangsaan Israel. Mereka tidak bisa saling mengunjungi karena perbedaan politik masing-masing negara.

Apa pun yang terjadi dengan dunia perpolitikan negara, mereka tetap berkawan baik hingga sampai sekarang. Dan, tulisan ini tidak membahas pernak-pernik perpolitikan, apalagi yang bersentuhan dengan negara yang berada di kawasan Timur Tengah, yang berjulukan negeri zionis ini, yang sepanjang sejarahnya berkonflik ria dengan penduduk Palestina.

Yang jelas impact dari sebuah acara ulang tahun telah membuat saya menjadi bersemangat kembali untuk menulis dan menulis, sampai kapan pun. Menulis apa saja yang saya tahu, apa saja yang saya lakukan, dan apa saja yang saya alami, sebagaimana telah disarankan oleh J.K. Rowling, penulis serial buku bestseller Harry Potter, sebagaimana juga Ali bin Abi Thalib mengatakannya, “Ikatlah ilmu dengan menuliskannya.

Bisa jadi, hal inilah yang menginspirasi Hernowo menulis buku Mengikat Makna, buku yang perlu dibaca bagi mereka yang berkeinginan menjadi penulis pemula, atau meningkatkan kapasitas kepenulisannya. Ya, menulisyang berarti juga mengarangyang oleh Andrias Harefa tujuannya dapat dikelompokkan dalam empat kategori. Pertama, tujuan yang bersifat nafkah-finansial (ekonomis). Kedua, tujuan yang bersifat pernyataan diri (psikologis). Ketiga, tujuan yang bersifat sosial-emosional (sosiologis). Keempat, tujuan yang bersifat moral-spiritual (teologis). Dan, saya akan segara mewujudkan dan memenuhi tujuan-tujuan menulis dan mengarang tersebut. Semoga.[tan]

* Tanenji lahir dan dibesarkan di Brebes, Jawa-Tengah, pada 12 Juli 1972. Ia menyelesaikan pendidikan S-1 dan S-2 di UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta, dan kini menjadi dosen tetap pada Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan UIN Syarif Hidayatullah serta dosen tidak tetap pada tiga perguruan tinggi swasta di Jakarta-Timur, Depok, dan Bogor. Sewaktu kuliah, ia pernah bekerja di sebuah perusahaan ekspedisi. Tanenji juga aktif menjadi peneliti dan trainer pada Center for Teaching and Learning Development (CTLD), sebuah lembaga semi otonom di UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta, Ia mengaku terinspirasi pada Andrias Harefa, dan bercita-cita menjadi WTS (Writer, Trainer, and Speaker) yang sukses, andal, dan terkenal. Semboyannya,Tidak ada yang tidak mungkin bagi mereka yang berani mencobanya’. Tanenji dapat dihubungi melalui e-mail: tanenji[at]yahoo[dot]com. yang mengkhususkan pada pengembangan pembelajaran baik pada sekolah dasar dan menengah, serta perguruan tinggi.

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 7.0/10 (1 vote cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: +3 (from 3 votes)

1 Comment

  1. maria saumi says:

    Hmmm benar sekali pak..”Ikatlah ilmu dg menuliskannya”. Ali bin Abi Thalib diibaratkan oleh Rasul sbg kitab(ilmu) yg berjalan..kalo sy tdk salah?..

    UN:F [1.6.9_936]
    Rating: 0.0/5 (0 votes cast)
    UN:F [1.6.9_936]
    Rating: 0 (from 0 votes)

Post a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Comment moderation is enabled. Your comment may take some time to appear.

Komentar