Mau Jadi Orang Baik Saja Kok Susah!
Editor | Kolom Tetap | May 4th, 2009
Oleh: Alexandra Dewi*
Katanya semua agama mengajarkan kita untuk berbuat baik, saling mengasihi sesama. Tetapi ternyata, berbuat baik dan menjadi orang baik itu tidak semudah teorinya. Kalau kepada orang yang baik kepada kita, lantas kita balas baik kepadanya. Tentu saja ini jauh lebih mudah, walau ada juga yang, istilahnya, membalas air susu dengan air tuba. Istilah itu timbul sebagai refleksi tentang bagaimana susahnya menjadi seorang manusia yang… ya itu tadi dia, baik.
Wong ada kan orang yang dikasih air susu beneran membalas dengan air tuba? Saya heran, kalau dikasih air tuba, membalasnya dengan air apa, ya? Mungkin saya naive, tetapi saya percaya awalnya kita semua manusia dilahirkan baik. Dari bayi yang tidak tahu apa apa—anak-anak yang bagaikan kertas polos—bagaimana tiba-tiba bisa menjadi jahat?
Jangan jahat, deh! Tetapi, kehilangan motivasi dan prinsip untuk tetap berbuat baik. Misalnya, mungkin ketika beranjak dewasa dikecewakan, ditipu, atau di bohongi orang sehingga akhirnya orang yang baik pun bisa menjadi orang yang penuh curiga dan waspada.
Sering saya berkata sendiri, “Ngapain saya baik baik dengan dia kalau dia tidak baik dengan saya?” Tetapi, setelah saya cerna lagi–saya berkesimpulan–yah… OK, dia tidak baik dengan saya, saya belum sampai tahap akan bisa seperti malaikat yang tidak ingin marah. Tetapi, kalau saya tidak bisa baik kembali kepada orang itu karena orang itu pun tidak baik kepada saya—MINIMUM—saya tidak akan mencelakakan orang tersebut.
Karena, apa yang orang lakukan kepada saya, jahat atau baik, bagi saya itu adalah karma mereka, sedangkan dengan apa saya membalasnya–baik berlaku sama baiknya atau malah berbuat balas dendam atau perbuatan jahat lainnya? Nah, itu yang menjadi karma saya.
Kadang saya melihat orang yang berlaku curang, kehilangan hati nurani, atau sudah tidak bisa mendengar bisikan batin mereka sendiri untuk memilih berbuat yang baik daripada yang jahat. Atau, memilih melakukan hal yang benar (walau tidak ada yang melihat) daripada melakukan yang jahat (walaupun ada atau tidak ada yang melihat), ibaratnya seperti sudah berubah menjadi “setan”. Tetapi, yang lebih parah lagi adalah seperti judul film horor yang belum lama ini saya tonton preview-nya; Setan Budek.
Jadi, sudah kebiasaan melakukan hal-hal yang tidak baik (ibarat jadi setan), tetapi kali ini “budek” pula. Maksudnya, teguran baik yang dari kata hari atau nurani sendiri, atau teguran dari teman/sahabat atau siapa saja deh, sudah tidak terdengar. Makanya, istilahnya kalau sudah sampai pada tahap tersebut adalah menjadi “setan budek”. Amit-amit….
Namun, realitasnya “setan budek” itu tidak sedikit jumlahnya. Di Facebook saya saja suka ada orang-orang yang mengajukan Friend Request dengan nama dan gambar yang tidak layak. Ada yang pakai nama belakang bispak alias bisa pakai, lalu fotonya adalah dirinya dengan menunjukkan alat kelaminnya. OMG. Saya heran, apa yang membuat mereka sampai jadi seperti ini?
Lalu, ada lagi orang orang yang memang manis mulutnya, tetapi kelakuannya sama sekali bertolak belakang. Suka membuat janji, tetapi tidak pernah ditepati, malahan membual. Saya heran lagi, apa yang dialaminya di masa kehidupannya sampai mereka menjadi seperti ini?
Saya bukan sok suci–saya juga banyak dosanya–dan saya tidak menghakimi siapa siapa. I always try to be kind as I know everyone is fighting a hard battle. Maksudnya, kita semua juga pastinya kalau masih “normal” dan ditanya, apakah kita mau jadi orang yang baik atau jahat, saya yakin kalau bisa maunya senantiasa menjadi orang yang baik.
Tetapi, justru jadi orang baik itu cobaannya banyak. Semakin baik kita, semakin ada timbul orang orang yang sengaja atau tidak sengaja memanfaatkan kebaikan kita, atau mungkin malahan memanipulasi kebaikan kita. Dan akhirnya, kita bisa goyah karena capai benar rasanya menghadapi orang-orang yang mau menjahati kita, tetapi kita tetap tegas bahwa kita tetap ingin menjadi orang baik.
Contoh, cerita seorang istri tentang yang suaminya suka memukulinya kalau kebetulan sedang tidak ada uang. Suaminya memang bekerja sebagai pelayan restoran dan gajinya pas-pasan. Si suami selalu melampiaskan kekurangan uang kepada istri sendiri, bukan saja verbal abuse tetapi sudah main tangan atau physical abuse. Dalam keadaan kepepet seperti ini, ada kenalan sang istri yang mengajak untuk menjadi transporter obat-obat terlarang. Job description-nya adalah dengan membawa narkoba di koper dari airport A ke airport B.
Kita sebagai pembaca tahu ini salah, dan hal ini tidak baik. Tetapi, demi anak, demi suami, akhirnya itu dikerjakan juga. Kalau tidak ketangkap sih tidak akan ada yang tahu istri ini sedang melakukan apa. Tetapi, kalau beritanya sampai tercertak di koran–kita semua tidak mau tahu kenapa dan apa alasannya—hanya tahunya ada seorang wanita yang melakukan tindakan yang bukan saja tidak baik, tetapi juga melanggar hukum.
Bagi saya, kalau saya tahu alasan kenapa wanita ini memilih menjadi “setan budek”–saya pastinya akan lebih compasionate atau lebih berempati dengannya—dan memaklumi bahwa kadang desakan dan cobaan untuk berbuat melawan hati nurani datang dari hal-hal yang di luar keinginan si pelaku.
Nah, sama dengan segala jenis kasus “setan-setan budek” lainnya, saya yakin ada suatu proses di kehidupannya yang membentuk individu-individu ini menjadi orang jahat. Dengan bekal pengertian itu, saya mempunyai rasa syukur dan juga motivasi untuk terus berbuat baik. Akhirnya saya sadar, berbuat baik—bahkan asal masih ada semangat, keinginan untuk berbuat baik—kita tidak usah menunggu, “Mana sih hadiah atau reward-nya? Aku kan sudah jadi orang baik, niiiih… mana reward-nya?”
Biasa tanpa disadari, kita merasa demikian. Namun, justru rasa ingin berbuat baik–kalau masih ada dalam diri kita–itu saja sudah HADIAH. Begitu kita kehilangan rasa ingin menjadi baik, kita sebenarnya sudah dalam tahap sangat amat menderita atau dilukai orang sedemikian rupa, dan membiarkan luka terus ada di sana. Ada memang istilah “nasi sudah menjadi bubur”, kalau sudah jadi bubur saya pikir masih enggak apa, ‘kan? Masih bisa di makan. Tetapi, kalau nasi telah menjadi basi–mau diapakan lagi? Dimakan juga sudah tidak bisa.
So, apa pun yang terjadi di kehidupan kita, ditipu orang atau di kecewakan–itu sudah terlanjur–seperti nasi sudah menjadi bubur, mendingan buburnya kita nikmati daripada kita berkeras hati membuat nasi menjadi basi, dan akhirnya kehilangan semua motivasi untuk melakukan hal yang baik.
Besok, dan seterusnya, suatu kebaikan apa saja yang saya terima, saya mau mencoba untuk melakukan / meneruskannya kepada orang lain. Mungkin, orang itu sangat butuh ‘angin segar’ dengan diberi kebaikan (air susu) setelah seharian minum air tuba.[ad]
* Alexandra Dewi adalah seorang eksekutif sebuah perusahaan, penulis buku The Heart inside the Heart, Queen of Heart, dan co-writer buku I Beg Your Prada. Saat ini sedang menantikan penerbitan bukunya yang keempat tentang fashion.
May 6th, 2009 at 4:15 am
Thanks
May 25th, 2009 at 1:42 pm
Sy percaya semua orang dilahirkan polos,lingkunganlah yang memberi warna kpd kt,masalahnya hampir dr setiap kita pasti pernah punya pengalaman pahit .tp as time goes by,sy yakin setiap dari kita punya chance untuk bangkit dan memutuskan utk memilih kt akan jd seperti apa.kalo kt memilih dikuasain oleh pengalaman pahit tsb,maka hati kita akan menjadi pahit-dan apapun yg kt alirkan pun akan pahit dan menyakiti ato menghancurkan dikarenakan pusat alirannya pahit.masalah ke 2 adalah kalo kt tdk punya iman yg teguh utk hidup dlm kebenaran,maka kt akan terbiasa melakukan kompromi dgn kejahatan,tanpa kita sadari semakin lama kt semakin terseret ke dalam lembah hitam.maka dr itu kt hrs tegas say no for evil.temaan sy pernah bilang:kalo kt keluar rumah lalu kena kotorn burung,what we gonna do?kt hrs pulang,mandi lg ,then keluar lagi,kena kotoran itu sial,tp kalo kt biarkan kotoran itu bersarang d tubuh kita itu namanya goblok.jgn biarkan kepahitan meracuni kt semua,amen