Mari “Berbudi” kepada Tanah

sg1Oleh: Sulmin Gumiri*

Seiring dengan kemajuan peradaban manusia, ada dua kebutuhan yang sering kali sulit dan terkadang mahal untuk kita penuhi. Kebutuhan yang pertama adalah tidur, sedangkan yang kedua adalah berlibur. Kedua kebutuhan ini sangat penting karena sangat menunjang kemampuan berproduksi untuk mencapai kesuksesan di bidang apa pun profesi utama kita.

Ada perbedaan mendasar dari dua kebutuhan ini. Tidur adalah bentuk istirahat total kita terhadap segala aktivitas fisik, sedangkan berlibur adalah pengalihan aktivitas fisik dan pikiran kita dari sesuatu yang bersifat rutinitas kepada sesuatu yang baru dan menyenangkan. Jika tidur dapat kita lakukan dengan gratis, kapan saja dan di mana saja (lihat artikel saya terdahulu: Kerja Sambil Tidur, Meninggal Saat Membaca), maka lain halnya dengan berlibur karena itu harus dirancang, dipersiapkan dengan matang, dan kadang-kadang memerlukan biaya yang sangat mahal pula.

Di zaman yang serba modern ini, kualitas liburan yang kita dapatkan sangat menentukan kemampuan produksi yang akan bermuara kepada tingkat kesuksesan yang akan kita capai. Namun, liburan berkualitas kadang-kadang merupakan kebutuhan yang sangat mahal bagi sebagian kalangan. Dalam rangka memenuhi kebutuhan akan liburan, tidak jarang orang tua harus menabung dulu, mengumpulkan uang hanya untuk bisa membawa anak-anaknya mendatangi tempat-tempat rekreasi seperti Taman Mini Indonesia Indah atau Taman Impian Jaya Ancol. Bagi kalangan berada, mereka tidak segan-segan untuk mengeluarkan puluhan atau bahkan ratusan juta rupiah hanya untuk memenuhi kebutuhan liburan mereka, dengan pergi melancong ke objek-objek wisata atau shopping di mal-mal terkenal di luar negeri.

Selain perlu biaya besar, ada juga orang yang sangat sulit untuk mendapatkan liburan. Ketika saya masih mahasiswa di Inggris lima belas tahun yang lalu, saya sangat kaget dan seolah-olah tidak mengerti ketika dalam suatu perjalanan, profesor pembimbing saya terlibat adu mulut yang sangat hebat dengan isterinya. Masalahnya “hanya karena sang isteri meminta suaminya untuk sedikit mengurangi kesibukannya, dan kemudian mengagendakan jadwal liburan mereka ke Bali pada liburan musim panas tahun berikutnya.

Saat berama-sama mengikuti Pak Wali Kota meninjau potensi danau-danau di daerah saya minggu lalu, salah seorang PNS Pemerintah Kota curhat kepada saya, bahwa ia sangat senang bisa ikut rombongan ke lapangan karena bisa sedikit berlibur dan keluar dari rutinitas pekerjaan di kantornya. Dengan agak emosional ia mengatakan bahwa selama sepuluh tahun terakhir ini ia merasa sangat dirugikan. Karena, ia tidak diizinkan pimpinannya mengambil jatah cuti tahunan PNS yang 12 hari itu akibat volume pekerjaannya yang semakin padat.

Salah satu solusi untuk mendapatkan liburan berkualitasyang murah meriah dan gampang didapatadalah dengan kembali kepada fitrah manusia itu sendiri. Dalam salah satu bukunya yang berjudul Ternyata Adam Dilahirkan, Agus Mustofa menjelaskan dengan sangat detil asal-usul kehidupan di bumi, baik ditinjau dari ajaran agama maupun dari perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi mutakhir saat ini. Salah satu yang sangat menarik bagi saya adalah tesis beliau yang mengatakan semua kehidupan yang ada di muka bumi ini berasal dan tersusun dari bahan yang sama yang berasal dari sari pati tanah. Ibarat saudara kandung, manusia sebagai salah satu makhluk hidup di bumi akan merasa senang dan nyaman ketika ia berada dekat dengan para kerabatnya yang lain, yaitu berbagai jenis tanaman dan hewan yang semuanya juga terbuat dari bahan yang sama yaitu tanah.

Manusia sebagai salah satu species yang datang paling belakangan dari jutaan makhluk penghuni bumi telah mengalami perkembangan peradaban yang luar biasa. Terlepas dari kontroversi yang dikemukakan oleh Agus Mustofayang mengatakan bahwa Adam bukanlah manusia pertama yang menghuni planet bumiyang jelas bahwa peradaban manusia, sejak zaman sebelum dan sesudah Adam hingga zaman manusia modern saat ini, telah menyebabkan semakin banyak manusia yang semakin menjauh dari tanah sebagai asal muasal dan bahan baku dari bangunan kehidupan mereka.

Dengan kesibukan kita yang semakin padat dari hari ke hari, mungkin ada orang yang tidak pernah bersentuhan sama sekali secara fisik dengan tanah. Bagi kalangan berada di perkotaan, tidak jarang tanah dikonotasikan sebagai sesuatu yang kotor dan bisa mendatangkan berbagai jenis penyakit sehingga harus dihindari. Karena itulah sudah umum kalau kaki mereka senantiasa diberi alas sandal atau sepatu, baik ketika pergi ke kantor, selama bekerja, melakukan olah raga, berbelanja dan bahkan juga saat sedang beristirahat di rumah. Sehingga, tidak heran kalau kita melihat orang kota yang berkunjung ke desa terpencil, mereka seperti anak kecil yang baru belajar berjalan. Mereka jatuh bangun kehilangan keseimbangan manakala melewati pematang sawah atau terpeleset ke sana kemari ketika berjalan di tengah hutan, karena telapak kaki mereka yang tidak biasa bersentuhan dengan tanah.

Kembali kepada kesulitan untuk memenuhi kebutuhan akan liburan di atas, kita sebenarnya bisa mendapatkan liburan berkualitas dengan kembali menyatukan diri kita dengan bahan dasar pembentuk kehidupan yaitu tanah. Salah satu orang kaya dan sangat terhormat di planet bumi saat ini adalah Kaisar Akihito dari Jepang. Sang kaisar selalu melestarikan tradisi serta memiliki hobi yang sangat unik dan menarik, yaitu bercocok tanam padi. Sejak muda sampai menginjak usia 76 tahun saat ini, secara rutin beliau selalu turun ke sawah dengan kaki telanjang untuk menanam padi. Bahkan di usia senjanya, sang kaisar konon berhasil menemukan bibit padi unggul baru.

Terlalu naïf rasanya kalau kita menilai beliau menanam padi untuk mendapatkan hasilnya. Yang pasti adalah beliau merasa bahwa dengan menanam padi beliau telah berlibur dan menjauhkan diri sejenak dari kungkungan kehidupan mewah istana, dengan segala kekakuan protokoler yang merupakan rutinitas tugas-tugas kekaisarannya. Tetapi, yang mungkin juga kita tidak tahu adalah dengan membenamkan kaki beliau di lumpur sawah, beliau merasa nyaman dan tenteram karena bisa menyatukan diri kembali kepada bahan dasar pembentuk kehidupan yaitu tanah.

Pada saat masih menjabat Wakil Perdana Menteri Malaysia, Datuk Seri Najib Tun Razakyang saat ini sudah menjadi orang nomor satu di negeri jiran tersebutmencanangkan gerakan “Edible Garden” atau Taman Dapur. Gerakan nasional ini sebenarnya digalakkan dengan tujuan untuk mengantisipasi krisis keuangan global di mana Malaysia adalah salah satu negara yang cukup berat terkena dampaknya akibat jatuhnya harga karet dan kelapa sawit di pasar internasional. Melalui gerakan Taman Dapur, rakyat Malaysia diimbau untuk memanfaatkan lahan kosong di pekarangan rumah mereka untuk menanam sayur-sayuran agar bisa menghemat belanja keluarga.

Di luar dugaan, gerakan kembali bertani ini mendapat sambutan yang luar biasa. Sehingga, bukan saja ibu-ibu rumah tangga yang keranjingan bercocok tanam, tetapi bapak-bapak para pejabat negara, ilmuwan, dan para konglomerat pun jadi ikut-ikutan gemar mencangkul tanah di pekarangan mereka. Akhirnya, gerakan bercocok tanam yang awalnya ditujukan untuk menghemat keuangan keluarga, saat ini mulai dinikmati sebagai aktivitas liburan dan mulai diganti istilahnya dengan gerakan “Berbudi kepada Tanah”, yang mungkin maksudnya mari mendekatkan diri, menyatu kembali, dan membalas semua kebaikan tanah yang telah memberikan kehidupan kepada kita”.

Perubahan paradigma dengan kembali bersahabat dengan tanah sebagai asal-usul kehidupan juga telah dilakukan oleh Michelle Obama, isteri Presiden Amerika Serikat saat ini. Di minggu-minggu pertama ia mendiami Gedung Putih, sang Ibu Negara tanpa segan-segan berbaur dengan anak-anak sekolah di lingkungan tempat tinggalnya untuk mencangkul dan menanam sayuran di halaman belakang Gedung Putih. Tindakan spontan back to nature tersebut telah mengangkat citra keluarga Presiden Barrack Obama sebagai keluarga yang merakyat. Dan–di atas segalanya–telah mengubah paradigma bagi orang-orang mampu dan celebrity bahwa tidak ada salahnya kembali bersahabat dan bermain dengan bahan dasar penciptaan manusia yang selama ini dicitrakan kotor, jijik, dan kampungan, yaitu tanah.

Memang secara fitrah kita sebenarnya sangat dekat sehingga senang bersahabat dengan tanah. Lihatlah kehidupan di desa. Secara alamiah anak-anak sangat senang bermain dengan tanah. Tetapi di perkotaan, kesalahan persepsi para orang tualah yang menyebabkan anak-anak kita semakin tidak mengenal dan tidak tahu bagaimana mendapatkan liburan yang sangat menyenangkan dengan berbudi kepada tanah.

Seperti baru tersadar dengan keangkuhan kami selama ini, keluarga saya juga mulai menjadikan aktivitas berbudi kepada tanah sebagai alternatif liburan. Di tengah-tengah tuntutan karier sebagai pimpinan kantor, pendidik, dan peneliti, saya saat ini sedang keranjingan menebar budi dengan asyik bercocok tanam dan mengaduk-ngaduk lumpur kolam dengan berkebun di lahan sempit pekarangan rumah saya.

Semenjak menekuni hobi “aneh” ini, saya merasa bahwa semua tugas berat di kantor menjadi lebih ringan dan suasana hati pun makin tenteram karena merasa makin dekat dan mengagumi semua ciptaan-Nya melalui berbagai jenis tanaman dan hewan piaraan yang ada di kebun pekarangan keluarga saya. Istri saya yang dulunya sangat enggan bersentuhan dengan tanah, sekarang pun diam-diam mulai tertarik dan ikut-ikutan mencoba merasakan betapa asyiknya bercocok tanam dan bermain-main dengan tanah. Seolah-olah tanah telah menciptakan energi ekstra dalam kehidupan keluarga kami.

Anda ingin mencoba? Lets go green, begitu ajakan yang semakin gencar disuarakan oleh berbagai kalangan di berbagai belahan bumi saat ini.[sg]

* Sulmin Gumiri adalah seorang pendidik, peneliti, dan profesor di Universitas Palangka Raya. Peraih predikat dosen terbaik di kampusnya tahun 2006 ini memperoleh gelar MSc. dari Nottingham University, Inggris dan gelar PhD dari Hokkaido University, Jepang. Pria disiplin dan pekerja keras ini memiliki hobi membaca buku, gardeningdan bermain tenis. Baru-baru ini ia mulai menapaki hobi barunya sebagai penulis buku-buku populer. Sulmin dapat dihubungi melalui pos-el: sulmin[at]upr[dot]ac[dot]id atau sulmingumiri[at]yahoo[dot]com.

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 9.0/10 (1 vote cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: 0 (from 0 votes)

4 Responses to “Mari “Berbudi” kepada Tanah”

  1. Toeti Says:

    Yah..menarik sekali tulisannya pak… tak bijak sekali menganggap tanah/bumi tempat kita berpijak ini sebagai hal yang kotor dan menjijikkan, sementara jelas2 difirmankan bahwa kita diciptakan untuk memakmurkannya

    UN:F [1.6.9_936]
    Rating: 0.0/5 (0 votes cast)
    UN:F [1.6.9_936]
    Rating: 0 (from 0 votes)
  2. aleysius Says:

    Sungguh artikel yang menarik, membumi, meningkatkan kesehatan serta menghilangkan stres. Salam Anda Luar Biasa, Pak Sulmin.

    UN:F [1.6.9_936]
    Rating: 0.0/5 (0 votes cast)
    UN:F [1.6.9_936]
    Rating: 0 (from 0 votes)
  3. Ida Rosdiana Natapermadi Says:

    Luar biasa artikelnya pak, saya termotivasi untuk segera bercocok tanam.

    Anda memang luar biasa!

    salam

    UN:F [1.6.9_936]
    Rating: 0.0/5 (0 votes cast)
    UN:F [1.6.9_936]
    Rating: 0 (from 0 votes)
  4. Doharman Sitopu Says:

    Artikel menarik Pak, Bagaikan muatan Positive yang di”grounded” akan memjadi “Nol” , Begitu kemungkinan analogi dari membumi. Di Nol kan, dinetralkan, direlaksasi bagi yang stress.
    Membumi dapat juga diartikan merakyat, karena kita semua pada dasarnya adalah rakyat, maka membumi juga dapat diartikan back to basic, peduli pada diri kita, pada rakyat dan Bumi kita. Go Green.

    UN:F [1.6.9_936]
    Rating: 0.0/5 (0 votes cast)
    UN:F [1.6.9_936]
    Rating: 0 (from 0 votes)

Leave a Reply

Comment moderation is enabled. Your comment may take some time to appear.

Motivasi Dunia

Motivasi Dunia

Kolomnis

<
Edy Zaqeus Eni Kusuma Avanti Fontana Alexandra Dewi Miranda Suryadjaja Sofa Nurdiyanti
Anang Y.B. Hartati Nurwijaya Aleysius H. Gondosari Sulmin Gumiri Relon Star Sri Budiastuti
Agus Riyanto Iftida Yasar Fida Abbott Ery Prasetyawan Tanenji Ingrid Gunawan
Maria Saumi Ely Susanti Agung Praptapa Putu Adnyana Fita Irnani Nathalia Sunaidi
M Sebastian Wijaya Abdul Muid Badrun Kak Sugeng Akhmad Sirodz Lisa Nuryanti Abidin Noor
Wuryanano Petriza Giovanni Amelia Devina Tri Wahyuni Endang Setyati Vina Tan
Lianny Hendranata Emmy Angdyani Erawati E. Setyo Hartono Fatma Kartika Sari Supandi Radinal Mukhtar Harahap
Sawali Tuhusetya Gatut Heru Susanto Effendi Budi P. Fajar S. Pramono Ade Asep Syarifuddin Melly Kiong
Guntur Novizal Ida Rosdiana Natapermadi Risfan Munir Sri Julianti Sawiji Farelhana Dewi Rhainy
Deni Kurniawan As’ari Johanes Ariffin Wijaya Indari Mastuti Enggar Kusumaningsiwi Daniel Kurniawan Sayuri Yosiana
A.A. Kunto A. Lina Kartasasmita K. Hanna Fransisca Wahidunnaba Yusuf Tantowi Dwiatmo Kartiko
Meta Sekar Puji Astuti M. Adi Prasetyo Abd. Basid Lily Choo Rina Dewi Lina Berny Gomulya
Zee Cardin M. Iqbal Dawami Sidik Nugroho Emmy Liana Dewi Ridwan Sumantri Dwiyana Apriandini
Andrew Abdi Setiawan Gobind Vasdhev J. I. Michell Suharli Yusnita Rifai Gagan Gartika

Check Google Page Rank

Buku Baru

Obrolan yang Bikin Kamu kaya

Judul: Obrolan yang Bikin Kamu kaya
Oleh: Don Gabor
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama, 2009
ISBN: 978-979-22-5073-2
Tebal: xviii + 380 hal

Jangan hanya membangun jejaring luas-berjejaringlah dengan cerdas!
Obrolan yang Bikin Kamu Kaya menyajikan pendekatan baru revolusioner pada topik berjejaring yang tak lekang waktu. Penulis buku laris dan pelatih komunikasi Don Gabor memperkenalkan Anda pada empat gaya berjejaring—Kopetetif, Supel, [...]

Full Story | February 24th, 2010

Best Viewed With Mozilla FireFox