Manusia Entrepreneur
Editor | Kolom Tetap | May 18th, 2009
Oleh: Agung Praptapa*
Seperti apa sih seorang entrepreneur itu?
Terserah!
Lho, kok terserah?
Iya, karena seorang entrepreneur tidak suka definisi!
Terus, apa yang mereka suka?
Mereka suka hasil! Result!
Jadi, seorang entrepreneur adalah orang yang berorientasi pada hasil?
Terserah!
Lho, kok terserah lagi?
Iya, karena entrepreneur adalah juga pencari peluang!
Oke. Kalau begitu seorang entrepreneur adalah seseorang yang selalu mencari peluang dan berorientasi pada hasil?
Itu juga terserah!
Waduh, kalau begini dah mulai rumit, nih! Apa lagi?
Seorang entrepreneur juga seorang pengambil risiko!
Kalau begitu tinggal ditambahkan lagi dong definisinya!
Ya, terserah!
Terserah lagi?
Cuplikan percakapan di atas bukan untuk mengatakan bahwa entrepreneurhip adalah sesuatu yang tanpa konsep, serba terserah! Bukan seperti itu! Tetapi, kata “terserah” di atas memberikan “kesempatan” kepada siapa saja untuk memberikan definisi! Karena, begitulah hakikat entrepreneurship! Bisa mengambil kesempatan pada peluang yang ada. Jadi, kata “terserah” di atas bermakna positif? Nah, kalau Anda sudah mulai berpikir seperti itu, artinya Anda sudah mulai berpikir sebagai seorang entrepreneur! Karena, Anda sudah mulai memberi makna pada sesuatu di mana orang lain memberikan makna yang lain. Saat orang lain menginterpretasikan kata “terserah” sebagai sesuatu yang negatif, Anda justru melihat ini sebagai peluang!
Saya akan pertegas dengan contoh berikut yang saya pinjam dari cerita kuno Cina. Pada suatu musim di negeri Cina datanglah tiupan angin kencang yang tidak kunjung berhenti. Tentu saja banyak orang yang terganggu. Kebanyakan dari mereka membangun tembok yang tinggi di seputar rumahnya agar tidak lagi terganggu oleh angin kencang tersebut, sambil berharap agar angin segera berhenti. Namun, ada sebagian orang lagi yang bertindak lain. Mereka membangun kincir angin. Kemudian mereka manfaatkan untuk mengolah hasil pertanian, untuk menciptakan listrik sehingga bisa menghangatkan ruang, dan juga kincir angin tersebut dibuat megah dan indah sehingga dapat dijadikan tontonan yang menarik! Nah, kelompok yang membuat kincir angin itulah para entrepreneur. Mereka melihat masalah sebagai peluang!
Memahami entrepreneur
Seorang entrepreneur adalah seseorang yang berorientasi pada hasil. Mereka dalam mengerjakan sesuatu tidak hanya sekadar menjalankan tugas. Untuk itulah kita sering melihat mereka melakukan sesuatu yang kelihatannya tidak pantas, tidak derajatnya, tetapi toh mereka melakukannya juga. Mengapa? Karena mereka bisa melihat hasilnya. Seorang sarjana dari perguruan tinggi terkenal mau saja berjualan di kaki lima. Orang lain mungkin melihat tidak sepantasnya seorang sarjana dari perguruan tinggi terkenal tersebut berjualan di kaki lima. Kalau cuma jualan di kaki lima lulusan SD saja bisa! Begitu pikir mereka dalam hati. Tetapi, sang penjual di kaki lima tersebut sekarang sudah jadi miliarder, karena telah memiliki ratusan outlet di dalam negeri maupun di luar negeri, dan telah mewaralabakan bisnisnya tersebut. Nah, ini kemudian juga menjadi ciri-ciri berikutnya dari seorang entrepreneur, yaitu mereka bisa melihat sesuatu hal kecil sebagai sesuatu yang besar.
Seorang entrepreneur tidak melihat sesuatu sebagai “what it is” tetapi di dalam benak mereka akan terpikirkan “what it will be”. Rekan saya pernah membeli sebidang tanah di tepi sungai yang kalau musim hujan selalu banjir. Saat itu, banyak orang yang menyarankan agar tanah tersebut tidak usah dibeli saja karena dalam separuh tahun akan digenangi air. Rekan saya tersebut mencoba memandang dengan cara lain. Separuh tahun digenangi air? Wah, ini hebat untuk dijadikan kolam ikan. Akhirnya, tanah tersebut dibeli. Tinggal dibuatkan tanggul yang sekaligus sebagai kolam ikan. Sekarang, tanah itu menjadi kolam ikan yang luas yang tidak pernah kesulitan air.
Entrepreneur jeli menangkap peluang. Beberapa tahun yang lalu sangat sedikit orang Indonesia yang makan burger. Hukum ekonomi konvensional mengatakan, kalau tidak ada demand mengapa harus memberi supply? Akan percuma saja. Tetapi, hukum ekonomi ini tidak berlaku bagi seorang entrepreneur. Tidak adanya demand ini mereka pandang sebagai peluang, yaitu peluang akan muncul demand baru. Jadi, mereka mencoba mengedukasi pasar untuk mengonsumsi burger. Sekarang bisa kita lihat, burger yang bukan makanan orang Indonesia ini sudah menjadi barang biasa bahkan sampai dijual di kota-kota kecil.
Kita sudah sering membaca kisah dua orang yang datang ke suatu pulau di mana tidak seorangpun memakai sepatu. Orang pertama, yang bukan entrepreneur mengambil kesimpulan bahwa percuma saja kita menjual sepatu di pulau tersebut karena tidak seorang pun mengenakan sepatu. Sedangkan orang satunya lagi, yang entrepreneur, melihat bahwa ini peluang luar biasa karena tidak satu pun orang di pulau tersebut yang bersepatu, sehingga kalau mereka bisa diyakinkan bahwa bersepatu itu perlu dan menyenangkan, mereka akan berbondong-bondong membeli sepatu. Jadi, entrepreneur memiliki kepekaan membaca peluang.
Yang jarang diamati orang adalah kemauan entrepreneur untuk belajar. Ternyata, entrepreneur sejati adalah seorang pembelajar sejati. Belajar disini bukan berarti belajar membaca buku seperti mahasiswa membaca buku sehari sebelum ujian (?). Mereka belajar sambil bekerja (learning by doing). Mereka memiliki keyakinan bahwa “Nothing is impossible. Every thing can be learned”. Tidak ada yang tak mungkin. Segala sesuatu bisa dipelajari. Untuk itulah mereka tidak menunda untuk bertindak. Mereka siap belajar. Mereka yakin bahwa sambil melakukan mereka bisa sambil belajar. Kesulitan adalah kesempatan untuk belajar. Demikian pula kegagalan. Kegagalan mereka pandang sebagai bagian dari proses pembelajaran, sebagai bagian dari proses menuju keberhasilan.
Tidak semua yang kita mau pasti akan terwujud. Ini harus disadari oleh siapa saja. Ini hukum alam. Jadi, ada peluang berhasil, konsekuensinya ada pula resiko tidak berhasil. Bagi seorang entrepreneur, risiko dipandang sesuatu yang sudah semestinya. Tidak ada seorang pun yang bisa hidup tanpa harus menghadapi risiko. Mengapa kita harus takut dengan risiko? Maka, seorang entrepreneur adalah pengambil risiko yang cerdas.
Menyimpulkan ketidakpastian
Tulisan di atas tentunya bukan rumus yang pasti untuk menggambarkan seorang manusia entrepreneur. Seorang manusia entrepreneur terbiasa dengan memberikan interpretasi yang berbeda-beda pada suatu hal. Berbeda-beda? Ini ketidakpastian, dong? Buat manusia entrepreneur, ketidak-pastian berarti peluang![ap]
* Agung Praptapa, adalah seorang dosen, pengelola Program Pascasarjana Manajemen di Universitas Jenderal Soedirman, dan juga sebagai konsultan dan trainer profesional di bidang personal and organizational development. Alumni UNDIP, dan kemudian melanjutkan studi pascasarjana ke Amerika dan Australia, di University of Central Arkansas dan University of Wollongong. Mengikuti training dan mempresentasikan karyanya di berbagai universitas di dalam negeri maupun di luar negeri termasuk di Ohio State University, Kent State University, Harvard University, dan University of London. Agung Praptapa juga seorang entrepreneur di bidang konsultasi bisnis, pendidikan, dan minuman sehat. Web: www.praptapa.com, pos-el: praptapa[at]yahoo[dot]com.

May 25th, 2009 at 2:05 pm
Saya jadi ingat cerita pak Agung tentang Seorang yang tidak memiliki banyak uang tetapi berani membeli tanah di sekitar bukit dengan cara diangsur. Lalu Tanah tsb dipasangi patok bertuliskan “disini akan dibangun hotel berbintang” Dlm wkt singkat ada yg berani membayar tanah tsb dgn harga mahal. Untung kan?
June 4th, 2009 at 3:36 pm
opportunity…opportunity…memang jarang menampakkan diri pada org biasa pak…”dia” muncul tiba2 n cepat…jadi hanya terlihat oleh orang yg punya “penglihatan” jeli n tanggap…mungkin enterpreneur matanya ngk ada yg minus ya pak? hehehe…thx. good article pak agung.
September 11th, 2009 at 4:49 pm
Yah saya sangat sepakat
Bukan apakah sih ini
Tapi akan bisa jadi apakah sih ini nanti
Itu memang kaca mata seorang pencari peluang
suramadusoho.bloggspot.com