Manohara, Karayuki-san, Jugun-Ianfu, dan Ibu Prita

mspaOleh: Meta Sekar Puji Astuti*

Ternyata, kisah Manohara bukannya kisah zaman moderen saja. Kisah yang menimpa model cantik Manohara, gadis blasteran Bugis Perancis ini, juga pernah dimuat dalam kitab Jataka dan Avadana. Itu adalah kitab yang berisikan kisah, legenda, serta dongeng-dongeng yang masih dipercayai oleh penganut agama Buddha. Kisah Manohara di zaman dulu, yang merupakan kisah kepedihan seorang istri cantik dari dunia manusia burung, bahkan juga dipahat di relief candi Borobudur (Kompas, 3 Juni 2009).

Manohara moderen tersiksa oleh suaminya, sementara Manohara kuno tersiksa karena keluarga suaminya. Manohara kuno terselamatkan dan bahagia karena ketulusan cinta suaminya, sementara Manohara moderen bisa kembali tersenyum karena ketulusan cinta ibundanya.

Tetapi, yang mengejutkan adalah persamaan kisah ketika seorang perempuan diberikan kepada pihak ketiga karena iming-iming harta dan kemewahan. Secara tidak sengaja ada perbedaan dan persamaan di dalam kedua kisah tersebut. Namun, keduanya sama-sama menyimpan kepedihan yang mendalam.

Sudah sejak dahulu perempuan harus berkorban demi materi dan kehormatan. Ternyata, itu bukan suatu kisah yang baru. Agama Islam, selalu menyerukan untuk selalu mengutamakan kaum perempuan. Ketika Nabi Muhammad ditanya siapakah yang harus dihormati dalam hidup kita, beliau menjawab, “Ibu” sampai tiga kali, sesudah itu barulah, ”Bapak”. Posisi ibu memang luar biasa. Surga ada di telapak kaki ibu, memang layak kita percayai.

Kisah karayuki-san berbeda lagi. Nama karayuki-san mulai dipakai sejak tahun 1970-an ketika para novelis-novelis Jepang menulis kisah “kelam” dalam sejarah Jepang maupun sejarah hubungan Jepang dan Asia Tenggara. Karayuki adalah gabungan kata, yaitu kara (merupakan huruf kanji) yang berarti China dan yuki adalah huruf kanji untuk pergi atau tujuan. Semisal Anda pernah singgah di Jepang kemudian mendengar atau melihat di stasiun, “Ini adalah kereta Shibuya-yuki” artinya kereta itu adalah kereta tujuan Shibuya. San dipakai untuk panggilan penghormat atau bentuk sopan bagi yang disebut.

Sejarah karayuki-san bermula dari sejak zaman dibukanya Jepang dari isolasi negaranya, yaitu tahun 1868 ketika zaman Meiji (tahta kekaisaran Meiji) dimulai. Profesi karayuki-san adalah penjaja diri atau pekerja seksual komersial (PSK). Profesi ini terpaksa ditempuh karena alasan kemiskinan. Situasi ekonomi Jepang memang dalam keadaan yang tidak baik pada masa-masa awal zaman moderen. Kemiskinan dan pengangguran di mana-mana. Tidak banyak orang bisa melakukan pekerjaan.

Beberapa daerah tidak bisa menghasilkan beras dan tidak ada pilihan lain kecuali pergi dari wilayah miskin itu. Pada masa itu, karena tidak memiliki keahlian khusus serta tidak tahu pekerjaan apa yang akan dilakukan, laki-laki memilih untuk tinggal di dalam negeri. Sementara, perempuan-perempuan muda merantau, baik yang dijual oleh pihak ketiga, maupun secara suka rela menjajakan dirinya ke luar negeri untuk mendapatkan kehidupan yang lebih baik.

Perempuan-perempuan ini kebanyakan dijual oleh keluarganya sendiri kepada mucikari yang telah berkeliaran mencari wanita muda. Daerah-daerah asal para karayuki-san ini adalah kepulauan Kyushu, seperti daerah Shimabara dan Amakusa. Mereka harus pergi dengan kapal yang relatif berukuran kecil, pengap, dan sangat berisiko untuk perjalanan yang jauh, apa lagi luar negeri. Mereka ditumpangkan pada kapal-kapal yang biasanya memuat batu bara. Bisnis utama antara Jepang dan Singapura pada masa itu.

Banyak di antara mereka yang meninggal karena sanitasi yang kurang bagus termasuk kepengapan kapal, tidak tahan dengan perjalanan yang melelahkan itu, atau meninggal karena penyakit-penyakit lainnya seperti malaria. Namun, para perempuan yang berhasil mencapai negara tujuannya, terutama Singapura, banyak yang kemudian sukses. Dalam artian, banyak mendapatkan uang dan dikirim ke kampung halamannya untuk membantu keluarganya.

Kesuksesan para karayuki-san ini bahkan diwujudkan dalam pendirian sebuah kuil tempat bersembahyang di kota Shimabara. Kuil ini masih berdiri sampai sekarang dan dianggap sebagai lokasi yang bersejarah oleh pemerintah setempat. Di pagar-pagar batu di kuil tersebut dituliskan berapa sumbangan yang diberikan oleh karayuki-san, nama, dan juga daerah di mana mereka tinggal. Kebanyakan yang tertulis dari daerah Asia Tenggara, seperti Malaysia, Indonesia, dan lain-lainnya. Namun, juga tertulis kota-kota lain di Asia Selatan seperti Kalkuta, India, atau China. Nama-nama kota semacam Batavia, Surabaya, dan tempat lainnya di Indonesia terlihat jelas. Namun, prinsipnya, karayuki-san ini tersebar ke seluruh penjuru dunia, bukan hanya di daerah Hindia Belanda atau Asia Tenggara saja.

Kisah pilu karayuki-san di Hindia Belanda terhenti pada tahun 1910-an. Waktu itu, Eropa mulai memberlakukan UU Anti-Traficking dan Belanda adalah negara pertama yang mengaplikasiannya, termasuk di negara jajahannya Hindia Belanda. Namun, negara-negara lain masih mengakui keberadaan karayuki-san. Sementara, kebanyakan karayuki-san di Hindia Belanda mulai berkemas-kemas untuk pulang. Namun, tidak sedikit pula yang kemudian berlindung dengan profesi-profesi “atas nama” dan terus menjalankan profesinya, atau meninggalkan profesinya namun terus menetap secara permanen di kota-kota di pulau Jawa.

Tidak sedikit pula tertulis kisah-kisah bahwa pada saat tentara Jepang mendarat di Jawa, mereka bertemu dengan nenek-nenek yang berpakaian seperti orang setempat, namun bercakap bahasa Jepang secara fasih. Mereka sangat bersahabat dengan para tentara tersebut. Namun, identitas mereka tidak jelas. Besar kemungkinan mereka adalah karayuki-san yang tidak pulang.

Sekali lagi, kisah-kisah karayuki-san juga menunjukkan kisah pengorbanan para perempuan demi kehidupan yang lebih baik. Demi materi dan kehormatan, mereka melakukan apa saja, termasuk menjual diri yang berisiko terhadap jiwanya sendiri.

Beda lagi dengan kisah jugun ianfu. Jugun ianfu yang dalam bahasa Inggrisnya banyak ditulis sebagai comfort women, yaitu para wanita yang dipekerjakan oleh tentara Jepang, secara paksa, untuk melayani tentara Jepang dalam menjalani tugasnya. Kebetulan penulis pernah berinteraksi langsung dengan Mardiyem, mantan jugun ianfu yang bersedia bersaksi kepada publik.

Kisahnya sangat memilukan. Ketika usianya masih sangat muda, menurut penuturan pribadinya, dia dibujuk, diculik, dan akhirnya dipaksa menjadi jugun ianfu. Dia ditempatkan satu penempatan tentara Jepang di Kalimantan. Pada awalnya, dia berpikir akan dipekerjakan sebagai penari atau penyanyi oleh pihak Jepang. Ternyata, dia terjebak dan dibawa ke camp pertahanan Jepang untuk dipaksa melayani kebutuhan seksual tentara-tentara Jepang. Kehormatannya telah hilang diambil oleh para tentara itu.

Pernah Mardiyem mengalami pendarahan hebat karena perlakuan tidak manusiawi tentara-tentara Jepang itu. Dalam sehari pernah dia melayani 10 orang tentara dalam selnya yang tidak terlalu luas. Dia selalu dijanjikan akan mendapatkan pendapatannya dari pelayanannya selama itu. Dia mendapatkan kupon setiap kali selesai memberikan pelayanannya.

Akibat kesadisan perlakukan tentara Jepang itu, rahim Mardiyem rusak. Mata dan mukanya cacat karena dipukul dengan senjata saat menolak melayani. Kisah pilu ini berakhir ketika tentara Jepang harus menyerah kepada Amerika dan meninggalkan daerah peperangan.

Mardiyem cukup beruntung karena dapat selamat dan kemudian memiliki seorang suami yang menerima dengan tulus keadaannya. Namun, tidak demikian dengan masyarakat setempatyang sempat mencemoohnya karena dia dianggap sebagai pelacur. Ketika berusaha membuka usaha katering, ia selalu gagal karena pandangan miring para tetangga dan masyarakat setempat yang buta dengan informasi akan sejarah masa lalu.

Sekali lagi, kisah Mardiyem menyimpan kepedihan dan pengorbanan seorang perempuan yang terjadi di masa perang. Kisah hidup dan penderitaannya harus terjadi karena adanya sifat manusia yang sombong dan haus kekuasaan. Sekali lagi, haus kekuasaan dan materi selalu mengorbankan hak dan martabat seorang perempuan.

Kisah Prita belakangan ini juga tidak kalah mengenaskan. Seorang ibu muda yang memperjuangkan hak-haknya harus mendekam dalam penjara karena kekuasaan dan uang. Ceritanya sangat sederhana. Dia hanya melakukan komplain terhadap rumah sakit Omni Internasional terhadap diagnosis penyakitnya dengan e-mail. Dia merasa diagnosis dan juga pelayanan yang kurang menyenangkan. Perusahaan yang memberikan pelayanan jasa memang selalu berisiko. Kalau tidak tepat, maka pelayanannya menjadi kurang baik.

Entah sejauh apa tulisannya, namun pihak rumah sakit merasa sangat tersinggung. Tetapi rupanya, mereka bertindak terlalu jauh atau kurang peka dengan akibatnya. Bukannya dicoba diselesaikan dengan cara yang sederhana dan kekeluargaan. Namun, pihak rumah sakit sebagai pihak yang memiliki kekuasaan dan materi malah menjebloskan Prita ke dalam penjara, dengan perangkat undang-undang yang oleh para ahli dianggap kurang layak.

Prita adalah seorang perempuan yang memiliki anak-anak masih kecil. Namun, dia harus dicabut haknya untuk bertemu dengan anak-anaknya. Kita tidak tahu persis di mana kesalahannya. Ironis, ketika beberapa ulama menyerukan seruan larangan penyalahgunaan Facebook, namun ternyata internet disalahgunakan oleh penguasa untuk mencabut hak seorang perempuan sekaligus ibu.

Kisah-kisah ala Manohara, karayuki-san, jugun-ianfu, dan Prita dapat dijadikan hikmah bagi kita semua. Bahwa, perempuan sering dijadikan korban oleh kesewenang-wenangan kekuasaan dan keserakahan akan materi. Hal-hak perempuan kadang kurang dilindungi oleh banyak pihak apalagi dari ancaman keserakahan akan materi dan kekuasaan.

Agama Islam adalah agama yang menghargai hak-hak kaum wanita dan anak-anak. Semestinya, sudah jelas karena satu surat khusus yang menjelaskan dan menuliskan tentang hak dan kewajiban kaum hawa, yaitu surat An-Nisa (perempuan) yang menandakan agama ini peduli dengan perempuan. Perempuan adalah kaum lemah yang sering menjadi korban. Perempuan juga kebanyakan sering menjadi korban pelecehan. Beribu-ribu kisah-kisah pilu yang telah terjadi di dalam sejarah, bisakah kita belajar untuk masa depan dari sejarah ini? Mampukah kita sebagai perempuan melindungi jiwa dan raga kita? Mampukan lelaki menjadi pelindung kita? Mungkin sudah saatnya kita untuk merenung.[mspa]

* Meta Sekar Puji Astuti adalah penulis buku Apakah Mereka Mata-Mata? - Orang-Orang Jepang di Indonesia 1868-1942. Lulusan Sastra Jepang UGM dan menyelesaikan studi masternya di Ohio University, Amerika Serikat. Tercatat sebagai staf pengajar di Fakultas Ilmu Budaya, Jurusan Sastra Jepang, Universitas Hasanuddin. Ia pernah menjadi peneliti tamu di Keio University tahun 2008-2009 disponsori oleh The Japan Foundation. Saat ini tengah menempuh studi S-3 di Keio University, Tokyo, Jepang. Selain akademisi dan peneliti, ia juga seorang ibu rumah tangga biasa dengan dua orang anak yang peduli dengan pendidikan bangsa untuk penyadaran identitas diri bangsa Indonesia.

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 7.5/10 (2 votes cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: +1 (from 1 vote)

One Response to “Manohara, Karayuki-san, Jugun-Ianfu, dan Ibu Prita”

  1. Nind Says:

    sip, top markotop…

    teruskan perjuanganmu…

    btw, futune koq koyo diamnis2ke yoh…lol

    UN:F [1.6.9_936]
    Rating: 0.0/5 (0 votes cast)
    UN:F [1.6.9_936]
    Rating: 0 (from 0 votes)

Leave a Reply

Comment moderation is enabled. Your comment may take some time to appear.

Motivasi Dunia

Motivasi Dunia

Kolomnis

<
Edy Zaqeus Eni Kusuma Avanti Fontana Alexandra Dewi Miranda Suryadjaja Sofa Nurdiyanti
Anang Y.B. Hartati Nurwijaya Aleysius H. Gondosari Sulmin Gumiri Relon Star Sri Budiastuti
Agus Riyanto Iftida Yasar Fida Abbott Ery Prasetyawan Tanenji Ingrid Gunawan
Maria Saumi Ely Susanti Agung Praptapa Putu Adnyana Fita Irnani Nathalia Sunaidi
M Sebastian Wijaya Abdul Muid Badrun Kak Sugeng Akhmad Sirodz Lisa Nuryanti Abidin Noor
Wuryanano Petriza Giovanni Amelia Devina Tri Wahyuni Endang Setyati Vina Tan
Lianny Hendranata Emmy Angdyani Erawati E. Setyo Hartono Fatma Kartika Sari Supandi Radinal Mukhtar Harahap
Sawali Tuhusetya Gatut Heru Susanto Effendi Budi P. Fajar S. Pramono Ade Asep Syarifuddin Melly Kiong
Guntur Novizal Ida Rosdiana Natapermadi Risfan Munir Sri Julianti Sawiji Farelhana Dewi Rhainy
Deni Kurniawan As’ari Johanes Ariffin Wijaya Indari Mastuti Enggar Kusumaningsiwi Daniel Kurniawan Sayuri Yosiana
A.A. Kunto A. Lina Kartasasmita K. Hanna Fransisca Wahidunnaba Yusuf Tantowi Dwiatmo Kartiko
Meta Sekar Puji Astuti M. Adi Prasetyo Abd. Basid Lily Choo Rina Dewi Lina Berny Gomulya
Zee Cardin M. Iqbal Dawami Sidik Nugroho Emmy Liana Dewi Ridwan Sumantri Dwiyana Apriandini
Andrew Abdi Setiawan Gobind Vasdhev J. I. Michell Suharli Yusnita Rifai Gagan Gartika

Check Google Page Rank

Buku Baru

Obrolan yang Bikin Kamu kaya

Judul: Obrolan yang Bikin Kamu kaya
Oleh: Don Gabor
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama, 2009
ISBN: 978-979-22-5073-2
Tebal: xviii + 380 hal

Jangan hanya membangun jejaring luas-berjejaringlah dengan cerdas!
Obrolan yang Bikin Kamu Kaya menyajikan pendekatan baru revolusioner pada topik berjejaring yang tak lekang waktu. Penulis buku laris dan pelatih komunikasi Don Gabor memperkenalkan Anda pada empat gaya berjejaring—Kopetetif, Supel, [...]

Full Story | February 24th, 2010

Best Viewed With Mozilla FireFox