Manfaat Komentar Positif
Editor | Kolom Tetap | December 23rd, 2009
Oleh: Iftida Yasar*
Dalam beberapa acara gathering atau acara kantor yang bersifat bergembira, biasanya kita memanggil organ tunggal lengkap dengan penyanyinya. Penyanyinya selalu tampil seronok dengan dandanan yang aduhai. Berdasarkan pengalaman ini, biasanya saya selalu berpesan kepada panitia agar penyanyinya, selain dapat menyanyi dengan baik, dia juga harus berdandan dengan tidak terlalu menor atau seksi. Sebab, biasanya ibu-ibu bisa merasa gerah melihatnya, dan juga para suami yang biasanya getol berjoget menjadi keok dan malu di depan keluarganya jika dipanggil menyanyi.
Tapi memang, mungkin sudah pakemnya atau standar para penyanyi itu untuk bergoyang dengan seksi dan sedikit senggol-senggolan dengan tamu laki-laki yang turut bernyanyi. Alhasil, kami jadi berkomentar mestinya para penyanyi tadi diberi pemahaman mengenai “how to know your customer”, bagaimana mengenal karakter pengundang apakah itu kantoran, rumahan, atau kawinan. Jika saja mereka mengenal karakter pengundangnya, dengan cepat mereka akan menyesuaikan diri, baik dandanan maupun cara berjoget dengan para bapak. Itu agar di rumah nanti para suami tidak dijewer atau dicemburui istri karena berjoget terlalu hot.
Kita juga gampang memberi komentar terhadap orang lain, baik penampilan fisiknya, caranya berbicara, berjalan, sampai mengomentari hasil pekerjaan orang lain. Ada yang memang mulutnya gatal dan usil jika melihat orang lain sepertinya kurang beres menurut ukurannya. Ada juga yang memang komentarnya bermanfaat dan dapat menjadi masukan yang berharga. Jangan sembarangan memberi komentar pada pertemuan pertama, lebih baik pelajari situasi, mendengarkan, dan jika sudah dapat mengetahui keadaan lebih baik baru boleh memberi komentar.
Dalam suatu perkenalan dengan seorang pejabat yang cukup tinggi di sebuah departemen, saya melihat bapak pejabat tersebut kakinya agak pincang dan diseret. Dengan maksud memberi perhatian (sok akrab), saya mengatakan, “Aduh… kenapa Pak, habis jatuh, ya?” Beliau dan stafnya hanya senyum dan tidak berkomentar lebih jauh. Dan ternyata, belakangan saya baru tahu memang kakinya agak cacat.
Pernah juga saya mengunjungi seorang relasi yang baru melahirkan anak pertama kurang lebih 1 bulan yang lalu. Seperti biasa saya dengan sok akrab mengatakan, “Lucu ya rambutnya gundul baru dicukur, ya?” Ternyata, si ibu menjawab bahwa memang anaknya dari lahir tidak ada rambutnya alias gundul belum tumbuh..
Kalau mau memberikan komentar berikanlah dengan tulus dan dengan maksud membangun. Sebagai pengajar pada pelatihan pengembangan kepribadian saya selalu bertanya “Apa yang dilakukan jika teman kamu mempunyai bau badan?” Biasanya, topik ini menjadi bahan tertawaan dan jawabannya biasanya mereka enggan memberi tahu, membicarakan di belakang, atau menjauh tidak mau bergaul dengan si BB (Bau Badan).
Dalam kasus ini, saya menganjurkan agar mereka berani menolong teman tersebut dengan membicarakannya langsung. Atau, secara halus misalnya memberikan salah satu produk penghilang bau badan. Yang lain, secara diam-diam memberikan obat itu dalam amplop dengan catatan “Jangan tinggalkan rumah tanpa memakai produk ini.” Hal ini jauh lebih konstruktif dibandingkan dengan membicarakan teman tadi di belakang.
Jika teman kita melakukan presentasi mengajukan suatu usulan proyek, bantulah dia dengan memberikan masukan yang membangun. Jika menurut kita sudah bagus katakanlah itu bagus. Tetapi, jika masih ada yang kurang berikanlah komentar agar usulan proyek itu dapat lebih disempurnakan. Jangan pelit memberikan komentar yang positif, apalagi merasa rugi jika komentar yang kita berikan kepada teman dapat menjadi perbaikan yang membuat teman tadi mendapatkan nilai lebih.
Pengetahuan dan pengalaman kita yang diberikan kepada orang lain melalui komentar kita bukan saja bermanfaat bagi si penerima. Tetapi, itu juga bermanfaat bagi kita karena kita akan terbiasa memberikan kontribusi yang positif bagi lingkungan kerja. Orang yang paling bermanfaat adalah orang yang bermanfaat banyak bagi orang lain.[iy]
* Iftida Yasar lahir pada 28 Maret 1962. Ia meraih gelar Sarjana Psikologi Pendidikan dan Sarjana Hukum di Universitas Padjajaran tahun 1980. Dan meraih gelar S-2 Psikologi di Universitas Indonesia tahun 1992. Iftida Yasar adalah seorang konsultan SDM, hubungan industrial, dan outsourcing. Ia juga seorang entrepreneur, trainer, motivator, aktivis sosial bidang pengembangan SDM, Wakil Sekretaris Umum APINDO, dan Penasihat Asosiasi Bisnis Alih Daya Indonesia (ABADI). Iftida baru saja meluncurkan dua buku terbarunya yaitu Merancang Perjanjian Kerja Outsourcing (PPM, 2009) dan Perempuan Makan Perempuan (Kosmis, 2009). Ia dapat dihubungi di nomor: 0811896944 atau pos-el: iftidayasar[at]yahoo[dot]com.

December 24th, 2009 at 1:16 am
Makasih Bu Iftida saya diingatkan. Saya juga pernah mengalami hal sejenis. Saya bertemu kawan lama bersama anaknya yang cantik dan pendiam. Anak tersebut murah senyum. Tidak bicara sama sekali tapi senyum ramah sekali. “duh..adik cantik ini irit bicara ya…cerita dong sama Om….”begitu saya berniat ramah. Ibunya berkata “iya…maaf…dia memang bisu tuli”. Ya ampun!!! Saya merasa bersalah.
January 3rd, 2010 at 5:15 pm
ya memang kita suka sok akrab tapi ga papa selama niatnya baik
January 7th, 2010 at 7:28 pm
Saya jadi ingat buku profesional pertama saya: How to look 4 friend and influence others - Dale.
Nasihat Dale di bab 2 berbunyi kira-kira begini:
Jangan mengkritik/MENGOMENTARI, Jangan mencerca, dan jangan menghakimi.