Manajemen 2.0: Kreativitas, Inovasi, dan Perekonomian Kreatif
Editor | Kolom Tetap | June 1st, 2009
Oleh: Avanti Fontana*
Gary Hamel dalam Harvard Business Review Februari 2009 menulis 25 tantangan dalam penatakelolaan organisasi masa kini dan masa mendatang. Tulisan ini muncul tepat waktunya di tengah kegundahan manajemen moderen atas lemahnya aspek humanis-kreatif dalam banyak organisasi.
Baru-baru ini, seorang manajer sebuah perusahaan dalam industri kreatif mengungkapkan uneg-uneg-nya tentang betapa sulitnya meminta kesediaan para stafnya untuk bekerja tidak hanya berbasis KPI (Key Performance Indicator). Karena tidak ada dalam KPI, staf-stafnya tidak mau menjalankan tugas yang seharusnya dijalankan untuk menunjang tugas utama. Kalau begitu, apakah penilaian kinerja berbasis KPI menghambat kreativitas? Menjadi lemahkah empati dan kreativitas dilindas roda moderen KPI?
Hamel menyampaikan 25 tantangan besar manajemen dewasa ini yang patut mendapat perhatian kita semua dan selayaknya menjadi praktik-praktik manajemen dan organisasi yang dapat kita terapkan, baik itu dalam organisasi kecil, menengah, maupun besar.
- Pastikan bahwa pekerjaan manajemen adalah untuk melayani tujuan yang lebih besar, tujuan-tujuan mulia dan membawa misi sosial.
- Libatkan ide-ide komunitas dan warga negara dalam sistem manajemen. Proses dan praktik manajemen harus mencerminkan adanya kesalingtergantungan semua pemangku kepentingan.
- Rancang kembali landasan filosofi manajemen, yaitu bahwa manajemen tidak hanya berkutat pada aspek efisiensi. Kita perlu belajar dari bidang-bidang ilmu lain seperti biologi, ilmu politik, dan teologi.
- Eliminasi gejala-gejala hierarki formal. Lebih baik membiarkan kekuasaan mengalir dari bawah, dan pemimpin muncul, alih-alih ditunjuk.
- Kurangi ketakutan, tingkatkan kepercayaan (trust). Ketidakpercayaan dan ketakutan adalah racun inovasi, dan mesti dihindari dalam sistem manajemen masa kini dan mendatang.
- Temukan kembali cara untuk mengontrol. Sistem pengendalian mesti mendorong pengendalian dari dalam, alih-alih memberi batasan-batasan dari luar.
- Definisikan kembali kepemimpinan. Pemimpin harus menjadi arsitek sistem sosial yang memungkinkan terjadinya inovasi dan kolaborasi.
- Perluas dan manfaatkan keberagaman. Sistem manajemen harus menghargai diversitas, perbedaan pendapat, dan divergensi, sama halnya dengan menghargai kesatuan, konsensus, dan kohesi.
- Temukan kembali bahwa pembuatan strategi sebagai proses yang emergent. Dalam dunia penuh turbulensi dewasa ini, formasi strategi harus mencerminkan prinsip-prinsip biologi (variety, selection, retention).
- Kurangi struktur. Untuk menjadi organisasi yang lebih dapat beradaptasi dan inovatif, organisasi-organisasi besar harus memecah organisasi besar menjadi unit-unit organisasi yang lebih kecil.
- Kurangi kecenderungan menjaga status quo. Fasilitasi inovasi dan perubahan.
- Sebarkan delegasi penugasan dalam menetapkan tujuan organisasi ke segala penjuru bagian organisasi.
- Kembangkan pengukuran kinerja yang holistik. Pengukuran-pengukuran harus juga mengukur dan memberi apresiasi pada kapabilitas manusia dan perekonomian kreatif.
- Kembangkan sistem imbal jasa dan kompensasi yang memungkinkan para eksekutif memfokuskan perhatian mereka pada penciptaan nilai jangka panjang bagi semua pemangku kepentingan.
- Ciptakan demokrasi informasi. Orang-orang dalam organisasi yang memiliki kesempatan pertama untuk berinteraksi dengan konsumen harus diberikan wewenang untuk mengambil keputusan berdasarkan data dan informasi yang tepat.
- Kembangkan sistem manajemen yang meredistribusi kekuasaan kepada mereka yang memiliki visi besar tentang organisasi dan berintegritas, serta tidak takut “kehilangan” bila terjadi perubahan.
- Kembangkan sistem manajemen yang memampukan para individu dalam organisasi, dan yang memicu eksperimen di unit-unit yang lebih kecil atau bahkan paling bawah dalam organisasi.
- Alokasikan sumber daya dalam organisasi berdasarkan ide, inisiatif, dan bakat individu-individu dalam organisasi, alih-alih berbasis hierarki.
- Depolitisasi proses pembuatan keputusan.
- Optimalkan dengan lebih baik trade-offs. Organisasi masa depan adalah organisasi dengan sistem manajemen yang memungkinkan kapabilitas eksplorasi dan pembelajaran berada secara harmonis dengan pengambilan keputusan yang berfokus pada efisiensi dan hierarki. “Manajemen masa depan bukan manajemen hitam atau putih. Ia adalah manajemen hitam dan putih.”
- Rancang sistem manajemen yang memicu kreativitas.
- Kembangkan sistem manajemen yang melahirkan komunitas-komunitas yang bertujuan mulia (communities of passion).
- Kembangkan pendekatan baru dalam manajemen yang memampukan individu untuk berkontribusi lebih besar daripada sekedar untuk organisasinya.
- Angkat nilai-nilai humanis dalam organisasi.
- Kembangkan pemikiran reflektif, pembelajaran timbal balik (double-loop learning), pemikiran berbasis sistem, pemecahan masalah secara kreatif, dan pemikiran yang dipicu oleh nilai-nilai sosial. Sekolah bisnis dan perusahaan harus merancang kembali program kuliah dan pelatihan untuk membantu para eksekutif mengembangkan keterampilan dan keahlian berpikir reflektif, sistemik, kreatif, serta mereorientasikan sistem manajemen untuk mendorong penerapannya.[af]
*Avanti Fontana adalah doktor bidang manajemen, pengajar/fasilitator dan periset bidang Strategi, Manajemen, dan Inovasi pada Universitas Indonesia; Coach dan Fasilitator untuk Manajemen Inovasi dan Inovasi Manajemen. Penulis buku Innovate We Can! (Grasindo, 2009) ini dapat dihubungi di imed[at]avantifontana[dot]com, Facebook, dan www.imedcoaching.com.

Leave a Reply