Makna Menjadi Owner
Editor | Kolom Tetap | October 21st, 2009

Oleh: Iftida Yasar*
“Sesungguhnya kita bukanlah pemilik dari apa pun.”
~ Iftida Yasar
Dalam kartu nama yang diberikan oleh seorang teman tertulis dengan jelas di situ jabatannya adalah “owner” atau pemilik dalam bahasa Indonesia. Pemilik kartu nama ingin memberikan penegasan kepada masyarakat bahwa ia bukan hanya, misalnya sebagai direktur atau apa pun jabatannya, tetapi adalah “pemilik perusahaan”.
Tidak ada yang salah dalam penulisan kartu nama tersebut. Mungkin saja ia ingin memberikan tanda kepada penerima kartu namanya, “Jika ada yang ingin dibicarakan, jika ada transaksi bisnis yang ingin dilakukan, langsung saja dengan saya. Saya adalah pemilik perusahaan. Jadi, saya dapat langsung memutuskan tanpa meminta persetujuan orang lain lagi.” Namun, mungkin juga itu dilakukan berdasarkan pengalaman atau penampilan yang kurang meyakinkan, sehingga orang perlu menuliskan dengan jelas bahwa ia adalah pemilik perusahaan.
Ada juga seseorang yang karena penampilannnya sangat meyakinkan dianggap sebagai pemilik perusahaan. Karena, memang fist impression atau dalam pandangan pertama melihatnya saja sudah sangat meyakinkan. Padahal, dalam bisnis seseorang yang sudah diserahi tanggung jawab dan kewenangan dapat melakukan dan memutuskan sesuatu berdasarkan kewenangannya. Mungkin saja, lagak dan gaya orang ini begitu hebat dibandingkan dengan pemilik perusahaan yang lebih suka berada di balik layar.
Ada juga pemilik perusahaan yang sangat ingin memperlihatkan kepada karyawannya bahwa ia memang beda kelas, ia lebih hebat, lebih kaya, dan lebih pintar, sehingga karyawan hanyalah pelengkap penderita. Pemilik perusahaan model ini menerapkan manajemen gaya warung yang memainkan peranannya secara tunggal. Ia ingin semua orang tahu dia adalah “owner” dan ingin diperkenalkan sebagai “owner”.
Ada juga pemilik perusahaan yang biasa biasa saja, sederhana, menghargai, dan memberikan kewenangan pada pekerjanya. Tetapi, pekerja yang bermental penjilat atau budak sangat menaruh hormat luar biasa pada pemilik perusahaan. Setiap bertemu pekerja ini memuji dan selalu siap menjalankan perintah, memanggil pemilik perusahaan dengan “boss”, “tuan”, “nyonya” atau panggilan lain yang dilakukan dengan takzim dan hormat di depan majikannya.
Dan, jika mendampingi pemilik perusahaan untuk bertemu orang lain, pekerja ini akan memperkenalkan pemilik perusahaan dengan pernyataan “Beliau ini adalah owner perusahaan”. Biasanya, pekerja tipe ini belum tentu tulus. Jika keluar dari pekerjaan atau ternyata sang “owner” tidak menjadi “owner” lagi, sikapnya langsung berubah 180 derajat. Sesuai dengan sifatnya yang penjilat dan bermental budak, ia akan menjilat dan patuh kepada owner yang baru.
Sesungguhnya, kita bukanlah pemilik dari apa pun. Nyawa yang ada di dalam tubuh kita tak akan sanggup dipertahankan jika sudah diminta pemiliknya. Kita hanya diberi amanah untuk menjalankan usaha, tetapi bukan pemilik dari usaha itu sendiri. Yang tadinya orang biasa bisa menjadi owner, yang tadinya owner suatu saat bisa kehilangan semuanya. Sebagai orang yang diberi amanah, kita tidak usah terlalu sombong dan membanggakan diri dengan apa yang kita miliki namun tidak akan abadi.
Sebagai pekerja kita jangan terlalu menjilat dan bermental budak. Hargailah siapa pun manusia dengan tulus. Jangan hanya baik di muka atau hanya baik jika orang tersebut masih menjadi owner. Menjadi orang baik itu adalah karakter, bukan profesi, yang suatu saat bisa berubah. Owner...? Ah, siapalah kita ini, hanya Allah yang pantas memiliki semuanya.[iy]
* Iftida Yasar lahir pada 28 Maret 1962. Ia meraih gelar Sarjana Psikologi Pendidikan dan Sarjana Hukum di Universitas Padjajaran tahun 1980. Dan meraih gelar S-2 Psikologi di Universitas Indonesia tahun 1992. Iftida Yasar adalah seorang konsultan SDM, hubungan industrial, dan outsourching. Ia juga seorang entrepreneur, trainer, motivator, aktivis sosial bidang pengembangan SDM, Wakil Sekretaris Umum APINDO, dan Penasihat Asosiasi Bisnis Alih Daya Indonesia (ABADI). Iftida baru saja meluncurkan dua buku terbarunya yaitu Merancang Perjanjian Kerja Outsourcing (PPM, 2009) dan Perempuan Makan Perempuan (Kosmis, 2009). Ia dapat dihubungi di nomor: 0811896944 atau pos-el: iftidayasar[at]yahoo[dot]com.
October 27th, 2009 at 2:29 pm
Sebagai bangsa yang sudah lama terjajah, memang suatu obsesi bagi rakyat kita menjadi “Pengusaha”, makanya sangat bangga dinamakan Owner. Kalau ditinjau dari iklim bisnisnya, berarti si-owner tadi kemungkinan lagi “bersinar”.Pada kenyataanya, orang yang begini ( norak ) tidak bertahan lama, karena belum menemukan arti enterpreneur sejati. Seorang enterpreneur sejati bahkan menyembunyikan diri agar tidak diketahui sebagai owner. Sebuah Refleksi yang menarik dari Mbak Iftida. Sukses selalu
October 28th, 2009 at 5:55 pm
Boleh tambahi agak panjang, ya? Kalau kita baca tulisan Joe Cossman dan William Cohen, mereka justeru menganjurkan JANGAN PERNAH memperkenalkan diri sebagai Owner (Pemilik) pada siapapun.
Dilihat dari segi pemasaran, usaha yang pemiliknya turun sendiri ke lapangan, bertemu pembeli dsb, biasa dikonotasikan sebagai usaha KECIL. Ini bukan soal gengsi (karena dianggap kecil dsb) melainkan imej untuk kelancaran usaha. Akhirnya malah kontraproduktif.
Cossman dan Cohen menganjurkan kita menggunakan job title atau predikat yang biasa-biasa saja (mis. Marketing Executive atau Operation Manager) ketika menghadapi pelanggan di mana pun.
Jangan sampai sudah terkesan arogan, tidak produktif pula…