Home » Kolom Tetap » Makan untuk Hidup atau Hidup untuk Makan?

Makan untuk Hidup atau Hidup untuk Makan?

iy1Oleh: Iftida Yasar*

Kompas, Minggu 18 Desember 2007 pernah menceritakan bagaimana para pencari sagu suku asmat harus berjuang melawan ratusan nyamuk di hutan demi mendapatkan sagu untuk keluarga mereka. Kebanyakan pencari sagu adalah para ibu rumah tangga. Setelah berjalan sekitar 2 jam di hutan, baru mereka menemukan pohon sagu. Dan setelah ditebang serta diproses, kira-kira sore hari baru mereka pulang dengan membawa sagu untuk keluarganya. Betapa berat perjuangan mereka untuk mendapatkan bahan makanan buat keluarganya di rumah. Dibandingkan dengan kita, warga metropolitan yang dalam keadaan yang berkecukupan, yang malah selalu bingung untuk menentukan mau makan apa hari ini.

Saya pernah berkantor di Setiabudi Building, di mana banyak sekali tempat pilihan restoran di sana. Setiap hari mulai dari waktu sarapan sampai dengan malam, hampir semua tempat penuh. Biasanya, mulai jam 11 siang deretan panjang mobil yang antri untuk masuk pelataran parkir sudah mulai terlihat. Pihak pengelola gedung yang sudah menambahkan sarana parkir masih saja tidak bisa menampung jumlah mobil yang datang. Untuk tempat yang paling sering didatangi pengunjung, mereka tidak memperbolehkan pengunjung me-reserved tempat. Penikmat makan enak harus rela datang lebih dahulu untuk mendapatkan tempat, atau menunggu selesai orang lain yang sudah lebih dulu makan di sana. Bagi yang sudah mendapatkan tempat lebih dahulu juga harus tebal muka dan cuek untuk tetap menikmati makan siang sambil haha hihi dengan teman semeja, tanpa memedulikan tatapan tidak sabar dari pengunjung yang masih antri di depan mereka. Belum lagi tatapan para waitres yang tidak sabar ingin segera membersihkan meja kita begitu melihat makanan di meja telah habis.

Biasanya, kalau kita makan di restoran kita sudah tahu makanan apa yang enak di sana. Tetapi, tetap saja kita masih suka bingung menu apa yang akan dipilih. Semua kelihatannya enak dan mengundang selera sehingga akhirnya karena lapar mata memilih berbagai menu. Setelah makanan terhidang baru menyadari banyak betul makanan yang dipesan. Karena semua makanan enak sayang jika tidak dihabiskan sehingga semua disikat walaupun akhirnya kekenyangan. Alhasil, setelah kekenyangan rasanya justru menjadi kurang nikmat lagi dan membuat rasa begah di perut, bahkan menjadi mengantuk.

Saya pernah menjadi training manajer di sebuah perusahaan asing di mana training selalu dilakukan di hotel berbintang, minimal hotel bintang tiga. Makanan yang terhidang sangat mewah dan berlebih. Mulai dari coffee break pertama setidaknya dua macam snack ditambah kopi atau teh. Makan siangnya beraneka macam makanan enak ditambah dessert-nya yang juga sangat menggugah selera. Diakhiri dengan coffee break sore yang juga sarat dengan pilihan kue yang lezat. Dengan pilihan makanan yang menurut saya sudah diatur sedemikian baik oleh para ahli perhotelan, ternyata masih ada saja yang komplain. Menunya yang kurang cocok, kuenya kurang enak, dessert-nya kurang banyak, dll. Kalau komplain dari peserta training sudah keterlaluan, biasanya saya tanya, “Apa sih yang kamu makan di rumah? Saya pingin lihat, kok makanan begini enak masih komplain?!”

Tidak ada yang salah dengan pola makan yang seperti itu, terutama jika kita telah mencapai taraf hidup tertentu yang memang mampu membiayai hal tersebut. Saya sendiri dibesarkan dalam lingkungan keluarga yang selalu menyediakan makanan satu untuk semua, tidak ada yang diistimewakan. Saya pernah komplain kepada Ibu saya, kenapa setiap anak tidak dimasakan sesuai dengan kesukaannya masing-masing, seperti yang dilakukan ibunya teman saya sebelah rumah.

Teman saya sangat dimanjakan oleh ibunya. Setiap hari untuk empat orang anak dimasakan menurut kesukaan masing-masing. Kalau sore hari selalu ada kue-kue, sementara kulkas dan lemari makannya selalu penuh dengan makanan enak. Sering sekali bau asap sate atau bau kuah bakso tercium dari rumah sebelah karena mereka sering sekali jajan. Rasanya saya iri dan menganggap Ibu saya pelit. Ingin rasanya Ibu saya juga seperti ibu teman saya. Usulan dan komplain tetap tidak didengar, makanan yang terhidang selalu sama untuk semua. Kalaupun ada kue-kue paling pisang goreng atau pisang rebus yang juga dalam jumlah yang banyak untuk orang sekampung.

Ibu saya selalu memasak dalam jumlah besar, dan biasanya lebih banyak sayur mayur dibandingkan dengan lauk daging atau ikan. Selain keluarga kami yang enam orang di rumah, banyak saudara baik dekat maupun jauh yang ikut kami. Kadang-kadang jumlahnya tidak tanggung-tanggung. Pernah yang ikut kami berjumlah 16 orang ditambah kami sendiri yag enam orang sehingga jumlahnya 22 orang. Bayangkan, setiap hari berapa liter beras yang harus dimasak?

Waktu kecil saya saya sampai sebal sekali dengan mereka. Sebab, kadang-kadang lauk habis dimakan oleh mereka dan yang tinggal hanya sisa sayur. Padahal, pembantu setia kami selalu menyembunyikan lauk untuk saya, tetapi kadang tetap saja hilang. Kalau saya marah, biasanya Ibu akan berkata, “Sudahlah kasihan mereka, kamu dibuatkan telur goreng saja, ya?”

Kini, hasil didikan Ibu saya yang selalu mengajarkan berbagi dengan saudara, dan makan apa saja yang terhidang, membuat saya gampang sekali dalam hal makanan. Saya tidak pernah komplain mengenai makanan yang disediakan oleh pembantu di rumah atau di kantin kantor. Karena terbiasa dari kecil makan sayur, jumlah serat dari sayur dan buah mendominasi pola makan saya. Komposisi jumlah sayur dan buah sekitar 2/3 dari jumlah karbohidrat dan protein. Makan hanya untuk hidup bukan hidup untuk makan….

Di rumah saya juga jarang sekali menyediakan camilan atau makanan kecil. Isi kulkas juga sesuai dengan kebutuhan. Kalaupun saya harus makan enak di restoran, itu hanya untuk menyenangkan keluarga sekali-kali, atau makan dengan klien karena urusan bisnis.

Dampaknya terhadap saya adalah dalam usia 47 tahun (saat artikel ini ditulis) saya tetap langsing untuk ukuran emak-emak, awet muda, dan jarang sekali sakit karena pola makan saya yang sehat. Tentang teman saya yang dulu terbiasa makan enak kelihatannya jauh lebih tua dari saya. Badannya gemuk, sakit-sakitan, bahkan kena gula sehingga ia sangat tersiksa karena kalau makan sekarang harus ditakar. Makanan rumahan, biar bagaimanapun sederhananya, tetap lebih sehat dibandingkan dengan makanan restoran. Sekali-kali boleh makan enak di restoran, tetapi jangan jadikan sebagai gaya hidup. Itu jika Anda ingin sehat dan hemat.[iy]

* Iftida Yasar lahir pada 28 Maret 1962. Ia meraih gelar Sarjana Psikologi Pendidikan dan Sarjana Hukum di Universitas Padjajaran tahun 1980. Dan meraih gelar S-2 Psikologi di Universitas Indonesia tahun 1992. Iftida Yasar adalah seorang konsultan SDM, hubungan industrial, dan outsourching. Ia juga seorang entrepreneur, trainer, motivator, aktivis sosial bidang pengembangan SDM, Wakil Sekretaris Umum APINDO, dan Penasihat Asosiasi Bisnis Alih Daya Indonesia (ABADI). Iftida baru saja meluncurkan dua buku terbarunya yaitu Merancang Perjanjian Kerja Outsourcing (PPM, 2009) dan Perempuan Makan Perempuan (Kosmis, 2009). Ia dapat dihubungi di nomor: 0811896944 atau pos-el: iftidayasar[at]yahoo[dot]com.

UA:A [1.5.7_846]
VN:F [1.6.9_936]
Rating: 10.0/10 (1 vote cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: 0 (from 0 votes)

1 Comment

  1. Fatma KSA says:

    setuju wo..dari hal makan saja sangat berhubungan dengan bagaimana kita sebagai hamba bersyukur pada Tuhan..

    UN:F [1.6.9_936]
    Rating: 0.0/5 (0 votes cast)
    UN:F [1.6.9_936]
    Rating: 0 (from 0 votes)

Post a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Comment moderation is enabled. Your comment may take some time to appear.

Komentar