Mahalnya Kesempatan Mencintai
Editor | Kolom Lepas | May 12th, 2009
Oleh: Emmy Angdyani Erawati*
“Papa hanya mau hidup sampai umur 63 tahun.”
“ Papa lebih senang hidup sampai usia 63 tahun.”
Dulu, pernyataan pernyataan seperti itu sering terucap dari ayahanda saya tercinta. Cukup sering beliau mengungkapkan hal itu kepada kami putra putrinya dan beberapa orang terdekat. Saya tidak tahu mengapa ayah menyebut angka 63. Sampai saat ini pun, saya juga tidak pernah menanyakan kepada beliau. Metode apa yang dipakai sehingga muncul angka 63? Dalil apa yang beliau gunakan?
Tetapi, sungguh sujud syukur dan terima kasih kami, karena atas perkenan dan anugerah-Nya beliau dikaruniai umur panjang dan tetap sehat di usia 72 tahun sekarang ini. Memang, sejak operasi prostat beberapa tahun silam, kondisi beliau tidak sebugar sebelumnya. Lima atau enam tahun yang lalu, ayah masih bisa mengayuh sepeda, membuat lemari kayu setinggi dua meter, berkebun, atau pulang pergi dengan pesawat Jakarta-Surabaya dengan tentengan lebih dari 20 kg.
Dulu, semua beliau lakukan sendiri, meskipun maaf kata, kaki beliau extra ordinary. Diameter tulang betis hingga pangkal paha beliau tidak lebih dari dua kali diameter tulang bayi usia dua tahun. Ayah pernah terkena penyakit polio sehingga kaki kiri beliau lebih kecil dari ukuran kaki normal dan timpang jalannya. Berat badan pun tidak pernah menyentuh kepala empat. Secara fisik kondisi beliau tampak lebih rapuh dari almarhumah ibu. Hal itulah yang membuat “tampak luar” saya seperti memberi perhatian ekstra kepada ayah.
Banyak anggota keluarga dan kerabat yang men-judge saya lebih mencintai ayah dibanding almarhumah ibu. Mungkin kurang tepat. Yang benar adalah saya mencintai ayah dan ibu saya dengan kuantitas dan kualitas yang sama. Cinta, bakti, dan hormat saya kepada kedua orang tua saya sama persis. Kalau kemudian tampak bahwa neraca perhatian saya berat sebelah, itu hanya ekses ketakutan dan kekhawatiran saya akan kehilangan ayah. Karena, kalimat-kalimat yang beliau sampaikan tentang batas usia ayah (tentu versi beliau) sangat mengganggu pikiran saya.
Saya menyadari bahwa masalah usia adalah kedaulatan absolut Tuhan. Saya juga telah berusaha menepis dari pikiran saya dan berusaha meyakinkan bahwa Tuhanlah penentu segalanya. Tetapi, kadang-kadang dalam alam bawah sadar saya masih sering muncul ketakutan ketakutan seperti itu. Berulang-ulang saya mensyukuri bahwa ternyata Sang Pencipta masih memberi umur panjang kepada ayah.
Bagaimana dengan almarhumah ibu saya? Ibu saya telah berpulang delapan tahun silam, di usia yang menurut saya masih belum terlalu uzur, 58 tahun. Sepertinya, begitu cepat beliau menghadap Sang Khalik, sementara secara fisik beliau jauh lebih sehat, segar, dan sangat energik.
Dulu, saya seperti mempunyai keyakinan bahwa almarhumah ibu akan terus mendampingi kami sampai kami semua anak-anaknya menikah, berumah tangga, dan melihat bagaimana cucu-cucu ibu tumbuh dan berkembang sebagai remaja, dan mungkin sampai dewasa. Tetapi siapa menyangka, jika Tuhan berkehendak dan mengizinkan kebersamaan kami hanya sampai ibu berusia 58 tahun. Jika waktu boleh diputar, saya ingin memberi perhatian yang lebih, lebih, dan lagi dari yang pernah saya lakukan untuk ibu. Pokoknya, saya akan bahagiakan ibu sebahagia-bahagianya.
Bukan berarti saya menyesali telah mencintai ayah saya “lebih” dari ibu saya, karena sampai hari ini saya masih mencintai dan menghormati ayah saya. Dan bahkan, saya masih selau seperti kekurangan waktu untuk dapat memberikan kasih saya kepada beliau karena alasan jarak. Tetapi, yang saya sesali adalah mengapa saya dulu begitu terpagari pikiran-pikiran manusiawi saya. Sehingga, saya tidak memanfaatkan semaksimal mungkin sources yang saya miliki untuk mencintai ibu saya. Saya khilaf untuk menyadari bahwa semua kesempatan harus dipahami dalam konteks tidak pernah ada yang tahu seberapa lama “durasi” kesempatan yang diberikan kepada kita untuk mencintai.
Tentu banyak cerita bagaimana seseorang merasa amat kehilangan orang yang dikasihinya karena mereka telah tiada lagi. Cerita-cerita itu seharusnya mengingatkan kita untuk menempatkan cinta kasih kita kepada orang-orang yang kita kasihi pada posisi dan porsi yang seharusnya. Memberi waktu, perhatian, atau bahkan isi “simpanan” kita dengan bijaksana sebelum semuanya terlambat. Karena, kita tidak pernah tahu kapan kesempatan itu akan sirna. Hilangnya kesempatan itu tentu berarti dua sisi. Kesempatan kita mengasihi mereka, atau kesempatan mereka menikmati kasih dan cinta kita. Benar tidak?[eae]
* Emmy Angdyani Erawati adalah seorang Insinyur Teknik Kimia yang lahir di Surabaya, 2 Maret 1969. Emmy adalah ibu dari seorang anak berusia 10 tahun dan pernah berkarier di perbankan selama sepuluh tahun. Sekarang ia bekerja di sebuah perusahaan pelayaran nasional di Surabaya sekaligus menjalankan wirausaha persewaaan mobil. Ia dapat dihubungi di Pantai Mentari M-40, Surabaya, HP: 081.2358.7773 atau pos-el: angdyany[at]telkom[dot]net.

Leave a Reply