Link and Match dan Kemajuan Bangsa
Editor | Kolom Tetap | June 30th, 2009
Oleh: Iftida Yasar*
Jika kita bicara soal kesempatan kerja, maka di negara kita jika ada satu pekerjaan maka diperkirakan ada seribu orang yang akan melamar. Dari seribu orang itu mungkin hanya sekitar seratus orang yang memenuhi persyaratan administrasi dan lulus tes psikologi. Intinya, begitu besar gap atau perbedaan antara supply and demand, antara persyaratan kerja dengan mereka yang memenuhi kualifikasi persyaratan kerja tersebut.
Hasil dari dunia pendidikan berupa lulusan SMK atau Politeknik yang memang dipersiapkan untuk segera memasuki dunia kerja masih jauh dari harapan. Ada beberapa sekolah kejuruan atau politeknik yang lulusannya langsung dapat masuk ke pasar kerja. Mereka mempunyai peralatan latihan kerja yang memadai, biasanya merupakan proyek percontohan atau bekerjasama dengan industri tertentu. Sekolah kejuruan dan politeknik yang berjalan tanpa menyediakan peralatan latihan kerja yang memadai, akan ketinggalan teknologi dan lulusannnya masih harus dibekali dengan keterampilan untuk dapat memenuhi standar industri.
Pada negara lain yang sudah maju masih terdapat juga masalah link and match antara keluaran dari pendidikan dengan kebutuhan dunia industri. Bedanya setiap tahun besarnya gap itu semakin diperkecil dengan selalu mengevaluasi dan memperbaiki sistem pendidikannya. Jepang saja sebagai negara industri yang sangat maju masih ada mis-match dalam penempatan tenaga kerjanya. Hal ini diatasi dengan memberikan kesempatan bagi pencari kerja angkatan muda untuk melaksanakan program magang. Dengan magang di industri atau di UKM (Usaha Kecil Menengah), dan mendapatkan uang saku yang memadai, maka keterampilan bekerja seseorang menjadi meningkat.
Di Jerman untuk pendidikan Vokasi atau kejuruan, Kadin (Kamar Dagang dan Industri) Jerman memegang peranan sangat besar. Pemerintah memberikan kewenangan kepada KADIN Jerman untuk membuat kurikulum, menyediakan tempat magang, menyediakan para trainer atau pengajar, dan juga assesor-nya. Segala sesuatu yang berhubungan dengan materi ajar, penguji, pengajar, dan evaluasi sekolah kejuruan ditangani oleh KADIN Jerman.
Dual sistem atau sistem ganda pada sekolah kejuruan di Jerman, mengajarkan teori sekitar 20 persen di sekolah dan 80 persennya adalah magang dengan bimbingan para supervisor di industri. Tidak heran lulusan SMK otomotif misalnya langsung mendapatkan pekerjaan di perusahaan otomotif. Biasanya mereka langsung diterima bekerja diperusahaan tempat mereka magang. Dengan magang langsung di industri, semua peralatan dan kebutuhan perusahaan selalu up to date, tidak ada perbedaan anatara alat peraga yang ada di sekolah dengan yang ada di industri, seperti yang kita alami.
Saya melihat sendiri bagaimana anak magang mempelajari otomotif di pabrik Porsche, mobil canggih yang sangat mahal harganya. Paling murah harga mobil Porsche adalah 650.000 dollar AS. Bandingkan dengan anak SMK Otomotif kita yang masih belajar dengan mesin mobil kuno yang tidak sesuai dengan perkembangan teknologi.
Seharusnya pemerintah daerah dengan kekuasaan otonominya mengetahui dengan pasti apa keunggulan daerahnya. Berdasarkan produk keunggulan daerahnya, maka dibangunlah kompetensi sumber daya manusianya. Misalnya, di Bali yang terkenal dengan pariwisatanya, maka pemerintah daerah fokus pada pembangunan kompetensi keahlian yang berbasis pariwisata. Di Jawa Tengah yang terkenal sebagai pusat budaya dan juga kerajinan furniture, dibangun kompetensi yang berbasis kerajinan furniture. Di Papua yang kaya emas dan juga kayunya, dibangun komptensi keahlian emas dan kayu. Dengan demikian terbentuk suatu keahlian yang khusus, unik, dan berbeda antara satu daerah dengan daerah lainnya.
Jika selama ini kita masih sibuk menghabiskan anggaran untuk membangun infrastruktur, misalnya gedung, sekolah, dan perlengkapannya atau mengundang investor membangun industri di daerah. Maka, sudah saatnya investasi kita arahkan untuk pembangunan sumber daya manusianya dulu.
Tanpa kompetensi, tanpa adanya link and match antara pendidikan dan dunia industri, maka segala peralatan, gedung, dan investasi menjadi tidak maksimal dan sia-sia. Berapa banyak gedung sekolah dengan segala peralatannya yang canggih tidak berfungsi dengan baik, karena tidak ada tenaga ahli yang dapat menjalankannya?
Sudah saatnya kita bekerjasama membangun kompetensi unggulan daerah. Anggaran pendidikan yang begitu besar seharusnya juga diberikan kepada lembaga pelatihan industri yang sudah terbukti berhasil. Misalnya, untuk mendidik tenaga kerja yang terampil dibidang otomotif, tidak perlu membangun sekolah otomotif sendiri, tetapi serahkan dana tersebut misalnya kepada ASTRA group untuk mengembangkan lembaga pelatihan otomotifnya. Untuk mencetak tenaga ahli elektronik, berikan anggaran kepada Panasonic Gobel misalnya untuk memperkuat lembaga pelatihan elektronik yang selama ini hanya untuk melayani kebutuhan internal.
Sudah saatnya kita bersatu, bekerjasama, saling membantu, dan saling memperkuat sektor yang sudah baik untuk kemajuan bangsa. Berapa banyak perjalanan studi banding dilakukan oleh para pejabat kita, tanya pada hati nurani apakah sudah saatnya menghentikan segala macam perjalanan studi banding yang menghabiskan anggaran dan belum terlihat tanda kapan akan diimplementasikan demi kemajuan bangsa kita tercinta.[iy]
* Iftida Yasar lahir pada 28 Maret 1962. Ia meraih gelar Sarjana Psikologi Pendidikan dan Sarjana Hukum di Universitas Padjajaran tahun 1980. Dan meraih gelar S-2 Psikologi di Universitas Indonesia tahun 1992. Iftida Yasar adalah seorang konsultan SDM, hubungan industrial, dan outsourcing. Ia juga seorang entrepreneur, trainer, motivator, aktivis sosial bidang pengembangan SDM, Wakil Sekretaris Umum APINDO, dan Penasihat Asosiasi Bisnis Alih Daya Indonesia (ABADI). Iftida juag dikenal sebagai pribadi yang sangat aktif, suka tantangan, senang bertemu dengan orang-orang baru, membangun jejaring, membangun kompetensi SDM, bepergian, dan baca buku. Ia adalah penggemar berat Kho Ping Hoo, Winnetou, Mushashi, Sinchan, dan Andrea Hirata. Iftida dapat dihubungi di nomor: 0811896944 atau pos-el: iftidayasar[at]yahoo[dot]com.

July 3rd, 2009 at 5:29 pm
Topik ini sangat menarik bagi saya. Berbicara mengenai kompetensi pekerja, bagai telur dan ayam, mana lebih dahulu. Dalam hal ketidak siapan pekerja, apakah sekolahnya, orangnya, atau perusahaan yang tidak mengembangkan SDM? Jawabanya adalah ketiga-tiganya. Tapi bagaimana men”drive” sebuah program yang berkesinambungan? Jawabanya adalah Konsistensi Pemerintah untuk mengkoordinasi pihak swasta, Institusi, dan pekerja/siswa ke dalam sebuah link and match.Bisa dibilang pemerintah kita kurang peduli dalam hal tsb.Coba kita lihat asosiasi selalu gonta-ganti, hasilnya tidak pernah ada yang membanggakan, alias ‘gitu-gitu’ aja.