Lenturkan Tubuh Inovasi Organisasi Anda!
Editor | Kolom Tetap | September 8th, 2009
Oleh: Avanti Fontana*
“Perusahaan dan individu inovatif—dengan otot dan tubuh lentur—mampu bertahan sebagai inovator di tengah gempuran peristiwa dan kirisis.”
~ Avanti Fontana
Menarik menyimak artikel “Latihlah Otot Inovasi Anda” oleh Zee Cardin yang dimuat di AndaLuarBiasa.com 18 Agustus 2009. Judul dan tulisan ini diilhami oleh artikel Zee Cardin tersebut.
Banyak praktik inovasi sering terjebak dalam kotak inovasi yang pagar-pagarnya dibangun sejak lama oleh anggota-anggota organisasi, struktur dan budaya organisasi, pola pikir dan kepemimpinan dalam organisasi. Sampai pada suatu saat, pihak manajemen organisasi/perusahaan A terkejut karena produk yang biasa mereka hasilkan dan sukses, belakangan sudah memiliki padanannya atau tiruannya. Bahkan, produk padanan itu jauh lebih baik dalam mutu dan harga dan diproduksi oleh perusahaan B, yang ternyata baru berdiri sejak dua tahun lalu.
Keterkejutan pihak manajemen A tidak sampai di situ. Mereka juga terkejut karena konsumen/pelanggan yang biasa membeli produk mereka sekarang beralih ke produk baru buatan perusahaan B. Sidik punya selidik, produk baru/tiruan perusahaan B yang muncul di pasar tersebut berhasil mengundang daya tarik konsumen karena produknya menggunakan warna-warna menarik dan pembungkusan (packaging) yang apik…. Keterkejutan pihak manajemen perusahaan A bertambah dan di antara mereka mulai bergumam, “Mengapa kita tidak sampai berpikir jauh ke sana, membuat produk kita lebih menarik di mata konsumen?”
Perusahaan-perusahaan besar cenderung lambat dalam melakukan terobosan-terobosan inovatif, dalam bentuk inovasi-inovasi radikal atau inovasi terobosan, karena mereka kurang memiliki kelenturan dalam berinovasi. Maksudnya, perusahaan kurang sigap membaca kecenderungan pasar. Perusahaan kurang awas dalam mencermati informasi yang ber-seliweran, baik di dalam maupun—dan utamanya—di luar perusahaan.
Perusahaan mempekerjakan para karyawan yang terlena dalam kejayaan perusahaan, khususnya kejayaan masa lalu, yaitu pada saat elemen-elemen penyusun dunia belum sebegitu kompleks, saat tidak ada pesaing, saat konsumen tidak punya pilihan, saat monopoli merajalela. Faktor-faktor tersebut antara lain membuat mapan atau “kaku”-nya iklim inovasi di dalam perusahaan.
Bagaimana perusahaan-perusahaan yang otot inovasinya kaku atau kurang lentur melakukan rejuvenasi, melenturkan otot-otot inovasi mereka? Kelenturan otot-otot inovasi ini akan sangat membantu perusahaan khususnya dalam menghasilkan ide-ide inovatif produk (barang atau jasa), mengembangkannya, dan mendiseminasi atau mengomersialisasikannya. Lenturnya otot-otot inovasi perusahaan mengandaikan kondisi perusahaan sebagai berikut:
Pertama, perusahaan dan anggota-anggotanya memiliki pola pikir entrepreneurial (entrepreneurial mindset) berupa kesigapan dalam menangkap atau menciptakan peluang, awas (alert) terhadap perubahan di sekitarnya, a good market reader, berpikiran positif dan kreatif, kesadaran akan risiko yang muncul dari setiap langkah inovasi yang dilakukan perusahaan.
Kedua, perusahaan memiliki budaya inovatif yang tidak terlena dalam dirinya sendiri. Ini perlu didukung oleh kepemimpinan entrepreneurial, yang menunjang pelaksanaan proses inovasi di dalam perusahaan, yang sumber dayanya bisa berasal dari dalam ataupun dari luar perusahaan.
Ketiga, perusahaan perlu memiliki kemampuan mengelola sumber daya – sumber daya untuk inovasi secara strategis, yaitu berfokus pada pencapaian kekayaan ekonomi dan sosial dan budaya (wealth creation). Untuk mewujudkannya, perusahaan perlu membangun keunggulan daya saing yang berbasis pada sumber daya internal dan eksternal perusahaan (financial capital, social capital, dan human capital). Pengelolaan sumber daya ini harus memenuhi azas kelenturan juga. Jika tidak, perusahaan dapat terjebak dalam kemandekan inovasi, karena hanya melakukan yang itu-itu saja, tidak ada kemajuan.
Karena perusahaan didiami oleh anggota-anggotanya, kelenturan otot-otot inovasi perusahaan pun pada akhirnya, dan yang pertama-tama, adalah kelenturan otot-otot inovasi para anggotanya. Individu-individu pelaku inovasi perlu melakukan senam-senam aerobic untuk mengencangkan otot-otot inovasi mereka, yang pada gilirannya menguatkan otot-otot inovasi perusahaan. Senam-senam itu antara lain:
- Senam Kreativitas
- Senam Berpikir Out-of-the-Box
- Senam Entrepreneurial Alertness
- Senam Kolaborasi Lintas Fungsi
- Senam Budaya Kerja Tim
- Senam Menghargai Perbedaan, dan
- Senam Pasar (melihat pasar dari dekat, mengunjungi pelanggan atau calon pelanggan, melayani pembeli, berbicara dengan orang banyak, berbicara dengan pelanggan, dll)
Anggota-anggota organisasi apa pun perlu melakukan rutinitas senam-senam tersebut untuk menjaga kelenturan. Tidak hanya untuk menjaga otot-otot inovasi mereka, perusahaan, atau organisasi pada umumnya, tetapi juga untuk menjaga kelenturan tubuh organisasi inovator secara keseluruhan.
Rutinitas senam tersebut perlu diimbangi dengan nutrisi inovasi yang cukup. Pasokan nutrisi ini tidak melulu pasokan nutrisi sebagai insentif finansial. Bahkan, lebih penting adalah pasokan nutrisi budaya dan kepemimpinan entrepreneurial yang mengayomi, yang Tut Wuri Handayani, yang mendampingi secara bersahaja, tidak otoritatif dan berkuasa.
Perusahaan dan individu inovatif—dengan otot dan tubuh lentur—mampu bertahan sebagai inovator di tengah gempuran peristiwa dan kirisis. Mereka juga mampu memberi manfaat, tidak saja ekonomi, tetapi juga sosial budaya. Tidak hanya memberi manfaat kepada para anggotanya, tetapi juga kepada lingkungan sekitarnya. Salam inovasi![af]
* Avanti Fontana, penulis buku Innovate We Can! (Grasindo, 2009) adalah fasilitator dan coach untuk inovasi, serta mitra pembelajar para perusahaan-inovator sejak tahun 1999. Avanti dapat dihubungi 081310182099 atau avantifontana[at]gmail[dot]com atau www.imedcoaching.com.

September 8th, 2009 at 1:03 pm
Artikel menarik. Kelenturan tubuh organisasi bergantung pada kelenturan orang-orang di dalam organisasi tersebut. Bener gak Bu? atau bisa juga sebaliknya?
September 11th, 2009 at 11:05 am
Tks dan betul p Agung. Kelenturan orang-orang di dalam organisasi –> kelenturan organisasi –> kelenturan orang-orang… Organisasi yang lentur yang dicerminkan oleh atau merupakan cerminan manajemen dan orang-orangnya yang lentur adalah sangat memberdayakan organisasi dan komunitas…energi siap pakai untuk INOVASI…peran kepemimpinan dalam inovasi tidak bisa diabaikan. Bagaimana?
September 11th, 2009 at 7:26 pm
Inovasi tidak akan pernah muncul dalam organisasi yang rigid. Hanya pada organisasi yang lenturlah dimungkinkan munculnya inovasi. Lentur berarti ready and able to adapt to change, or even to lead the change! Dan juga demikianlah inovasi, suatu kepemimpinan dalam perubahan! is that right? sorry if not…cheers…
September 13th, 2009 at 10:12 am
Pak Agung: Tepat sekali… dan kita berbicara tentang stimulator inovasi (Bab 3 -Innovate We Can! …Inovasi dan … Nilai)
September 16th, 2009 at 7:11 am
Menyenangkan menjadi inspirasi bagi banyak orang, terimakasih ibu Avanti yang telah memberi perluasan dan pendalaman dari tulisan saya. Mencermati senam-senam inovasi yang dijabarkan, kurang menarik dan menantang bagi organisasi yang sedang menikmati ‘mentari hangat’ kejayaannya. Mereka mungkin sudah terlalu tambun untuk menyadari betapa berat tubuh organisasinya perlu dirampingkan sebelum dapat melakukan senam-senam kelenturan organisasi untuk dapat mengkuti arus perubahan pasar dan global. Mungkin organisasi yang sudah terlalu tambun dan jaya ini sebaiknya dibuatkan suatu progam ‘diet’ dan olahraga otot yang lebih berat untuk mengurangi lemak organisasi yang bergelambir dan membuat lamban untuk bergerak. Mungkin didahului dengan fokus pada anggota-anggota ujung tombak organisasi - bagian penjualan dan pemasaran - buatkan program latihan yang lebih berat seperti ’sepak bola’ target, dimana diantara mereka dilempar satu target utama dengan skala kerumitan tinggi untuk memicu mereka untuk berebut, bekerjasama dan membuat gol ‘target’ yang cantik bagi ‘team work’ mereka. Tempatkan seorang ‘kapten’ dari salah seorang pucuk pimpinan, sebagai penganalisa dan pengatur serangan yang terarah dan efektif. Harapannya latihan yang keras dan khusus bagi anggota-anggota terpilih ini dapat ditularkan pada seluruh bagian ‘tubuh’ organisasi. Teruslah berlari dan fokus pada tujuan.
September 20th, 2009 at 9:38 am
Terima kasih Pak Zee atas komentar Anda. Inspiratif! Membacanya, pikiran saya dibawa menerawang ke metafora-metafora yang dipakai untuk menggambarkan pentingnya latihan otot yang lebih berat lagi agar inovasi dalam perusahaan dapat dilaksanakan dan berhasil. Saya membayangkan dan berkata, “Kalau begitu, senam-senam saja tidak cukup untuk melenturkan otot-otot inovasi perusahaan yang sudah lama terlena kejayaannya dan menjadi “malas” atau “lupa” bahwa kejayaan perusahaan tidak akan lama bila perusahaan tidak melakukan perubahan atau berubah dan melakukan inovasi. … Ya senam-senam saja tidak efektif jika tidak didahului dengan detoksifikasi tubuh organisasi yang kemudian diikuti dengan diet “makanan-makanan” tertentu DAN tetap latihan-latihan atau senam-senam tertentu, aerobik misalnya.” Dst. Komentar Pak Zee mendorong saya menulis artikel “Detoksifikasi dan Diet untuk Inovasi,” terima kasih. AF
September 27th, 2009 at 8:40 am
[...] Artikel Baru di AndaLuarBiasa[dot]com: Lenturkan Tubuh Inovasi Organisasi Anda! [...]