Latihlah Otot Inovasi Anda
Editor | Kolom Lepas | August 18th, 2009
Oleh: Zee Cardin*
“Belajarlah dari burung kecil yang bernyanyi dipagi hari, mengalunkan nada indah
bertasbih memuji pagi dengan ikhlas memulai hari.”
~ Zee Cardin
Mentari yang lelah merayap ke ufuk barat menemani kegundahan hati saya yang terkurung dalam bus kota yang tidak juga bergerak maju ke tujuannya. Kondektur yang berperan sebagai sales meninggikan suaranya, memanggil orang-orang yang berlalu lalang, menawarkan tempat kosong yang sebenarnya tidak tersedia lagi. Satu dua penumpang mulai gelisah dan mengungkapkan gumam kecil kekesalan.
Tiba-tiba, kami semua penumpang dikejutkan oleh pertengkaran kecil dari arah depan di dalam bus. Dua anak kecil berpakaian lusuh bertengkar memperebutkan sepotong roti kecil. Mereka saling dorong dan mengucapkan kata yang tidak pantas dikeluarkan oleh anak seusianya. Kejadian tersebut tidak lama berlangsung. Serentak mereka berdua berhenti bertengkar, seperti ada yang memerintahkan. Kemudian, mereka menyebar di antara penumpang dengan menengadahkan tangan yang kecil memohon recehan atau bahkan lembaran.
Apa yang mereka lakukan sampai pada tahap mengemis tersebut tidak terpikirkan oleh saya sebelumnya. Mereka telah melakukan sebuah trik marketing yang hebat untuk menggugah orang di sekililing agar perhatiannya tertuju hanya pada mereka. Setelah itu, mereka dengan cerdik memanfaatkan keterkejutan para penumpang dengan melanjutkan memohon belas kasihan. Saya yakin banyak di antara penumpang yang mengulurkan recehan dan lembaran uang karena dampak kasihan pada pertengkaran perebutan sepotong roti sebelumnya.
Kejadian di atas membuat saya ingat pada keadaan di kantor, di mana saya sering kali merasa buntu untuk membuat lembaran-lembaran ide maupun cetus-cetusan produk, atau bahkan hanya sekadar fitur tambahan untuk sebuah produk. Menggerus waktu menit demi menit sampai hari demi hari. Bahkan, tidak jarang sampai berjumlah bulan hanya untuk menghasilkan sebuah produk.
Kendala dalam proses penyusunan produk dimulai dari mengumpulkan ide yang tidak tahu harus mengais dari dan di mana. Mulai dari pemilihan ide yang dianggap dapat dijual sampai dengan hari penentuan untuk disajikan di depan rapat komite pengelola produk. Biasanya, saya malah lebih banyak disibukkan oleh ketakutan akan urutan tampilan dan keindahan warna bahan presentasi.
Semua itu dilalui dan selalu terbentur karena kebuntuan inovasi—seperti seekor tikus yang terjebak di sudut ruangan dan kebingungan. Setiap langkah dari proses yang harus dilalui menjadi kaku seperti batang bambu yang membujur. Setiap tahap harus mengerahkan tenaga dalam yang kadang dilakukan layaknya seorang karateka menghadapi batang balok yang harus dipecahkan. Kenapa sih, tidak mengalir lancar tanpa terbata-bata apalagi tersumbat?
Ajang teatrikal yang dilakoni oleh kedua anak di dalam bus kota, membuat saya tersadar akan kelebihan mereka berdua. Mereka mengemis namun tidak melakukannya dengan metode yang ortodoks, konvesional, apalagi kuno, misalnya dengan berlagak buta atau kelemahan fisik lainnya. Mereka melakukan teori gebrakan keluar dari kotak kenormalan, menggunakan kekuatan ledakan emosi para ‘penonton’ di dalam bus kota, demi meraih simpati yang dahsyat.
Ramuan seperti ini seharusnya dapat dilakukan oleh kita yang mempunyai latar belakang pendidikan yang lebih tinggi, bahkan latar belakang sosial yang lebih mapan. Kita terlalu asyik dengan acuan normal dalam melaksanakan lembar-lembar kegiatan tugas di kantor ataupun tempat lainnya. Kemudian, kita melupakan satu hal, yaitu gebrakan inovasi.
Otot inovasi kita selalu dibuat kaku oleh rutinitas dengan asas normatif yang kita pahami di bilik-bilik sekolah maupun perguruan tinggi. Otot inovasi kita dikungkung dengan kerapihan teori-teori yang kita puja dan puji setinggi langit, dan tentunya kita mencoba menjadi seperti teori-teori tersebut. Otot inovasi kita tidak pernah kita latih untuk menjadi lentur, bergerak-gerak mengikuti alur informasi di sekitar kita.
Ada banyak alunan informasi yang dapat kita gunakan untuk memberikan iringan musik yang sempurna bagi gerak otot inovasi kita. Otot inovasi kita dapat menari bergerak seirama mengikuti, bahkan berimprovisasi untuk menelurkan gerakan atau mungkin gebrakkan yang memberikan dampak positif terhadap hasil akhir.
Keluarlah dari kotak kaku yang selama ini menjadi batas ruang gerak inovasi Anda. Contohlah bagaimana dua pengemis cilik bersikap menggugah orang di sekelilingnya. Jangan pernah berhenti bergerak, ambil semua cerita yang ada di sekitar kita. Jadikan itu sebagai alunan gerak otot inovasi kita. Jangan pernah mengatakan informasi yang diterima tidak cocok dengan rencana kerja yang sedang kita jalani. Sebab, setiap informasi dan cerita dapat menjadikan kita lebih banyak tahu, yang pada akhirnya membuat kita dapat bergerak manis mengikuti alunan informasi itu, untuk kemudian dapat mendukung kegiatan harian kita.
Memberikan ruang gerak pada otot inovasi kita hanya pada luasan kotak—yang kita tentukan dari awal memulai kegiatan—akan membunuh kreativitas pada akhirnya. Otot inovasi kita perlu dilatih untuk memberikan respon yang baik pada setiap informasi yang ada di sekitar. Alhasil, latihan itu akan menjadikan otot kita sangat kuat sekaligus lentur untuk membuahkan kreativitas kecil, bahkan mungkin kreativitas yang dahsyat.[zc]
* Zee Cardin, adalah seorang yang berkarir di perbankan sebagai pengembang produk, menggeluti bidang-bidang yang disukai seperti computer programming, melukis, dan menulis puisi. Zee adalah anggota BTN Writers Community dan dapat dihubungi telepon: 08785050222, atau pos-el: joulecardin[at]gmail[dot]com.
Leave a Reply