Lakukan Pekerjaan Satu Per Satu
Editor | Kolom Tetap | August 11th, 2009
Oleh: Iftida Yasar*
Stres, lesu, dan lelah membayang dengan jelas di wajah kita ketika banyak pekerjaan yang belum selesai. Pekerjaan yang lama belum selesai sudah datang pekerjaan baru, rasanya otak mau pecah, kepala pusing. Coba satu hari lebih dari dua puluh empat jam, pasti pekerjaan yang menumpuk ini akan selesai. Jika saja bos berbaik hati memberikan asisten kepada kita pasti pekerjaan ini selesai pada waktunya. Kelihatannya teman sebelah meja kok tenang-tenang saja dalam menyelesaikan pekerjaan. Mungkin pekerjaan dia lebih ringan daripada kita, jadi pekerjaannya cepat selesai.
Tunggu dulu, jangan terlalu cepat menyalahkan keadaan di luar diri kita. Coba analisis keadaan kita satu per satu. Dimulai dengan bagaimana cara kita mengerjakan pekerjaan, apakah langsung dikerjakan atau kita tunda sampai tenggat waktu mengejar kita? Perhatikan juga apakah kita mampu membedakan mana yang penting tetapi mendesak, atau penting tidak mendesak, atau sebaliknya mendesak tetapi tidak penting. Dan yang terakhir, tidak penting dan juga tidak mendesak.
Kerjakan dahulu yang penting dan mendesak. Kerjakan ini sendiri tanpa mendelegasikan kepada orang lain. Jika memang dapat didelegasikan, pastikan bahwa pekerjaan itu dikerjakan sesuai perintah dan tepat waktu. Kerjakan yang lainnya satu per satu sesuai dengan skala prioritas.
Tidak mungkin kita mengerjakan banyak hal dalam satu waktu. Ini justru akan membuat kita tidak fokus dan bingung memilih mana yang akan dikerjakan terlebih dahulu. Jika begitu banyak hal yang harus dikerjakan, buat suatu daftar pekerjaan beserta tenggat waktunya dan periksa kembali mana yang harus didahulukan serta mana yang harus ditunda. Biasakan menuliskan dalam suatu kertas kerja agar kita dapat melihat dengan jernih apakah memang pekerjaannya banyak atau hanya bayangan kita saja yang mengatakan bahwa kita mempunyai banyak pekerjaan. Dengan menuliskannya, akan terlihat nanti mana yang harus kita lakukan sendiri dan mana yang bisa didelegasikan kepada orang lain.
Bisa juga daftar pekerjaan tadi kita pisahkan mana yang pekerjaan kantor, mana yang urusan pribadi. Kita juga dapat mendiskusikannya dengan teman, atasan, bahkan bawahan untuk mendapatkan pencerahan, wawasan, atau bantuan pemikiran. Karena, mungkin saja saking paniknya kita jadi buntu pikirannya. Fokus mengerjakannya satu demi satu, bagaimanapun beratnya masalah yang kita hadapi. Kita akan memetik manfaatnya dan melihat bahwa ternyata semua dapat dikerjakan dengan mengerjakannya secara displin satu demi satu.
Kalau masih stres juga dan tetap merasa overload, coba lihat kembali kapan terakhir kali Anda tertawa, menikmati hidup, bepergian bersama keluarga atau teman. Jika itu sudah lama sekali, mungkin memang benar Anda butuh istirahat dan berlibur agar dapat cerah kembali dan fokus terhadap pekerjaan.[iy]
* Iftida Yasar lahir pada 28 Maret 1962. Ia meraih gelar Sarjana Psikologi Pendidikan dan Sarjana Hukum di Universitas Padjajaran tahun 1980. Dan meraih gelar S-2 Psikologi di Universitas Indonesia tahun 1992. Iftida Yasar adalah seorang konsultan SDM, hubungan industrial, dan outsourching. Ia juga seorang entrepreneur, trainer, motivator, aktivis sosial bidang pengembangan SDM, Wakil Sekretaris Umum APINDO, dan Penasihat Asosiasi Bisnis Alih Daya Indonesia (ABADI). Iftida baru saja meluncurkan dua buku terbarunya yaitu Merancang Perjanjian Kerja Outsourcing (PPM, 2009) dan Perempuan Makan Perempuan (Kosmis, 2009). Ia dapat dihubungi di nomor: 0811896944 atau pos-el: iftidayasar[at]yahoo[dot]com.

August 11th, 2009 at 10:35 pm
Iya, setuju Bu Iftida. Kita memang sering terjebak ingin menyelesaikan semuanya dalam waktu yang bersamaan, yang hasilnya malahan semuanya macet. Cheers.