Lakukan Apa yang Orang Lain Tidak Mau Kerjakan
Editor | Kolom Tetap | March 9th, 2009
Oleh: Sulmin Gumiri*
Ada satu lagi pelajaran menarik yang mungkin bisa kita petik dari kehidupan ini. Beberapa tahun yang lalu, saya menyaksikan sebuah wawancara televisi dengan seorang ilmuwan tersohor di Jepang. Berkat penelitian yang telah ia lakukan selama bertahun-tahun, sang profesor berhasil mendapat penghargaan dari Badan Kesehatan Dunia (WHO) dan beberapa medali internasional lainnya, karena dianggap telah menyelamatkan jutaan jiwa manusia berkat kepakaran dan hasil penelitian di bidang ilmunya, serta dedikasinya yang luar biasa kepada kemanusiaan. Prestasi tersebut telah menyebabkan ia dikenal di seluruh dunia, sehingga banyak sekali ilmuan dari negara lain yang ingin bekerjasama serta mahasiswa yang mau belajar kepadanya. Sang profesor benar-benar menjadi salah seorang yang sangat dibanggakan oleh bangsa Jepang.
Ketika sang profesor ditanyai rahasia kesuksesannya menjadi ilmuwan besar yang disegani di seluruh dunia tersebut, terlihat sekali ia agak ragu-ragu untuk mengungkapkannya. Setelah didesak si reporter, akhirnya dengan lirih ia berkata: “Apa ya rahasianya…? Saya merasa tidak ada yang istimewa dengan pencapaian saya ini. Atau mungkin…. karena saya melakukan apa yang orang lain tidak mau mengerjakannya.”
Karena tertarik dengan jawaban sederhana tersebut, reporter yang mewawancarainya kemudian meminta kepada sang profesor untuk menunjukkan apa sebenarnya yang ia maksudkan dengan “melakukan apa yang orang lain tidak suka tersebut”. Lalu, ditunjukanlah oleh sang ilmuwan bersahaja tersebut ratusan atau mungkin ribuan botol yang berjejer rapi di rak-rak yang menempel di dinding ruang kerjanya. Sekilas, jejeran rapi botol tersebut mirip etalase sebuah bar yang menjual berbagai jenis minuman mahal kemasan botol dari berbagai merek dan cita rasa. Tetapi, setelah diperhatikan lebih dekat, tampaklah bahwa isi dari botol-botol tersebut ternyata berbagai jenis dan ukuran cacing yang biasa menjadi parasit di dalam tubuh manusia.
Saking tidak percaya dengan apa yang dilihatnya, sang reporter hanya bisa bergumam, “Benarkah sebanyak ini jenis cacing yang bisa berkembang dalam tubuh manusia?” Melihat si reporter keheranan, dengan lirih sang profesor berkata, “Inilah yang saya maksudkan. Apakah ada orang yang mau, selama berpuluh-puluh tahun tanpa kenal lelah mendatangi perkampungan kaum miskin di berbagai pelosok dunia, hanya untuk menunggu mereka buang hajat dan kemudian mengais-ngais cacing yang keluar bersama tinja mereka?”
Meskipun wawancara tersebut sudah beberapa tahun berlalu, tetapi ucapan sang profesor Jepang tersebut masih terngiang-ngiang dalam pikiran saya. Baru-baru ini, ketika menghadiri acara ulang tahun situs Pembelajar.com di Hotel Menara Peninsula-Jakarta, saya diperlihatkan oleh Edy Zaqeus buku karangan terbarunya berjudul Bob Sadino: Mereka Bilang Saya Gila!. Setelah bersusah payah mencarinya di toko buku karena benar-benar masih “hangat”, akhirnya saya berhasil juga mendapatkan buku tersebut di toko Gramedia, Pasar Baru, Jakarta Pusat.
Saking menariknya isi buku setebal dua ratusan halaman tersebut, saya hanya perlu waktu satu hari untuk melahap seluruh isinya. Di dalam buku tersebut, meskipun Bob Sadino tidak mengungkapkan secara persis seperti yang diucapkan oleh ilmuwan Jepang di atas, tetapi melihat perjalanan sukses dan pandangan hidup sang pengusaha nyentrik tersebut, tergambar dengan jelas sekali bahwa salah satu rahasia sukses Bob Sadino adalah karena ia berani melakukan apa yang orang lain tidak mau mengerjakannya.
Rasanya, tidak akan pernah kita temukan di dunia ini orang yang mengaku bosan dan jenuh dengan hidup yang serba berkecukupan. Tetapi, Bob Sadino memang beda, ia yang di masa mudanya sudah hidup bergelimang harta sehingga mampu berkelana di manca negara di tahun 60-an, tiba-tiba ia memutuskan untuk menjadi orang miskin dan kembali ke Jakarta. Ia pun memulai kehidupan baru sebagai sopir taksi, tetapi usahanya kandas karena mobilnya mengalami kecelakaan. Gagal berprofesi sebagai sopir taksi, ia akhirnya banting setir berjualan telur ayam dengan cara menjajakannya dari pintu ke pintu. Mana ada anak orang kaya yang mau melakukan hal tersebut? Jangankan mereka yang pernah lama tinggal di luar negeri seperti Bob Sadino, warga biasa atau orang yang tidak punya pekerjaan sekali pun pastilah berpikir dua kali untuk nekat menggedor-gedor rumah orang untuk menjajakan telur ayam. Tetapi, itulah mungkin rahasia yang mengantarkan Bob Sadino sampai akhirnya menjadi salah satu pengusaha tersuskses di Indonesia seperti sekarang ini.
Prinsip mau melakukan apa yang orang lain tidak mau mengerjakannya, sebenarnya sesuatu yang alami dalam kehidupan ini. Salah satu tempat favorit yang selalu saya kunjungi setiap kali saya mengunjungi sebuah kota adalah pasar tradisional. Di pasar tradisional mana pun, entah di dalam negeri seperti Pekan Sabtu di kampung saya, Pasar Kreneng di Bali, Pasar Turi di Surabaya, atau Pasar Benhill di Jakarta, dan bahkan di luar negeri seperti di Inggris, Jepang, Australia, dan Belgia suasana pasarnya hampir sama, selalu ramai pengunjung yang semuanya terlihat riang dan bahagia.
Kalau kita perhatikan agak teliti orang-orang yang berjualan di pasar tradisional, mereka juga sebenarnya menganut prinsip melakukan apa yang orang lain tidak mau mengerjakannya. Hanya saja dalam bahasa pasar diterjemahkan menjadi “tawarkanlah kepada pembeli apa yang tidak dijual oleh pedagang yang lain”.
Bagi Anda yang mungkin suka ke pasar tradisional seperti saya, pernahkah Anda memikirkan bahwa setiap kali kita ke pasar hampir tidak pernah kita berbelanja di satu tempat dan satu orang pedagang saja. Ketika menemani istri saya ke pasar sebelum menulis artikel ini, iseng-iseng saya menghitung ada berapa pedagang yang kami temui. Begitu masuk ke pasar, isteri saya langsung disapa oleh seorang pedagang ayam di pintu masuk pasar dan langsung membeli ayam dagangannya. Sambil menunggu sang pedagang memotong ayam yang kami beli, istri saya melihat ada pedagang telur di sebelah pedagang ayam itu. Lalu, ia pun bertransaksi dengan pedagang telur tersebut. Saat saya diminta mengantar potongan ayam dan telur yang telah dibelinya ke mobil, istri saya mengatakan ia akan ke pasar ikan.
Ketika saya kembali dan tidak menemukannya di pasar ikan, dari kejauhan saya melihat ia sudah berada di salah satu pojok pasar tempat para pedagang sayur. Di pasar sayur ini setidaknya ada lima pedagang berbeda yang bertransaksi dengannya, mulai dari penjual terong, penjual kentang, penjual cabe, penjual bawang, sampai kepada pedagang yang hanya menjual bumbu-bumbu segar saja seperti kunyit dan jahe. Melihat barang belanjaannya yang semakin berat, saya pun menawarkan untuk mengantar barang tersebut sekali lagi ke mobil. Karena, saya pikir ia sudah hampir selesai berbelanja, maka saya tidak kembali lagi menemuinya dan hanya menunggu saja sambil mengobrol dengan tukang parkir.
Ternyata saya keliru. Istri saya masih cukup lama belanja sehingga saya sempat agak tidak sabar menunggunya. Setelah masuk ke mobil, ia minta maaf karena katanya ia harus antri membeli kelapa. Tetapi dari barang bawaanya, saya juga melihat bukan hanya kelapa yang dia bawa, tetapi ada tempe, tauge, dan beberapa bungkusan plastik lain. Rupanya ia sempat mampir lagi membeli barang-barang kebutuhan tersebut di beberapa pedagang lainnya. Mungkin karena sudah menduga bahwa saya pasti tidak sabar menunggunya, ia sengaja membelikan kue kesukaan saya. Karena sudah “disogok” dengan makanan kesenangan saya sejak kecil tersebut, saya diam saja ketika ia meminta saya menunggu sedikit lebih lama lagi. Karena ternyata, ada pedagang lain yang akan mengantarkan beras langsung ke mobil kami. Saya hitung-hitung ada lebih dari sepuluh pedagang yang kami temui hari itu.
Dari peristiwa di pasar tradisional tersebut, kita bisa mengambil pelajaran bahwa ada ratusan atau mungkin ribuan pedagang yang mencoba mengais rezeki di pasar setiap hari. Mereka semua sukses dan mampu bertahan di situ selama bertahun-tahun, dan bahkan ada yang sudah beberapa generasi. Dengan menawarkan dagangan yang tidak dijual oleh orang lain, para pedagang tersebut akhirnya menemukan “niche” atau relung bidang usahanya masing-masing. Tidak ada persaingan, tidak ada kecurangan dan tidak ada permusuhan. Semuanya saling melengkapi, semua kebagian rezeki dan semua berbahagia. Suasana ramai dan penuh kebahagiaan itulah yang menyebabkan saya menjadikan pasar tradisional sebagai salah satu tempat favorit untuk belajar dan menghibur diri.
Kehidupan di pasar tradisional merupakan miniatur dari kehidupan di dunia ini. Kita semua pada dasarnya adalah pedagang. Bedanya adalah, sebagian dari kita menawarkan jasa dan sebagian lagi berjualan barang. Sang profesor Jepang adalah contoh orang yang berdagang jasa melalui ilmunya, sedangkan Bob Sadino mewakili mereka yang berjualan barang dengan usaha agrobisnisnya. Sebuah kantor adalah pasar, kota besar seperti Jakarta adalah juga sebuah pasar dan seluruh bumi ini juga merupakan pasar dalam skala global. Untuk sukses di pasar tersebut, kita harus kreatif mencari jenis dagangan apa yang belum ada di sana. Saya yakin apabila kita mau “melakukan apa yang orang lain tidak mau mengerjakannya”, insya Allah kita tidak akan pernah kehilangan harapan dalam mengarungi hidup ini.[sg]
* Sulmin Gumiri adalah seorang pendidik, peneliti, dan profesor di Universitas Palangka Raya. Peraih predikat dosen terbaik di kampusnya tahun 2006 ini memperoleh gelar MSc. dari Nottingham University, Inggris dan gelar PhD dari Hokkaido University, Jepang. Pria disiplin dan pekerja keras ini memiliki hobi membaca buku, gardening dan bermain tenis. Baru-baru ini ia mulai menapaki hobi barunya sebagai penulis buku-buku populer. Sulmin dapat dihubungi melalui email: sulmin[at]upr[dot]ac[dot]id atau sulmingumiri [at]yahoo[dot]com.
March 23rd, 2009 at 1:12 am
Ini pemikiran yang langka. Pemiliknya juga langka.
Istri anda orang yang bijak dalam kesederhanaannya.