Label Seorang Penulis

fa1Oleh: Fida Abbott

Apakah Anda menganggap diri sendiri sebagai seorang penulis? Apakah Anda dikenal sebagai seorang penulis oleh khalayak umum? Termasuk jenis penulis apakah Anda? Pertanyaan-pertanyaan di atas mungkin pernah terlintas di benak seseorang sebagai penulis.

Tiga puluh tahun silam, menulis merupakan bagian dari salah satu kegiatan sekolah bagi saya, seperti mengerjakan pekerjaan rumah yang telah diberikan oleh para guru, termasuk di dalamnya menulis halus. Setelah mengenal mata pelajaran Bahasa Indonesia yang mengajarkan tentang mengarang, saat itu saya mulai mengenal salah satu dunia baru. Mengarang awalnya menjadi suatu hal yang cukup mengasyikkan, meskipun akhirnya saya pun sedikit bosan karena tema yang diberikan selalu mengenai hari libur sekolah, mengunjungi nenek di desa, berkebun, membantu ibu di rumah, dan sejenisnya.

Tak ada satu hal yang lebih menarik dari hal tersebut, waktu itu, meskipun saya tergolong masih terlalu muda untuk berpikir ke arah sana. Untunglah, berkat asahan sang Ayah, mulai terbukalah banyak ide dalam menulis. Beliau merupakan salah satu sosok yang turut andil dalam mematri pertumbuhan saya dalam tulis-menulis, meskipun tak selamanya beliau memantau karena tugas negara yang diemban. Paling tidak beliau telah mengarahkan sesuatu kepada saya. Menulis apa saja, yang dilihat, dipikirkan, dirasakan, dialami, diinginkan, dan sebagainya.

Walaupun aktivitas menulis hanya sekadar pengisi waktu, akhirnya membuahkan sesuatu di saat saya berusia sekitar 13 tahun. Saat itu, majalah sekolah akan dipublikasikan pertama kali, dan setiap siswa diharapkan berkontribusi. Tanpa pikir panjang pun ajakan itu menyulut hasrat saya untuk menulis sesuatu. Sesuatu yang pernah terlintas di pikiran saya dan terbuang begitu saja.

Tanpa terasa, dalam waktu tak berapa lama, saya menyelesaikan sebuah cerpen remaja yang saya tulis untuk pertama kalinya. Setelah itu, tanpa pikir panjang lagi, saya meminjam mesin ketik tetangga dan mulailah saya mengetik serta menyerahkannya di hari berikutnya. Puas rasanya, tiada terkira. Kepuasan itu sedikit pudar setelah mengingat berapa jumlah murid di sekolah saya. Kalau murid kelas I SMP di sekolah saya berjumlah sekitar 38-40 murid per kelas, dan apabila jumlah kelas I saat itu adalah sepuluh kelas, maka untuk murid kelas I saja sudah berjumlah 380-400 orang siswa. Jumlah itu belum terhitung untuk kelas II dan III.

Akhirnya, perasaan ciut juga untuk berharap cerpen saya akan dipublikasikan. Apalagi sekolah saya termasuk salah satu sekolah favorit di Kota Pahlawan, yang anak-anaknya umumnya berlevel cukup diperhitungkan di peringkat SMP Negeri. Kesimpulannya, umumnya mereka pandai-pandai dan sangat kreatif. Perasaan itu terus menghantui yang mengakibatkan saya tak lagi memikirkannya, apalagi berharap akan dimuat.

Setelah beberapa minggu berlalu, tiba-tiba seorang pengurus OSIS masuk ke ruangan dan menyerahkan majalah sekolah volume I kepada Ketua Kelas untuk dibagikan ke setiap siswa. Tak berharap apa pun, saya buka majalah itu. Dan, betapa terpananya ketika cerpen saya dimuat di halaman berikutnya sebagai cerpen utama. Jantung saya berdebar mengikuti rasa gembira yang tiba-tiba memuncak. Bahagia tak terkirakan dan tak dapat dikatakan lewat untaian kata. Sejak saat itu saya mulai melirik kemungkinan menulis cerpen lagi, juga puisi untuk majalah sekolah, yang akhirnya tak lama usia keberadaannya.

Beruntunglah, setelah beberapa tahun kegiatan menulis saya berhenti, saya masih memiliki sahabat-sahbat di bangku SMA yang sama-sama menyukai dunia tulis-menulis. Ajang tulis-menulis menjadi meningkat saat itu. Kalau dulu di SD hanya untuk mengisi waktu luang, di SMP untuk mengisi majalah sekolah, maka di SMA saling berlomba mengirimkannya ke surat-surat kabar lokal dan jenis-jenis lomba lainnya yang digelar di Kota Pahlawan.

Masa mahasiswa pun tiba. Fakultas Pertanian yang telah saya pilih tak memungkinkan saya memfokuskan diri ke dunia tulis-menulis lagi. Setiap hari tugas praktikum menumpuk dan harus diselesaikan bila ingin mengikuti praktikum berikutnya. Hingga terkadang, di akhir pekan pun terisi hanya untuk mengerjakan tugas-tugas praktikum. Tak ayal keingingan menulis tenggelam begitu saja.

Masa-masa bekerja juga menyita waktu. Kegiatan menulis pun tak terpikirkan sama sekali. Setelah kepindahan ke Amerika Serikat, salah satu teman setia saya adalah komputer dan internet. Tidak pernah terlewat sehari pun untuk online meskipun hanya mengecek email saja. Suatu hari, saya menemui blog seorang penyair muda yang cukup terkenal, dan sebuah karyanya yang sangat saya sukai dan telah menyentuh hati saya. Dia juga salah seorang rekan dari salah satu sanak famili saya di Surabaya.

Langsung saja saya mencoba menyapanya dengan mengirim sebuah email kepadanya dan disambut dengan baik. Di akhir email-nya dia mengajak saya untuk membuat sebuah blog yang menurutnya sebagai tempat untuk mencurahkan perasaan saya. Istilah umumnya sebagai tempat curhat. Awalnya, benar-benar saya tak mengenal sama sekali mengenai dunia blog, tetapi ajakan itu membuat saya sangat tertarik untuk mencobanya.

Betapa senangnya saya, akhirnya memiliki sebuah blog, meskipun sangat sederhana sekali. Setelah mulai berselancar, saya merasa blog saya tak ada apa-apanya bila dibanding dengan blog lain yang telah saya kunjungi. Atau mungkin dengan perkataan lain, blog saya adalah yang terjelek. Hal ini mengusik hati saya. Mulailah belajar sedikit demi sedikit, dari yang tak mengenal kode HTML, saya mulai belajar sendiri meskipun hanya dasarnya saja. Saya juga mulai melakukan improvisasi sedikit demi sedikit, baik itu penampilan blog maupun content-nya. Ini tidak memerlukan waktu yang pendek. Berbulan-bulan saya belajar sendiri, terutama dalam hal menulis yang tentu saja berpengaruh setelah sekian lama lebih dari 10 tahun lamanya tidak pernah menulis.

Waktu pun berlalu. Dunia blogging sudah menjadi bagian dari aktivitas saya. Rekan-rekan blogger dari berbagai latar belakang telah mengenal saya, bahkan secara terus terang menyatakan kalau mereka menyukai tulisan-tulisan saya, karena memberikan berkat dan inspirasi kepada mereka. Tidak berlebihan bila pernyataan tersebut membuat saya bersyukur, karena memang itulah niat saya ber-blogging-ria. Tidak untuk tempat curhat, tetapi untuk berbagi kepada sesama. Mendengar betapa rekan-rekan blogger menyukai berkunjung ke blog untuk membaca tulisan-tulisan atau warta terbaru saya, sudah merupakan sebuah tanda bahwa di mata mereka saya cukup berpotensi dalam dunia menulis.

Tahun 2008 saya pun terpilih menjadi salah satu finalis untuk kategori blog Personal di ajang Christian Indonesia Blogger Festival (CIBFest 2008). Tujuan saya mengikuti festival itu tidak lain hanya ingin melihat sejauh mana kemampuan saya untuk berkiprah di ajang nasional, sekaligus menimba pengalaman dari ajang tersebut. Jadi, bukan melihat hadiahnya karena terus terang saya pun tidak tertarik dengan hadiahnya, sebuah Ipod Touch untuk pemenangnya. Selain jenis hadiahnya, juga pasti tak akan dapat digunakan di AS karena bentuk electrical penghubungnya pun sudah berbeda. Dan, tak mungkin juga mereka akan mengirimkannya ke AS karena biayanya yang mahal. Bisa jadi, lebih mahal ongkos pengirimannya daripada harga Ipod Touch itu sendiri.

Dua alasan di atas itulah yang mendorong saya mengikuti festival itu. Template lama pun tidak saya ubah, tetapi mengandalkan content-nya saja. Beruntunglah, meskipun hanya sebagai finalis dari ratusan peserta, sudah cukup membuat senang untuk mengukur kemampuan.

Ajang dunia blogging menjadi perhatian saya. Bulan Februari 2009, saya masuk nominasi Best Personal Development Blog di sebuah ajang kontes. Kali ini bukan tingkat nasional tetapi bertaraf internasional. Saingannya pun cukup berat. Saya bersyukur dengan komentar dan voting yang masuk mendukung saya, juga termasuk penilaian team mereka, blog saya pun terpilih sebagai Honorable Mention bulan Februari 2009. Predikat ini tak lebih berpengaruh selain untuk keperluan dunia blogging saja, melainkan komentar-komentar yang ditujukan oleh rekan-rekan blogger itulah yang sebenarnya membuat saya terharu. Benar-benar di luar dugaan dan telah menyentuh hati saya.

Beberapa komentar yang masuk, baik di ajang contest atau melalui email menjadi perhatian saya adalah sebagai berikut:

- 10 stars for Fida! One of my favorite friends online, with a passion to blog and write. Her published work continues to inspire me to be the best writer and blogger I can be, good luck Fida! You rock! (Mariuca, Malaysia)

- The first time I visited her blog, I like to stay there to read all about her personal blog and that time I felt I wanna be her friend. I tried to visit her blog every time if I was blogwalking. Now, we know each other although through bloggosphere world. One day I have to meet her. (Bintang, Dubai)

- My Vote is 10 stars for her!!!!
She is a great and an inspirational woman. I love to read what she wrote. They are different. She presented in her own different ways in her writing style. Never boring to read them. Good luck and success for you!!!! (BaikBear, USA)

- I just Vote 10 Stars, my dear friend. You are an extraordinary woman blogger. Salut! (Wuryanano, Surabaya)

- Madame Fida, I’ve voted for you 10 stars. I know, you are an extraordinary woman, but the most important, your writings inspired to others people. Good Luck! (Sahala, Jakarta)

- Fida’s blog is very useful, inspiring, and motivating me… really. (Edy Zaqeus, Tangerang).

Awal bulan Februari, seorang rekan blogger telah mengundang saya untuk berkontribusi di website motivasi AndaLuarBiasa.com. Dia diminta untuk mencari seorang penulis wanita yang memberikan inspirasi-inspirasi dalam tulisannya. Betapa terkejutnya saya menerima email-nya, ternyata secara diam-diam ia pun memberikan perhatian kepada tulisan-tulisan saya. Kalau pun saya telah dianggap menjadi seorang penulis inspirasional, tanpa pernah terbersit satu pun di benak dan pikiran saya, pernyataan itu merupakan anugerah yang harus diemban untuk terus berbagi melalui tulisan-tulisan saya. Menjadi berkat untuk sesama adalah yang utama bagi saya yang telah menjadikan kegiatan tulis-menulis bagian dari kehidupan saya saat ini.

Apabila Anda mengalami hal serupa, itu merupakan suatu biji yang keluar dari sebuah bunga. Biji itu harus ditumbuhkan pada lahan yang sesuai untuk dapat tumbuh dan berkembang. Hasilnya akan menjadi berkat untuk sesama, entah itu menghasilkan buah yang nikmat atau bunga yang indah.

Suatu hari suami saya pernah berkata bahwa sebagai penulis yang ingin memublikasikan buku-bukunya untuk pertama kali, jangan berharap buku itu akan jadi bestseller. Saya menjawabnya, apabila saya memublikasikan sesuatu, tujuan utama bukan untuk menghasilkan dan mengumpulkan materi, atau menjadi terkenal. Tetapi, jauh di lubuk hati, saya berharap akan banyak menarik minat pembaca yang telah terispirasi oleh tulisan-tulisan saya. Kalaupun menjadi bestseller, itu merupakan suatu anugerah dan sebuah berkat berikutnya yang patut disyukuri.

Kemarin, hari Kamis, 19 Februari 2009, saya menerima sebuah email dari seorang penulis dari salah satu international writer community, sebuah website tempat para penulis bergabung. Ia menulis:

Fida: I read your autobiography article and was impressed with your story. I live in Pennsylvania, too, at the other end of the state from you, in Indiana, PA. I have a friend at the university here, IUP, who is from Indonesia as well. He is from Jakarta.

Memang tanpa diduga artikel saya itu pernah bertahan beberapa bulan sebagai artikel top dari 68 artikel yang masuk, dan saat ini telah berbulan-bulan lamanya bertahan di peringkat kedua. Tentu saja menjadi perhatian bagi mereka yang ingin menulis pada judul yang sama.

Tanpa pikir panjang, saya langsung membalasnya mengucapkan terima kasih. Pagi ini saya mendapat email balasan darinya, memberitahukan bahwa email saya telah masuk ke junk email, dan telah terhapus. Ia meminta saya untuk mengirimkan kembali email balasan saya yang pertama. Sebelum saya membalasnya, terlebih dahulu ingin rasanya mengetahui siapa gerangan penulis tersebut melalui halaman profilnya. Betapa terkejutnya, ternyata ia adalah seorang penulis profesional, mendapat tiga bintang untuk karya-karya tulisnya, dan telah meletakkan saya sebagai penulis favoritnya, hanya seorang.[fa]

Coatesville, 20 Maret 2009

* Fida Abbott adalah Arek Suroboyo yang lahir pada 11 Pebruari 1970 di Surabaya dan sekarang tinggal di Pennsylvania, Amerika Serikat. Ia mengenal dunia tulis menulis sejak usia 8 tahun hasil didikan langsung ayahndanya, Imam Sujono, dan melahirkan cerpen remaja pertamanya berjudul “Kidung Kasih untuk Lintang” pada usia 13 tahun. Menulis merupakan aktivitas lulusan Pertanian jurusan Agronomi dari UPN ‘Veteran’ Surabaya ini. Fida memiliki beberapa pengalaman kerja di bidang landscape, dari proyek kecil hingga besar, dari perumahan tunggal, real estate, hingga hotel, kondominium, apartemen berbintang lima di Surabaya. Ia pernah berkarier di AIG-Lippo, jadi guru les privat, dan kini tercatat sebagai WALMART Associate, menjadi Redaktur Pelaksana Harian Online KabarIndonesia (HOKI), www.kabarindonesia.com sekaligus Direktur Pelatihan Menulis Online HOKI (PMOH). Tulisan-tulisannya tersebar di beberapa media online, antara lain di KabarIndonesia, Helium, Cross-Written, The Daily Avocado, dan ketiga blog-nya di www.fidaabbott.com, www.buanainspiration.blogspot.com dan www.abbottsbooks.com. Fida adalah penulis buku What Prayers does Mommy Teach Me, Dancing in My World, dan buku seri Amerindo Kitchen. Buku seri pertama Amerindo Kitchen sudah terbit dengan judul Fabulous Leftover Turkey.


VN:F [1.6.9_936]
Rating: 8.5/10 (2 votes cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: 0 (from 0 votes)

9 Responses to “Label Seorang Penulis”

  1. Agung Praptapa Says:

    Great Fida. Writing is giving. Cheers!

    UN:F [1.6.9_936]
    Rating: 0.0/5 (0 votes cast)
    UN:F [1.6.9_936]
    Rating: 0 (from 0 votes)
  2. Fida Abbott Says:

    Daer Agung,

    You are absolutely right!

    Thank you for stopping by and read my writing.

    Regards from PA

    UN:F [1.6.9_936]
    Rating: 0.0/5 (0 votes cast)
    UN:F [1.6.9_936]
    Rating: 0 (from 0 votes)
  3. leonisecret Says:

    so Inspiring,sis!
    salam kenal sis..sy besar di sby jg
    sy jg suka menulis yg bisa menginspirasi orang lain. tp msh newbie di blogging. moga bisa berkembang spt punya mba’.tq

    UN:F [1.6.9_936]
    Rating: 0.0/5 (0 votes cast)
    UN:F [1.6.9_936]
    Rating: 0 (from 0 votes)
  4. Fida Abbott Says:

    Hello Leoni,

    Saya senang sekali Leoni telah terinspirasi dgn tulisan dan pengalaman saya. Semoga harapan Leoni akan terkabul. Amin.

    Salam dari PA

    UN:F [1.6.9_936]
    Rating: 0.0/5 (0 votes cast)
    UN:F [1.6.9_936]
    Rating: 0 (from 0 votes)
  5. Fida Abbott Says:

    Helo Leoni,

    Terima kasih dan salam kenal juga. Senang mengetahui bahwa Leoni telah terinspirasi dengan tulisan dan pengalaman saya. Semoga harapan Leoni terkabul ya. Amin.

    UN:F [1.6.9_936]
    Rating: 0.0/5 (0 votes cast)
    UN:F [1.6.9_936]
    Rating: 0 (from 0 votes)
  6. Fita Irnani Says:

    Salut mbak Fida, tulisan mbak mengingatkan masa kecil saya dulu. Mbak beruntung cepat mendapatkan wadah menyalurkan karya. Bedanya dengan saya, cerpen pertama saya terbit ketika saya duduk di kelas tiga SD, dan hanya di konsumsi oleh teman-teman di kelas saya. Tahun ini saya kembali dipertemukan dengan orang-orang yang tak putus menyemangati saya untuk kembali menulis. Luar bisa mbak Fida, saya salut dengan prestasi mbak.

    UN:F [1.6.9_936]
    Rating: 0.0/5 (0 votes cast)
    UN:F [1.6.9_936]
    Rating: 0 (from 0 votes)
  7. Fida Abbott Says:

    Hello Mbak Fita,

    Terima kasih dan saya berharap Fita terus memiliki semangat utk terus menulis. Ingatlah satu hal bahwa berbagi adalah yg lebih utama daripada yang lainnya, yaitu materi dan ketenaran. Dengan ketulusan hati, maka tulisan Fita akan menjadi berkat utk sesama.

    Salam hangat dari PA

    UN:F [1.6.9_936]
    Rating: 0.0/5 (0 votes cast)
    UN:F [1.6.9_936]
    Rating: 0 (from 0 votes)
  8. redhan Says:

    salut buat mbak,inspirasi anda teru memberikan saya inspirasi untuk terus menulis melanjutkan karya perdana saya From Zer0 To Zer000000

    UN:F [1.6.9_936]
    Rating: 0.0/5 (0 votes cast)
    UN:F [1.6.9_936]
    Rating: 0 (from 0 votes)
  9. Fida Abbott Says:

    Mas Redhan,

    Semangat 45 terus ya…

    Salam sukses selalu.

    UN:F [1.6.9_936]
    Rating: 0.0/5 (0 votes cast)
    UN:F [1.6.9_936]
    Rating: 0 (from 0 votes)

Leave a Reply

Comment moderation is enabled. Your comment may take some time to appear.

Motivasi Dunia

Motivasi Dunia

Kolomnis

<
Edy Zaqeus Eni Kusuma Avanti Fontana Alexandra Dewi Miranda Suryadjaja Sofa Nurdiyanti
Anang Y.B. Hartati Nurwijaya Aleysius H. Gondosari Sulmin Gumiri Relon Star Sri Budiastuti
Agus Riyanto Iftida Yasar Fida Abbott Ery Prasetyawan Tanenji Ingrid Gunawan
Maria Saumi Ely Susanti Agung Praptapa Putu Adnyana Fita Irnani Nathalia Sunaidi
M Sebastian Wijaya Abdul Muid Badrun Kak Sugeng Akhmad Sirodz Lisa Nuryanti Abidin Noor
Wuryanano Petriza Giovanni Amelia Devina Tri Wahyuni Endang Setyati Vina Tan
Lianny Hendranata Emmy Angdyani Erawati E. Setyo Hartono Fatma Kartika Sari Supandi Radinal Mukhtar Harahap
Sawali Tuhusetya Gatut Heru Susanto Effendi Budi P. Fajar S. Pramono Ade Asep Syarifuddin Melly Kiong
Guntur Novizal Ida Rosdiana Natapermadi Risfan Munir Sri Julianti Sawiji Farelhana Dewi Rhainy
Deni Kurniawan As’ari Johanes Ariffin Wijaya Indari Mastuti Enggar Kusumaningsiwi Daniel Kurniawan Sayuri Yosiana
A.A. Kunto A. Lina Kartasasmita K. Hanna Fransisca Wahidunnaba Yusuf Tantowi Dwiatmo Kartiko
Meta Sekar Puji Astuti M. Adi Prasetyo Abd. Basid Lily Choo Rina Dewi Lina Berny Gomulya
Zee Cardin M. Iqbal Dawami Sidik Nugroho Emmy Liana Dewi Ridwan Sumantri Dwiyana Apriandini
Andrew Abdi Setiawan Gobind Vasdhev J. I. Michell Suharli Yusnita Rifai Gagan Gartika

Check Google Page Rank

Buku Baru

Obrolan yang Bikin Kamu kaya

Judul: Obrolan yang Bikin Kamu kaya Oleh: Don Gabor Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama, 2009 ISBN: 978-979-22-5073-2 Tebal: xviii + 380 hal Jangan hanya membangun jejaring luas-berjejaringlah dengan cerdas! Obrolan yang Bikin Kamu Kaya menyajikan pendekatan baru revolusioner pada topik berjejaring yang tak lekang waktu. Penulis buku laris dan pelatih komunikasi Don Gabor memperkenalkan Anda [...]

Full Story | February 24th, 2010

Best Viewed With Mozilla FireFox