Kita Hidup untuk Berkompetisi
Editor | Kolom Tetap | July 14th, 2009
Oleh: Sulmin Gumiri*
Kalau kita perhatikan dengan cermat, tidak ada kehidupan di dunia ini yang bebas dari kompetisi. Ilmu pengetahuan modern telah mengajarkan kepada kita bahwa pada semua makhluk apakah tumbuhan, hewan, atau manusia berlaku hukum the survival of the fittest atau siapa yang kuat maka ialah yang akan bertahan. Hukum inilah yang menyebabkan kenapa tidak semua putik bunga akan menjadi buah, atau hanya sebagian saja di antara anak ayam yang baru menetas yang akan menjadi ayam dewasa. Sehebat apa pun ilmu pengetahuan dan teknologi yang dikuasai manusia, tetap saja ada kematian bayi dan selalu saja ada orang yang meninggal di usia muda.
Meskipun kompetisi berlaku untuk semua makhluk, ada yang unik dalam kehidupan manusia. Selain berkompetisi untuk mempertahankan kehidupan sebagaimana juga yang berlaku pada tumbuhan dan hewan, makhluk yang bernama manusia juga berkompetisi dalam memaknai arti kehidupan itu sendiri. Jika dalam berkompetisi untuk mempertahankan kehidupan kita harus mengalahkan orang lain, tidak demikian halnya dalam berkompetisi untuk memaknai kehidupan. Dalam kompetisi yang terakhir ini, pesaing kita bukan orang lain tetapi yang menjadi musuh kita justru adalah diri kita sendiri.
Di dalam setiap individu manusia selalu ada dua sisi yang berhadap-hadapan dan selalu ingin mengalahkan satu dengan yang lainnya. Kedua musuh bebuyutan tersebut adalah sikap mental positif dan sikap mental negatif. Pertikaian antara keduanya mirip dengan permusuhan antara bangsa Israel dan Palestina di Timur Tengah, kadang-kadang tenang dan damai tetapi ada kalanya meledak-ledak tidak terkendali. Pada saat hidup kita nyaman, kedua sikap mental tersebut sepertinya juga sepakat untuk melakukan gencatan senjata permusuhan mereka. Tetapi, begitu ada masalah dalam kehidupan kita, mereka juga segera bangkit dan bertempur habis-habisan untuk memenangkan pertarungan mempengaruhi jalan pikiran kita.
Tidak ada satu orang pun yang tidak memiliki masalah dalam hidupnya. Orang yang tidak berpunya dihadapkan kepada masalah bagaimana mencari makan dari hari ke hari, sedangkan orang kaya mungkin punya masalah bagaimana mengendalikan pola makan mereka agar terhindar dari berbagai penyakit modern seperti hipertensi, diabetes, dan serangan jantung. Murid-murid di sekolah dibuat tegang dan harus berjuang mati-matian agar bisa lulus dalam Ujian Akhir Nasional, tetapi para guru pun tidak kalah stresnya karena takut menerima sangsi jika terjadi penurunan hasil UAS di sekolahnya. Rakyat kecil dipusingkan oleh pemilu yang lalu karena mereka tidak bisa bekerja, tetapi para politisi pun banyak yang jadi lupa ingatan karena sudah banyak keluar biaya tetapi tetap saja tidak terpilih dalam pemilu tersebut.
Jadi, kita semua punya masalah, dan kita semua juga menghadapi pergolakan batin yang sangat hebat antara mengambil sikap mental positif atau sikap mental negatif setiap kali masalah tersebut datang kepada kita.
Persis sama dengan perseteruan permanen antara bangsa Palestina dan Israel, sikap mental positif dan sikap mental negatif juga tidak bisa saling meniadakan dan akan selalu ada dalam diri kita kapan pun dan di mana pun kita berada. Agar kita sukses dalam kehidupan ini, kita harus terus-menerus belajar bagaimana mengendalikan diri sehingga sikap mental positif tersebut selalu bisa meredam sikap mental negatif setiap kali kita dihadapkan kepada suatu persoalan kehidupan.
Karena masih dalam tahap belajar dan terus belajar, saya termasuk orang yang tidak selalu berhasil memenangkan sikap mental positif. Meskipun demikian tidak ada salahnya kalau saya berbagi kepada para pembaca tentang apa saja kiat-kiat yang berusaha saya lakukan agar bisa berpihak kepada sikap mental positif pada saat menghadapi suatu masalah.
Kiat yang pertama adalah menyadari sepenuhnya bahwa setiap masalah tersebut adalah real dan merupakan bagian yang tidak bisa dipisahkan dari kehidupan kita. Karena, kita semua tidak bisa lepas dari masalah dan tidak tahu kapan dan dalam bentuk apa masalah yang akan datang kepada kita, maka satu-satunya yang bisa kita lakukan adalah menyiapkan diri untuk menyambut kedatangan masalah tersebut. Ibarat orang yang akan disuntik, jika kita siap dan sadar bahwa kita memerlukan suntikan tersebut demi kesembuhan penyakit yang kita derita, maka rasa sakit tersebut tidaklah seberapa dibandingkan dengan manfaat kesembuhan yang akan kita dapatkan. Tetapi, bagi yang tidak siap dan berontak karena hanya membayangkan rasa sakitnya saja, mereka bisa pingsan bahkan “hanya” karena rasa dingin alkohol yang dioleskan dokter sebelum menyuntik mereka.
Masalah juga demikian. Ia memang tidak menyenangkan, tetapi sebenarnya mengandung hikmah yang luar biasa karena akan memberikan tambahan pengalaman untuk pengembangan diri kita. Kalau kita senantiasa siap untuk menghadapinya, maka ketidaknyamanan itu hanya akan bersifat sementara dan menjadi tidak seberapa dibandingkan dengan manfaat yang kita dapatkan dari adanya masalah tersebut.
Kiat yang kedua adalah membiasakan mengambil jeda pikiran pada saat menerima masalah. Setiap masalah akan terasa sangat berat apabila datangnya tiba-tiba dan tidak pernah kita predisksi sama sekali sebelumnya. Banyak sekali contoh masalah berat seperti ini, misalnya kematian mendadak orang yang kita cintai, kehilangan barang-barang kita yang sangat berharga, pemutusan hubungan kerja sepihak, penundaan penerbangan tiba-tiba dan termasuk pemadaman listrik mendadak saat kita mengejar deadline artikel untuk Andaluarbiasa.com ini. Jika kita langsung bereaksi terhadap semua kejadian tidak menyenangkan tersebut, maka yang cenderung akan memenangkan pertarungan adalah sikap mental negatif kita. Jika pikiran negatif yang menguasai kita, maka kita biasanya menjadi emosi dan jadilah kita menangis histeris, menyumpah-nyumpah dan menyalahkan orang lain, menyakiti diri sendiri dan bahkan ada yang sampai nekat ingin bunuh diri.
Jeda waktu yang kita perlukan lamanya sangat bervariasi. Untuk masalah-masalah kecil dan umum terjadi, kita hanya cukup berdiam sejenak dan menarik napas dalam-dalam sekadar menenangkan diri untuk menganalisis masalah tersebut secara arif dan bijaksana. Tetapi, untuk permasalahan besar dan sulit untuk dipecahkan, kita kadang-kadang perlu waktu berjam-jam, satu hari, atau bahkan berminggu-minggu untuk mencerna dan berpikir mencari solusi terbaik mengatasi masalah tersebut.
Jika kita terbiasa mengambil jeda, maka kita akan memiliki waktu yang cukup untuk mengatur urutan proses berpikir mulai dari mendudukkan masalah kepada persoalan yang sebenarnya, menentukan sikap sebagai reaksi yang wajar dari masalah tersebut dan kemudian mencari jalan dan mengambil solusi bermanfaat dari kejadian yang baru saja kita alami. Pada kondisi ini berarti kita telah memberikan keberpihakan kepada sikap mental positif kita untuk memenangkan pertarungan batin di dalam diri kita sendiri.
Memang tidak mudah untuk menerapkan kedua kiat di atas. Tetapi—seperti yang sudah saya ungkapkan sebelumnya—kalau ingin sukses kita harus terus-menerus berlatih dan belajar agar semakin terbiasa memberikan keberpihakan kepada sikap mental positif untuk memenangkan pergulatan batin pada saat kita menghadapi setiap masalah. Jadi, mari kita sama-sama belajar mengelola dan mengendalikan kedua musuh bebuyutan yang selalu berkompetisi dalam diri kita sendiri; sikap mental positif dan sikap mental negatif. Wasalam.[sg]
* Sulmin Gumiri adalah seorang pendidik, peneliti, dan profesor di Universitas Palangka Raya. Peraih predikat dosen terbaik di kampusnya tahun 2006 ini memperoleh gelar MSc. dari Nottingham University, Inggris dan gelar PhD dari Hokkaido University, Jepang. Pria disiplin dan pekerja keras ini memiliki hobi membaca buku, gardening dan bermain tenis. Baru-baru ini ia mulai menapaki hobi barunya sebagai penulis buku-buku populer. Sulmin dapat dihubungi melalui pos-el: sulmin[at]upr[dot]ac[dot]id atau sulmingumiri[at]yahoo[dot]com.

Leave a Reply