Kisah Jugun Ianfu dan Mantan Pejuang
Editor | Kolom Lepas | August 18th, 2009
Oleh: Sayuri Yosiana*
Wanita tua itu menatap kosong bendera di seberang kantor walikota di seberang jalan. Di dekat alun-alun, sebuah kota kecil di Jawa Tengah. Pelahan dia duduk di bangku kecil di bawah pohon beringin tua yang masih tampak gagah. Dibukanya bekal makanan dan minuman yang tadi dibawanya selepas berkunjung dari rumah saudara sepupunya, yang kini tinggal menumpang di rumah anak tunggalnya yang sudah menikah. Setiap sebulan sekali wanita tua itu menyempatkan diri berkunjung ke tempat kenalannya. Dia tak punya keluarga sendiri karena tak pernah menikah.
Sebuah mobil sedan keluar dari gerbang gedung kantor pamong praja itu. Lalu, melintas di hadapannya, seraya meninggalkan debu yang langsung menerpa paru-paru setengah tuanya. Dia menutup mulutnya seraya terbatuk. Udara Agustus baginya selalu gersang. Diambilnya minuman botolan, dan direguknya air penyejuk jiwanya yang telah renta.
Perlahan dia kembali menatapi bendera yang berkibar makin megah. Tertiup angin Agustus yang semarak dengan aura kemerdekaan. Hatinya seakan kembali meleleh pedih oleh kisah masa silam. Kisah yang merupakan bagian dari sejarah kelam dirinya, yang juga menjadi bagian kelam sejarah bangsanya.
“Bagero! Cepat sini! Kamu…!Kamu...! Kamu…!” Barisan gadis gadis belia tertunduk di hadapan pasukan seragam tentara Nippon. Saudara tua yang mengaku hendak melindungi Tanah Airnya dari tentara sekutu. Saat itu, di masa tentara Dai Nippon sudah menginjakkan sepatunya yang dibuka lebar-lebar pintunya oleh para petinggi negeri. Dengan perhitungan yang tak mampu mampir ke otak kecilnya waktu itu.
Dan kini, mereka gadis-gadis itu dipaksa membayar semua harga perlindungan yang telah diberikan para Dai Nippon. Harga yang pantas, menurut mereka. Hal yang luput dari dari perlindungan negeri yang masih terengah-engah menggapai kemerdekaannyanya itu.
“Heh, kamu Maryati san, heh? Sini kamu, cantik ya. Mau melayaniku lebih dulu, hah? Hayo, jawab maryati san! Tulikah? Hahaha... wakarimashita!”
Dirasakannya lengannya ditarik. Dengan segala kepedihan dilupakannya rasa terhina yang berdesir di seluruh pori-pori tubuhnya yang belia. Kehormatan yang harus dibayar karena tak mampu membela bangsanya seperti para pemuda di garis depan sana.
“Duh, Gusti Allah, mengapa aku tak kau ciptakan sebagai lelaki? Inikah harga yang harus kubayar untuk negeriku?”
Nenek tua sejenak memejamkan matanya. Air matanya mulai menggenang. Perlahan batinnya mengucap kata syukur, bahwa dirinya masih diberi kehidupan. Meski di sebelah hatinya, sempat meragu, benarkah hidup hingga kini jauh lebih baik dibanding mati saja waktu itu?
Seorang pengemis tua pelahan menghampirinya. Duduk di sampingnya. Dikiranya sang nenek mungkin sama nasib dengan dirinya. Hanya seorang pengemis di kota yang lengang ini. Menatap wajah sendu di sampingnya, sang pengemis tiba-tiba merogoh kantungnya. Diulurkannya selembar uang ribuan lusuh. Diselipkannya di genggaman sang nenek tua yang telah membuatnya iba. Sang nenek menggeleng, namun si pengemis yang juga sudah uzur itu bersikeras menolak kembali uang yang diberikan si nenek.
Lalu, sambil menatap ke arah seberang gedung pamong praja, di mana Sang Saka Merah Putih tengah melambai-lambai pada kedua insan renta itu, si pengemis berkata pelahan seakan pada dirinya sendiri. “Nek, bendera itu mungkin tak kan berkibar semegah itu andai tak ada orang-orang seperti kita di masa lalu.”
Sang nenek tak memahami ucapannaya. Sang pengemis menoleh, “Nenek juga pernah di garis depan? PMI misalnya?” tanyanya pelan.
Sang nenek terkesima, tiba-tiba teringat lagi pengalaman buruknya yang tadi sempat dikenangnya sebentar. Perlahan wajahnya memerah, dengan bergetar mulutnya mengeluarkan desisan sedih.
Si pengemis kaget, digenggamnya tangan si nenek tua. “Maafkan Nek, saya memang suka bernostalgia bila bertemu orang-orang yang kiranya sebaya dengan saya. Teman-teman saya yang berjuang di masa lalu juga banyak yang nasibmya seperti kita. Menjadi pengemis,” ujarnya sedih.
Sang nenek menganggukkan kepala, diusapnya sudut matanya. Tak ingin dia berbagi kisah dengan orang yang baru dikenalnya. Apalagi dengan mantan pejuang yang nasibnya juga nelangsa. Si pengemis akhirnya mohon diri.
Dengan pandangan lesu si nenek yang dulunya bernama Maryati itu terus menatap langkah renta si kakek tua, mantan pejuang yang mulai berjalan menjauhinya. Hatinya semakin meleleh, ternyata dia tidak sendiri.
“Duh Gusti Allah, limpahilah negeri ini dengan rahmat-Mu. Agar anak cucu kami tak akan pernah merasakan apa yang kami rasakan di masa lalu….” Sebuah doa kecil, lirih terucap dari sudut hatinya yang renta, “Biarkan Sang Saka itu tetap berkibar, meski kami sudah tak ada lagi di dunia. Amin.”
Sang nenek mulai membereskan sisa bekalnya. Dia bangkit dari bangku kecilnya dan mulai berjalan menyusuri jalan berdebu ke arah selatan. Ia menuju ke sebuah panti jompo yang didirikan berkat bantuan pemerintah Jepang untuk para mantan Jugun Ianfu—sebagai pengakuan rasa bersalah atas kelakuan para pajuritnya di masa lalu.
Dan, salah satu penghuninya adalah dirinya sendiri. Sang Melati Pertiwi yang telah menggoreskan sejarahnya sendiri lewat perjalanan bangsanya, di masa lalu.[sy]
* Sayuri Yosiana lahir di Jakarta, senang membaca dan menulis. Pernah mengikuti kuliah jurnalisme di Institut Ilmu Sosial dan Politik. Menyukai sejarah dan kesehatan holistik. Aktivitas sehari-hari adalah mengelola sebuah situs kesehatan holistik Kabarsehat.com dan membantu mempromosikan Sekolah Online Visikata.com. Nama penanya adalah DaraJingga. Karya-karya Sayuri Yosiana dapat dilihat melalui blog pribadi Kuberpuisi.wordpress.com dan Penakubicara.wordpress.com. Yossi demikian nama panggilan dari Sayuri Yosiana dapat dikontak melalui pos-el: darajingga28[at]gmail[dot]com.
Catatan: Didedikasikan untuk para Jugun Infu, di mana pun mereka berada, dan para pejuang yang tak dikenal dalam sejarah. Selamat merayakan hari kemerdekaan duhai Bumi Pertiwi.
August 18th, 2009 at 1:40 pm
kisah yang menarik…
August 19th, 2009 at 11:17 am
ceritanya sangat menggugah mbak, makasih ya.
September 27th, 2009 at 2:14 pm
Hai,stlah q bc ttg ksh jugun ianfu dan mntnnza q mrs sdh ‘n prhatin ats ap yg tlh menmp khdpn prmpn wnt Indonesia kita krnza Jepang jangan menyiksa smua wanita Indonesia lagi
April 12th, 2010 at 5:36 pm
crita_a bagus,,
saya kagum ,, sangat mnggugah,,,
April 17th, 2010 at 4:35 pm
boleh juga ceritanya
June 5th, 2010 at 6:28 pm
memang jugun ianfu adalah sejarah yg sangat menyedihkan .tetapi mereka berjuang untuk bebas dariperbudakan sex/jugun ianfu begitu juga para perempuan indonesia sekarang harus tidak kalah dg perempuan jaman dulu!!!!
August 22nd, 2010 at 8:09 pm
ternyata nasib veteran tidak jauh lebih baik…
kiranya kisah ini dapat menggugah hati pembaca dan pemerintah lebih memperhatikan veteran-veteran yang ada di negri ini
January 25th, 2011 at 2:57 pm
Memberi spirit bg hidup kita untuk berbuat banyak dan memberikan pengorbanan bagi orang banyak meskipun pada akhirnya kita terpuruk namun tak sia2.
March 14th, 2011 at 12:01 pm
Mungkin kisah Jugun Ianfu ini dianggap aib oleh banyak orang.Meski begitu,para wanita Jugun Ianfu adalah pejuang-pejuang negara Indonesia yang tak’kan pernah dilupakan.
March 29th, 2011 at 12:01 pm
walaupun cuma kisah pendek, tepi menyentuh bgt!! keereeeeennn..
kita para pemuda sangat berhutang pada rahim-rahim orang seperti maryati itu..
June 25th, 2011 at 1:26 pm
kisah pahit perjuangan bangsa ini.. jangan pernah lupa, semua yg ada sekarang ini, salah satunya dibangun diatas peneritaan Ibu Maryati diatas…