Ketenangan dalam Secangkir Teh

abOleh: Abd Basid*

Tidak banyak orang tahu akan asal usul teh. Konon suatu hari Kaisar Shen Nung dari China akan minum air mendidih. Ternyata beberapa daun jatuh dari pohon karena tertiup angin sehingga terjatuh dari panci berisi air mendidih tersebut. Bukannya mengangkat daun dari panci, Sang Kaisar malah memutuskan untuk mencicipi air rebusan itu. Tidak disangka air rebusan itu sedap dan menyegarkan tubuh.

Secangkir teh memang lebih bersahabat ketimbang secangkir kopi. Secangkir kopi mungkin akan dan sering dinikmati para pecandu rokok, akan tetapi secangkir teh sering dinikmati semua kalangan—baik itu pecandu rokok atau bukan, baik itu kaum Adam maupun Hawa. Ketika orang terkena pilekpun dan “bernafsu” untuk menikmati minuman selain air putih, sudah pasti pilihannya akan jatuh pada teh hangat. Bahkan saking akrabnya, tidak jarang kata “teh” sering digunakan untuk menunjukkan keselarasan dan analogi kesemangatan, seperti yang penulis temukan dalam judul salah satu pengantar penerbit buku Sekuntum Nyawa untuk Sahabat, bertuliskan “Secangkir Teh Hangat dari Penerbit”.

Aroma teh memang sangat memesona. Aroma harum teh akan langsung tercium tatkala diseduh. Ketenangan dan kenikmatan akan terasa saat diseruput. Ada aroma dan kenikmatan tersendiri dalam teh. Apalagi diminum di sore hari—baik dalam kesendirian maupun dalam kebersamaan—dikala senja sudah menampakkan merahnya.

Minum teh di sore hari merupakan kebiasaan orang-orang Eropa. Untuk mencari ketenangan di sore hari setelah seharian menyibukkan diri, tidak sedikit dari mereka yang menghabiskannya sambil meminum teh. Bahkan bagi sebagian besar orang minum teh bukan hanya untuk menghilangkan dahaga, melainkan lebih dari itu, untuk mencari ketenangan, apalagi setelah seharian menyibukkan diri. Nikmat sekali.

Di Indonesia hal seperti itu mungkin masih jarang. Masyarakat Indonesia masih lebih memilih jalan-jalan ke toko, mal, dan sejenisnya. Padahal dalam secangkir teh ada ketenangan yang tidak kalah nikmatnya dibanding jalan-jalan ke toko dan mal. Namun, belakangan ini banyak masyarakat Indonesia yang mulai terbiasa bersahabat dengan (secangkir) teh.

Penulispun demikian. Secangkir teh yang menemani penulis dalam menulis kadang mendatangkan ketenangan, yang efeknya dapat mendatangkan imajinasi cemerlang. Namun, bukan berarti penulis menuhankan secangkir teh, akan tetapi penulis rasa setiap sesuatu membutuhkan satu yang lain, baik itu yang bergerak atau tidak. Dan secangkir teh mungkin bisa dikatakan perangkat lunak dalam ketenangan dan bersantai. Tulisan inipun ditemani secangkir teh yang pastinya dibalut dengan doa.

Teh mempunyai banyak jenis. Setiap jenis teh mempunyai pengaruh masing-masing. Sebut saja seperti teh hitam dan hijau. Teh hitam dan teh hijau dengan aroma melatinya dapat menyegarkan. Sementara teh putih mempunyai pengaruh dan memberi efek menenangkan. Bahkan ada beberapa jenis teh herbal dapat berefek dan membuat penikmatnya lebih rileks dan cocok dinikmati sebelum tidur. Hal ini bisa ditemukan seperti pada jenis teh herbal cammomele.

Apakah hal di atas mengada-ada? Tentu tidak. Hal di atas benar adanya. Apabila kita tidak melihat apa yang terkandung pada teh mungkin terkesan mengada-ada. Teh mengandung diantaranya; Pertama, antioksidan. Antioksidan yang dimiliki teh memberikan perlindungan bagi tubuh dari penuaan ataupun efek dari polusi. Kedua, berkafein lebih rendah dari kopi. Kopi biasanya mempunyai kafein 2 hingga 3 kali lipat lebih banyak dari teh. Secangkir kopi mengandung sekitar 135 mg kafein, sedangkan kafein di teh dengan ukuran yang sama, hanya terdapak kafein sebanyak 30-40 mg saja. Ketiga, melindungi tulang. Tidak hanya susu yang ditambahkan pada teh yang dapat memperkuat tulang. Akan tetapi juga ada pada teh. Ada sebuah penelitian yang menemukan bahwa orang yang telah meminum teh lebih dari 10 tahun memiliki tulang yang kuat. Ini mungkin disebabkan oleh phytochemical yang terkandung di dalam teh. Keempat, memberikan senyuman yang indah. Bukan teh yang menyebabkan kerusakan gigi, namun gula yang dicampurkan di dalamnya yang mempunyai efek buruk pada gigi. Teh sendiri mengandung flouride yang menjauhkan plak dari gigi, sehingga seseorang tidak akan malu dan grogi untuk tersenyum. Kelima, meningkatkan pertahanan tubuh. Dalam arti, dengan minum teh tubuh bisa terhindar dari infeksi. Keenam, menjaga tubuh untuk tidak kekurangan cairan. Selama ini minuman yang mengandung kafein dianggap tak dapat dikategorikan dalam minuman yang memberi kontribusi cairan bagi tubuh. Namun para peneliti ternyata menemukan bahwa minuman berkafein dapat memberikan kontribusi cairan yang sama dengan minuman lain.

Itulah salah satu logikanya, mengapa teh dapat mendatangkan ketenangan dan kesegaran pada tubuh dan cocok untuk segala suasana, terlebih lagi suasana nyantai—baik dalam kesendirian dan kebersamaan.[abb]

Oleh: Abd. Basid, jurnalis Ikatan Mahasiswa Alumni Bata-Bata (IMABA) wilayah Surabaya. Selain itu penulis aktif sebagai anggota Forum Lingkar Pena (FLP) ranting IAIN Sunan Ampel Surabaya. Penulis bisa dihubungi lewat http://lingkaran-koma.blogspot.com.

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 9.7/10 (3 votes cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: +4 (from 4 votes)

2 Responses to “Ketenangan dalam Secangkir Teh”

  1. blog ioneday Says:

    teh memang sangat berhasiat untuk kesehatan.

    UN:F [1.6.9_936]
    Rating: 0.0/5 (0 votes cast)
    UN:F [1.6.9_936]
    Rating: 0 (from 0 votes)
  2. SEO kecil Says:

    Mencoba mengubah kebiasaan minum kopi ke Teh.

    UN:F [1.6.9_936]
    Rating: 0.0/5 (0 votes cast)
    UN:F [1.6.9_936]
    Rating: 0 (from 0 votes)

Leave a Reply

Comment moderation is enabled. Your comment may take some time to appear.

Motivasi Dunia

Motivasi Dunia

Kolomnis

<
Edy Zaqeus Eni Kusuma Avanti Fontana Alexandra Dewi Miranda Suryadjaja Sofa Nurdiyanti
Anang Y.B. Hartati Nurwijaya Aleysius H. Gondosari Sulmin Gumiri Relon Star Sri Budiastuti
Agus Riyanto Iftida Yasar Fida Abbott Ery Prasetyawan Tanenji Ingrid Gunawan
Maria Saumi Ely Susanti Agung Praptapa Putu Adnyana Fita Irnani Nathalia Sunaidi
M Sebastian Wijaya Abdul Muid Badrun Kak Sugeng Akhmad Sirodz Lisa Nuryanti Abidin Noor
Wuryanano Petriza Giovanni Amelia Devina Tri Wahyuni Endang Setyati Vina Tan
Lianny Hendranata Emmy Angdyani Erawati E. Setyo Hartono Fatma Kartika Sari Supandi Radinal Mukhtar Harahap
Sawali Tuhusetya Gatut Heru Susanto Effendi Budi P. Fajar S. Pramono Ade Asep Syarifuddin Melly Kiong
Guntur Novizal Ida Rosdiana Natapermadi Risfan Munir Sri Julianti Sawiji Farelhana Dewi Rhainy
Deni Kurniawan As’ari Johanes Ariffin Wijaya Indari Mastuti Enggar Kusumaningsiwi Daniel Kurniawan Sayuri Yosiana
A.A. Kunto A. Lina Kartasasmita K. Hanna Fransisca Wahidunnaba Yusuf Tantowi Dwiatmo Kartiko
Meta Sekar Puji Astuti M. Adi Prasetyo Abd. Basid Lily Choo Rina Dewi Lina Berny Gomulya
Zee Cardin M. Iqbal Dawami Sidik Nugroho Emmy Liana Dewi Ridwan Sumantri Dwiyana Apriandini
Andrew Abdi Setiawan Gobind Vasdhev J. I. Michell Suharli Yusnita Rifai Gagan Gartika

Check Google Page Rank

Buku Baru

Obrolan yang Bikin Kamu kaya

Judul: Obrolan yang Bikin Kamu kaya Oleh: Don Gabor Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama, 2009 ISBN: 978-979-22-5073-2 Tebal: xviii + 380 hal Jangan hanya membangun jejaring luas-berjejaringlah dengan cerdas! Obrolan yang Bikin Kamu Kaya menyajikan pendekatan baru revolusioner pada topik berjejaring yang tak lekang waktu. Penulis buku laris dan pelatih komunikasi Don Gabor memperkenalkan Anda [...]

Full Story | February 24th, 2010

Best Viewed With Mozilla FireFox