Kesempatan yang Berharga

lkk1Oleh: Lina Kartasasmita*

“Yesterday is gone. Tomorrow has not yet come. We have only today. Let us begin.”

~ Mother Teresa

Suatu hari saya mengunjungi rumah duka, di tempat orang menangisi suatu perpisahan yang abadi. Sebenarnya apa yang memicu kesedihan itu? Sering menjadi perenungan saya, baik orang kaya ataupun orang miskin, tua atau muda, yang ada hanyalah kesedihan.

Apa sih yang membuat kita berduka ketika kehilangan orang yang kita kasihi? Apakah perpisahan itu sendiri? Atau, ketika kita tahu kita tak lagi bersama mereka dan hanya kenangan yang tersisa? Jawabannya menjadi beragam.

Mengamati orang-orang di rumah duka selalu saja menarik perhatian saya. Suatu waktu saya mendengar orang berbicara tentang kenangan-kenangan yang tak terlupakan dengan orang yang telah meninggal dunia. Atau, saya dengar cerita tentang bagaimana mereka menghabiskan waktu untuk merawat sebelum Tuhan memanggilnya. Tapi yang paling menarik adalah ketika orang menyatakan betapa menyesalnya dia karena belum melakukan hal tertentu, sementara waktu telah berakhir. Sepertinya, banyak pekerjaan yang belum terselesaikan, banyak kenangan yang harusnya masih dapat diukir dalam kehidupan ini.

Perasaan menyesal yang paling dalam itulah yang sering melanda orang yang ditinggalkan. Perasaan yang mengatakan, “Seandainya aku tahu kau akan pergi… Aku akan melakukan ini dan itu bersamamu, “Seandainya tadi aku mengatakan bahwa aku mencintaimu, seandainya aku telah mengatakan bahwa aku telah memaafkanmu….” Perasaan menyesal itulah yang memberikan tekanan terberat dalam perpisahan. Jadi, kita tidak menangisi “perpisahan” tapi kita menangisi “kesempatan yang hilang”.

Ada banyak kesempatan dalam hidup kita untuk mengungkapkan perasaan kita, tapi kesempatan itu berlalu tanpa kita pakai. Sering dalam hidup kita luput memuji anak-anak kita, kita lupa mengatakan bahwa kita mencintai orang tua kita, kita menghindari untuk memaafkan atau meminta maaf. Bilamana kesempatan itu berlalu dari hidup kita, kita tak lagi mampu menjembatani waktu, dan hanya penyesalan-penyesalan yang ada. Itulah kepedihan dan kesedihan yang mendalam.

Apakah yang kita lakukan ketika kita duduk bersama orang tua kita? Apa yang kita katakan ketika anak kita meminta perhatian kita? Apa yang kita perbuat ketika sahabat kita meminta pertolongan kita? Sering kali kita duduk bersama orang tua kita, tapi kita hanya memikirkan pekerjaan kita. Kita tidak mengukir kenangan bersama mereka. Perhatian kita tidak kepada anak kita pada saat mereka mengharapkan kita memujinya dan mendengarkan mereka. Kita tidak rela meminjamkan telinga untuk mendengar keluh kesah sahabat kita, yang mana kesempatan itu ada bagi kita untuk melakukan kebaikan, mengukir kenangan, dan menjadi saluran berkat. Kita seringnya justru tidak melihat kesempatan itu.

Banyak orang terperangkap pada masa lalu, menangisi masa lalu, menyesali masa lalu, hingga lupa kalau saat ini dia tidak lagi hidup di masa lalu. Ada banyak orang hidup hanya untuk masa depan, bahkan segalanya untuk masa depan sampai tidak peduli saat sekarang. Padahal, apa yang bisa kita perbuat saat ini jauh lebih penting karena ini adalah masanya. Kita tidak tahu hari esok, kita tak lagi kembali ke masa lalu. Jadi, saat ini adalah saatnya bagi kita untuk tidak membuat waktu berlalu dan menghasilkan penyesalan-penyesalan dalam hidup kita.

Ayo… kita jadikan hari ini hari untuk mengukir kenangan, hari untuk kita menyatakan kasih kepada orang tua kita, anak-anak kita, dan kepada orang-orang yang kita kasihi. Ayo kita menjadi berkat bagi orang lain di saat ini, pada KESEMPATAN ini.[lkk]

*Lina Kartasasmita lahir di Jakarta 1966, lulusan sarjana akuntansi yang memilih menjadi guru dan ibu rumah tangga. Aktif di Toastmaster Club, suka menulis dan mencintai dunia pendidikan. Sejak 6 Oktober 2009, Lina aktif sebagai Kolomnis Tetap AndaLuarBiasa.com sekaligus mengelola grup website ini di Facebook. Tulisan-tulisan Lina terdapat di www.wisdom-to-share.blogspot.com atau www.wisdom-to-share.blog.friendster.com. Pos-el: Lkartasasmita[at]hotmail[dot]com.

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 9.0/10 (1 vote cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: 0 (from 0 votes)

2 Responses to “Kesempatan yang Berharga”

  1. Imam Syahputra Jaya Ginting Says:

    LUAR BIASAAA… malah saya yang terbalik berfikir mbak.. soalnya mbak masih berfikir rasional dan idealis di kerumunan orang2 yang dihujuni oleh rasa haru diperasaan mereka..
    saya tahu, pasti karena mbak selama hidup mbak selalu memberi dan mendoakan orang2 disikitar mbak.. sehingga orang yang tlah pergi meninggalkan mbak bukan hari itu saja mbak mengenangnya, tapi selamanya mbak kenang dan mendoakannya, karena selama hidupnya, mungkin mereka adalah inspirasi hidup mbak kan.. smua tercipta karena mbak senang akan berbagi, menghargai dan menghormati orang2 di sekeliling mbakkk…

    mohon diluruskan mbak jika ada kata yang kurang tepat..

    UN:F [1.6.9_936]
    Rating: 0.0/5 (0 votes cast)
    UN:F [1.6.9_936]
    Rating: 0 (from 0 votes)
  2. yusally Says:

    saya adalah pembaca artikel anda,menurut saya tulisan2 anda benar benar luar biasa,dan mampu mendorong seseorang untuk berbuat lebih baik lagi,dan saya juga mohon ijin kepada anda untuk menerbitkannya di blog saya tanpa mengurangi suatu katapun dan sumbernya,mengapa?? karena tulisan anda benar benar bagus dan luar biasa dan sudah sepantasnya untuk di share kepada mereka yang mau membuka diri,tks….

    UN:F [1.6.9_936]
    Rating: 0.0/5 (0 votes cast)
    UN:F [1.6.9_936]
    Rating: 0 (from 0 votes)

Leave a Reply

Comment moderation is enabled. Your comment may take some time to appear.

Motivasi Dunia

Motivasi Dunia

Kolomnis

<
Edy Zaqeus Eni Kusuma Avanti Fontana Alexandra Dewi Miranda Suryadjaja Sofa Nurdiyanti
Anang Y.B. Hartati Nurwijaya Aleysius H. Gondosari Sulmin Gumiri Relon Star Sri Budiastuti
Agus Riyanto Iftida Yasar Fida Abbott Ery Prasetyawan Tanenji Ingrid Gunawan
Maria Saumi Ely Susanti Agung Praptapa Putu Adnyana Fita Irnani Nathalia Sunaidi
M Sebastian Wijaya Abdul Muid Badrun Kak Sugeng Akhmad Sirodz Lisa Nuryanti Abidin Noor
Wuryanano Petriza Giovanni Amelia Devina Tri Wahyuni Endang Setyati Vina Tan
Lianny Hendranata Emmy Angdyani Erawati E. Setyo Hartono Fatma Kartika Sari Supandi Radinal Mukhtar Harahap
Sawali Tuhusetya Gatut Heru Susanto Effendi Budi P. Fajar S. Pramono Ade Asep Syarifuddin Melly Kiong
Guntur Novizal Ida Rosdiana Natapermadi Risfan Munir Sri Julianti Sawiji Farelhana Dewi Rhainy
Deni Kurniawan As’ari Johanes Ariffin Wijaya Indari Mastuti Enggar Kusumaningsiwi Daniel Kurniawan Sayuri Yosiana
A.A. Kunto A. Lina Kartasasmita K. Hanna Fransisca Wahidunnaba Yusuf Tantowi Dwiatmo Kartiko
Meta Sekar Puji Astuti M. Adi Prasetyo Abd. Basid Lily Choo Rina Dewi Lina Berny Gomulya
Zee Cardin M. Iqbal Dawami Sidik Nugroho Emmy Liana Dewi Ridwan Sumantri Dwiyana Apriandini
Andrew Abdi Setiawan Gobind Vasdhev J. I. Michell Suharli Yusnita Rifai Gagan Gartika

Check Google Page Rank

Buku Baru

Obrolan yang Bikin Kamu kaya

Judul: Obrolan yang Bikin Kamu kaya
Oleh: Don Gabor
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama, 2009
ISBN: 978-979-22-5073-2
Tebal: xviii + 380 hal

Jangan hanya membangun jejaring luas-berjejaringlah dengan cerdas!
Obrolan yang Bikin Kamu Kaya menyajikan pendekatan baru revolusioner pada topik berjejaring yang tak lekang waktu. Penulis buku laris dan pelatih komunikasi Don Gabor memperkenalkan Anda pada empat gaya berjejaring—Kopetetif, Supel, [...]

Full Story | February 24th, 2010

Best Viewed With Mozilla FireFox