Kepuasan Memberikan Kenyamanan?

Eni KusumaOleh: Eni Kusuma*

Merasa puas dengan apa yang dimiliki dan merasa tidak puas dengan apa yang dimiliki, sama-sama tidak bisa memberikan kenyamanan. Yang bisa memberikan kenyamanan adalah yang memiliki kedua-duanya.”
~ Eni Kusuma

Jika Anda bingung dengan judul dan ungkapan saya di atas, Anda tidak sendirian. Saya sendiri mulanya juga bingung dengan apa yang saya utarakan tersebut. Namun, setelah saya pelajari saya pun mengerti.

Sejak kita masih TK, kita tentu mengenal anjuran yang selalu dikhotbahkan oleh orang tua kita dan mungkin orang lain yang menasihati untuk selalu merasa puas dengan apa yang dimiliki. Dengan demikian, kita akan merasa nyaman, damai, dan tenteram dalam menjalani hidup. Cara berpikir dan cara pandang seperti ini sudah lumrah oleh kebanyakan orang. Bersedihlah, dan Anda salah satunya akan mendapatkan pencerahan seperti ini.

Tetapi, nasihat ini akan membuat Anda merasa nyaman untuk sesaat. Kenapa sesaat? Karena, dengan merasa “puas terhadap apa yang dimiliki” saja, Anda tidak akan berkembang, bisa-bisa mundur. Sedangkan orang yang berkembang maju adalah orang yang merasa tidak puas dengan apa yang dimiliki. Anda tentu tahu, tidak bisa berkembang akan menimbulkan ketidaknyamanan. Itulah kenapa anjuran “puas terhadap apa yang dimiliki” akan memberikan kenyamanan sesaat, dan Anda akan kembali merasa tidak nyaman.

Hidup ini dinamis bukan statis. Kita harus mengambil prinsip dan strategi sekalipun berlawanan; kita ambil dua-duanya agar bisa kita terapkan dalam kenyanaman hidup kita.

Mari kita ambil contoh sebagai pembelajaran kita. Orang-orang yang berpikir “puas terhadap apa yang dimiliki” berbunyi: “Renungkanlah dunia seisinya. Banyak dipan-dipan putih di rumah sakit ditiduri oleh ribuan manusia yang terkena penyakit ringan maupun yang mematikan. Banyak penjara yang terdapat ribuan manusia di belakang terali besi, yang hidup nista dan tidak menikmati kehidupan mereka. Banyak rumah sakit jiwa yang dihuni oleh orang yang kehilangan akal sehatnya. Adanya bencana, perang, dan seterusnya. Bukankah di sini kita terlindungi, selamat, sehat, baik, tentram, aman, dan damai meski kita hidup sangat sederhana? Toh, kita mati juga tidak membawa harta, istana, atau pesawat pribadi? Yang kita bawa hanya selembar kain putih. Jadi, bersyukurlah dan puaslah dengan apa yang telah engkau miliki.”

Tidak ada yang salah dengan pikiran di atas, malah kedengarannya sangat menenteramkan hati dan membuat kita nyaman. Karena, memang demikian adanya. Tetapi, pikiran semacam ini memicu timbulnya kemalasan, yaitu “Tidak aku lakukan sesuatu yang akan mengorbankan tidur nyenyak dan istirahatku karena aku bersyukur dan puas dengan apa yang aku miliki.”

Sayang sekali, di saat orang-orang di sekitar kita berkembang pesat dengan kekayaan, karya, dan prestasi yang luar biasa, kita hanya berjalan di tempat. Apakah kita akan terus merasa nyaman dengan terus berjalan di tempat dan berputar-putar pada pola yang sama tanpa ada perkembangan?

Berpikir puas terhadap apa yang dimiliki adalah sangat penting. Cara pandang seperti itu begitu indah dan menntramkan hati. Tetapi, bisa juga dibelokkan menjadi cara mudah untuk menutupi kemalasan! Padahal, konsep ini begitu agung, tetapi sayangnya juga tercemar oleh orang yang tidak mau repot dan malas berjuang.

Apakah itu anak-anak kita yang mengatakan, “Sudahlah, Ma. Dapat nilai enam juga mesti bersyukur, karena banyak lho, teman-temanku yang mendapat nilai dibawah itu.” Atau, suami kita yang bilang, “Sudahlah, Ma. Kita harus melihat ke bawah, jangan melihat ke atas. Kita harus bersyukur dan puas dengan pekerjaan Papa, meskipun pas-pasan. Banyak lho, orang yang kena PHK, kabarnya ribuan.”

Sebaliknya, berpikir tidak puas dengan apa yang dimiliki sudah dicap sebagai sesuatu yang berdosa, karena berarti keserakahan dan ketamakan, yang berarti pula tidak mau mensyukuri apa yang telah dianugerahkan Tuhan padanya.

Untuk orang-orang yang memuja berpikir “puas terhadap apa yang dimiliki” serta meremehkan cara berpikir “tidak puas dengan apa yang dimiliki”, silakan menjadi orang-orang yang biasa-biasa saja.

Berpikir “puas terhadap apa yang dimiliki” hendaknya dijadikan sebagai pertahanan diri atau antisipasi untuk menghadapi berbagai kemungkinan terjadinya kesulitan dan kegagalan dalam proses pencapaian cita-cita. Jadi, kita tidak akan merasa bersedih atau depresi.

Karena itu, berpikirlah “tidak puas terhadap apa yang dimiliki”, karena pikiran ini akan memberi landasan bagi keoptimisan kita dalam pencapaian cita-cita. Dan, berpikirlah “puas terhadap apa yang dimiliki” untuk antisipasi dalam munculnya berbagai penderitaan yang ada. Milikilah kedua-duanya untuk keseimbangan yang akan memberikan kenyamanan hidup Anda! Bukankah, demikian?[ek]

* Eni Kusuma adalah nama pena Eni Kusumawati, perempuan kelahiran Banyuwangi, 27 Agustus, 31 tahun yang lalu. Ia berangkat dari menulis puisi dan fiksi. Puisinya dibukukan bersama seratus penyair Indonesia dengan judul Yogya, 5,9 Skala Richter, sementara cerita fiksinya bertebaran di berbagai media dan juga dibukukan. Ia bercita-cita mendirikan sekolah gratis dan rumah baca di Banyuwangi. Pendidikan formal terakhir di SMUN 1, Banyuwangi (1995). Sementara, pendidikan nonformalnya, S-1 di Pembelajar.Com (2006 sampai sekarang), dan S-2 di Andaluarbiasa.Com (15 Januari 2009 sampai sekarang). Eni menjadi pembantu rumah tangga di Hong Kong tahun 2001-2007. Eni, yang ketika kecil menderita gagap bicara ini, kini menjadi seorang motivator dan telah memberikan seminarnya di berbagai perusahaan, lembaga sosial, birokrasi pemerintahan, serta berbagai kampus di seluruh Indonesia. Eni adalah penulis buku laris Anda Luar Biasa!!! (Fivestar, 2007). Saat ini ia tengah menyelesaikan buku motivasi kedua dan ketiganya. Silahkan hubungi Eni di ek_virgeus[at]yahoo[dot]co[dot]id atau enikusuma[at]ymail[dot]com , HP: 081 389 641 733.

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 8.0/10 (1 vote cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: +2 (from 2 votes)

Leave a Reply

Comment moderation is enabled. Your comment may take some time to appear.

Motivasi Dunia

Motivasi Dunia

Kolomnis

<
Edy Zaqeus Eni Kusuma Avanti Fontana Alexandra Dewi Miranda Suryadjaja Sofa Nurdiyanti
Anang Y.B. Hartati Nurwijaya Aleysius H. Gondosari Sulmin Gumiri Relon Star Sri Budiastuti
Agus Riyanto Iftida Yasar Fida Abbott Ery Prasetyawan Tanenji Ingrid Gunawan
Maria Saumi Ely Susanti Agung Praptapa Putu Adnyana Fita Irnani Nathalia Sunaidi
M Sebastian Wijaya Abdul Muid Badrun Kak Sugeng Akhmad Sirodz Lisa Nuryanti Abidin Noor
Wuryanano Petriza Giovanni Amelia Devina Tri Wahyuni Endang Setyati Vina Tan
Lianny Hendranata Emmy Angdyani Erawati E. Setyo Hartono Fatma Kartika Sari Supandi Radinal Mukhtar Harahap
Sawali Tuhusetya Gatut Heru Susanto Effendi Budi P. Fajar S. Pramono Ade Asep Syarifuddin Melly Kiong
Guntur Novizal Ida Rosdiana Natapermadi Risfan Munir Sri Julianti Sawiji Farelhana Dewi Rhainy
Deni Kurniawan As’ari Johanes Ariffin Wijaya Indari Mastuti Enggar Kusumaningsiwi Daniel Kurniawan Sayuri Yosiana
A.A. Kunto A. Lina Kartasasmita K. Hanna Fransisca Wahidunnaba Yusuf Tantowi Dwiatmo Kartiko
Meta Sekar Puji Astuti M. Adi Prasetyo Abd. Basid Lily Choo Rina Dewi Lina Berny Gomulya
Zee Cardin M. Iqbal Dawami Sidik Nugroho Emmy Liana Dewi Ridwan Sumantri Dwiyana Apriandini
Andrew Abdi Setiawan Gobind Vasdhev J. I. Michell Suharli Yusnita Rifai Gagan Gartika

Check Google Page Rank

Buku Baru

Obrolan yang Bikin Kamu kaya

Judul: Obrolan yang Bikin Kamu kaya
Oleh: Don Gabor
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama, 2009
ISBN: 978-979-22-5073-2
Tebal: xviii + 380 hal

Jangan hanya membangun jejaring luas-berjejaringlah dengan cerdas!
Obrolan yang Bikin Kamu Kaya menyajikan pendekatan baru revolusioner pada topik berjejaring yang tak lekang waktu. Penulis buku laris dan pelatih komunikasi Don Gabor memperkenalkan Anda pada empat gaya berjejaring—Kopetetif, Supel, [...]

Full Story | February 24th, 2010

Best Viewed With Mozilla FireFox