Kepercayaan Fondasi Dasar Relasi Jiwa

Lianny HendranataOleh: Lianny Hendranata*

Indonesia banyak sekali mempunyai nasihat melalui pepatah-pepatah di antaranya, “Sekali lancung ke ujian, seumur hidup tidak akan dipercaya. Makna yang terkandung di dalamnya, tentang seseorang yang tidak lulus dalam sebuah ujian kejujuran atau sejenisnya, maka seumur hidup dia kehilangan kepercayaan dari orang lain, walaupun sudah berusaha memperbaiki diri untuk bisa menjadi orang yang terpercaya.

Pepatah di atas ternyata terjadi juga dalam kepercayaan antarpasangan nikah, bagaimana cara awal kita mendapatkan pasangan kita, sampai mengikatnya menjadi suami istri, dan sepakat membangun bahtera rumah tangga, adalah merupakan fondasi awal kepercayaan jiwa kita, dalam relasi selanjutnya dalam kebersamaan.

Sebagai contoh kasus, seorang dokter spesialis kulit diprotes para pasiennya, karena istri beliau selalu ada dalam ruang periksa dan terkesan selalu mengawasi gerak-gerik sang suami, saat melayani para pasien perempuan yang datang ke klinik kecantikannya.

Kekakuan sikap sang dokter dan rasa risih dari para pasien yang terheran-heran dengan sikap sang istri tersebut, akhirnya disampaikan kepada pengelola klinik secara tertulis dan ditandatangani oleh banyak pasien yang setuju, memprotes keberadaan istri sang dokter yang tidak pada tempatnya saat sang suami menjalankan rutinitas pekerjaannya.

Setelah diselidiki kenapa sang istri dokter tersebut berbuat demikian, apakah tidak ada pekerjaan lain selain mengawasi sang suami bekerja, ternyata jawabannya ada pada sejarah pernikahan mereka. Sang istri tadinya juga pasien setia sang dokter, dan dengan intensitas kerutinan pertemuan mereka, pasien ini akhirnya jatuh cinta pada dokternya dan mulai menggoda. Singkat cerita akhirnya sang dokter menikahi pasien cantiknya dan didahului dengan mengurus perceraian dengan istrinya.

Cara mendapatkan suaminya pada waktu lalu, secara kejiwaan membuat sang istri terobsesi dengan keyakinannya, jika tidak diawasi maka sang suami akan bisa ‘diambil’ juga oleh pasien perempuan lain yang datang berobat, sama seperti yang dulu dilakukannya. Sikap tidak percaya, sikap tidak yakin sang suami akan setia padanyakarena sang istri tersebut pernah mengalami ketidaksetiaan sang suami pada istri terdahuluhal ini membelenggu perasaan dan pikiran istri baru sang dokter tersebut. Inilah yang menjadi racun dari relasi mereka. Membuat kehidupan menjadi ricuh dengan banyak protes dan prasangka.

Contoh di atas banyak ragamnya. Tetapi intinya adalah ‘batu pertama’ dalam membangun bangunan rumah tangga adalah kepercayaan. Dan, apa yang menjadi acuan waktu kita memulainya itu merupakan fondasi untuk kepercayaan selanjutnya.

Kasus lainnya, seperti yang dialami seorang perempuan, dia menikah dengan seorang laki-laki yang mempunyai sejarah banyak hubungan dengan perempuan lain di luar pernikahannya. Bahkan, dirinya pun merupakan salah seorang ‘kekasih gelap’ sebelum lelaki tersebut menceraikan istrinya dan dia resmi diperistri. Ketakutan sejarah merebut suami orang yang dia alami akan terulang. Akibatnya, sekarang perempuan tersebut terus-menerus menjadi ‘pengawas’ gerak-gerik sang suami. Siapa saja perempuan yang berelasi dekat dengan suaminya akan didamprat dan dicaci-maki sebagai perempuan ‘nakal’ yang akan mencuri suaminya,

Contoh-contoh kasus di atas banyak terjadi dalam masyarakat kita. Tanpa sadar kita memelihara perasaan khawatir dan kecemasan berlebih karena bercermin dari apa yang kita lakukan sendiri. Berbeda dengan pasangan suami istri yang memulai fondasi mereka dengan ‘bersih’ tanpa ada kerumitan, yaitu berupa adanya pihak yang ‘berdarah-darah’ yang mengawali bangunan rumah tangga mereka. Kepercayaan antarpasangan dlam rumah tangga seperti ini biasanya lebih kuat dan rasa percaya diri masing-masing pihak sangat besar. Mereka akan yakin pasangannya tidak mudah ‘dicuri’ oleh orang lain, berbeda keadaan dengan pasangan seperti contoh kasus di muka tulisan ini.

Kepercayaan adalah fondasi hubungan

Kita jujur saja bahwa suatu hubungan banyak ‘ups and down’-nya. Tentu kepercayaan, pengertiaan, perhatian merupakan onderdil yang penting dalam membangun suatu hubungan, terutama dalam ikatan suami istri.

Kita sebagai manusia mempunyai kemampuan untuk menyelesaikan konfliknya sendiri. Tetapi hal ini tidaklah mudah jika terjadi dalam hubungan perasaan dengan pasangan sendiri. Emosi yang negatif seperti kejengkelan, kemarahan, kesedihan, dan lainnya menjadi halangan dalam berhubungan, baik berupa komunikasi atau hubungan intim.

Berbeda jika konflik terjadi pada orang di luar pasangan kita, misalnya dengan keluarga istri, keluarga suami, atau teman. Masalah efektif lebih mudah diselesaikan karena tidak banyak menyangkut hal yang baku, seperti pertemuan rutin di tempat tidur dan kegiatan lain selama bersama-sama, serta banyak waktu untuk menghindari orang yang tidak selaras (cocok perasaan) berhubungan dengan kita.

Konflik karena memanjakan ego

Kepasifan dalam berinteraksi dan konflik yang akhirnya terjadi bukan semata karena hambatan adanya emosi negatif yang diterangkan di muka. Tetapi bisa (lebih sering terjadi) karena pengalaman masa lalu, khususnya seperti contoh kasus-kasus di awal tulisan ini. Konflik jiwa karena trauma dengan kepercayaan terhadap pasangan. Pengalaman yang negatif bisa menyebabkan terjadi ketakutan dan rintangan dalam hubungan selanjutnya dengan pasangan. Hal ini diperburuk dengan sikap dari memenangkan ego diri sendiri. Sering kita jadi budak ego kita sendiri. Tidak ada yang lebih parah untuk mencelakai diri sendiri adalah ego yang kita manjakan.

Ego membuat kita memupuk sikap arogan. Banyak masalah sederhana tidak bisa diselesaikan hanya karena membela ego diri dan sikap arogan yang dipamerkan. Ego adalah pikiran yang tidak disadari yang mengendalikan hidup kita. Dan Ego itu tidak akan pernah mampu menyelesaikan masalah karena yang menjadi masalah justru ego-ego tersebut.

Ego mengendalikan hidup orang-orang yang berkutat mempertahankannya. Mereka menjadi bagian dalam drama pikiran mereka sendiri. Hal itulah yang menjadikan mereka takut dan marah. Di sanalah ego dibela habis. Pembelaan ego diri selalu berujung konflik baik pada diri sendiri, juga bagi orang yang terkena imbas dari kelakuan ego seseorang.

Orang yang sadar mau melepas ego akan mencari solusi penyelesaian konflik. Sedangkan orang yang membela dan memelihara egonya akan memamerkan kearoganan dirinya. Maka, jika kita bermasalah dengan orang yang berprinsip egonya harus tetap menang, sikap mundur teratur untuk memberinya kepuasan pemenuhan egonya adalah sikap yang bisa kita jalankan.

Pembelaan ego tidak akan membuat kita bahagia. Malah jika kita tetap membesarkan ego kita tanpa perduli dengan orang lain, bumerang ada pada diri kita sendiri. Kita menciptakan orang yang punya dendam pada kita. Dan, tentu hal ini sangat tidak diinginkan bagi orang yang sadar dengan pepetah: “Satu musuh sudah sangat berlebih untuk membuat hidupmu sengsara.

Kebahagiaan jiwa tidak didapat dari kepuasan dengan menjadi orang yang menang perkara. Kebahagiaan tidak didapat dengan jadi orang yang mampu merampas hak orang lain. Tetapi, kebahagiaan bisa kita rasakan jika kita berfokus pada bagaimana menciptakan keharmonisan jiwa yang bebas dari rasa bersalah, dan bebas dari rasa ketakutan akibat perbuatan-perbuatan kita, bebas dari rasa ingin memiliki kepunyaan orang lain, dan bebas dari rasa dijajah oleh ego orang lain.[lh]

* Lianny Hendranata adalah penulis enam buku kesehatan, kolomnis harian Suara Pembaruan, majalah Wanita & Kesehatan, portal Okezone.com, dan majalah Indonesie yang terbit di Belanda. Selain itu, ia adalah seorang pembicara seminar, instruktur healing energy, trainer autohipnosis, konsultan kesehatan energi aura dan cakra, instruktur kesehatan dan kecantikan dengan metode Tai Chi, sekaligus Direktur Srikandi Internusa dan Inspiration Centre. Ia dapat dihubungi melalui pos-el: ray_and_mel[at]hotmail[dot]com.

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 7.0/10 (1 vote cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: +1 (from 1 vote)

Leave a Reply

Comment moderation is enabled. Your comment may take some time to appear.

Motivasi Dunia

Motivasi Dunia

Kolomnis

<
Edy Zaqeus Eni Kusuma Avanti Fontana Alexandra Dewi Miranda Suryadjaja Sofa Nurdiyanti
Anang Y.B. Hartati Nurwijaya Aleysius H. Gondosari Sulmin Gumiri Relon Star Sri Budiastuti
Agus Riyanto Iftida Yasar Fida Abbott Ery Prasetyawan Tanenji Ingrid Gunawan
Maria Saumi Ely Susanti Agung Praptapa Putu Adnyana Fita Irnani Nathalia Sunaidi
M Sebastian Wijaya Abdul Muid Badrun Kak Sugeng Akhmad Sirodz Lisa Nuryanti Abidin Noor
Wuryanano Petriza Giovanni Amelia Devina Tri Wahyuni Endang Setyati Vina Tan
Lianny Hendranata Emmy Angdyani Erawati E. Setyo Hartono Fatma Kartika Sari Supandi Radinal Mukhtar Harahap
Sawali Tuhusetya Gatut Heru Susanto Effendi Budi P. Fajar S. Pramono Ade Asep Syarifuddin Melly Kiong
Guntur Novizal Ida Rosdiana Natapermadi Risfan Munir Sri Julianti Sawiji Farelhana Dewi Rhainy
Deni Kurniawan As’ari Johanes Ariffin Wijaya Indari Mastuti Enggar Kusumaningsiwi Daniel Kurniawan Sayuri Yosiana
A.A. Kunto A. Lina Kartasasmita K. Hanna Fransisca Wahidunnaba Yusuf Tantowi Dwiatmo Kartiko
Meta Sekar Puji Astuti M. Adi Prasetyo Abd. Basid Lily Choo Rina Dewi Lina Berny Gomulya
Zee Cardin M. Iqbal Dawami Sidik Nugroho Emmy Liana Dewi Ridwan Sumantri Dwiyana Apriandini
Andrew Abdi Setiawan Gobind Vasdhev J. I. Michell Suharli Yusnita Rifai Gagan Gartika

Check Google Page Rank

Buku Baru

Obrolan yang Bikin Kamu kaya

Judul: Obrolan yang Bikin Kamu kaya
Oleh: Don Gabor
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama, 2009
ISBN: 978-979-22-5073-2
Tebal: xviii + 380 hal

Jangan hanya membangun jejaring luas-berjejaringlah dengan cerdas!
Obrolan yang Bikin Kamu Kaya menyajikan pendekatan baru revolusioner pada topik berjejaring yang tak lekang waktu. Penulis buku laris dan pelatih komunikasi Don Gabor memperkenalkan Anda pada empat gaya berjejaring—Kopetetif, Supel, [...]

Full Story | February 24th, 2010

Best Viewed With Mozilla FireFox