Kenyamanan Hidup Pribadi dan Sosial
Editor | Kolom Tetap | November 11th, 2009
Oleh: Eni Kusuma*
Rumusan orang mengenai kenyamanan hidup pastilah beragam. Maka, tak heran jika masing-masing memiliki definisinya sendiri. Makan enak, rumah mewah, penghasilan besar, dan sebagainya, mungkin menjadi bagian dari “isi” kenyamanan hidup dari kita semua. Sehingga, hal itu patut untuk diperjuangkan.
Tetapi, kenyamanan pribadi seperti di atas bukanlah segala-galanya bagi seseorang. Banyak orang yang telah memperoleh berbagai macam kenikmatan secara individu, tetapi justru merasa kesepian dan gelisah. Kenapa seperti itu? Tidak lain adalah ia telah melupakan kenyamanan yang lebih tinggi sebagai makhluk sosial yaitu kenyamanan sosial (istilah baru dari saya, hehehe…).
Di sini ia akan merasakan lebih bahagia ketika hidup di dalam komunitas tertentu. Lebih bahagia lagi jika bisa memberi kontribusi di dalamnya. Ia akan merasa hidupnya berguna, berarti, dan dihargai. Melalui komunitasnyalah ia bisa berekspresi, yang secara fitrah adalah sebuah kebutuhan. Orang yang hidup kaya raya cepat atau lambat akan mencapai puncak kejenuhan. Jika ia tidak bisa mengekspresikan dirinya maka ia akan merasa gelisah, tidak berguna, dan hidup terasa hampa. Meskipun segala kenikmatan telah dimilikinya.
Agar bisa berekspresi, seseorang butuh orang lain untuk mengapresiasi atau merespon ekspresinya. Bahkan, dengan pujian dan penghargaan. Ini adalah fitrah sosial sebagai manusia. Makanya, ia butuh hidup dalam komunitas tertentu. Karena sesungguhnya, salah satu bentuk kenyamanan hidupnya ada pada kehidupan sosial itu. Kenyamanan sosial ini akan mengantarkan seseorang untuk mencapai kenyamanan hidup yang lebih tinggi, lebih luas, dan lebih banyak.
Kita bisa membedakan lebih tinggi mana, apakah tingkat kenyamanan pribadi ataukah kenyamanan sosial, melalui gambaran di bawah ini.
Katakanlah soal makan enak. Kenikmatan makan adalah ketika ia bisa makan sampai kenyang. Yang menjadi parameter di sini adalah isi perut dan rasa di lidah. Jika sudah kenyang, makanan yang enak pun akan terasa tidak enak lagi. Dan, jika lidah sudah berulang kali merasakannya, semuanya akan membosankan. Mencoba mengejar lagi, mencari makanan yang lain, hasilnya sama saja. Betapa terbatasnya kenyamanan pribadi itu.
Demikian juga dengan penghasilan besar yang bisa untuk membeli rumah mewah, perhiasan, pakaian mahal, dan lain-lain. Awalnya sangatlah senang memiliki rumah mewah dan perhiasan mahal. Tetapi, itu tidak akan bertahan lama. Beberapa bulan atau tahun, perasaan itu sudah biasa lagi. Ketika ia hanya diukur untuk kepentingan pribadi, kenikmatannya menjadi demikian terbatas, tidak tahan lama dan semakin lama akan biasa bahkan membosankan. Makanya, supaya tidak bosan ia akan mengejar lagi dan lagi apa-apa yang belum ia punyai. Milik orang selalu menggiurkan. Dan, sering kali bosan dengan segala sesuatu yang telah dimiliki dan berulang kali dinikmati. Termasuk dalam urusan seksualitas. Maka, ia akan terjebak pada keserakahan.
Dalam kesempatan ini saya akan menyinggung sedikit tentang poligami. Apalagi sekarang marak kontroversi tentang berdirinya klub poligami di Bandung. Ketika poligami untuk kesenangan pribadi, maka poligami tak lebih adalah sebuah bentuk dari keserakahan manusia yang dilegalkan. Ini tak ada bedanya dengan sudah punya mobil, masih ingin punya mobil lagi lebih banyak. Karenanya sangat keliru kalau kita mencoba mengatasi desakan keinginan dan kesenangan pribadi dengan cara mengumbarnya agar tercapai kepuasan yang kita inginkan. Padahal, kepuasan pribadi tidak akan pernah terpuaskan. Jika berpoligami dibolehkan menurut agama yang mereka anut, apakah tidak keliru? Sedangkan di Kitab Suci mereka, tidak akan pernah ditemukan ayat yang membolehkan poligami karena alasan kesenangan pribadi.
Tentang berdirinya klub poligami yang asalnya dari Malaysia itu. Ini bukti bahwa mereka tidak nyaman dengan hidup mereka. Bosan, hampa, dan merasa diri tidak berarti meskipun telah memiliki empat orang istri dan kaya sekalipun. Makanya, mereka membangun komunitas agar mereka bisa mengekspresikan dirinya sehingga mendapat apresiasi atau bahkan penghargaan dan pujian dari komunitasnya tersebut. Sehingga, diharap hidup mereka tidak hampa lagi. Untuk itu masyarakat tidak perlu resah, kita semua memaklumi jika pemahamannya seperti itu.
Sangat terasa sekali bedanya, bukan? Ternyata kenyamanan pribadi itu sangat terbatas jika dibandingkan dengan kenyamanan sosial. Kita akan merasa sangat bahagia jika bisa memberikan kontribusi dan membantu orang lain. Semakin kita lakukan semakin kita bahagia dan puas. Bahkan, kebahagiaan dan kenyamanan kita tidak terbatas. Ini berarti kenyamanan yang lebih tinggi ada pada interaksi dan saling memberi manfaat. Kita boleh mengejar kenyamanan pribadi, tetapi tidak boleh mengumbarnya sehingga menjadi serakah. Karena kenyamanan pribadi itu cepat atau lambat akan mencapai titik kejenuhan. Sedangkan kenyamanan sosial tidak pernah mengalami titik jenuh. Karena sumbernya lebih banyak dan bersumber pada orang lain.
Demikiankah?[ek]
* Eni Kusuma adalah nama pena Eni Kusumawati, perempuan kelahiran Banyuwangi, 27 Agustus, 31 tahun yang lalu. Ia berangkat dari menulis puisi dan fiksi. Puisinya dibukukan bersama seratus penyair Indonesia dengan judul Yogya, 5,9 Skala Richter, sementara cerita fiksinya bertebaran di berbagai media dan juga dibukukan. Ia bercita-cita mendirikan sekolah gratis dan rumah baca di Banyuwangi. Pendidikan formal terakhir di SMUN 1, Banyuwangi (1995). Sementara, pendidikan nonformalnya, S-1 di Pembelajar.Com (2006 sampai sekarang), dan S-2 di Andaluarbiasa.Com (15 Januari 2009 sampai sekarang). Eni menjadi pembantu rumah tangga di Hong Kong tahun 2001-2007. Eni, yang ketika kecil menderita gagap bicara ini, kini menjadi seorang motivator dan telah memberikan seminarnya di berbagai perusahaan, lembaga sosial, birokrasi pemerintahan, serta berbagai kampus di seluruh Indonesia. Eni adalah penulis buku laris Anda Luar Biasa!!! (Fivestar, 2007). Saat ini ia tengah menyelesaikan buku motivasi kedua dan ketiganya. Silahkan hubungi Eni di ek_virgeus[at]yahoo[dot]co[dot]id atau enikusuma[at]ymail[dot]com , HP: 081 389 641 733.

November 11th, 2009 at 8:16 pm
Demikiankah???
Right mba Eni. Nabi juga bersabda “Sebaik-baik manusia adalah mereka yg lebih bermanfaat bagi org lain”
November 20th, 2009 at 5:00 pm
Orang yang membuat komunitas sendiri hanyalah caper(cari perhatian )setelah memperoleh yang di inginkan mereka akan puas
November 20th, 2009 at 5:21 pm
mba Eni.kepuasan seseorang tidak bisa di ukur denga bisa tidaknya memberikan kontribusi terhadap yang lain,tapi tergantung pada indifidu masing2……….
January 20th, 2010 at 8:15 pm
hanya satu kalimay…Luar biasa