Kenaikan 10 Markah

lc2Oleh: Lily Choo*

Pulang sekolah, Abby si bungsu senang sekali melihat saya ada di rumah. Saya yang melihatnya turut tersenyum senang. Dengan senyum mengembang dia berkata, “Mummy, my Chinese’s mark increases 10 points!”

Wow!!! Orang tua mana tidak akan senang mendengar adanya kenaikan angka dalam studi anaknya? Apalagi Abby mempunyai trauma mendalam akan mata pelajaran bahasa mandarin, di mana guru TK-nya pernah menertawakan dia di depan kelas karena dia dianggap tidak becus bahasa mandarin. Sejak itu, kebenciannya akan bahasa ini menjadi-jadi. Melihat saja pun dia ogah sehingga ujian hafalannya selalu jeblok karena memang dia sungguh tidak mau belajar.

Segala macam cara dari halus, sedang, hingga keras, juga memberikan hadiah yang menarik sampai omelan pedas sudah saya jalankan. Sampai akhirnya saya pasrah total. Guru lesnya pun tak sanggup. Sekalipun dia sudah setuju untuk belajar, bila gurunya terlambat datang 15 menit dia, langsung keluar rumah untuk bermain. Gurunya tak diacuhkan lagi dan katanya, “We agreed the tuition start at 2.30pm, if he is late then it’s not my fault.”

Astaganaga, saya mau marah pun jadi senyum kecut karena benar juga apa kata Abby. Gurunya tidak tepat janji, bukan salah bila dia tinggalkan. Penjelasan saya bahwa bila guru sudah datang ke rumah, sekalipun dia tidak mau belajar, berarti kita tetap harus membayar sang guru. Sayang, kan? Dia pun manggut setuju. Sekali lagi, dia buat janji dan dia tunggu sang guru hingga 30 menit lewat, tetapi masih saja si guru tidak datang lagi. Larilah dia keluar bermain, dan ketika si guru tiba kemudian jawabannya, “I waited him for 30 minutes already.”

Gubrak deh!!!

Abby sendiri pasrah sudah akan pelajaran bahasa mandarin. Dan, usahanya yang terakhir adalah meminta saya menandatangani permohonan ke pemerintah Singapura untuk meloloskan dia dari mata pelajaran bahasa mandarin. Saya tanya dia, apakah sudah dipikirkan matang dan gurunya setuju? Dia manggut-manggut dan keluarkan formulirnya. Setelah mengisi, kakaknya Keely terkikik, “Mummy, how can she get the exemption? Daddy is a Chinese and you are also a Chinese!”

Mata Abby langsung membesar, “What?! Mummy, you are a Chinese?! Hahaha…!”

Keely kesenangan menjawab, “Yes. Mummy is an Indonesian Chinese.”

Punahlah harapannya untuk dikecualikan dari mata pelajaran bahasa mandarin karena dalam formulir memang dipertanyakan ras/bangsa dari orang tua murid. Sebenarnya, saya sudah tahu akan hal ini. Tetapi, saya memang sengaja membiarkan dia mencoba segala caranya. Dan, tugas saya hanyalah memantau, mengarahkan setiap keinginannya, serta melihat apa caranya itu betul atau tidak.

Bila hari itu saya melihat dia tersenyum memberitakan kenaikan markahnya, saya sangat senang sekali. Sambil memeluknya saya bertanya berapa angka yang dia dapat. Dia tersenyum manis, “Twenty three!”

GUBRAKKKKK!

Mau tidak mau saya tersenyum ‘habis’, alias senyum saya sudah lenyap tiada sisa lagi! Ibu mana yang tidak menghendaki anaknya sukses dalam pelajarannya? Mendengar angka 23, yang terasa adalah perasaan sedih mendalam, dan malu karena merasa gagal dalam mendidik anak.

Namun, saya tidak menyatakan kekecewaan kepadanya karena itu akan membuat semangatnya jatuh. Dengan alis mata naik tinggi saya bertanya, “Twenty three upon…..?”

Keely tertawa ngikik di belakang saya. Dengan mantap dia menjawab, “Upon ninety!”

Berkunang-kunanglah kepala saya. Terus-terang, yang saya rasakan adalah antara sedih, kesal, namun juga geli yang tak tertahankan. Dia mendapat angka 23 dari 90, itu seharusnya memalukan dan menyedihkan. Tetapi, dia nyatakan dengan kebanggaan dan kemantapan. Seharusnya, dia tidak berani menyatakan ke saya karena biasanya orang tua akan marah besar bila mendengar hasil ulangan anaknya yang gagal, jeblok, dan memalukan itu. Inilah akibatnya kalau saya sering mengajarkan mesti ‘positive thinking’, rupanya menjalar juga ke anak-anak.

“Mummy, it’s tough you know? I can increase 10 points is good already. Last time I got 13 only. I thought will be worse this time but it’s up 10 points!” suara Abby ringan dan ceria sekali.

“You must be happy with me.”

Pecahlah semua tawa saya yang tersimpan dari tadi. Akhirnya, kami rayakan kenaikan 10 poin itu dengan ICE MILO! Memang, setiap kenaikan perlu dirayakan tanpa keraguan sedikit pun.

Yayaya…. Itulah anak saya, Abby Choo. Selalu saja ada mengenainya. Cara pikir dan pandangannya berbeda dengan kebanyakan anak-anak. Kebanyakan anak-anak pasti akan ragu memberitahukan kepada orang tuanya akan kegagalan ujiannya, khawatir akan ditegur, dimarahi, atau malah dipukul. Bahkan, ada anak yang menyimpan hasil ujiannya yang jelek dan mengoyaknya, khawatir orang tua melihatnya. Namun, Abby tiada ragu sedikit pun memberitakannya kepada saya karena dia melihat kenaikan pelajarannya dari sudut positif. Bukan semata melihatnya dari angka 23 yang masih termasuk angka gagal.

Dalam hidup ini memang tidak mudah untuk senantiasa melihat kebaikan atau keberuntungan, terutama bila di sisi lainnya terdapat juga sisi keburukan dan ketidakberuntungan. Kebanyakan orang akan melihat dan meratapi sisi buruknya saja.

Bersama Abby, saya belajar untuk peka MELIHAT dan MEMILIH akan hal-hal kecil yang positif daripada hal-hal yang besar namun negatif. Menekankan yang positif daripada yang negatif. Melihat kepada kekuatan diri daripada kelemahan diri. Memperkuat kekuatan yang ada daripada meratapi kelemahan yang ada. Dan, senantiasa merayakan hari-hari gemilangnya sekalipun kenaikan yang diberitakan sangat kecil. Ini pun berlaku dalam setiap kehidupan kita. Bila kita fokus melihat, memperbaiki, dan memperkuat kekuatan kita daripada kelemahan kita, merayakan setiap keberhasilan kita tentu usaha menuju sukses lebih pasti dan cepat.

Sssst… saat ini dia berjanji untuk memperbaiki bahasa mandarinnya, karena dia tidak mau tertinggal kelas di Primary 6 tahun depan hanya karena satu mata pelajaran ini. Apalagi dia bercita-cita dapat masuk ke sekolah menengah tertentu yang membutuhkan skor rapor yang tinggi. Sayapun berbisik kepadanya, “just increase 1% a day, in 100 days u increase 100% already!” Mata dia membesar. Bingo! Saya berhasil ‘poke’ dia. Dia bergumam kalau setahun ada 365 hari berarti 1% sehari dalam setahun akan terjadi kenaikan 365%! Mata dan mulutnya membesar dan membulat. Ada kepastian dan keyakinan di sana. Tentu hari-hari mendatang dia akan memberitakan kenaikan 10%nya sesering mungkin, dengan demikian kita boleh rayakan lagi dengan ICE MILO DINOSAUR!!!![lc]

* Lily Choo adalah seorang pebisnis perempuan berusia 37 tahun yang lebih sering beredar di antara Jakarta, Malaysia, dan Singapura. Ia berminat pada bidang leadership, anak-anak, wisata, menulis, dan kesehatan. Lily dikarunai dua anak perempuan yang cantik yang senantiasa menjadi inspirasi hidupnya. Lily mengaku sebagai perempuan biasa yang punya mimpi besar untuk menjalani hidup yang luar biasa serta menjadi inspirasi bagi semua perempuan di seluruh penjuru dunia. Lily dapat dihubungi melalui pos-el: lily.choo@gmail.com.

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 8.0/10 (2 votes cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: 0 (from 0 votes)

2 Responses to “Kenaikan 10 Markah”

  1. Puspita W Says:

    Ternyata sebagai orang tua kita masih harus banyak belajar pada anak-anak tentang arti sebuah keberhasilan. Perjuangan memang layak mendapat penghargaan.

    Orangtua seringkali menilai keberhasilan anak dari kacamatanya sendiri bukan kacamata anak. Jika sebagai orangtua kita tidak mau banyak belajar, akan kehilangan kesempatan melihat perkembangan jiwa anak kita serta menghagai perjuangannya. Jangan hanya melihat hasil melainkan prosesnya.

    Maaf jadi ngelantur. Saya banyak belajar pada kedua anak saya.

    UN:F [1.6.9_936]
    Rating: 0.0/5 (0 votes cast)
    UN:F [1.6.9_936]
    Rating: +1 (from 1 vote)
  2. LC Says:

    Setuju sekali Puspita!

    UN:F [1.6.9_936]
    Rating: 0.0/5 (0 votes cast)
    UN:F [1.6.9_936]
    Rating: 0 (from 0 votes)

Leave a Reply

Comment moderation is enabled. Your comment may take some time to appear.

Motivasi Dunia

Motivasi Dunia

Kolomnis

<
Edy Zaqeus Eni Kusuma Avanti Fontana Alexandra Dewi Miranda Suryadjaja Sofa Nurdiyanti
Anang Y.B. Hartati Nurwijaya Aleysius H. Gondosari Sulmin Gumiri Relon Star Sri Budiastuti
Agus Riyanto Iftida Yasar Fida Abbott Ery Prasetyawan Tanenji Ingrid Gunawan
Maria Saumi Ely Susanti Agung Praptapa Putu Adnyana Fita Irnani Nathalia Sunaidi
M Sebastian Wijaya Abdul Muid Badrun Kak Sugeng Akhmad Sirodz Lisa Nuryanti Abidin Noor
Wuryanano Petriza Giovanni Amelia Devina Tri Wahyuni Endang Setyati Vina Tan
Lianny Hendranata Emmy Angdyani Erawati E. Setyo Hartono Fatma Kartika Sari Supandi Radinal Mukhtar Harahap
Sawali Tuhusetya Gatut Heru Susanto Effendi Budi P. Fajar S. Pramono Ade Asep Syarifuddin Melly Kiong
Guntur Novizal Ida Rosdiana Natapermadi Risfan Munir Sri Julianti Sawiji Farelhana Dewi Rhainy
Deni Kurniawan As’ari Johanes Ariffin Wijaya Indari Mastuti Enggar Kusumaningsiwi Daniel Kurniawan Sayuri Yosiana
A.A. Kunto A. Lina Kartasasmita K. Hanna Fransisca Wahidunnaba Yusuf Tantowi Dwiatmo Kartiko
Meta Sekar Puji Astuti M. Adi Prasetyo Abd. Basid Lily Choo Rina Dewi Lina Berny Gomulya
Zee Cardin M. Iqbal Dawami Sidik Nugroho Emmy Liana Dewi Ridwan Sumantri Dwiyana Apriandini
Andrew Abdi Setiawan Gobind Vasdhev J. I. Michell Suharli Yusnita Rifai Gagan Gartika

Check Google Page Rank

Buku Baru

Obrolan yang Bikin Kamu kaya

Judul: Obrolan yang Bikin Kamu kaya
Oleh: Don Gabor
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama, 2009
ISBN: 978-979-22-5073-2
Tebal: xviii + 380 hal

Jangan hanya membangun jejaring luas-berjejaringlah dengan cerdas!
Obrolan yang Bikin Kamu Kaya menyajikan pendekatan baru revolusioner pada topik berjejaring yang tak lekang waktu. Penulis buku laris dan pelatih komunikasi Don Gabor memperkenalkan Anda pada empat gaya berjejaring—Kopetetif, Supel, [...]

Full Story | February 24th, 2010

Best Viewed With Mozilla FireFox