Home » Kolom Tetap » Kekuatan Berpikir Baik (1)

Kekuatan Berpikir Baik (1)

rsOleh: Relon Star*

“Pupuklah pemikiran-pemikiran besar, sebab Anda tidak akan

pernah lebih tinggi daripada pemikiran Anda.”

~ Benjamin Disraeli

Persamaan apakah yang dimiliki semua orang sukses? Jawabannya: Berpikir baik. Sebenarnya, ada resep sederhana yang mereka miliki: Jika mereka ingin mengubah hidup mereka, mereka harus mengubah cara berpikir mereka.

Saya memancing komentar orang-orang dalam status yang saya tulis di Facebook, dengan menuliskan statement dari Donald Trump, “Toh Anda harus berpikir. Jadi, mengapa tidak berpikir besar?” Saya ingin tahu, apa sih yang ada dalam benak orang-orang ketika membaca kalimat di atas?

Status di Facebook tersebut mengundang perhatian seorang pria—tampaknya dia masih muda—yang memberikan komentar, “Pinginnya sih berpikir besar, tetapi kenapa rasa pesimis yang selalu lebih kuat menguasai? Bagaimana jika pesimis itu datang, karena keadaannya memang sulit untuk berpikir besar?

Aha, ini dia! Saya tahu pasti ada saja orang di sekitar saya yang masih membutuhkan peta menuju berpikir besar. Karena itulah saya terinspirasi membuat tulisan ini.

John Maxwell berulang kali mengatakan dalam buku-bukunya, “Saya bisa mengendalikan pikiran saya. Perasaan saya datang dari pikiran saya. Saya bisa mengendalikan perasaan saya dengan mengendalikan pikiran saya.”

Saya senang sekali bermain-main dengan pikiran saya. Tetapi untungnya, tak satu pun yang saya pikirkan tentang harapan-harapan yang tak tercapai. Saya selalu memikirkan apa yang dapat saya lakukan kemudian, dan saya mencapainya. Sama sekali saya tidak membiarkan pikiran saya memikirkan tentang potensi untuk gagal. Dan, Anda tentu tahu hasilnya, bukan? Apa yang saya pikirkan, itu yang akan terjadi. “Jadi, pupuklah pemikiran-pemikiran besar, sebab Anda tidak akan pernah lebih tinggi daripada pemikiran Anda.”

Kalimat pesimis dari pemberi comment di Facebook saya segera mengundang reaksi saya untuk lekas memotivasinya. Saya katakan, “Sikap pesimis dilawan dengan sikap optimis.” Itu saja! Mudah, bukan? Kalau tubuh Anda sedang tidak fit, berarti Anda membutuhkan suplemen untuk mendongkrak daya tahan tubuh Anda. Kalau Anda lapar, Anda makan. Tubuh kita secara otomatis memerlukan reaksi berlawanan dari apa yang kita rasakan. Begitu pula dengan pikiran. Jika pikiran kita pesimis, segera lawanlah dengan sikap optimis. Sekali lagi, jangan terlalu banyak merenungkan kemungkinan untuk gagal, karena kegagalan—tanpa dipikirkan pun—mudah meraihnya. Pikirkan saja keberhasilan Anda. Pikirkan sasaran-sasaran yang ingin Anda capai, dan pikirkan seberapa besar peluang Anda untuk meraihnya.

Berubah dari berpikir negatif menjadi positif memang tidak mudah, terutama kalau Anda kesulitan beradaptasi dengan perubahan. Bagi banyak orang, ini adalah pergumulan seumur hidup. Namun, orang yang sukses selalu mempersilahkan berpikir baik bersarang di otaknya.

Kebanyakan orang dalam kebudayaan kita selalu mengandalkan sistim pendidikan mengarahkan mereka untuk berpikir. Sampai akhirnya setiap orang bergantung pada paradigma tersebut. Banyak individu percaya bahwa pendidikan formal adalah kunci untuk meningkatkan kehidupan dan mengubah masyarakat. Ini juga dikatakan oleh James Bryant Conant, professor kimia sekaligus mantan presiden Harvard University, “Pendidikan umum adalah instrumen yang efektif bagi perubahan sosial… pendidikan adalah suatu proses sosial, mungkin proses terpenting dalam menentukan masa depan negara kita; seharusnya pendidikan menguasai bagian yang lebih besar dari pendapatan nasional kita ketimbang yang sekarang ini.”

Banyak pendidik juga yang menekankan bahwa pendidikan formal mendorong kita untuk mengalami kemajuan dalam kehidupan. Semakin banyak pendidikan yang Anda dapatkan, semakin sukseslah hidup Anda. Tetapi, apakah Anda lupa dengan nama-nama seperti: Bill Gates, Thomas Edison, Steve Jobs? Mereka orang-orang yang putus sekolah, tetapi malah menjadi sangat sukses.

Saya juga punya cerita tentang hal ini. Saat ini saya bekerja sebagai redaksi sebuah majalah intern di gereja. Sebelum saya, redaksi majalah dipegang oleh seorang sarjana jurnalistik. Saat saya dipercayakan mengasuh majalah itu, saya pikirkan suatu inovasi yang dibutuhkan untuk content majalah. Singkatnya, saat ini saya sudah menampung banyak apresiasi dari orang-orang yang mengatakan isi majalah tersebut jauh lebih baik. Sssttt… ini rahasia, hanya Anda yang tahu, saya bukan sarjana lulusan jurnalistik.

Bagaimana dengan Anda? Mengapa tidak Anda rangkul saja cara berpikir baik?[rs]

* Relon Star adalah seorang public speaker dan penulis buku Run or Die (2008). Saat ini ia bekerja sama dengan Departemen Pemberdayaan Perempuan, aktif mengisi seminar-seminar serta penyuluhan di sekolah-sekolah mengenai bahaya narkoba. Relon dapat dihubungi melalui pos-el: relonstar[at]yahoo[dot]com.

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 8.0/10 (2 votes cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: +1 (from 1 vote)

1 Comment

  1. Rincan says:

    saya sangat senang dan bangga membaca cacatan Anda, saya juga sudah pernah merasakan hal seperti itu,(bersikap pesimis) tapi setelah saya membaca buku yang Berjudul…”Berpikir dan Ber jiwa Besar” saya mulai dapat menguasai pikiran saya, walaupun masih belum maksimal….saya akan sangat senang mendengar dan berbicara dengan orang seperti Anda. salam super.

    UN:F [1.6.9_936]
    Rating: 0.0/5 (0 votes cast)
    UN:F [1.6.9_936]
    Rating: 0 (from 0 votes)

Post a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Comment moderation is enabled. Your comment may take some time to appear.

Komentar