Kehilangan dan Kebaruan Diri

Miranda SuryadjajaOleh: Miranda Suryadjaja*

Mungkin saya salah satu dari sedikit orang yang di zaman begini masih belum pernah mem-back up data komputer utamanya. Alasannya: ‘Ntar aja’. Belasan kali telah saya dengar cerita dari teman-teman saya soal komputer mereka error, hingga data yang di komputer tidak bisa terselamatkan, serta betapa sedihnya mereka ketika hal itu terjadi. Bukannya saya tidak simpati, bukannya saya tidak peduli, tetapi kalau belum dialami sendiri memang belum tertohok. Sepertinya ada pikiran ‘It happens to other people, not to me’.

Kemarin dulu, mulanya iMac saya berbunyi kerisik-kerisik, saya mendengarnya, tetapi tidak menganggapnya serius. “Paling-paling komputernya capek, pikir saya. OK, dimatikan dulu, ntar baru dihidupkan lagi. Saya masih sempat membuat dokumen-dokumen baru, burn beberapa CD, menulis email, dll. Tetapi ibaratnya orang yang matinya gampang, hard disk komputer saya tidak lama sakitnya. Keesokan harinya dia sudah tidak booting lagi, hanya memberi tayangan tanda tanya. Ketika saya telepon toko langganan saya, mereka mengatakan nada-nadanya sudah tidak ada harapan lagi, dan agar saya segera melarikan iMac saya ke ruang gawat darurat mereka.

Saya masih juga berharap dengan komputer tercinta saya yang baru saja berulang tahun pertama beberapa minggu yang lalu. Setelah diperiksa beberapa saat, jawabannya ‘Repair Not Possible’, jadilah hard disk saya bangkai komputer sungguhan. Itu yang tampak kasat mata. Namun, benarkah itu terjadi semata-mata karena keteledoran saya? Karena tidak beli garansi tambahan, karena tidak cepat tanggap ketika bunyi kerisik pertama terdengar?

Dua hari sebelumnya terlintas di pikiran saya. Nyepi sebentar lagi tiba. Bagi umat Hindu, Nyepi adalah Tahun Baru, yang didahului dengan persiapan batin, emosi, mental, dan fisik. Kalau mau mengikuti dengan benar, saya akan melakukan puasa semuanya; puasa makan, puasa bekerja, puasa berjalan-jalan, serta puasa hiburan pancaindera. Saya memutuskan untuk bersih-bersih ruangan saya, membuang barang-barang yang sudah tidak dipakai lagi, ibaratnya membuang beban masa lalulah.

Nah, salah satu bagian dari program bersih-bersih ini adalah bersih-bersih komputer. Membuang data yang sudah tidak relevan lagi, mengosongkan hard disk sehingga ada tambahan memory. Pada hari kematian komputer saya, entah kenapa pagi-pagi benar saya sudah menjinjing Powerbook saya (laptop) ke ruang sebelah, lalu satu per satu saya delete isi komputer itu, karena kebetulan komputernya sudah mulai tua dan memory-nya pun kecil pula.

Foto-foto dan lagu-lagu, dokumen-dokumen lama yang tidak perlu saya bawa ke mana-mana saya hapus, dan juga pikiran saya kan sudah ada copy-nya semua di iMac saya yang jauh lebih besar memory-nya, kalau perlu masih ada back up. Saya asyik men-delete, dan akhirnya saya delete pula semua yang telah saya delete, tuntas habis permanen. Saya lihat komputer saya mendapatkan kembali memory kosong lebih dari empat puluh persen banyaknya.

Tatkala saya kembali ke tempat di mana iMac saya berada, saya dapatkan dia sudah tidak bereaksi lagi, sisanya sudah jadi sejarah, seperti yang telah saya ceritakan tadi di atas.

Kejadiannya berlalu begitu berurutan dan saling berkaitan untuk dapat dikatakan suatu kebetulan. Mulai dari niat saya untuk memulai lembaran baru dengan datangnya Tahun Baru Nyepi. Kemudian data saya terhapus begitu banyak dan begitu cepat sekaligus, dengan bantuan saya pula. Rasanya terlalu kompleks dan rumit perencanaannya untuk dapat saya rancang sendirian.

Jeshua mengatakan, Bagaimana kalau Bapamu tahu apa yang terbaik bagimu, dan semua yang terjadi padamu adalah upaya-Nya untuk membangkitkan kesadaranmu yang tertinggi?

Berpegang pada kalimat di atas, saya melihat hilangnya sebagian besar data saya sebagai sebuah rangkaian peristiwa yang sangat jelas saling berkaitan dan terencana dengan sempurna. Dimulai dengan niat saya untuk membuka lembaran baru yang masih kosong. Apa yang lebih simbolis daripada komputer yang kehilangan seluruh datanya, dan yang backup-nya pun saya hilangkan. Siapa yang memasukkan pikiran untuk membersihkan diri dan lingkungan untuk menyambut hari Nyepi yang suci? Siapa yang membuat saya tergerak untuk untuk menghapus data-data kadaluarsa dari laptop saya? Serta siapa yang menggerakkan otot-otot badan saya untuk melaksanakan pikiran saya? Seperti kita tahu, apa yang terlintas di pikiran kita belum tentu berujung pada suatu tindakan nyata. Bisa saya berpikir untuk melakukan sesuatu tetapi tidak melakukannya.

Sehingga, saat saya bersiap-siap menerima berita kematian komputer saya, tidak sedikit pun kesedihan yang terlintas dalam diri saya, karena saya melihatnya sebagai sebuah klimaks dari rentetan peristiwa yang begitu sempurna. Ada rencana yang lebih besar dan lebih indah untuk saya, mungkin data-data tersebut sudah tidak relevan lagi bagi hidup saya yang sekarang. Foto-fotonya memang, ada rasa sayang, tetapi karena saya percaya rencana Tuhan untuk saya selalu yang terbaik, maka kehilangan koleksi foto yang lumayan besar tidaklah terlalu saya sedihkan. Foto-foto dan lagu-lagu, yang merupakan bagian terbesar dari yang saya delete, adalah bagian dari suatu atau banyak kenangan. Tidaklah terlalu penting saya gelendoti image-nya, atau lagunya, kalaupun ingin saya simpan, yang penting kenangannya telah terukir di hati, perasaannya, pengalaman batin, dan hati, sehingga kehilangan wujud fisik kenangan tersebut tidak lagi menjadi penting.

Malah dalam hati saya jadi tertawa, Wow…. Begini wujudnya Tuhan menjawab doa saya, instan pula! Cuma saja perwujudannya tidak seperti yang saya bayangkan, atau yang bisa saya pikirkan. Saya terima kejadian ini dengan lapang dada, termasuk keluar uang extra untuk membeli hard disk baru dan tidak berkomputer untuk sementara waktu.

Computer crash sering kali membuat orang sangat frustrasi. Sekarang, saya bisa pahami berapa besar efeknya kalau punya data lengkap tentang hidup kita selama beberapa tahun, kemudian di-wipe out begitu saja. Seberapa besar keterikatan kita pada ‘milik’ kita, sedemikian pula tingkat penderitaan, kekecewaan, dan kemarahan kita akan ‘hilangnya’ barang tersebut.

Namun, apabila kita melakoninya dengan penuh takwa dan percaya, bahwa apa pun yang terjadi, pasti membawa berkah, dan diridai oleh Tuhan. Kalau sudah bersikap demikian, maka apa pun yang terjadi dalam hidup bagai riak gelombang. Ketika di permukaan, ombak ramai bergemuruh dan berkejaran satu dengan yang lain. Namun seketika ia naik, secepat itu pula ia pecah ketika menyentuh pesisir, meninggalkan buih-buih halus yang segera menguap dan lenyap. Pikiran, kejadian, dan perasaan sifatnya tidak permanen, seperti ombak yang datang dan pergi. Namun laut yang dalam tidak mengambil pusing apakah ada ombak di atasnya atau tidak. Ia tahu bahwa ombak akan selalu menjadi bagian dari dirinya, sejauh-jauhnya ombak berkelana tak pernah ia lepas dari laut yang dalam, dan laut tahu ombak-ombak tersebut tak pernah terancam oleh apa pun, karena semua satu.

Demikian juga hubungan kita dengan Tuhan, Sang Khalik, Sang Pencipta. Kita tidak pernah terlepas daripada-Nya, dan ia dengan sabar membiarkan kita dengan segala tingkah aneh kita, karena Ia tahu kita tidak pernah jauh dari-Nya, meskipun kita merasa telah pergi sejauh-jauhnya dari Dia.

Jeshua sering kali memakai perumpamaan laut dengan ombak, atau langit dengan awan untuk menggambarkan hubungan dan makna keterikatan dan kebersatuan kita dengan Tuhan. Sehingga, kalau banyak orang mengatakan tidak ada yang kebetulan, iya memang iya. Pikiran kita dan pikiran Tuhan saling bertautan, tidak mungkin dan tidak pernah terpisah satu dengan yang lainnya, meskipun ada yang mengajarkan kita untuk melihat Tuhan sebagai sosok yang duduk di singgasana di surga nan dan nun begitu jauhnya, sehingga kita tidak bisa bercakap-cakap langsung dengan-Nya. Inilah inti ajaran Jeshua yang paling sering dikumandangkan-Nya: Aku dan Bapa-Ku adalah Satu adanya–I and My Father are One.

Komputer saya kaput. Saya tinggal pilih, mau berlarut-larut berkabung atas kehilangan masa lalu saya yang telah saya kenal baik, atau bersuka cita karena yang baru dan belum dikenal akan segera datang. Hitung-hitung, dengan mengosongkan ‘space’ di komputer saya, saya beroleh kesempatan untuk mengisinya dengan sesuatu yang baru, yang mungkin jauh lebih relevan bagi kehidupan saya sekarang.

Dan, yang tersisa pun tampaknya sudah diperhitungkan-Nya baik-baik. Tulisan-tulisan saya yang semuanya saya buat di laptop masih ada. Nah, kenapa ada yang selamat, ada yang tidak? Apakah saya yang merencanakannya? Terlalu rumit rasanya untuk bisa saya sinkronisasikan sedemikian rupa sehingga semua kejadian-kejadian yang lepas-lepas dan tampaknya tidak saling berhubungan bisa menyatu dan bersambungan dengan pas, seperti keping-keping jigsaw puzzle.

Di saat yang sama, we create our own realitykita menciptakan realitas hidup kita sendiri. Maksud Jeshua di sini adalah: Semua kejadian netral sifatnya. Kitalah yang memberi arti, kesimpulan dan penilaian terhadap apa yang terjadi. Karena itu pula, setiap orang mempunyai reaksi, penafsiran, dan perasaan yang berbeda mengenai kejadian yang sama. Saya bisa bersedih dan menyesal berkepanjangan atas wafatnya hard disk saya, atau saya melihatnya sebagai suatu opportunity bagi sesuatu yang baru dan lebih bermanfaat untuk dapat diturunkan oleh Tuhan lewat diri saya, setelah saya mengosongkan diri.

Demikian seterusnya hal ini berlangsung dan berlanjut. Terserah bagaimana kita mau menyikapinya. Semua kejadian bisa kita beri makna semau kita. Nah, karena kita bisa mengartikannya semau kita, mengapa tidak dibikin yang positif saja? Dengan berpikir positif, tindakan kita akan positif dan hasilnya pun akan positif. Untuk apa memilih yang negatif kalau bisa memilih yang positif, apalagi kalau menjanjikan hasil yang positif pula? Computer crash bisa menghantar saya ke suasana Nyepi yang lebih khusuk, mengingatkan saya pada keterikatan dan ketergantungan saya pada Sang Pencipta, membuka diri saya agar lebih besar dan lebih kosong lagi, sehingga Tuhan pun lebih leluasa hidup dan beraksi lewat saya.[ms]

* Miranda Suryadjaja adalah seorang public speaker dan konsultan bisnis yang berdomisili di Bali. Selain itu, Miranda juga seorang life coach dan jewelry designer yang meminati bidang motivasi dan pemberdayaan perempuan. Peraih gelar MBA dari National University, San Diego, USA yang juga hobi menulis, membaca, mendesain, dan traveling ini telah dikarunia seorang putera. Saat ini, ia tengah menulis sebuah buku tentang pribadi Yesus dalam kacamata seorang penganut agama Hindu. Miranda dapat dihubungi melalui pos-el: sayamiranda[at]gmail[dot]com atau HP: 0811389432.

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 9.0/10 (1 vote cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: 0 (from 0 votes)

Leave a Reply

Comment moderation is enabled. Your comment may take some time to appear.

Motivasi Dunia

Motivasi Dunia

Kolomnis

<
Edy Zaqeus Eni Kusuma Avanti Fontana Alexandra Dewi Miranda Suryadjaja Sofa Nurdiyanti
Anang Y.B. Hartati Nurwijaya Aleysius H. Gondosari Sulmin Gumiri Relon Star Sri Budiastuti
Agus Riyanto Iftida Yasar Fida Abbott Ery Prasetyawan Tanenji Ingrid Gunawan
Maria Saumi Ely Susanti Agung Praptapa Putu Adnyana Fita Irnani Nathalia Sunaidi
M Sebastian Wijaya Abdul Muid Badrun Kak Sugeng Akhmad Sirodz Lisa Nuryanti Abidin Noor
Wuryanano Petriza Giovanni Amelia Devina Tri Wahyuni Endang Setyati Vina Tan
Lianny Hendranata Emmy Angdyani Erawati E. Setyo Hartono Fatma Kartika Sari Supandi Radinal Mukhtar Harahap
Sawali Tuhusetya Gatut Heru Susanto Effendi Budi P. Fajar S. Pramono Ade Asep Syarifuddin Melly Kiong
Guntur Novizal Ida Rosdiana Natapermadi Risfan Munir Sri Julianti Sawiji Farelhana Dewi Rhainy
Deni Kurniawan As’ari Johanes Ariffin Wijaya Indari Mastuti Enggar Kusumaningsiwi Daniel Kurniawan Sayuri Yosiana
A.A. Kunto A. Lina Kartasasmita K. Hanna Fransisca Wahidunnaba Yusuf Tantowi Dwiatmo Kartiko
Meta Sekar Puji Astuti M. Adi Prasetyo Abd. Basid Lily Choo Rina Dewi Lina Berny Gomulya
Zee Cardin M. Iqbal Dawami Sidik Nugroho Emmy Liana Dewi Ridwan Sumantri Dwiyana Apriandini
Andrew Abdi Setiawan Gobind Vasdhev J. I. Michell Suharli Yusnita Rifai Gagan Gartika

Check Google Page Rank

Buku Baru

Obrolan yang Bikin Kamu kaya

Judul: Obrolan yang Bikin Kamu kaya
Oleh: Don Gabor
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama, 2009
ISBN: 978-979-22-5073-2
Tebal: xviii + 380 hal

Jangan hanya membangun jejaring luas-berjejaringlah dengan cerdas!
Obrolan yang Bikin Kamu Kaya menyajikan pendekatan baru revolusioner pada topik berjejaring yang tak lekang waktu. Penulis buku laris dan pelatih komunikasi Don Gabor memperkenalkan Anda pada empat gaya berjejaring—Kopetetif, Supel, [...]

Full Story | February 24th, 2010

Best Viewed With Mozilla FireFox