Kedahsyatan Cinta
Editor | Kolom Lepas | January 12th, 2010
Oleh: Khalili Anwar*
Siapa pun ketika diajak berbincang cinta, hatinya bakal mengembang indah. Semua orang bakal tersenyum kala mendengar idiom cinta. Setiap orang pasti pernah mengalami perasaan cinta, meski kualitasnya berbeda-beda. Saking indahnya cinta, maka tak bakal pernah selesai dituangkan dalam bentuk tulisan hingga menghabiskan berem-rem kertas. Mengapa cinta tak pernah selesai dibicarakan? Ya karena dalam cinta sendiri tersimpan misteri yang tak bisa diekspresikan dengan kata-kata. Dan, kata-kata mewakili logika, padahal cinta melampaui logika. Ya, cinta tak bisa didekati dengan logika, hanya bisa dihampiri oleh rasa. Rasa yang tumbuh dari kesadaran terdalam. Ketika cinta telah terbit, maka seluruh persepsi logika menjadi tumbang. Karena itu, kadang orang yang telah memasuki istana cinta, akal pikiran terhenti, seluruh perhatiannya tertuju pada yang dicintai.
Tokoh-tokoh hebat dalam sejarah mengarungi perjuangan hidup berbalutkan spirit cinta. Nabi Ibrahim, karena kecintaan yang seteguh karang, dia mau mengorbankan anak yang paling disayangi, Nabi Isma’il AS yang kemudian diganti dengan seekor kibas sebagai korban oleh Allah SWT. Mahatma Gandhi dipandu dengan semangat cinta, sehingga tak pernah sedikit pun melawan penjajahan dengan kebengisan pula, bahkan dia meredamnya dengan cinta. Bunda Theresa, sosok wanita menyejarah yang terus menebarkan cinta ke mana-mana, tak ayal dia pun dihadiahi bunga cinta yang abadi dari warga dunia. Nabi Muhammad SAW pemimpin suci yang tertancap kesan soal keindahan akhlaknya, selalu memandu umatnya dengan cinta, bahkan di akhir kehidupannya beliau selalu mengulang-ulang kata disertai cinta “Umatku... umatku..!” Kecintaanya pada umat melampaui kecintaan pada dirinya sendiri. Ya, begitulah cinta telah memupus kepentingan diri menuju kepentingan universal, kemanusiaan.
Kita bisa memotret sosok besar dalam sejarah, sesungguhnya nama mereka terus berkibar karena telah menanam dan memupuk kehidupannya dengan cinta. Bagaimana kita menerapkan spirit cinta dalam kehidupan ini? Menebar cinta di mana-mana, tak sebatas bila ketemu dengan pasangan hidup, bahkan bertemu dengan siapa saja, kita bisa menabur cinta. Kita berusaha menjadi saluran-saluran cinta Tuhan yang tak berbatas dan tak bersyarat. Mulailah menebarkan cinta pada keluarga, meluas pada tetangga, teman sekantor, meluas pada umat, bahkan kemudian pada seluruh kehidupan ini. Manakala cinta kita masih terbatas, niscaya kita tidak bakal dipertemukan dengan kekuatan kita yang menakjubkan dalam hidup ini. Hanya orang-orang yang digelora cinta yang bisa mengungkit potensi besar yang terpendam dalam dirinya.
Kita bisa menengok pergulatan Muhammad Yunus, peraih nobel dari Bangladesh. Debut kesuksesan digerakkan dengan cinta tulus pada warga sekitarnya yang terimpit secara ekonomi, berikut mewabahnya aktivitas rentenir yang membikin rakyat makin tercekik. Dengan cinta yang tulus, dia terilhami mendirikan GrameenBank, sebagai wadah yang menyediakan pinjaman tanpa agunan, kendati pada mulanya mendapatkan tanggapan sinis dan pesimis dari para pelaku ekonomi. Namun, dalam waktu singkat dia membuktikan, GrameenBank, meluas pengaruhnya dan ekonomi warga terangkat, mesin ekonomi rakyat bergerak dengan cepat. Cinta memang bisa menggali potensi hero yang ada dalam diri Muhammad Yunus.
Makin luas ruang cinta, makin luas pula ruang pengaruh kita. Ketika cinta masih sebatas untuk keluarga, ya pengaruh kita hanya sebatas dalam keluarga. Tetapi ketika cinta Anda menyentuh pada masyarakat yang lebih luas, maka pengaruh Anda pun makin meluas. Kedahsyatan cinta bakal mengilhami orang lain berbuat melampaui kebutuhan diri, bahkan dirinya sendiri telah punah ditelan upaya bisa memberikan yang terbaik pada orang lain.
Bisakah spirit cinta diterapkan dalam bisnis? Cinta universal tak tersekat ruang dan waktu. Dia bisa menembus ruang dan waktu. Dalam berbisnis pun dibutuhkan cinta. Bukankah guna memikat cinta konsumen kita harus mencintainya? Pencinta selalu ingin mengetahui apa yang kiranya bisa memberikan kepuasan bagi yang dicintai. Ketika Anda telah memberikan cinta, niscaya Anda bakal mendulang cinta yang lebih banyak. Bukankah suatu yang datang dari hati, bakal mendapatkan balasan dari hati pula? Bukankah ketulusan bakal berbalas ketulusan pula?
Saat kita bertemu partner bisnis, hal awal yang berkesan adalah sikap yang terpantul. Ketika cinta telah memenuhi ruang hati, niscaya senyum pun bakal terus mengembang. Ketika Anda melemparkan senyum yang tulus pada partner bisnis Anda, maka secara spontanitas Anda bakal dihadiahi senyum yang tulus pula. Bukankah ketika hati sama-sama terbuka dan bahagia, Anda bisa melanjutkan negosiasi bisnis dengan cara yang jernih, terbebas dari rasa curiga? Bahkan, Anda akan terpandu semangat untuk bisa saling mendukung, sehingga menggapai kesepakatan saling menguntungkan (win-win solution)?
Ketika cinta telah menjadi cahaya dalam hati Anda, niscaya Anda tak pernah disusupi perasaan benci, dendam, dengki, atau kerakusan. Karena cinta tidak bakal bisa bersatu dengan kebencian dan kezaliman. Bahkan sesungguhnya cinta tak pernah punya musuh, sehingga dia terus berada dalam ketenangan. Bagaimana bila ada orang yang sudah menebar dan berlaku cinta, tetapi kok masih ada orang yang tega menipunya? Pencinta tidak pernah menganggap penipu sebagai musuh, tetapi sebagai partner untuk meneguhkan cinta. Bukankah panji cinta memang harus diuji, apa terus berkibar atau roboh? Makin sering diuji, berarti masih ada peluang semakin naiknya kualitas cinta.
Misi kita ke depan, teruslah berkarya bermodalkan cinta. Di mana-mana kita harus menanam bibit cinta agar tumbuh dan berbuah. Bahkan, dengan cinta seluruh karya kita menjadi warisan yang indah bagi generasi mendatang. Mulailah, aktivitas Anda pun dihiasi cinta. Ketika seluruh aktivitas yang Anda jalani telah dibalut cinta, maka seluruh momen ini tidak pernah membosankan, bahkan selalu menjadi detik-detik yang melulu mengalirkan spirit pada jiwa untuk bisa berbuat yang terbaik. Melewati hari-hari penuh semangat cinta, maka kecapekan karena menumpuknya aktivitas akan tertindih oleh luapan kebahagiaan.
Ada orang yang berujar, capek tapi bahagia. Memang, cinta memiliki pengaruh yang amat dahsyat demi terbentuknya sikap hidup manusia penuh bahagia. Ketika hati telah diluapi rasa cinta, berarti hati itu dalam keadaan amat sehat. Namun, ketika hati dinodai kebencian, berarti hati sedang sakit. Dari hati yang sehat akan melejit ide dan karya yang cemerlang, namun dari hati yang sakit, hanya menelurkan ide dan karya minus daya pikat. Cinta seperti cahaya, yang membabar terang di mana-mana, sementara kebencian kegelapan yang hanya bisa menebar kepekatan di mana-mana. Marilah memanggil dan menemui seluruh kosmik dengan cinta, agar kita dialuri rasa kebahagiaan terus-menerus. Menyatu dalam kebahagiaan kosmik.[ka]
* Khalili Anwar, penulis muda yang menekuni bisnis makanan ringan. Dan kesehariannya dihabiskan menulis fokus untuk motivasi spiritual. Biasa memberikan pelatihan motivasi di beberapa kampus, dan organisasi remaja. Tulisannya pernah diterbitkan Lampung Post dan Kompas Jatim. Ia bisa dihubungi di email: khalbuz[at]gmail[dot]com, dan blog: www.versus-versi.blogspot.com
Leave a Reply