Keajaiban dari Sebuah Tulisan Positif
Editor | Kolom Tetap | May 18th, 2009
Oleh: Anang, Y.B.*
Kebiasaan pamer foto lewat situs Facebook tanpa saya sadari merembet juga ke kehidupan nyata. Minggu (19/4) dengan diiringi gerimis kecil, saya ambil dua foto buah hati saya dari studio foto. Kedua foto itu memuat dua peristiwa penting bagi keluarga kami. Bingkai foto pertama memuat senyum lebar Justin—anak saya yang kedua—sedang mendekap piala pertamanya. Biarpun seorang cowok, tetapi nyatanya dia bisa memenangi lomba peragaan busana daerah di sekolahnya yang diadakan hari Sabtu, sehari sebelumnya.
Foto kedua yang saya bingkai dalam ukuran 10R adalah foto sang kakak. Usianya baru beranjak 10 tahun saat ini. Jauh lebih kalem dari adiknya, sang kakak belakangan lebih suka bermain internet dan memainkan alat musik. Kami pun sebagai orang tua semampunya menyediakan apa yang dibutuhkan anak kami ini. Satu buah keyboard Yamaha PSR -S700—biarpun bukan tipe keyboard terbaik—nyatanya cukup membuat anak pertama kami ini bersemangat menarikan jarinya di atas tuts setiap sore.
Foto yang hendak saya pasang adalah foto saat si kakak pentas di salah satu Mal. Saya sendiri yang memotretnya. Sengaja saya pilih foto dalam pose setengah badan agar wajah si kakak lebih terlihat. Dengan mengenakan gaun tanpa lengan warna putih, si kakak terlihat mantap memainkan nada-nada dari lagu “Love Story” dan “Love Theme” bersahutan dengan gesekan biola dari tiga rekan di sampingnya.
Di dinding ruang tamu, tersisa sedikit ruang untuk memasang foto si kakak. Setelah mencoba beberapa posisi, akhirnya saya putuskan memasang bingkai foto itu sedikit di atas bingkai foto lama yang sudah terpasang entah sedari kapan.
Saya baru mengetukkan palu dua kali dan paku belum menancap sempurna di dinding saat mata saya tergoda untuk melirik bingkai foto lama di bawahnya.
Deg!!
Bingkai yang sedikit berdebu itu tidak berisi foto, tetapi sebuah tulisan yang saya buat tahun 1999! Sepuluh tahun silam? Yap, benar! Tulisan terbingkai itu sengaja saya potong secara rapi dari tabloid Nakita. Kertasnya mulai menguning namun dua kolom tulisan yang mengapit foto kami (saat itu tentu saja anak kami baru satu) masih jelas terbaca. Si kakak yang sehari-hari kami panggil dengan saapan “Fanny” masih terlihat polos di foto sepuluh tahun silam itu. Rambut nyaris tak terlihat di kepala bulatnya.
Dan… judul tulisan pendek itulah yang membuat saya tercenung hingga sesaat menghentikan ayunan palu. Saya baca lirih, “MUSIK - SAHABAT SETIA FANNY”! Astaga…!
Jadi, sepuluh tahun silam—tanpa saya sadari—jemari saya telah menorehkan satu harapan, satu doa, satu impian lewat sebuah tulisan postif tentang anak kami ini! Sungguh saya sudah sekian lama tak hirau akan tuisan pendek itu. Namun ajaib! Kini impian sepuluh tahun silam, dan kepiawaiannya si kakak memainkan nada musik yang awalnya saya pandang sekadar dua bingkai kejadian yang tak berhubungan nyatanya telah terangkai dalam satu dinding yang sama! Satu dinding kokoh kehidupan yang dibangun-Nya untuk kami!
****
Sebuah kebetulankah? Bagi saya bukan. S. Quire Rushnell, penulis buku “When God Winks” telah berhasil memaksa saya untuk memercayai satu hal. Katanya, hidup kita bukanlah suatu kumpulan dari pengalaman acak yang membawa kita bagaikan setangkai ranting yang hanyut di aliran sungai ke tujuan yang tidak diketahui. Kita adalah bagian dari sebuah rencana yang jauh lebih besar. Sebuah peristiwa kecil dan terlihat sepele, bisa jadi adalah sebuah kedipan dari Sang Pencipta sebagai pengingat atas atas yang bakal terjadi di kehidupan nanti.
Dan, bila ke dalam hidup Anda, telah disematkan-Nya sebuah talenta berupa kepiawaian membuat tulisan, mengapa Anda masih menunda-nunda untuk merangkai kata? Susunlah tulisan-tulisan yang mengalir deras dari hati bersih Anda. Memang, membuat tulisan dengan aroma positif sering kali lebih tersendat daripada menumpahkan rangkaian kata berupa kritik, hujatan, maupun keluh kesah.
Namun, kini ingatlah sebuah tulisan positif—entah kapan—akan tiba saatnya mengalirkan keajaiban-keajaiban yang bahkan Anda pun mungkin tak berani memimpikannya! Tulisan positif Anda apa pun wujudnya, tak peduli andai itu hanya empat baris pantun dalam blog pribadi Anda, bisa jadi adalah satu ranting kecil yang tersambung dalam satu pokok kehidupan yang mengantar Anda ke kehidupan yang lebih baik.
Jadi, teruslah berbagi tulisan inspiratif dan positif. Biarkan jemari Anda menjadi kepanjangan tangan-Nya dalam menyempurnakan alam semesta![ayb]
*Anang Y.B. dikenal sebagai penulis bergaya story telling. Pria ini menyebut dirinya sebagai blogger yang geografer. Menjadi geografer memungkinkan dia untuk berkeliling Indonesia dan memperoleh banyak inspirasi menulis dari catatan perjalanannya. Seluruh kisah unik dan opininya dia tuangkan dalam blog beralamat di www.jejakgeografer.com, yang kini telah memiliki lebih dari 500 cerita. Anang dapat dihubungi melalui pos-el: anangyb[at]gmail[dot]com.
May 24th, 2009 at 8:54 am
Saya setuju dengan tulisan bapak. Mulailah menulis yang berisi positif. karena saya pun berkeyakinan, tulisan yang kita tulis secara tidak langsung bisa menjadi sebuah doa kan…
sukses ya pak…