Kasihan Anak-anak
Editor | Kolom Lepas | April 13th, 2009
Oleh: Kak Sugeng*
Apa pun peristiwa yang terjadi—terutama kalau bencana—selalu ada saja korban di dalamnya. Kebanyakan juga ada korban yang masih kanak-kanak. Golongan ini memang yang paling lemah, rentan sekali jadi korban. Namun, tanpa kita sadari, anak-anak di sekitar kita juga jadi korban sekalipun sebetulnya tidak ada bencana, tidak ada perang.
Lihatlah di sekiling Anda, banyak anak menjadi korban karena berbagai hal. Lihatlah anak-anak yang mengemis atau mengamen di tengah terik matahari. Anak-anak menjadi korban karena orang tua yang tidak bertanggung jawab. Orang tua yang sangat tega membiarkan anaknya, membiarkan darah dagingnya sendiri, seperti itu. Orang tua yang malas dan tidak mau berjuang keras untuk mendapatkan pekerjaan yang layak. Orang tua yang tidak bisa memenuhi kebutuhan keluarga, sampai anak-anak dilibatkan bekerja.
Kasihan sekali anak-anak yang sudah diajari menjadi pengemis sejak dari kecil. Padahal, mental seorang pengemis itu sangat tidak baik. Mental pengemis bisa menjadi bumerang bagi anak itu sendiri. Sama saja, masa depan anak itu sudah dihancurkan sejak kanak-kanak, karena mental pengemis sudah mendarah daging dalam diri mereka. Apa jadinya bangsa ini dengan generasi pengemis atau peminta-minta seperti itu.
Selain korban kemiskinan, anak-anak dari kalangan atas juga bisa menjadi korban. Lihatlah, banyak orang tua yang berduit yang tidak peduli dengan anak-anaknya. Mentang-mentang mereka punya harta yang melimpah, lalu merasa harta merekalah yang membahagiakan anak-anaknya. Padahal, kebahagian yang sejati bukan dari materi yang melimpah saja.
Memang, mereka bisa memberikan warisan yang besar kepada anak-anak. Mereka juga bisa memberikan rumah bak istana yang megah kepada keturunannya. Tetapi, mereka terlalu sibuk dengan urusan bisnis, menganggap waktu adalah uang, waktu habis untuk pekerjaan, sementara waktu untuk bersama anak-anak tidak pernah diberikan. Sehingga, warisan yang paling hakiki, yang seharusnya menjadi warisan sejati, justru tidak pernah mereka siapkan. Warisan sejati itu adalah kerohanian yang matang, moral, dan karekter yang baik. Kasihan anak-anak.
Terlebih lagi, lihatlah anak-anak yang waktunya habis untuk kegiatan sekolah. Coba tanyakan saja, waktu kosong mereka dari hari Senin sampai Sabtu. Apakah ada waktu untuk bermain setelah pulang sekolah? Adakah waktu untuk mengekpresikan kreativitas mereka? Banyak orang tua memaksakan kehendak agar anaknya mengikuti les ini, les itu, tanpa memikirkan hak asasi setiap anak. Tanpa disadari, hak asasi si anak diinjak-diinjak oleh orang tua yang tidak berpengertian.
Sekali lagi, anak-anak menjadi korban.Bbukan karena korban perang, bukan karena korban bencana, tetapi menjadi korban keluaganya sendirinya. Naif sekali.
Belum lagi masa sekarang anak ini, banyak anak menjadi korban media. Lihat saja, banyak tayangan televisi yang tidak mendidik masuk ke dalam alam bawah sadar mereka. Tanpa disadari, itu seperti bom waktu, dan nantinya anak-anak akan menjadi generasi yang amburadul.
Perhatikan lagu-lagu yang mereka nyanyikan. Jarang sekali mereka menyanyikan lagu anak-anak, seperti generasi anak-anak 10-20 tahun yang lalu. Hari-hari ini, banyak anak yang lebih suka menyanyikan Lelaki Buaya Darat, Kucing Garong, lagu tentang pacaran, dan banyak lagu lainnya yang tidak mendidik.
Andai kata anak-anak sudah mengerti hukum dan hak asasi mereka yang telah diinjak-diinjak, bisa saja mereka mengajukan gugatan kepada orang tua sendiri. Memang, pasti tidak akan ada pengacara yang mendukung anak-anak melakukan hal seperti itu. Namun, tanpa kita sadari, anak-anak sendiri yang menjadi korban dan mereka sendiri yang menanggung akibatnya.
Kita tidak menyadari, sepuluh tahun ke depan, apa yang akan terjadi pada mereka. Bagaimana bangsa ini bisa maju, kalau anak-anaknya senantiasa menjadi korban? Kata orang, anak-anak adalah generasi bangsa, masa depan bangsa. Omong kosong belaka kalau kita tidak peduli dengan kebutuhan yang paling hakiki dari setiap anak.
Kebutuhan itu adalah rasa dihargai. Setiap manusia butuh penghargaan. Hargailah anak-anak untuk menentukan pilihannya sendiri. Hargailah anak-anak untuk setiap pendapatnya tentang apa saja yang dia lakukan setiap hari. Istimewakan anak Anda dengan waktu-waktu yang berharga.
Saat kita memerhatikan mereka di tengah-tengah kesibukan kita, mereka akan merasa disayangi dan dihargai. Sudah pasti ke depannya anak-anak itu tidak akan mencari kasih sayang dari orang lain di luar keluarga mereka. Mereka tidak akan mencari kasih sayang dari pergaulan yang buruk, kehidupan malam, atau narkoba. Sayangi anak-anak, tidak sekadar kata-kata, tetapi sayangi mereka dengan perbuatan yang nyata.
Setiap keluarga pasti rindu rumahnya menjadi surga bagi anak-anak. Ciptakan surga di tengah-tengah zaman yang semakin sulit ini. Anak-anak yang mengalami rasa bahagia sejati, merasakan suasana surga di rumahnya sendiri, maka mereka akan mendapatkan banyak pengaruh positif.
Ketika mereka mendapatkan kebahagian yang sejati—tidak hanya dicukupi materinya saja—maka itu akan memengaruhi cara mereka menghadapi hidup yang penuh tantangan ini. Anak-anak yang perkasa seperti inilah yang akan membuat bangsa kuat. Anak-anak yang kuat, baik secara lahir dan batin, inilah yang akan menjadikan bangsa kita bermartabat dan berbudaya.
Biarlah anak-anak datang kepada surga di rumah mereka. Izinkan mereka menikmati surga di rumah bersama orang tua yang mengasihi mereka. Jangan halangi mereka bertemu dengan surga dan kebahagian mereka sendiri di rumah.[ks]
* Kak Sugeng adalah seorang motivator dan pengembangan diri anak. Office: Jl. Sutan Syahrir 88 Widuran, Solo, Telp: 634996, HP: 08812944185, 0271-7020778, 9111778, Email : kaksugeng@yahoo.com, Website: www.kaksugeng.com.
April 16th, 2009 at 1:30 pm
…memang benar….. anak-anak tidak hanya butuh kecukupan secara materi, tetapi terlebih daripada itu butuh adany dukungan spiritual , kebahagiaan jiwa….jadi diharapkan orang tua bisa menyeimbangkan antara kebutuhan material & spiritual, demi masa depan generasi muda penerus bangsa….