Home » Kolom Tetap » Kami Masih Berjuang, Mama…

Kami Masih Berjuang, Mama…

sj1Oleh: Sri Julianti*

“The best and most beautiful things in the world cannot be seen,

nor touched … but are felt in the heart.”

~ Hellen Keller

“Ayo, anak-anak… sudah mandi semua? Ini sudah jam 4 sore, siapa yang belum mandi?” demikian teriakan Mama Ani, mama kami setiap sore. Setiap jam 4 sore, dengan disiplin Mama meminta keenam anaknya sudah rapi. Bila anak-anaknya belum mandi pada jam itu, hukuman sudah menanti.

Pada jam 18.00, semua anggota keluarga sudah siap dengan makan malam. Dan, tepat pada jam 19.00, kami anak-anak sudah boleh bebas. Jam 20.00 semua berkumpul mendengarkan dongeng yang selalu diceritakan oleh Papa kami. Dongengan ini sampai sekarang masih melekat di kepala kami masing-masing. Jam 21.00 kami semua sudah di kamar tidur, jam 6.00 pagi kami semua bangun untuk ke sekolah, dan pulang sekolah kami tidur siang sampai jam 15.00. Demikianlah ritme kehidupan kami dahulu.

Mama sangat disiplin terhadap semua anaknya karena dia mau anak-anaknya menjadi orang besar”. Tidak seperti dirinya yang cuma seorang ibu rumah tangga yang dibesarkan di desa. Masa kecil Mama memang penuh perjuangan karena orang tuanya kurang mampu. Sejak berumur 6 tahun Mama kecil sudah bekerja serabutan membantu orang tuanya. Mama kecil bekerja sebagai pembantu rumah tangga pada satu keluarga yang cukup mampu, sebut saja keluarga Pak Harta. Mama kecil sering dihukum dengan dijewer telinganya, dipukul bagian lengan atau bokong-nya oleh Bu Harta karena sering pulang terlambat bila diminta belanja ke pasar. Memang, banyak hal menarik perhatian di amata Mama kecil apabila pergi ke pasar.

Saat Mama kecil harus masuk sekolah, bibinya sudah menyiapkan segala keperluannya, tetapi sayang ibunya yang berpikiran “kolot” tidak menginzinkan Mama kecil pergi ke sekolah. Mama kecil tidak berdaya, tapi dia berjanji suatu saat anaknya harus bersekolah setinggi mungkin, dan itulah obsesi hidupnya.

Di waktu senggangnya, Mama belajar membaca dan menulis sehigga nantinya Mama menjadi guru bagi anak-anaknya yang masih kecil. Saya masih ingat bagaimana Mama menuntun saya untuk belajar menulis halus, padahal Mama sendiri tidak pernah bersekolah.

Mundur selangkah, ketika Mama berumur 17 tahun, orang tua menjodohkan Mama dengan pemuda sekampungnya. Jadilah Mama Ani istri Papa Sugi dan masuk dalam keluarga besar Papa. Mama tidak punya pilihan. Mama hanya tahu ada seorang pemuda yang tekun belajar dan baik yang akan menjadi suaminya. Mama Ani berpikir, dengan menikah hidupnya akan lebih nyaman. Tetapi ternyata, penderitaan lain sudah menanti yaitu mulai dari tidak adanya kecocokan dengan anggota keluarga besar suami sampai menjadi penyumbang tenaga dalam keluarga besar; urusan mencuci, memasak, membersihkan rumah, dll. Mama juga selalu mendapatkan tekanan dan sindiran dari mertua maupun anggota keluarga besar lainnya karena tak kunjung hamil.

Lebih aneh lagi, dalam keluarga besar Papa Sugi, Papa tidak boleh menunjukkan kasih sayang kepada Mama. Pernah Mama bercerita, suatu malam Papa pulang dari bekerja dan dia mengeluarkan bungkusan dari kantong celananya. Ternyata, itu adalah sebuah pisang goreng yang ingin diberikan kepada Mama tanpa boleh diketahui saudara yang lain. Mama sangat bangga ketika menceritakan hal itu kepada anak-anaknya, betapa cintanya Papa kepada Mama.

Untunglah pada tahun ke lima perkawinan Mama hamil dan kemudian melahirkan anak pertama perempuan, diikuti oleh kelahiran putra-putri lainnya sampai tujuh orang. Sejak itu, rezeki Mama dan Papa berlimpah. Kami anak-anak didididik dengan disiplin dan belajar dengan tekun. Kami diajari cara berwiraswasta dengan menjual barang-barang toko ke sekolah atau memelihara dan mengolah kebun buah. Kami juga memelihara binatang piaraan seperti ayam, bebek, dll. Saya sendiri mendapat tugas memelihara bebek. Itu berarti, semua keputusan memasak telur atau memotong bebeknya untuk lauk tergantung kepada saya. Sementara kakak saya ada yang memelihara burung dara, ayam, menanam pohon srikaya, pohon jambu, pohon bunga gading, dll. Kami kenang masa kecil tersebut begitu menyenangkannya meskipun kelaurga kami tidak kaya.

Sampai suatu saat, sebuah berita buruk menerpa, Papa Sugi didiagnosis menderita kanker paru-paru dan diperkirakan umurnya tinggal tiga bulan. Sejak itu, kehidupan rumah tangga kami berubah total. Kakak perempuan saya yang baru berumur 19 tahun harus mengelola toko dibantu oleh kakak kedua (laki-laki pertama) yang harus meninggalkan bangku SMA-nya. Kakak kedua kami memang sering mengunjungi Papa ke Malang untuk belajar mengelola toko. Tapi, tidak mungkin semua ilmu diserap dalam tiga bulan.

Akhirnya setelah berjuang keras melawan penyakit kanker selama tiga bulan dua minggu, Papa benar-benar meninggalkan kami semua pada pukul 00.30 dini hari. Usia Papa waktu itu 45 tahun dan Mama sendiri masih berusia 42 tahun. Mama kemudian harus mengambil alih kendali rumah tangga dengan enam anak yang usianya antara 12-19 tahun.

Prahara mulai berdatangan. Perlahan-lahan toko kami mulai merugi. Dari toko yang penuh barang lama-lama menjadi toko yang kosong. Karyawan yang semula tujuh orang plus pembantu rumah tangga tiga orang, akhirnya semuanya di-PHK karena kami tidak punya uang untuk membayar mereka. Setiap hari kami punya tugas masing-masing untuk urusan rumah tangga. Dan, bila menjaga toko serta agar kami tidak mengantuk, maka tugas kami adalah membersihkan lemari-lemari toko yang sudah kosong.

Mama amat susah saat itu karena tak ada harta berarti yang ditinggalkan Papa Sugi. Suatu hari, Mama mengajak saya pergi ke Surabaya saat saya liburan sekolah. Saya yang masih kecil tidak tahu apa tujuan Mama dan hanya mengekor saja. Ternyata, Mama pergi mengunjungi pemasok satu per satu, bicara dengan pemilik toko maupun istrinya. Salah satu kata-kata mama yang masih ingat, “Tolong ya, anak saya dikasih kesempatan berdagang. Memang kami tidak punya modal dan anak saya masih belajar. Tapi saya bisa jamin mereka anak-anak yang baik. Mereka bukan peminum atau penjudi. Kalau dulu Papanya diberi kesempatan, tolong anaknya juga diberi kesempatan. Saya yang menjamin, modal yang dipinjamkan akan dikembalikan. Kalian semua kenal keluarga kami, kan?” Dari road show itu, satu per satu pemasok mulai mengirimkan barangnya dan kami boleh berutang untuk barang-barang itu seperti pada saat Papa masih hidup.

Perjuangan Mama belum habis. Pada saat anak-anaknya menginjak dewasa dan Mama mulai melepas kendali toko, ternyata kami dililit utang sementara sertifikat rumah sudah digadaikan oleh kakak kami kepada salah seorang pemasok barang. Sekali lagi, Mama mengunjungi orang ini bersama saya. Mama bertanya, “Kok bisa ya, anak saya memberikan surat rumah yang kami tinggali kepada Anda?”

Orang itu agak segan ke Mama dan beralasan, ”Dia bilang, itu hanya saya simpan kok. Karena anakmu utang cukup besar. Saya tidak akan mengambil alih rumah Encik….

Syukurlah kalau begitu. Apakah boleh saya membawa surat perjanjian utang itu agar saya jelas dengan segala persoalannya?” tanya Mama.

Boleh” jawab si pemasok.

Setelah surat perjanjian utang itu diberikan, ternyata itu adalah surat penyerahan absolut dari rumah yang kami tinggali. Lagi, seperti sebuah palu godam menerjang batin Mama. Tetapi Mama tetap tidak mau anak-anaknya menderita. Sekali lagi, Mama berunding dengan semua anaknya. Dan akhirnya, salah satu dari kami meminjam emas kepada salah seorang famili untuk menebus surat rumah tersebut. Akhirnya, kami berhasil lepas dari jerat masalah gadai rumah tersebut.

Tahun berlalu, akhirnya semua yang Mama tanam mulai berbunga dan panen sudah di depan mata. Semua anaknya satu per satu lulus dari universitas, kemudian bekerja, mandiri, punya mobil dan rumah. Itulah saatnya Mama menikmati masa tuanya sambil bercocok tanam, memasak, dan sangat mudah bergaul dengan tetangga barunya.

Sayang, masa-masa tuai ini hanya Mama nikmati sebentar saja karena deraan penyakit. Awalnya, Mama yang setiap hari memindahkan tanaman ke tempat yang cocok, pelahan digantikan tukang taman, dan akhirnya dia hanya bisa melihat tanaman yang dia ingin pindahkan. Itu karena kesehatannya mulai menurun saat dia terserang stroke dan osteoporosis secara bersamaan. Stroke-nya tidak berat, tetapi osteoporosisnya yang menyebabkan patah tulang pungung, sehingga saat perawatan Mama harus terus berbaring karena akan merasakan sakit bila bergerak.

Mama tidak berdaya lagi, semangat hidupnya menurun drastis. Keadaan inilah yang akhirnya membuat Mama putus asa. Sampai suatu ketika, Mama berkata, “Daripada Mama seperti ini, lebih baik Mama mati….” Kami selalu berdoa untuk yang terbaik buat Mama. Tetapi, Tuhan akhirnya memanggil Mama setelah menanggung penderitaan selama dua tahun. Kami merelakan Mama pergi untuk yang terbaik. Selamat jalan Mama…. Kami masih terus berjuang di dunia ini.[sj]

* Sri Julianti adalah praktisi packaging yang sudah malang melintang di dunia packaging selama 25 tahun lebih. Saat ini, ia sedang menuliskan pengalamannya dalam sebuah buku tentang strategi dan seni kemasan. Ia dapat dihubungi melalui pos-el: julipackaging[at]yahoo[dot]com.

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 8.0/10 (1 vote cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: 0 (from 0 votes)

Post a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Comment moderation is enabled. Your comment may take some time to appear.

Komentar